Share

Bab 21 Terpergok

Penulis: Ratu As
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-28 19:58:25

Ziana cukup peka ketika melihat Arhan tidak sebugar biasanya.

Sebelah tangan Arhan mengusap perutnya. "Hanya sedikit tidak nyaman di bagian perut."

"Apa yang bisa kubantu, Pak Arhan?" Ziana merespon, dia cukup panik tahu jika Arhan sakit.

"Saya rasa ini karena asam lambung."

"Pak Arhan kena GERD? Bagaimana jika kubuatkan teh jahe? Teh jahe dapat membantu meredakan gejala GERD karena sifat anti-inflamasi dan antioksidannya yang dapat menenangkan saluran pencernaan dan mengurangi peradangan."

Ziana langsung tanggap, gadis itu bahkan tak segan meminta Arhan menunjukkan dapur di rumah itu.

"Aku buatkan dulu." Ziana melihat dapur yang bersih juga sepi, tak ada satu pun pembantu di sana.

Dia pikir, mungkin mereka semua sudah pada tidur setelah menyelesaikan pekerjaan? Jam sudah menunjuk pukul sebelas, hanya Ziana dan teman-temannya yang begitu asyik sampai lupa waktu.

Arhan dan Ziana berjalan beriringan ke arah dapur.

Ziana pun membatin, apa dia baru saja terhipnotis? Kenapa tadi de
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 171

    Ziana membalik badan, dia ingin menghindar, kalau perlu berlari. "Ziana, tunggu aku ingin bicara! Ahhh.... " Suara Aziel diiringin dengan erangan kesakitan. "Ahhh, kakiku sakit sekali!" keluh lelaki itu dengan menyedihkan. Langkah Ziana terhenti, dia menghentakkan kakinya. Kesal. Namun, rasa kemanusiaan membuatnya tidak bisa abai. Dia menoleh ke arah Aziel yang terjatuh dari kursi roda karena mencoba mengejarnya. Tanpa bicara Ziana menolong Aziel untuk duduk di kursi rodanya. Pemuda itu terus menatapnya dengan senyum haru. "Zi, sebenarnya kamu enggak usah repot-repot untuk diam-diam menjengukku," kata Aziel dengan binar senang saat melihat bawaan Ziana. Sementara Ziana mengernyitkan keningnya. "Ayo ke ruanganku, kamu bisa letakan buah dan makanannya di meja." "Apa maksudmu?" Ziana bicara sedikit ketus. "Siapa juga yang mau menjengukmu. Aziel, kamu mulai sinting ya? Untuk apa bersikap sok manis begini?" Ekspresi Ziana buruk, dia cemberut dan gemas. "Kamu ... bukankah ke ruma

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 170

    Arhan mengusap lehernya dengan tidak nyaman, lalu menutup laptopnya dan berdiri. Ofi mendekat, tangannya lancang menyentuh leher Arhan. "Ini bekas gigitan kan?" tuduhnya penuh curiga. "Ofi," Arhan menepis tangan wanita itu. Terlihat jelas jika Arhan enggan menjelaskan. Dafa yang juga ada di sana jadi canggung, padahal ingin mengatakan jika rapat akan segera dimulai dan Arhan harus ke ruang rapat. "Kenapa? Aku tahu jelas bekas apa itu? Kenapa tidak jujur saja, kamu melakukannya dengan wanita bayaran... atau--""Ofi, aku tidak perlu membentakmu kan? Kamu tahu jelas bagaimana hubungan kita. Jangan melewati batas.... "Ziana! Tangan Ofi mengepal saat mengingat gadis itu, dia yakin jelas Arhan tidak mungkin tidur dengan sembarang wanita. "Tapi.... " Ofi ingin menahan Arhan saat lelaki itu menghampiri Dafa di pintu. "Rapat akan segera dimulai, Pak," ujar Dafa sungkan. Dia sedikit takut dengan ekspresi Arhan sekarang. Apalagi suasana penuh ketegangan seperti ini. Sial sekali Dafa har

