Share

Bab 2

Author: Richy
Seketika, seluruh darahku terasa mendidih. Tubuhku gemetar tak terkendali, dan dari tenggorokanku keluar suara napas yang memburu.

Wajahku memerah padam, dan kedua kakiku mulai lemas.

Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku melonjak gila-gilaan.

Aku mencengkeram seprei dengan kuat untuk melawan rasa geli yang luar biasa ini.

Disentuh bagian itu oleh lawan jenis dengan tangan kosong benar-benar memalukan.

Namun, di balik rasa malu itu tersembunyi gairah. Aku justru ingin sang dokter berbuat lebih kasar lagi.

"Nggak, jangan .... Dokter, aku sudah nggak kuat lagi, jangan masuk lebih dalam lagi."

Aku berbicara dengan susah payah sambil terengah-engah.

Rasanya setiap sel di tubuhku seperti diperas dan meledak seketika.

"Bagian ini memang sangat sensitif. Untuk menyelesaikannya, aku harus menggunakan metode khusus."

Metode khusus?

Sebelum aku sempat bereaksi, tiba-tiba terasa sentuhan lembut dan basah menyapu sepanjang celahku, meluncur naik turun dengan perlahan.

Ini ... lidah?

Aku sulit mempercayainya. Mana ada dokter yang mengobati pasien dengan cara seperti ini?

Namun, sensasi ini jauh lebih merangsang dan nyaman daripada jari tadi. Seribu kali lipat lebih nikmat!

Otakku terasa lumpuh karena kenikmatan yang membubung tinggi, hingga aku kehilangan kendali atas anggota tubuhku.

Aku hanya bisa terpaku membiarkan dokter itu melakukan "pengobatan" padaku.

Dokter itu menopang pinggulku agar aku tidak merosot karena kehilangan kendali.

"Berhenti, hentikan ... aku sudah nggak kuat lagi, hiks. Dokter, aku nggak mau berobat lagi, lepaskan aku."

Namun, dokter itu sama sekali tidak berniat berhenti. Sebaliknya, dia menjilat lebih kuat lagi, bahkan lidahnya berusaha masuk ke dalam.

Air mataku hampir jatuh, tapi tubuhku sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

Ingin kabur pun tak bisa.

Dahiku penuh keringat yang menetes satu per satu ke seprei.

Dengan sisa tenaga, aku menoleh ke belakang untuk menghentikan pengobatan ini.

Begitu aku menoleh, rasanya seperti tersambar petir.

Pria ini bukan dokter! Bukankah dia dosenku?

Dia adalah Pak Gilion Andani, dosen yang menyarankanku untuk datang ke rumah sakit ini!

Seketika aku tersentak. Otakku langsung mengambil alih kendali tubuhku.

Aku membalikkan badan, meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk lutut.

"Pa-Pak Gilion? Kenapa Bapak ada di sini?"

Gilion menjilat sisa noda lengket di bibirnya dan berkata, "Bapak ‘kan sedang mengobatimu. Jangan takut, kalau hasrat di tubuhmu sudah keluar semua, kamu akan sembuh."

Aku tidak percaya padanya. Dia jelas-jelas memanfaatkan kesempatan ini untuk melecehkanku.

Biasanya di kampus pun dia selalu menatapku dengan mesum, bahkan pernah mencuri pakaian dalamku.

Aku sudah lama tahu dia punya niat buruk padaku.

Namun, perasaan tadi sungguh terlalu kuat. Sampai sekarang aku masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan itu.

Tubuhku terasa kosong, ingin diisi dengan kasar.

Namun bagaimanapun juga, dia adalah dosenku. Apalagi perbedaan usia kami hampir dua puluh tahun.

"Nggak, nggak boleh .... Pak Gilion, kita nggak boleh melakukan hal itu!"

Mulutku menolak, tapi jauh di dalam hati ada rasa kehilangan.

Gilion justru naik ke ranjangku, mendekat selangkah demi selangkah.

"Bapak hanya membantumu mengobati tubuhmu. Jadilah gadis penurut, buka kakimu, tinggal satu langkah terakhir lagi."

Sambil berkata demikian, dia mengulurkan tangan hendak menangkap kakiku.

Aku mundur beberapa langkah, lalu menyadari bahwa bagian seprei yang tadi kududuki sudah basah kuyup.

