Share

Bab 135

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2026-01-01 22:44:54

Arhan seolah tuli, dia tidak mengindahkan keinginan Ziana, tetap menggendong gadis itu di bahu seperti karung beras.

Ziana baru diturunkan saat sampai di mobil dan Arhan mendudukannya paksa.

“Diam, Ziana. Kamu bukan bocah lima tahun yang hiperaktif kan?”

Arhan mendorong pundak Ziana dan menahannya agar duduk dan bersandar di jok mobil. Lalu Arhan membungkukkan badannya yang setengah masuk untuk membantu memasang seatbelt.

Di saat itu Ziana bisa melihat wajah Arhan dengan begitu dekat.

“Pak Arhan datang begitu cepat, Pak Arhan tidak antar Tante Ofi pulang?” Ziana bicara setengah menggumam, tapi Arhan bisa mendengarnya jelas.

“Kenapa saya harus mengantarkannya pulang? Dia bisa datang sendiri, itu berarti bisa pulang sendiri,” kata Arhan menolehkan wajahnya menghadap Ziana.

Reflek Ziana tersenyum tanpa sadar, senyum nakal yang terlihat di mata Arhan.

“Sepertinya kamu senang sekali mendengarnya. Apa kamu pikir saya melakukan itu karena kamu?” Arhan bicara dengan satu tangan menu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 153

    Wina tertegun sejenak, mungkin tidak menyangka anaknya akan jadi patokan penilaian Ziana. Sesaat kemudian wanita tua itu baru terkekeh. "Yah, tidak kurang seperti itu. Hanya saja kamu bisa dapatkan dengan versi lebih muda. Mungkin akan lebih mudah untukmu jika menjalin hubungan dengan lelaki yang jarak umurnya tidak beda jauh," ujar Wina sedikit memberi saran. Ziana juga tertawa pelan, menanggapi obrolan ini dengan candaan agar tidak terlalu tegang. "Tidak juga, aku justru suka yang dewasa. Umur bukan masalah, bahkan jika berbeda dua kali lipat dari usiaku," kata Ziana yang membuat Wina sedikit mengernyit. "Maksudku, umur bukan patokan," tambah Ziana dengan ekspresi tenang dan wajar. Wina yang tadi sempat berpikir keras, dia kembali tersenyum. Tidak menanggapi ucapan Ziana berlebihan, mungkin gadis muda itu hanya sedang mengutarakan pendapatnya? *** Ziana pulang dari rumah Wina sore hari. Dia terlalu betah sampai tidur siang di sana. Dia pulang dengan memakai tak

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 152

    Arhan tersenyum. Dia menatap ibunya dengan tenang, seolah tidak ada hal apa pun yang perlu dicemaskan. "Memang aku harus bagaimana, Bu? Kami kan sama-sama dewasa, bukannya wajar jika kami bersikap biasa saja? Tidak perlu umbar kemesraan. Itu sangat aneh." Wina menghela napas. Dia tahu putranya memang bukan tipe lelaki romantis, tapi dia merasa sikap Arhan pada Ofi bukan dingin biasa, melainkan seperti lelaki asing yang tidak punya perasaan pada Ofi. Mungkin karena mereka sedang marahan? Tapi lelaki kaku seperti Arhan bahkan tidak tahu bagaimana caranya curhat. "Kalau ada masalah bilang saja sama Ibu. Siapa tahu Ibu bisa kasih solusi? Bagaimana pun kan sebentar lagi kalian menikah?" "Ibu tidak perlu pikirkan soal ini. Lebih baik Ibu fokus dengan kesehatan Ibu saja." Arhan mulai enggan terus-terusan membahas soal Ofi. "Sudah siang, Arhan harus ke kantor. Lelaki itu memilih berpamitan, setelah memastikan kondisi ibunya baik-baik saja. *** Di dapur, Ziana masih sibuk me

