Share

Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku
Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku
Penulis: Nadia Styn

1. Pria di Bar Semalam

Penulis: Nadia Styn
last update Tanggal publikasi: 2025-10-20 17:06:17

Usai mendapat kabar bahwa aku diterima kerja, aku berpesta dan minum-minum. Tapi ternyata, itu membawaku pada malapetaka tak terduga.

Tiga gelas wiski sudah tandas, dan aku tahu aku sudah melewati batasku.

Tiap kali terpengaruh alkohol, aku tidak bisa mengontrol diri dan selalu bertingkah sesuka hati.

“Anna, kau mau ke mana?” tanya Jane, sahabatku.

Aku hanya menunjuk toilet yang ada di ujung. Jane kemudian mengingatkanku, “Kau mabuk. Jangan berbuat yang aneh-aneh!”

Saat berjalan sedikit gontai, mataku terkunci pada sosok yang sangat menarik di depan sana.

Seorang pria tampan berdasi merah marun, duduk sendirian, memancarkan aura dingin yang pekat. Aura itu membuatku lupa pada peringatan Jane, bahkan lupa pada niatku untuk ke toilet.

Pikiranku yang dipengaruhi alkohol hanya bisa membatin satu hal, "Dia idamanku."

"Hai," sapaku dengan suara serak yang sengaja kubuat menggoda.

Pria itu sudah mengangkat gelas kacanya, namun gerakannya terhenti. Dia mengangkat pandangan, dan saat itulah mata kami bertemu.

Dia membeku. Kedua mata birunya yang tajam perlahan melebar.

Dia tidak membalas sapaanku. Sebaliknya, dia berbisik dengan suaranya yang tercekat penuh kerinduan. "Paula?"

Aku yang masih punya setengah kesadaran, hanya bisa mengerjap bingung. Siapa Paula?

Sebelum aku sempat buka mulut, dia sudah bangkit. Tangannya terulur, nyaris gemetar, menyentuh pipiku.

Tindakannya itu membuatku terkesiap, membeku di tempat. Sentuhannya hangat, tapi sarat akan kehilangan.

"Kau kembali...," gumamnya lagi, ibu jarinya mengusap pelan tulang pipiku.

Jantungku berdebar tak karuan. Tiba-tiba, dia terhenti. Matanya terpaku lekat pada mataku. Dia menundukkan wajahnya dan mendekat.

Aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa kulitku, beraroma wiski. Aku menahan napas. Matanya yang tadi berkabut dan penuh kerinduan, kini menatapku lekat, seolah dia baru saja sadar siapa aku.

Tepat saat bibirnya nyaris menyentuh bibirku, sesuatu seperti menahannya.

"Kau bukan dia,” ucap pria itu.

Dalam sekejap, kehangatan yang terpancar darinya lenyap. Cara tatapannya berubah, kini penuh ... rasa jijik? Atau mungkin kecewa.

Dia menarik tangannya dari wajahku seolah baru saja menyentuh bara api, lantas mendesis, “Ah, lupakan.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik, menyambar jasnya dari sofa, dan berjalan cepat keluar dari bar.

Aku masih mematung bingung di sudut sofa. Pipiku pun masih terasa hangat bekas sentuhan tangannya.

***

"Siapkan mentalmu, Anna!"

Suara Margaret, resepsionis Lawrence Company, membuyarkan lamunanku. Ini hari pertamaku. Kepalaku masih berdenyut pusing, akibat alkohol yang kuminum semalam.

"Memangnya kenapa?" tanyaku, berusaha fokus.

"Tuan Lawrence," bisik Margaret. "CEO kita. Dia sudah memecat tujuh sekretaris dalam dua tahun terakhir. Kau yang kedelapan jika dia memecat lagi. Dia itu killer. Terlalu keras, banyak menuntut, dan berhati dingin. Jadi, kuatkan dirimu untuk menghadapinya."

Jantungku yang tadinya berdebar pelan, kini mulai gugup.

Tujuh sekretaris dalam dua tahun? Itu tidak normal.

Margaret mengantarku ke lantai 35 gedung Lawrence Company, lantai para eksekutif perusahaan pengembangan teknologi itu. Begitu pintu lift terbuka, suasana yang terpancar di lantai itu langsung terasa kaku. Dia menunjukkan meja kubikalku, tepat di depan ruangan terbesar di ujung koridor, ruang sang CEO.