"Kamu sudah sebasah ini, pasti gatalnya sangat menyiksa, ‘kan? Jangan dipaksakan lagi, biar Bapak bantu menyelesaikannya, ya?"

Aku menggeleng tegas. "Bapak itu dosen, aku mahasiswa. Kita nggak boleh punya hubungan seperti itu!"

Namun, Gilion seolah kehilangan kendali nalurinya. Dia tiba-tiba mencengkeram kedua pergelangan kakiku dan menarik kedua kaki jenjangku hingga terbuka lebar.

"Jangan banyak omong! Mahasiswa seperti kamu ini memang terlahir untuk memuaskan dosenmu!"

Begitu kalimat itu selesai, dia menyentak rok pendekku hingga terlepas, memamerkan kedua paha yang polos.

Diperlakukan secara kasar justru membuat gangguanku kumat lagi.

Batinku berteriak gila, ingin diisi oleh pria di depanku ini.

Tanpa sadar, aku membuka kedua kakiku untuknya.

"Dasar gadis jalang, kamu suka yang kasar, ya? Hari ini aku akan membuatmu puas."

"Pak, yang ... yang kuat," erangku pelan.

Selanjutnya, dia dengan kasar memanggul kedua kakiku dan menerjang ke arah celah di antara kedua kakiku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 7

    Melihat ekspresinya benar-benar membuatku merasa puas. Dengan sopan aku menyapa "Halo, Ayah," lalu mengulurkan tangan. Tatapannya terpaku padaku. Gerard mengingatkannya, "Ayah sedang melamun apa sih? Lidia mau salaman." Barulah dia menjabat tanganku.Aku mengaitkan jariku di telapak tangannya. Dia seperti tersengat listrik dan segera menarik tangannya kembali. Di atas meja, semua orang menjaga wibawa, tapi di bawah meja ceritanya berbeda. Aku mulai menyentuhkan kakiku dari ujung celananya, terus menggesek hingga ke pahanya. Jakunnya terlihat naik turun. Saat aku bersiap menggunakan jari kaki yang lincah untuk membuka gesper ikat pinggangnya, dia tidak tahan lagi."Aku ke kamar mandi sebentar." Aku bisa melihat dengan jelas dia mulai "bereaksi". "Sayang, aku juga mau ke kamar mandi."Begitu sampai di area toilet, dia keluar. Tanpa sepatah kata pun, dia menekanku di atas wastafel dan mencengkeram leherku. "Kenapa harus kamu? Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada anakku yang polos?

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 6

    Aku tidak menyangka Pak Gilion akan menggunakan kata-kata sekotor itu untuk menghinaku. Kepalaku berdengung, kosong seketika. Bagaimana mungkin dia begitu kejam? Aku memberikan seluruh cintaku padanya, tapi dia hanya menganggapku sebagai mainan. Bahkan, aku hanyalah salah satu dari sekian banyak gadis yang pernah dia permainkan.Aku pernah berpikir bahwa dia mungkin tidak mencintaiku sedalam aku mencintainya, tapi aku tidak menyangka kenyataannya seburuk ini. Aku pun pergi dengan jiwa yang hancur, sementara di luar tiba-tiba hujan turun dengan deras.Aku patah hati lagi. Namun kali ini, aku tidak ingin mengemis cinta dengan hina, tidak ingin mabuk karena sedih, ataupun murung. Sampah seperti dia tidak layak menerima setetes pun air mataku.Aku menggunakan sisa waktu yang ada untuk mengejar pelajaran yang sempat terbengkalai. Untungnya, dasar pendidikanku cukup kuat, sehingga nilaiku akhirnya bisa mengejar. Aku harus menjadi sukses. Aku harus membalas dendam dengan kejam pada pria

