LOGIN
Usai mendapat kabar bahwa aku diterima kerja, aku berpesta dan minum-minum. Tapi ternyata, itu membawaku pada malapetaka tak terduga.
Tiga gelas wiski sudah tandas, dan aku tahu aku sudah melewati batasku. Tiap kali terpengaruh alkohol, aku tidak bisa mengontrol diri dan selalu bertingkah sesuka hati. “Anna, kau mau ke mana?” tanya Jane, sahabatku. Aku hanya menunjuk toilet yang ada di ujung. Jane kemudian mengingatkanku, “Kau mabuk. Jangan berbuat yang aneh-aneh!” Saat berjalan sedikit gontai, mataku terkunci pada sosok yang sangat menarik di depan sana. Seorang pria tampan berdasi merah marun, duduk sendirian, memancarkan aura dingin yang pekat. Aura itu membuatku lupa pada peringatan Jane, bahkan lupa pada niatku untuk ke toilet. Pikiranku yang dipengaruhi alkohol hanya bisa membatin satu hal, "Dia idamanku." "Hai," sapaku dengan suara serak yang sengaja kubuat menggoda. Pria itu sudah mengangkat gelas kacanya, namun gerakannya terhenti. Dia mengangkat pandangan, dan saat itulah mata kami bertemu. Dia membeku. Kedua mata birunya yang tajam perlahan melebar. Dia tidak membalas sapaanku. Sebaliknya, dia berbisik dengan suaranya yang tercekat penuh kerinduan. "Paula?" Aku yang masih punya setengah kesadaran, hanya bisa mengerjap bingung. Siapa Paula? Sebelum aku sempat buka mulut, dia sudah bangkit. Tangannya terulur, nyaris gemetar, menyentuh pipiku. Tindakannya itu membuatku terkesiap, membeku di tempat. Sentuhannya hangat, tapi sarat akan kehilangan. "Kau kembali...," gumamnya lagi, ibu jarinya mengusap pelan tulang pipiku. Jantungku berdebar tak karuan. Tiba-tiba, dia terhenti. Matanya terpaku lekat pada mataku. Dia menundukkan wajahnya dan mendekat. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa kulitku, beraroma wiski. Aku menahan napas. Matanya yang tadi berkabut dan penuh kerinduan, kini menatapku lekat, seolah dia baru saja sadar siapa aku. Tepat saat bibirnya nyaris menyentuh bibirku, sesuatu seperti menahannya. "Kau bukan dia,” ucap pria itu. Dalam sekejap, kehangatan yang terpancar darinya lenyap. Cara tatapannya berubah, kini penuh ... rasa jijik? Atau mungkin kecewa. Dia menarik tangannya dari wajahku seolah baru saja menyentuh bara api, lantas mendesis, “Ah, lupakan.” Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik, menyambar jasnya dari sofa, dan berjalan cepat keluar dari bar. Aku masih mematung bingung di sudut sofa. Pipiku pun masih terasa hangat bekas sentuhan tangannya. *** "Siapkan mentalmu, Anna!" Suara Margaret, resepsionis Lawrence Company, membuyarkan lamunanku. Ini hari pertamaku. Kepalaku masih berdenyut pusing, akibat alkohol yang kuminum semalam. "Memangnya kenapa?" tanyaku, berusaha fokus. "Tuan Lawrence," bisik Margaret. "CEO kita. Dia sudah memecat tujuh sekretaris dalam dua tahun terakhir. Kau yang kedelapan jika dia memecat lagi. Dia itu killer. Terlalu keras, banyak menuntut, dan berhati dingin. Jadi, kuatkan dirimu untuk menghadapinya." Jantungku yang tadinya berdebar pelan, kini mulai gugup. Tujuh sekretaris dalam dua tahun? Itu tidak normal. Margaret mengantarku ke lantai 35 gedung Lawrence Company, lantai para eksekutif perusahaan pengembangan teknologi itu. Begitu pintu lift terbuka, suasana yang terpancar di lantai itu langsung terasa kaku. Dia menunjukkan meja kubikalku, tepat di depan ruangan terbesar di ujung koridor, ruang sang CEO. Kuperhatikan, pintu kayu mahoni ruangan CEO itu terukir nama: Mark Christopher Lawrence. Tepat sedetik kemudian, aku mendengar suara sapaan yang tak jauh di belakangku. "Selamat pagi, Tuan Lawrence," sapa beberapa karyawan, serempak dan tegang. Suara-suara itu membuatku otomatis berbalik, tanganku refleks merapikan rok pensilku yang sebenarnya tidak kusut, dan mengangkat kepala dengan senyum profesional nomor satu yang sudah kusiapkan sejak di lift. Senyumku mati di wajah. Celaka. Seluruh darah di tubuhku langsung surut ke kaki. Perutku melilit