Kuperhatikan, pintu kayu mahoni ruangan CEO itu terukir nama: Mark Christopher Lawrence.

Tepat sedetik kemudian, aku mendengar suara sapaan yang tak jauh di belakangku.

"Selamat pagi, Tuan Lawrence," sapa beberapa karyawan, serempak dan tegang.

Suara-suara itu membuatku otomatis berbalik, tanganku refleks merapikan rok pensilku yang sebenarnya tidak kusut, dan mengangkat kepala dengan senyum profesional nomor satu yang sudah kusiapkan sejak di lift.

Senyumku mati di wajah.

Celaka.

Seluruh darah di tubuhku langsung surut ke kaki. Perutku melilit seketika, dan aku bersumpah telingaku berdenging. Tubuhku menegang kaku, sampai rasanya sulit bernapas.

Yang barusan disebut Tuan Lawrence oleh orang-orang adalah pria itu.

Pria di bar semalam.

Pria yang menatapku seolah aku adalah hantu, lalu menyebutku “Paula”. Pria yang... astaga... pria yang menyentuh wajahku dengan tatapan rindu gila, lalu sedetik kemudian mendorongku seolah aku menjijikkan dan pergi begitu saja.

Dia adalah Mark Christopher Lawrence. CEO Lawrence Company. Bos killer yang Margaret bilang sudah memecat tujuh sekretaris.

Ya Tuhan. Ini canggung sekali. Jantungku bukan hanya terasa akan melompat keluar, rasanya sudah meledak di dalam dadaku.

Aku hanya berdiri di sana seperti orang bodoh, senyum konyolku yang tadi sudah kusiapkan pasti terlihat seperti ringisan orang kesakitan.

Apa dia akan mengenaliku? Apa dia ingat kejadian semalam? Apa dia ingat dia hampir menciumku?

Lebih penting lagi, apa dia akan langsung memecatku di hari pertama?

Aku ingin sekali bersembunyi di bawah meja kubikalku. Aku tidak tahu harus apa. Haruskah aku menyapanya? Atau lebih baik aku pura-pura tidak melihat, menunduk, dan berharap dia tidak menyadari keberadaanku?

Sialan. Kenapa juga aku harus mabuk dan berniat menggodanya semalam?

Aku bisa merasakan pipiku memanas. Aku yakin wajahku sudah semerah dasi yang dia kenakan di bar.

Aku memaksakan diri menelan ludah, lantas menunduk kecil. "Selamat pagi, Tuan."

“Pagi.” Mark Christopher Lawrence merespons sapaanku, tapi hanya satu kata yang datar, bahkan dia tidak melirikku sama sekali! Dia menatap lurus ke depan, wajahnya sedingin es, seolah aku adalah debu tak terlihat di lantai marmer.

Mark melenggang lurus melewati mejaku dan aku pun terduduk kembali di kursi, lemas. Dia... dia tidak mengenaliku? Atau dia pura-pura tidak kenal?

Belum sempat aku menarik napas, telepon di mejaku berdering nyaring.

Aku mengangkatnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

[Segera siapkan laporan keuangan bulan lalu yang tersimpan di arsip digital!]

Suara bariton yang dingin dan tajam itu menusuk telingaku. Itu suara bosku.

“Ba-baik, Tuan.”

Sungguh, ini adalah hari pertama yang mendebarkan!

Memasuki hari kedua, ketiga, dan keempat, jantungku terus berdebar setiap kali mendengar pintu ruangan Mark terbuka. Aku masih tegang tiap kali harus bicara dengannya, cemas jika dia tiba-tiba mengungkit kejadian di bar dan menendangku keluar.

Tepat jam setengah satu siang, ketika dia menyuruhku mausk ke ruangannya, aku menarik napas panjang sebelum masuk ke ruangan Mark. Mark tidak berpaling dari iPad-nya saat aku berdiri kaku di depan mejanya.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

“Lily putriku, pengasuhnya berhenti pagi ini,” katanya datar, masih menatap layar. “Aku ada rapat dewan sebentar lagi. Kau jemput dia di sekolah. Sekarang.”

Aku mengerjap. “Maaf, Tuan?”