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 5

    Ada pepatah yang mengatakan bahwa jalan menuju hati wanita adalah melalui "jalur" itu. Dan karena hanya Pak Gilion yang pernah memasukiku, aku menjadi sangat setia padanya. Dia tahu persis aku sangat mencintainya, tapi dia menggunakan kata "putus" untuk mengancamku.Namun kali ini, entah mengapa aku tidak luluh. Dia selalu merasa di atas, menginjak-injakku, menginjak-injak perasaanku, dan harga diriku. Apa dia benar-benar mencintaiku? Dia memang pandai berucap manis, tapi aku tidak yakin itu tulus. Dia memiliki pengalaman sosial yang luas, berbeda dengan pemuda seumuranku yang emosinya tertulis jelas di wajah. Pria yang menyukaiku akan tersipu saat melihatku, tapi Pak Gilion? Aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak bisa mengerti dia.Dia tidak menginginkanku lagi. Kami pun putus. Aku tetap merindukannya. Aku benar-benar tidak punya harga diri. Aku merasa seperti gadis jalang yang mengemis pada orang lain untuk dipermainkan.Setelah berpisah dari Pak Gilion, aku merasa penyakitk

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 4

    Aku bercerita banyak padanya. Aku mengaku bahwa hari itu di rumah sakit, aku benar-benar menginginkannya. Aku jatuh cinta pada kekasaran dan kebuasannya, dan ingin melakukannya dengan sungguh-sungguh bersamanya. Mungkin dengan melakukannya sekali saja, penyakitku akan sembuh dengan sendirinya.Kami pun menjalin hubungan. Pak Gilion sangat baik padaku, setiap hari dia membelikanku makanan enak. Aku menjalani hari-hari dengan perasaan mabuk kepayang dalam kemanisan cinta. Tentu saja, Pak Gilion juga sangat terobsesi dengan tubuhku, dia tampak sangat rakus akan setiap inci kulitku. Tenaga Pak Gilion juga luar biasa. Setiap kali bersamanya, dia membuatku merasa melayang dalam kebahagiaan.Aku juga bisa merasakan dengan jelas bahwa sejak Pak Gilion memuaskanku, aku tidak lagi merasa tersiksa seperti dulu. Jika dulu aku merasa malu karena gesekan saat berjalan, sekarang aku sudah bisa memakai rok dengan percaya diri. Saat naik kereta bawah tanah pun, penyakitku tidak lagi kumat hanya

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 3

    Apakah aku memang terlahir sebagai wanita jalang? Ingin diperlakukan kasar oleh pria. Tapi semakin pria itu kasar, aku malah semakin bergairah. Sekarang, di hadapan tubuh Pak Gilion, kedua kakiku seolah terbuka sendiri karena ingin diisi olehnya.Tepat pada saat yang genting itu, pintu rumah sakit tiba-tiba terbuka. Ternyata dokter yang asli masuk. Melihat kami berdua di atas ranjang, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Sepertinya penyakitmu memang sangat parah, sampai nggak bisa menahan diri di rumah sakit."Melihat orang yang datang, Gilion segera melompat turun dari ranjang. Dia memakai pakaiannya dengan terburu-buru, lalu kabur dalam sekejap. Aku merasa semakin malu dan segera memakai celanaku.Dokter yang asli ini mulai memeriksaku. Harus diakui, dokter profesional memang berbeda. Dia tidak langsung memintaku buka celana, melainkan memasangkan berbagai kabel instrumen ke tubuhku. Prosedur formal seperti ini justru tidak memberiku sensasi apa pun. Cara kasar Pak Gilio

  • Gadis Pecandu di Rumah Sakit   Bab 2

    Seketika, seluruh darahku terasa mendidih. Tubuhku gemetar tak terkendali, dan dari tenggorokanku keluar suara napas yang memburu. Wajahku memerah padam, dan kedua kakiku mulai lemas. Rasanya terlalu nyaman, hasrat dalam tubuhku melonjak gila-gilaan.Aku mencengkeram seprei dengan kuat untuk melawan rasa geli yang luar biasa ini. Disentuh bagian itu oleh lawan jenis dengan tangan kosong benar-benar memalukan. Namun, di balik rasa malu itu tersembunyi gairah. Aku justru ingin sang dokter berbuat lebih kasar lagi."Nggak, jangan .... Dokter, aku sudah nggak kuat lagi, jangan masuk lebih dalam lagi." Aku berbicara dengan susah payah sambil terengah-engah. Rasanya setiap sel di tubuhku seperti diperas dan meledak seketika."Bagian ini memang sangat sensitif. Untuk menyelesaikannya, aku harus menggunakan metode khusus."Metode khusus? Sebelum aku sempat bereaksi, tiba-tiba terasa sentuhan lembut dan basah menyapu sepanjang celahku, meluncur naik turun dengan perlahan.Ini ... lidah?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status