seketika, dan aku bersumpah telingaku berdenging. Tubuhku menegang kaku, sampai rasanya sulit bernapas. Yang barusan disebut Tuan Lawrence oleh orang-orang adalah pria itu. Pria di bar semalam. Pria yang menatapku seolah aku adalah hantu, lalu menyebutku “Paula”. Pria yang... astaga... pria yang menyentuh wajahku dengan tatapan rindu gila, lalu sedetik kemudian mendorongku seolah aku menjijikkan dan pergi begitu saja. Dia adalah Mark Christopher Lawrence. CEO Lawrence Company. Bos killer yang Margaret bilang sudah memecat tujuh sekretaris. Ya Tuhan. Ini canggung sekali. Jantungku bukan hanya terasa akan melompat keluar, rasanya sudah meledak di dalam dadaku. Aku hanya berdiri di sana seperti orang bodoh, senyum konyolku yang tadi sudah kusiapkan pasti terlihat seperti ringisan orang kesakitan. Apa dia akan mengenaliku? Apa dia ingat kejadian semalam? Apa dia ingat dia hampir menciumku? Lebih penting lagi, apa dia akan langsung memecatku di hari pertama? Aku ingin sekali bersembunyi di bawah meja kubikalku. Aku tidak tahu harus apa. Haruskah aku menyapanya? Atau lebih baik aku pura-pura tidak melihat, menunduk, dan berharap dia tidak menyadari keberadaanku? Sialan. Kenapa juga aku harus mabuk dan berniat menggodanya semalam? Aku bisa merasakan pipiku memanas. Aku yakin wajahku sudah semerah dasi yang dia kenakan di bar. Aku memaksakan diri menelan ludah, lantas menunduk kecil. "Selamat pagi, Tuan." “Pagi.” Mark Christopher Lawrence merespons sapaanku, tapi hanya satu kata yang datar, bahkan dia tidak melirikku sama sekali! Dia menatap lurus ke depan, wajahnya sedingin es, seolah aku adalah debu tak terlihat di lantai marmer. Mark melenggang lurus melewati mejaku dan aku pun terduduk kembali di kursi, lemas. Dia... dia tidak mengenaliku? Atau dia pura-pura tidak kenal? Belum sempat aku menarik napas, telepon di mejaku berdering nyaring. Aku mengangkatnya dengan tangan yang sedikit gemetar. [Segera siapkan laporan keuangan bulan lalu yang tersimpan di arsip digital!] Suara bariton yang dingin dan tajam itu menusuk telingaku. Itu suara bosku. “Ba-baik, Tuan.” Sungguh, ini adalah hari pertama yang mendebarkan! Memasuki hari kedua, ketiga, dan keempat, jantungku terus berdebar setiap kali mendengar pintu ruangan Mark terbuka. Aku masih tegang tiap kali harus bicara dengannya, cemas jika dia tiba-tiba mengungkit kejadian di bar dan menendangku keluar. Tepat jam setengah satu siang, ketika dia menyuruhku mausk ke ruangannya, aku menarik napas panjang sebelum masuk ke ruangan Mark. Mark tidak berpaling dari iPad-nya saat aku berdiri kaku di depan mejanya. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Lily putriku, pengasuhnya berhenti pagi ini,” katanya datar, masih menatap layar. “Aku ada rapat dewan sebentar lagi. Kau jemput dia di sekolah. Sekarang.” Aku mengerjap. “Maaf, Tuan?” Mark akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapan biru tajamnya menusukku. “Apa ada yang tidak jelas, Anastasia Walter? Kubilang, jemput putriku.” Aku belum merespons, tetapi dia langsung menyebutkan nama sebuah sekolah elite di Manhattan dan berlanjut berkata, “David, asistenku, akan menunggumu di sana. Kau bisa pergi sekarang.” Ini jelas di luar job desk seorang sekretaris CEO. Gaji yang mereka tawarkan memang fantastis, tapi aku tidak tahu kalau pekerjaanku akan mencakup tugas pribadi sang CEO juga. Perjalanan ke sekolah itu memakan waktu hampir tiga puluh menit. Sekolahnya megah, lebih mirip istana kecil daripada tempat belajar. Di gerbang depan, aku melihat seorang pria tinggi berpakaian serba hitam, wajahnya kaku seperti batu. Dia pasti David. Di sebelahnya, berdiri seorang gadis kecil berambut pirang, mengenakan seragam sekolah yang rapi. Dia menunduk, memainkan tali ransel pink-nya dengan tenang, tampak mungil dan kesepian. Itu pasti Lily. Aku menghampiri mereka dengan sedikit gugup, menyiapkan senyum ceria sebelum menyapa putri bosku. "Halo!” sapaku