Share

Gadis Nakal Tawanan Mafia
Gadis Nakal Tawanan Mafia
Author: Taehyunie05

Bab 1 : Penangkapan

"Jessy, Lari!" 

Gadis yang dipanggil Jessy tersentak kaget saat melihat beberapa temannya yang tengah merangkai bunga berlari ketakutan tak tentu arah. Karena tak tahu apa yang terjadi, gadis itu juga ikut berlari bersama dengan orang yang tadi meneriakinya, Jane.

"Jane, apa yang terjadi?" Tanya Jessy  dengan nada bingungnya seraya terus berlari mengikuti gadis lain. Jane, si gadis berambut ikal melirik ke arah Jessy dengan wajah ketakutan yang begitu kentara di wajah manisnya.

"Ada anak buah dari kelompok Black panther datang untuk menangkap gadis muda seperti kita!"

Jane menarik Jessy ke sebuah gang sempit yang berada di tikungan dekat dengan toko roti di depan sana. Jessy yang tak siap otomatis hampir saja jatuh jika saja Jane tak menahan tubuhnya. Kedua gadis itu berhenti di gang itu sambil menetralkan napasnya yang memburu. Jantung keduanya berdetak kencang karena dipaksa berlari sejauh satu kilometer.

"Kelompok apa itu?" Tanya Jessy dengan napas terengah. Gadis manis itu memegang kedua kakinya yang terasa lelah setelah berlari sejauh itu.

"Kau tak tahu kelompok Black panther?"

Jessy menggelengkan kepalanya dengan polos menanggapi pertanyaan Jane. Gadis berambut itu mengerang frustasi. Ia menjambak rambutnya menatap Jessy tak percaya dengan wajah kesal.

"Black panther adalah kelompok Mafia yang menguasai daerah selatan kota ini. Kabarnya, kelompok itu akan menangkap gadis muda seperti kita untuk ditawan, entah dijual ke pelelangan, dijadikan ambil organnya untuk di pasar gelap bahkan dijadikan pegawai seks komersial," jelas Jane panjang lebar dengan nada pelan. Sesekali, gadis berambut ikal itu mengintip dibalik tembok untuk melihat apakah orang orang itu masih mengejarnya dan Jessy atau tidak.

"Tapi...kenapa mereka malah mengejar gadis seperti kita yang bahkan tak memiliki rupa yang cantik yang bisa menarik perhatian laki laki?" Tanya Jessy bingung seraya memiringkan kepalanya.

Jane melirik ke arah sahabatnya dengan wajah wajah jengkel sekaligus tak percaya. Jane mendekati Renata dengan langkah pelan sekaligus tatapan tajam.

"Tak memiliki rupa yang cantik? Itu tak berlaku untukmu, Jessy,"

"Apa maksudmu?"

"Apa kau tak sadar jika kau memiliki penampilan yang begitu mempesona? Aku dan gadis lain di panti asuhan bahkan sangat iri dengan kecantikan mu," 

"Aku tak mengerti apa yang kau katakan, Jane. Aku malah merasa kalau aku adalah gadis terjelek diantara para gadis di panti asuhan," ujar Jessy dengan nada pelan. Napasnya sudah lebih teratur semenjak ia tak lagi berlari dari kawanan kelompok Mafia yang mengejar mereka.

"Jelek? Kau bercanda?" Tanya Jane dengan mata membelalak. Nada tak suka dengan bibir mengerucut ia tampilkan pada sahabatnya yang begitu lugu ini. 

"Kau ini terlalu sempurna untuk seukuran manusia. Lihatlah dirimu, kau punya mata doe yang cantik berwarna hijau seperti zamrud. Hidungmu begitu kecil dan dan bulu matamu begitu lentik. Bibirmu Semerah cherry matang secara alami dan kulitmu seputih susu. Badanmu begitu bagus layaknya sudah operasi plastik dan rambut hitam milikmu begitu memukau. Dan kau bilang kau gadis yang paling jelek di antara para gadis di panti asuhan?!" 

Jessy menggaruk pipinya yang terasa tak gatal mendengar pujian dari Jane yang menurutnya berlebihan. Gadis itu merasa jika ia tak secantik apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.

"Jane, aku rasa aku tak secantik—"

Ucapan Renata terhenti saat dua orang pria menemukan dirinya dan Jane di gang sempit itu.  Mata hijau milik Jessy membulat sempurna dengan wajah horor yang tercetak di wajah cantiknya. Hal ini tentu membuat kedua gadis itu panik dan kembali berlari agar tak tertangkap oleh pria yang menggunakan pakaian serba hitam.

"Berhenti kalian berdua!" Teriak salah satu dari pria berpakaian hitam itu dengan keras, membuat Jessy dan Jane mempercepat laju larinya tanpa menoleh kebelakang.