Mark akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapan biru tajamnya menusukku. “Apa ada yang tidak jelas, Anastasia Walter? Kubilang, jemput putriku.”

Aku belum merespons, tetapi dia langsung menyebutkan nama sebuah sekolah elite di Manhattan dan berlanjut berkata, “David, asistenku, akan menunggumu di sana. Kau bisa pergi sekarang.”

Ini jelas di luar job desk seorang sekretaris CEO. Gaji yang mereka tawarkan memang fantastis, tapi aku tidak tahu kalau pekerjaanku akan mencakup tugas pribadi sang CEO juga.

Perjalanan ke sekolah itu memakan waktu hampir tiga puluh menit. Sekolahnya megah, lebih mirip istana kecil daripada tempat belajar.

Di gerbang depan, aku melihat seorang pria tinggi berpakaian serba hitam, wajahnya kaku seperti batu.

Dia pasti David.

Di sebelahnya, berdiri seorang gadis kecil berambut pirang, mengenakan seragam sekolah yang rapi. Dia menunduk, memainkan tali ransel pink-nya dengan tenang, tampak mungil dan kesepian.

Itu pasti Lily.

Aku menghampiri mereka dengan sedikit gugup, menyiapkan senyum ceria sebelum menyapa putri bosku.

"Halo!” sapaku pada gadis kecil itu.

Aku berlutut menyejajarkan tingginya setelah dia mendongak untuk menatapku. "Kau pasti Lily, ‘kan? Aku Anna. Aku sekretaris baru ayah—"

Kalimatku terputus, karena tiba-tiba dia langsung maju menubrukku. Kedua lengan mungilnya memeluk leherku erat, saking eratnya sampai aku nyaris kehilangan keseimbangan.

Aku tercenung bingung, pun juga terkejut.

Dapat kurasakan tubuh mungil Lily yang menempel denganku gemetar. Dengan suaranya yang menyayat hati, Lily berbisik di telingaku, “Ibu?”

Dia menarik diri sedikit, menangkup wajahku dengan kedua tangan mungilnya. Matanya yang lugu dipenuhi air mata yang siap tumpah. “Ibu... Kau kembali untukku?”

***

Bersambung .....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mia Nurfitriani
huaaahhh ternyata seru juga huhu, maafkan aku Thor baru baca hehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   143. Please, Jadi Ibuku! (END)

    Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   142. Resmi Jadi Duda

    “Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   141. Anak yang Tak Dianggap

    “Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   140. Menantikan Perceraian

    “Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   139. Berkat Kehadiranmu

    Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   138. Terancam Dipenjara

    “Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   16. Seperti Ibu Peri

    Seumur-umur, baru pertama kali aku menaiki jet pribadi. Jet pribadi milik Mark itu membawa kami ke Kota Palm Beach di Florida. Selama kami berlibur, kami akan menginap di sebuah vila besar yang terletak di kawasan Worth Avenue di Palm Beach.Selain David yang tentunya harus ikut dengan kami, ada d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   19. Bukan Pria yang Baik

    “Berikan ponselmu.”“Mark, aku... ini hanya....”Mark menggerakkan jemarinya yang sudah terjulur. Suaranya lebih tegas kala dia menitah, “Berikan!”Dengan tanganku yang agak gemetar, sebab aku terlalu gugup memikirkan apa yang mungkin akan dia lakukan setelah ini, aku terpaksa menyerahkan ponselku

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   22. Seperti Anak Sendiri

    Sudah lima hari berlalu sejak aku, Mark, dan Lily kembali ke New York setelah tiga hari kami berada di Florida.Lily semakin ceria pasca kami pulang. Tingkah manisnya yang penuh semangat, membuatku merasa cukup lega, karena tampaknya dia tak lagi memikirkan mimpi buruknya yang membuatnya histeris w

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   21. Mimpi Buruk Lily

    “Kenapa anak yang cantik ini menjerit saat tidur? Apakah ada yang mengganggu tidurmu?”“Aku mimpi seram lagi, Ibu...,” katanya. Matanya masih sembap. Ketika menjawab pertanyaanku barusan, suaranya pun sangat serak dan diselingi batuk-batuk.“Maukah kau bercerita tentang mimpimu??”Lily mengangguk,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status