LOGINZiana menatap Arhan dengan senyum mencibir, dia juga mengibaskan rambutnya. Gayanya tengil. Respon Arhan terlalu lambat, jadi Ziana memilih beranjak dan kembali melangkah. Dia langsung ke kamar untuk mandi. "Dia sedang bercanda kan? Kenapa terdengar menyebalkan." Sudut bibir Arhan tertarik, dia tsrsenyum samar saat melihat punggung Ziana menjauh. Cara jalan gadis itu cukup menarik, apalagi saat rambut panjangnya dikuncir kuda tersapu-sapu karena angin. Kakinya yang jenjang dengan tubuh ramping membuatnya Ziana selalu punya kesan feminim dan cantik. *** "Tapi bagaimana jika Pak Arhan tahu kalo ini hanya rekayasa? Sepertinya dia sudah menyuruh polisi untuk menyelidiki kasus ini." Ofi berkata dengan panik, sementara Yudis yang ada di dekatnya terus coba menenangkan. "Tenang saja, semua tidak akan terbongkar. Aku sudah mencari tiga orang yang mau berpura-pura menjadi perampok dan tersangka palsu. Aku sudah membayarnya banyak. Yang penting kamu tidak boleh sampai putus dengan P
"Tas atau koper?" Karti kebingungan. Arhan bertanya dengan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan, Karti bisa melihatnya jelas. Apa majikannya pikir Ziana kabur?"Maaf, Pak Arhan. Non Zia pergi tidak membawa apa pun, dia--""Astaga--" potong Arhan tidak mau mendengarkan karti. Dia berdecak kesal. Arhan yang biasanya tenang kini bereaksi cepat. "Bukankah sudah pernah saya katakan. Jangan biarkan Ziana pergi sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa kalian masih belum paham? Dia mau ke mana pagi-pagi?" Arhan gusar, dia tidak menyangka jika masalah sepele akan membuat Ziana jengkel sampai pergi dari rumah. Karti ketakutan, ingat kemarahan Arhan beberapa waktu lalu karena Ziana pergi. "Maaf, Pak Arhan, Non Zia pergi dengan memakai baju olahraga. Dia pasti hanya berjalan-jalan di sekeliling komplek jadi tidak perlu bawa tas atau pun koper," jelas Karti terburu-buru sebelum Arhan semakin salah paham.Apa? Arhan tertegun sesaat, dia mengusap wajahnya. Ada rasa malu dan
Kening Ziana berkerut, dia makin cemberut dan menatap Arhan dengan jengkel. "Kamu sedang meledekku? Tidak lucu!" balasnya berani, Ziana melangkah dengan kaki menghentak-hentak seolah itu adalah pelampiasan rasa kesalnya. Arhan masih di tempatnya, bergeleng pelan dengan senyum geli dan heran. Dia yakin Ziana benar-benar marah sampai bicara dengan tidak formal dan gaya bar-bar. Tapi kenapa? Sebagai lelaki dewasa dia tidak berpikir jika miskomunikasi yang sepele akan membuat mereka bertengkar. *** Selepas mandi, Arhan terduduk di tepi ranjang. Sejak tadi sikap Ziana yang cuek mengganggu pikirannya. Dia pun mengambil ponsel, berniat menghubungi Ziana agar melakukan sesuatu. [Saya tidak menemukan baju tidur yang biasanya. Di mana? Bisa bantu cari? Saya tunggu.] [Di lemari. ] [Tidak ada. ] balas Arhan cepat. [Kalau begitu cari di tempat lain.] [Kamu menyuruh bos? ] [HAH! BAIKLAH. ] Balasan terakhir Ziana membuat Arhan mengulas senyum. Dia kembali duduk setelah menyembun
Wajah kaget Sandra terlihat jelas, gadis itu bukan hanya cemas tapi juga kebingungan. Tumben sekali Ofi tidak memberitahunya, biasanya jika ada masalah dia akan diberi tahu lebih dulu. "Aku coba telepon--" Sandra tidak butuh waktu untuk menunggu, anak itu sangat tanggap jadi langsung menghubungi Ofi dan bertanya langsung. "Apa yang terjadi dengan Evan, Bu?" Sandra langsung mendesak pertanyaan begitu telepon tersambung. Ziana yang kepo juga ikut mendengarkan, Sandra tidak sungkan untuk me-loudspeaker suara Ofi. Ofi menceritakan semuanya--semua yang dia rekayasa dan rencana yang sudah disusun dengan baik. "Ya ampun, ada perampok? Ibu pasti takut, aku akan segera ke sana!"Sandra bergegas tanpa menyiakan waktu, dia yang tadi lemas tanpa gairah hidup sekarang berubah cekatan seolah energinya kembali dengan begitu cepat. Ziana sampai heran. "Kamu baru sampai. Kenapa harus buru-buru?" Ziana ingin menahan, dia masih rindu dengan sahabatnya itu, sayangnya Sandra tidak mendengarkannya.
"Pak Arhan sedang berada di rumah sakit. Jadi tidak akan pu--"Sambungan terputus, Dafa melihat ke layar dengan kening mengernyit merasa heran kenapa Ziana terdengar kesal dan memutus panggilan begitu saja, padahal Dafa belum selesai bicara? Dafa kembali ke ruang rawat, Arhan terjaga. Dia menatapnya penuh tanya. "Ada yang menelpon saya?" Dafa berdeham. "Maaf, Nona Ziana yang menelpon. Saya angkat karena tadi Pak Arhan sedang beristirahat."Dafa kembali menyerahkan ponsel Arhan. Hanya ada riwayat panggilan, namun Ziana tidak mengirimi pesan terbaru. [Saya baik-baik saja.] Arhan mengetik pesan agar Ziana tidak perlu khawatir lalu mengirimnya, balasan dari Ziana datang seperti kilat. Hanya beberapa detik saja. [Oh, baguslah. Semoga Pak Arhan betah di sana. ]Membaca pesan dari Ziana, Arhan tidak mungkin biasa saja, apalagi isinya yang aneh. Apa maksud Ziana sedang mendoakan Arhan untuk tetap sakit? Jari Arhan tidak sempat mengetik balasan saat rombongan dokter dan perawat datang
Yudis melompat dari sofa dan Ofi menyambar bantal untuk menutupi tubuhnya. Lelaki itu lalu terduduk di lantai memegangi kepalanya yang berdarah, sementara Evan mulai berteriak panik dan ketakutan. ***Jam sudah menunjuk pukul sepuluh, Ziana tidak tahu kalau Arhan akan lembur. Dia pikir hanya akan menunggu sampai jam delapan. Ziana mencoba menghubungi dengan perasaan cemas, namun sambungan tak berhasil. Suara operator kembali terdengar, menandakan panggilan sedang sibuk."Pak Arhan sedang menerima telepon?" Ziana bergumam, dia pun beralih mengirim pesan. [Pak Arhan, di mana sekarang? Belum pulang? Aku menunggu.] Ziana kembali duduk di sofa, tatapannya terus mengarah ke layar ponsel, namun tidak ada tanda-tanda ada pesan baru yang masuk sampai dia lelah dan berbaring. Hampir satu jam, akhirnya ponsel Ziana bergetar. [Tidurlah dulu, Zi. Saya mungkin pulang pagi, atau tidak sama sekali. Sekarang sedang di rumah sakit. ]Membaca kata rumah sakit tatapan Ziana berubah tegang. Jelas di