pada gadis kecil itu. Aku berlutut menyejajarkan tingginya setelah dia mendongak untuk menatapku. "Kau pasti Lily, ‘kan? Aku Anna. Aku sekretaris baru ayah—" Kalimatku terputus, karena tiba-tiba dia langsung maju menubrukku. Kedua lengan mungilnya memeluk leherku erat, saking eratnya sampai aku nyaris kehilangan keseimbangan. Aku tercenung bingung, pun juga terkejut. Dapat kurasakan tubuh mungil Lily yang menempel denganku gemetar. Dengan suaranya yang menyayat hati, Lily berbisik di telingaku, “Ibu?” Dia menarik diri sedikit, menangkup wajahku dengan kedua tangan mungilnya. Matanya yang lugu dipenuhi air mata yang siap tumpah. “Ibu... Kau kembali untukku?” *** Bersambung .....Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har
“Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm
Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t
“California? Mengatakan... mengatakan apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”Pertanyaan bingungku barusan, tak ditanggapi. William malah bergeming lama.Tatapannya tak lepas dari wajahku, dan itu membuatku sedikit merasa diintimidasi. Namun, aku bisa melihat kegelisahannya semakin besar.Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada suratan penyesalan di mata itu, terlebih setelah dia menyadari sesuatu setelah aku balik bertanya.Jelas pria tua ini sedang menahan hal besar di dalam pikirannya, pun juga di balik lidahnya yang tertahan.Tapi aku tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pula mengapa dia mengajakku bicara tentang California, sehingga aku menunggu sedikit detail atau penjelasan.“Jadi, kau bisa mengenal Mark, karena kau bekerja untuknya?” William malah mengganti pertanyaan.“I-iya, Tuan.” Aku mengangguk berkali-kali. “Saya sekretaris Mark di Lawrence Company. Lalu, ehm... karena kondisi kesehatan Lily, beberapa bulan yang lalu, Mark juga meminta saya untuk menjadi pengasuh Lily.”
Ketika Mark memintaku untuk ‘menunggu’, sekujur tubuhku semakin membeku. Lidahku di balik bibir yang terkatup rapat pun kelu.Entah harus bagaimana menanggapi itu.Lagi dan lagi, dia menempatkanku dalam posisi di mana aku harus merasa bersalah, seolah aku adalah penjahat.“Anna?” panggil Mark, karena aku diam lama sekali tanpa memberikan tanggapan sedikitpun.Usai mendorong saliva susah payah, akhirnya aku buka mulut.“Aku... apa yang kau ingin aku lakukan dengan keputusanmu itu?” Aku balik bertanya. “Maksudku, jika aku menunggumu menceraikan Paula... bukankah aku terlihat sangat jahat? Mark berkedip lambat, tetapi belum merespons.“Kau memang tidak pernah bilang bahwa kau benar-benar punya perasaan khusus padaku.” Aku tersenyum getir, dan melanjutkan, “Tapi tetap saja intinya sama. Menunggu seorang istri diceraikan, agar aku bisa mendapatkan suaminya... itu jahat sekali, bukan?”“Kau tetap mengatakan itu, padahal kau sudah tahu apa yang telah Paula lakukan padaku dan Lily?” sahut Ma
“Jika kau masih berani menghina Anastasia di hadapanku, aku tidak peduli lagi meski kau sedang hamil. Aku akan langsung mengurus perceraian kita.” Paula menelan ludah. Namun, kelopak bawah matanya terangkat, membuat kedua matanya memicing. “Bisa-bisanya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti ini, hanya untuk membela sekretarismu,” desis Paula. “Kau yang membuatku bertindak seperti ini. Kau seharusnya sadar betapa keterlaluannya dirimu, Paula.” “Aku hanya memberi masukan kepadamu atas keputusan bisnis yang kau lakukan, Mark. Aku mencoba menolongmu!” sahut Paula. “Aku tidak butuh masukanmu.” “Kau benar-benar keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan klien besarmu jatuh ke tangan kompetitormu!” “Kenapa? Apakah karena Rieley Group sedang dalam krisis belakangan ini, sehingga proyek Mr. Weenie kemungkinan bisa menyelamatkan profit mereka, sedangkan alasanmu kembali padaku adalah karena Jackson Rieley sudah berada jauh di bawahku dan hampir bangkrut? Begitu?” Mark memberi jeda unt