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 169

    Arhan tidak menyahut, namun dia tersenyum samar membungkukan badannya untuk mengeluarkan Ziana dan menggendongnya. "Ziana," Arhan tersentak ketika posisi yang Ziana inginkan bukan dengan dibopong melainkan digendong seperti anak koala yang kakinya melilit pinggang Arhan. "Tidak, masalah kan? Kamu bilang Sandra tidak di rumah hari ini?" Ziana berkata dengan manja, tanpa segan merangkul leher Arhan erat-erat dan menyenderkan kepalanya. "Baiklah, gadis manja. Kalau begini akan menghilangkan rasa takutmu yang tadi, aku bisa menggendongmu sampai ke lantai atas, kalau mau."Ziana terkekeh. "Aku tahu Pak Arhan kuat, bahkan untuk menggendongku naik-turun tangga," katanya menggoda sambil mengusap lengan Arhan yang berotot. Tubuh Ziana ramping, mudah bagi Arhan untuk memindahkannya. ***Arhan balik ke kamarnya setelah memastikan Ziana bisa beristirahat dan kembali mengumpulkan energinya yang terkuras. Sementara Arhan berendam di kamar mandi untuk merilekskan otot-ototnya yang teras pegal.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 168

    "Beraninya kamu...." Raya mengangkat tangan ingin meraih rambut Ziana dan menjambaknya. Beruntung gadis itu punya reflek yang bagus untuk menghindar. "Kak Raya, apa yang ingin kamu lakukan?" tegur Arhan yang baru saja sampai dan melihat Raya yang hendak menganiaya Ziana. "Arhan, lihat! Dia berani menamparku!" adu Raya menunjukan pipinya yang memerah. Arhan jelas tidak langsung terhasut, dia berjalan dengan tenang dan berdiri di dekat mereka. Ziana menggeleng, dia tidak bicara tapi dari raut wajahnya Arhan mengerti apa yang gadis itu alami. "Kak Raya, Ziana tidak mungkin berani jika kamu tidak memulai lebih dulu. Atas dasar apa Kak Raya menampar Ziana?" Arhan lihat pipi Ziana yang juga merah, tak kalah menyedihkan. "Dia gadis jalang pembawa sial!" tuduh Raya kasar. Matanya memerah benci. "Pembawa sial? Kak Raya menyebut seseorang yang sudah menyelamatkan Aziel dengan sebutan pembawa sial?" Arhan mengerutkan keningnya. "Tidak salah, Kak Raya memang benar-benar gila.""Arhan!" Ra

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 167

    Sebuah mobil sport yang melaju cepat dihantam oleh sebuah truk dari samping hingga membuat mobil kecil itu terbentur keras dan terpelanting menabrak tiang jalan. Hantam yang sangat keras dari belakang hingga mobil sport itu ringsek dan memericikan api. Kecelakaan itu terjadi di depan mata Ziana, dia tidak asing dengan mobil sport itu. Tanpa berpikir apa pun Ziana berlari. "Awas! Jangan dekati mobil itu, bisa saja meledak!" Beberapa orang termasuk supir taksi memperingatkan Ziana. Namun gadis itu tidak gentar untuk terus berlari dan mendekat, dia berharap masih punya waktu untuk menolong di tengah kobaran api di bagian belakang mobil yang mulai membesar. "Ayo keluar!" Dengan susah payah Ziana membuka pintu mobil yang sedikit ringsek lalu menarik pemuda di dalamnya keluar. Aziel menyipitkan matanya dengan pengelihatan yang mulai kabur. Dia berguman minta tolong di saat darah dari kepalanya terus mengucur. Ziana menyeretnya sekuat tenaga hingga menjauh lalu beberapa orang mu

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 166

    Setelah dari makam ibunya, Sandra mengajak ayahnya ke vila. Dia ingin berjalan-jalan di taman dimana di sana dia sering kali merasakan kehadiran ibunya meski hanya lewat khayalan. "Ayah, masih saja begitu dingin pada wanita. Juga pada Ibu Ofi. Kenapa? Kalian kan akan segera menikah!" Sandra cemberut, dia sebal karena tidak melihat banyak perubahan sikap ayahnya untuk Ofi. "Harusnya, kalian lebih mesra lagi." Arhan berjalan tegap, dia memasukkan kedua tangannya ke saku sedangkan Sandra melendoti lengannya. "Seberapa ingin kamu menjadikan dia ibumu? Apa tidak bisa jika bukan dia?" Pertanyaan Arhan sedikit membuat Sandra kaget, karena sebelumnya Arhan tidak pernah menunjukan penolakan dalam bahasa apa pun. Sandra tersenyum. "Ayah ingat? Sejak Tante Ofi menolongku saat itu aku merasa jatuh hati padanya. Yah, aku hanya merasa dia baik....""Bagaimana jika dia tidak sebaik yang kamu pikirkan?" Sandra menghela napasnya, dia kembali merasa ayahnya yang tidak antusias. Tidak ada jawaba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status