Jarak diantara kedua gadis itu dan pria yang mengejar mereka sangatlah pendek. Tanpa banyak bicara, kedua pria itu berhasil menangkap bahu Jessy dan Jane dan menjatuhkan kedua gadis itu ke tanah.

"Akh! Lepaskan aku!" Teriak Jessy berusaha memberontak dan melepaskan diri dari cekalan pria yang menahannya. Tubuh gadis itu menggeliat, mencoba mencari celah agar bisa melepaskan diri.

"Jangan banyak bicara, nona! Ikutlah dengan kami dengan tenang atau kami akan melakukan hal yang lebih kasar untuk membawamu!" 

Pria itu mengancam dengan mata melotot yang membuat Jessy dan Jane menciut ketakutan. Tubuh kedua gadis tak lagi memberontak dan kini bergetar ketakutan.

Setelah mengikat tangan kedua gadis itu dengan tali tambang, Jessy dan Jane dipaksa untuk mengikuti kedua pria itu menuju sebuah bus mini yang terparkir apik di pinggir jalan. Langkah Jessy terseok seok karena pria yang menarik tangannya begitu kasar dan berjalan sangat cepat.

"Masuk!" Perintah pria itu dengan nada membentak. Jessy dan Jane pun masuk mengikuti perintah dengan wajah ketakutan.

Didalam bus, Jessy bisa melihat jika banyak sekali gadis yang tertangkap, sekitar 30 orang. Para gadis itu menatap Jessy  dengan tatapan terkejut dan juga iba.

"Aku tak menyangka jika kau tertangkap juga, Jessy ," sahut gadis berambut pirang yang berada di sisi jendela di kursi kedua. Jessy tersenyum miris mendengar kalimat itu.

"Aku juga tak menyangka jika akan berada disini. Tapi...kita akan dibawa kemana?" Tanya Jessy  seraya duduk di kursi depan bersama dengan Jane, karena hanya kursi itu yang tersisa.

"Dari yang aku dengar, kita akan dibawa ke markas Mafia pusat yang berada di daerah Washington," 

"Oh, jika dibawa ke sana bukankah itu artinya kita berhadapan dengan ketua Mafia bernama Terry Walter?" Tanya Jane dengan wajah pias. Gadis yang berbicara tadi menganggukkan kepalanya dengan kaku.

"Terry Walter?"  Tanya Jessy  dengan nada bingung karena ia tak tahu nama pria yang disebut oleh teman temannya.

"Iya, Terry Walter. Dia adalah pria paling kejam yang pernah ada. Jika ada yang tak menuruti perintahnya, nyawa bisa jadi taruhannya!" 

Wajah Jessy mendadak ikut memucat. Detak jantungnya seolah berhenti saat itu juga dan tubuhnya ikut bergetar ketakutan layaknya anak kucing yang melihat kawanan serigala.

"Kalian serius?" 

"Iya, aku serius, Jessy. Saudara perempuanku juga ditemukan tewas karena mencoba kabur dari sana,"  

Gadis berambut pirang menangis dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Jessy merasa iba sekaligus sedih mendengar cerita menyakitkan itu. Ia ingin menghapus air mata gadis itu jika saja tangannya tak di ikat menggunakan tambang seperti sekarang.

"Kalau sudah masuk ke dalam wilayah Terry Walter, kita tak bisa melarikan diri. Kita hanya bisa pasrah pada nasib buruk yang kita alami saat ini," timpal Jane dengan nada pasrah. 

Jessy menghela napas panjang seraya melirik kearah jendela yang kini menampilkan hutan yang cukup lebat. Dalam hati ia berharap bisa melarikan diri walaupun itu tak mungkin.

Satu jam kemudian, bus mini itu sampai disebuah bangunan tua yang cukup besar, mirip seperti pabrik yang terbengkalai. Pria yang tadi menangkap mereka membuka pintu dan berteriak dengan nada angkuh.

"Kalian semua turun dan bersikaplah dengan baik saat berada di hadapan bos besar. Jika ada yang berani melarikan diri, maka kematianlah yang akan menghampiri kalian. Paham?!"

Semua gadis yang ada disana. Termasuk Jessy menganggukkan kepala dengan kaku, terlalu takut untuk bicara. Mereka semua turun memasuki gedung tua itu dengan langkah pelan. Saat memasuki gerbang tua yang menghubungkan jalanan dengan gedung tua itu, Jessy mendengar bisikan dari pria yang tadi menangkap dirinya dengan seringai lebar yang tercetak jelas di wajahnya.

"Selamat datang di neraka, dimana orang yang masuk tak akan bisa kembali lagi keluar, gadis manis,"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status