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 151

    Kening Arhan mengernyit tak menyangka. Ibunya tidak bilang apa pun padanya. "Apa Ibu mengatakan sesuatu? Atau berbuat hal yang tidak mengenakan?"Ziana menggeleng. "Bu Wina baik. Dia sempat mencicipi masakanku dan kami mengobrol ringan." Tidak ada raut sedih saat Ziana bicara, dia tidak terlihat bohong. Jadi benar Wina datang ke rumah? "Boleh, ya?" "Baiklah." Arhan tidak lagi menolak saat gadis itu memegang lengannya dan ikut berjalan ke arah mobil. Ziana duduk anteng dengan sesekali menoleh untuk menatap Arhan, lalu tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu bukan sedang menggoda, tapi mungkin tidak bisa menutupi rasa senangnya karena Arhan tidak lagi menolak mentah-mentah perasaannya. ***Ziana mengerti dengan baik, meski saat berdua dia boleh dekat dengan Arhan namun di luar Ziana harus paham posisi. Dia berjalan membuntut ketika Arhan memasuki rumah ibunya. Wina berada di kamarnya. "Arhan, kamu datang?" Wina tersenyum lega. "Ofi juga ke sini, dia sangat mencemaskan keadaan Ibu.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 150

    "Ayah, pelan-pelan. Ini masih pagi, tapi Ayah sudah buru-buru sekali sampai tersedak!" tegur Sandra yang baru datang. Gadis itu melihat ayahnya yang menyedihkan. Masih pagi tapi sudah apes karena tersedak sampai minuman di cangkir sebagian tumpah mengenai celana kerjanya. Ups! Ziana tersenyum samar. Dia mengambil tisu lalu membantu Arhan mengelap bagian yang basah. "Celana Pak Arhan jadi basah, apa Anda ingin berganti? Aku akan siapkan?" Tangan Ziana masih menumpu di paha Arhan yang basah. Bergerak perlahan, meski ada kain yang menghalangi sentuhan itu, namun tetap saja sentuhan Ziana sukses membuat sesuatu dalam diri lelaki itu bergejolak. Sandra tidak melihatnya karena terhalang meja. Untuk sesaat Arhan dan Ziana saling pandang, Arhan tidak bisa diam saja menghadapi tingkah gadis muda yang sejak pagi sudah sangat aktif. Dia membalas dengan menangkap jemari Ziana lalu meremasnya sebentar hingga Ziana bersusah payah menarik tangan dan menjauhkan diri agar Sandra tid

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 149

    Sandra menatap ayahnya dengan alis terangkat, merasa pertanyaan itu sangat tidak penting untuk ayahnya. Tumben banget bertanya basa-basi. "Enggak papa, Ayah. Sandra masih kangen, mau ngobrol banyak sama Zi," jelasnya kembali melangkah dan menarik Ziana menjauh. Ziana terpaksa beranjak, dia menoleh ke belakang dan melemparkan senyum pada lelaki yang berdiri kaku di sana. Ziana tidak tahu apa yang Arhan pikirkan, ekspresinya masih terkesan datar, namun tatapan yang mengarah pada Ziana cukup membuat gadis itu percaya kalau Arhan tertarik padanya! ***Sandra sungguh terus menempel, gadis itu tidak berhenti-henti mengoceh sejak tadi. Dan sekarang Sandra tiduran sambil memeluk Ziana. "Sebenarnya aku takut, Zi. Aku juga ingin berhenti, tapi gimana? Kayaknya aku kadung cinta banget sama Endra," kata Sandra bucin. "Dia pacar pertamaku! Apa aku minta dia buat cepet-cepet lamar ya? Keknya enggak masalah kalo kita udah nikah sekali pun masih kuliah. Menurutmu gimana, Zi?" "... " Sandra b

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 148

    Ziana terbatuk, dia sampai tersedak ludah sendiri saat mendengar ocehan Sandra yang ngawur. "Sandra, kamu ini apa si--" Ziana menyikut Sandra yang jail, namun gadis itu malah makin keras tertawa sambil melirik Aris. "Sepertinya Om Aris juga suka kamu, Zi. Pada pandangan pertama. Lihat tuh, kupingnya merah!" Sandra berbisik, tapi dengan suara yang keras sampai Aris dengar dan diam-diam matanya membulat. "Sandra--" Ziana mencubit paha Sandra di sebelahnya. Dia merasa sangat amat malu dan tidak enak hati, mana yang Sandra ucapkan itu banar, kuping Aris terlihat sangar merah, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Melihat putranya terpojok, meski diam-diam Lisa menahan senyum dia tetap membantu. "Huush, sudah, ayo lanjutkan lagi makannya. Kita bisa ngobrol lebih seru kalo sudah selesai makan malam." Akhirnya Aris bisa sedikit tenang, senyum tak jelas itu masih Sandra lontarkan tapi paling tidak Sandra tidak lagi berisik. *** Dua jam berlalu, dan Arhan masih menunggu sesu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status