Share

20. Jeritan di Antara Dosa

Author: Nadia Styn
last update Last Updated: 2025-11-12 21:56:59

“Kau bilang apa barusan?”

Aku bungkam, diam-diam meraba pintu di belakang punggungku, berharap segera menggapai kenop supaya bisa kabur.

Tapi jelas itu tak mungkin bisa kulakukan, karena Mark sudah berbalik lagi, bahkan juga kembali maju mendekat padaku seperti sebelumnya.

Mencoba mengembalikan suaraku yang seperti hilang pasca ucapan bodoh yang kulontarkan, aku menggeleng panik dan berkata, “Maaf... a-aku tidak bermaksud....”

“Kau tahu?” Mark tersenyum miring.

Aku terdiam gemetar.

“Aku tidak pernah bertemu orang seberani dirimu,” sambungnya.

Segera kutundukkan kepalaku demi menghindari tatapannya yang memipih. Masih terus menahan kepanikan yang membuat tanganku gemetar, aku buka mulut, “Maafkan aku, Mark. Tidak seharusnya aku lancang.”

Dia mencengkeram daguku dengan salah satu tangannya, membuatku kembali mengangkat kepala dan menatapnya lagi.

Berkat sepasang mata biru yang menusuk itu, pendingin ruangan yang menyala terasa berembus persis di depan wajahku, terlalu dingin, berhasil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   114. Menjadi Bahan Gosip Panas

    “Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   113. Wanita Nakal

    Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   112. Sikap Aneh Ayah Mertua Bosku

    “California? Mengatakan... mengatakan apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”Pertanyaan bingungku barusan, tak ditanggapi. William malah bergeming lama.Tatapannya tak lepas dari wajahku, dan itu membuatku sedikit merasa diintimidasi. Namun, aku bisa melihat kegelisahannya semakin besar.Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada suratan penyesalan di mata itu, terlebih setelah dia menyadari sesuatu setelah aku balik bertanya.Jelas pria tua ini sedang menahan hal besar di dalam pikirannya, pun juga di balik lidahnya yang tertahan.Tapi aku tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pula mengapa dia mengajakku bicara tentang California, sehingga aku menunggu sedikit detail atau penjelasan.“Jadi, kau bisa mengenal Mark, karena kau bekerja untuknya?” William malah mengganti pertanyaan.“I-iya, Tuan.” Aku mengangguk berkali-kali. “Saya sekretaris Mark di Lawrence Company. Lalu, ehm... karena kondisi kesehatan Lily, beberapa bulan yang lalu, Mark juga meminta saya untuk menjadi pengasuh Lily.”

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   111. Apakah Itu Tidak Cukup Baginya?

    Ketika Mark memintaku untuk ‘menunggu’, sekujur tubuhku semakin membeku. Lidahku di balik bibir yang terkatup rapat pun kelu.Entah harus bagaimana menanggapi itu.Lagi dan lagi, dia menempatkanku dalam posisi di mana aku harus merasa bersalah, seolah aku adalah penjahat.“Anna?” panggil Mark, karena aku diam lama sekali tanpa memberikan tanggapan sedikitpun.Usai mendorong saliva susah payah, akhirnya aku buka mulut.“Aku... apa yang kau ingin aku lakukan dengan keputusanmu itu?” Aku balik bertanya. “Maksudku, jika aku menunggumu menceraikan Paula... bukankah aku terlihat sangat jahat? Mark berkedip lambat, tetapi belum merespons.“Kau memang tidak pernah bilang bahwa kau benar-benar punya perasaan khusus padaku.” Aku tersenyum getir, dan melanjutkan, “Tapi tetap saja intinya sama. Menunggu seorang istri diceraikan, agar aku bisa mendapatkan suaminya... itu jahat sekali, bukan?”“Kau tetap mengatakan itu, padahal kau sudah tahu apa yang telah Paula lakukan padaku dan Lily?” sahut Ma

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   110. Maukah Kau Menungguku?

    “Jika kau masih berani menghina Anastasia di hadapanku, aku tidak peduli lagi meski kau sedang hamil. Aku akan langsung mengurus perceraian kita.” Paula menelan ludah. Namun, kelopak bawah matanya terangkat, membuat kedua matanya memicing. “Bisa-bisanya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti ini, hanya untuk membela sekretarismu,” desis Paula. “Kau yang membuatku bertindak seperti ini. Kau seharusnya sadar betapa keterlaluannya dirimu, Paula.” “Aku hanya memberi masukan kepadamu atas keputusan bisnis yang kau lakukan, Mark. Aku mencoba menolongmu!” sahut Paula. “Aku tidak butuh masukanmu.” “Kau benar-benar keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan klien besarmu jatuh ke tangan kompetitormu!” “Kenapa? Apakah karena Rieley Group sedang dalam krisis belakangan ini, sehingga proyek Mr. Weenie kemungkinan bisa menyelamatkan profit mereka, sedangkan alasanmu kembali padaku adalah karena Jackson Rieley sudah berada jauh di bawahku dan hampir bangkrut? Begitu?” Mark memberi jeda unt

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   109. Ancaman Perceraian

    “Kau milikku, Anna. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku.”Perkataan Mark di New Jersey kemarin, terus menghantui pikiranku.Aku tidak mengerti.Seharusnya itu menjadi ancaman nyata bagiku, tetapi aku justru malah tersanjung dan semakin... berharap padanya.Mengesampingkan persoalan itu dulu, setelah kemarin berada di New Jersey seharian penuh, hari ini aku sudah datang ke kantor sejak pukul tujuh pagi.Aku harus menyusun tumpukan dokumen penting yang tak tersentuh kemarin.Mark baru akan datang pukul sembilan nanti. Dan sebelum dia datang, dokumen-dokumen itu harus sudah siap.Kupikir David akan menyopiri Mark pagi ini, dan nantinya datang bersama dengan bos kami itu. Namun pukul delapan pagi, ketika aku sedang berkutat dengan komputer di meja Mark untuk menyiapkan folder khusus, David tiba-tiba muncul.“David? Apakah Mark datang lebih cepat?” tanyaku heran. “Astaga... folder yang dia minta belum selesai kususun.”“Tidak,” jawabnya. “Tuan Lawrence memintaku ke sini duluan untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status