Masuk"Ke mana Yuda tadi. Apa dia tidak jadi untuk menikah?" Anggun mencari Yudanta yang entah ke mana, padahal hari ini acara pernikahannya bersama Dara.
Dara sudah terlihat cantik dengan gaun putih yang dikenakan. Anggun memintanya untuk duduk karena takut Dara lelah dan perutnya kram lagi."Hubungi dia. Apa dia akan kabur saat pernikahannya akan di mulai? Anak itu memang sangat menjengkelkan sekali," gerutu Anggun."Itu dia." Dara melihat Yudanta masuk ke kamar hotelYudanta hanya diam saat Dara berdiri di hadapannya setelah mereka sampai di kamar. "Katakan lagi, Mas. Apa yang kau mau?" tanya Dara."Sudahlah, sebaiknya aku tidur di kamar sebelah." Yudanta beranjak dan pergi meninggalkan Dara yang langsung menghalanginya agar tidak pergi."Tidak! Aku belum selesai bicara. Aku memang salah padamu, Mas. Tapi haruskah kita mengakhiri semua ini. Apa Mas lupa dengan janji Mas?" tanya Dara dengan tangis yang sudah pecah."Sakit bukan saat kau tau aku ragu, itu yang aku rasakan," ucap Yudanta."Maafkan aku, Mas. Ini memang salahku. Aku—" Yudanta mencium dengan brutal bibir Dara yang masih ingin menjelaskan pada Yudanta.Yudanta mencium dengan rakus bibir Dara, membawanya dalam gendongannya dan dia bawa ke atas tempat tidur."Apa maksud Mas?" tanya Dara saat ciuman Yudanta dilepas, namun tangan Yudanta coba membuka pakaian Dara."Setidaknya kau tau, saat pasanganmu merasa ragu, hatimu akan te
Dalam perjalanan pulang, Dara hanya menangis. Dia percaya saat kakaknya mengaku salah, namun kenyataannya Juan hanya membohonginya. Dia merasa puas atas kematian Yudanta."Aku malu, Kak. Keraguanku membuat luka dihatinya. Kenapa aku sebodoh itu," tutur Dara."Tidak ada salahnya menghawatirkan saudaramu, jangan terus menyalahkan diri," ungkap Kale."Tapi tetap saja ...."Sesampainya di rumah, Dara langsung mencari Yudanta, namun dia tidak ada di kamarnya. Dara kembali turun dan bilang pada Kale, jika suaminya tidak ada di kamar. Dara mencari menyusuri isi rumah, tapi tetap saja tidak ada Yudanta."Pak, ke mana Mas Yuda?" tanya Dara pada penjaga rumah."Tadi Tuan muda keluar membawa motor, tidak bilang ke mana, mungkin 30 menit setelah Anda keluar," jelasnya."Biar aku coba hubungi." Kale langsung menghubungi Yudanta yang entah ke mana. Dia tidak ada di rumah. Namun, Yudanta tidak menjawabnya.Rasa khawatir langsu
"Akh!!" Teriak Yudanta meluapkan emosinya. Dia melemparkan asal kunci motornya setelah mendengar ancaman Dara."Sudahlah, sebaiknya biar aku yang mencaritahu keberadaan Juan. Aku pastikan mendapatkan kabarnya malam ini," ujar Kale."Tidak perlu, lagian untuk apa. Dia bersama Bos Cobra sekarang." Yudanta turun dari motornya dan berjalan masuk tanpa peduli dengan Dara. Akan percuma, dia hanya akan terbawa emosi nanti."Masuklah, bujuk dia. Mengertilah ini pilihan sulit untuknya. Dia ingin hidup berdua denganmu, tapi kau ragu karena mengkhawatirkan kakakmu. Maaf bukan aku menyudutkan mu," ucap Kale.Dara kemudian berjalan ke kamar. Dia tak melihat Yudanta di dalam kamar. Dia berjalan masuk ke kamar mandi yang cukup besara itu, dan benar saja ada Yudanta yang sedang berdiri di hadapan cermin besar."Kau lega mengatakan itu tadi? Pergi saja jika kau ingin pergi, untuk apa terus bersama saat kau saja tidak yakin padaku," ucap Yudanta.Pertama kalinya Yudanta marah pada Dara, biasanya dia ti
Yudanta sedang bersama Dara dan Kale untuk bertemu Juan di rumahnya. Namun, Yudanta tidak ikut turun. Dia ingin melihat apa yang Juan mau dari Dara. Tapi sejak tidak ada sautan dari Juan dari dalam rumah."Apa dia di rumah? Tidak ada siapapun di rumah," ucap Kale."Kak, bisa bantu aku naik ke sana?" Dara menunjuk ke pintu samping rumahnya."Lalu mau ke mana? Kau mau melompat dari sini?" "Ya, aku mau masuk dari sana. Sepertinya ada motornya di dalam. Dia tidak mungkin tidak di rumah.""Biar aku saja." Kale kemudian memanjat dari pintu samping dan mencari keberadaan Juan, tapi memang Juan tidak ada.Segera mereka kembali ke mobil saat tidak menemukan Juan di manapun. Rasa khawatir Dara semakin besar saat tidak kunjung bertemu Juan."Dia tidak ada di rumah," ujar Kale."Aku yakin dia di rumah Kakek. Aku bisa membuat kakakmu selamat dari Kakek, tapi pilihannya kau harus merelakan diriku. Jika kau mau, aku akan menemui Kakek sekarang dan meminta kakakmu agar di selamatkan." Yudanta member
"Mas yakin ingin pindah?" Dara sedang bicara berdua dengan Yudanta setelah para sahabatnya pulang. Rumah tampak sunyi saat hanya mereka yang ada di rumah sebesar itu."Ada apa? Apa kau ragu?" tanya Yudanta. Mereka sedang duduk di tepi kolam renang dengan kaki yang mereka masukkan ke air."Tidak hanya saja ....""Apa ini tentang kakakmu? Ini resiko yang dia ambil, pilihan bagusnya jika dia mau ditahan, itu akan lebih aman daripada dia mati sekarang. Tapi itu tergantung sikapnya bagaimana, cucunya saja dengan tega di bunuh, apalagi orang lain. Apa dia menghubungimu?" tanya Yudanta."Ti ... dak." Juan bahkan datang, tapi Dara tidak mengatakannya.Ada rasa takut saat Yudantan mengatakan itu, sejahat apa Juan, dia tetaplah kakaknya. Mau itu dia membunuh Dara, tetap saja. Hubungan mereka akan tetap sama."Apa yang Mas lakukan? Luka Mas akan basah nanti." Yudanta menceburkan diri ke kolam dan menghadap Dara yang masih duduk di tepi kola
Dara menatap suaminya yang sedang berbaring di sampingnya. Dia memainkan jemari Yudanta yang terlelap. Dia masih tidak percaya jika suaminya masih hidup. Sosok yang melindunginya kembali. Seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi."Dar, ada yang mencari mu." Perlahan Anggun bicara saat Dara membuka sebagian pintu kamarnya setelah ketukan lirih dia dengar."Siapa?" Dara menutup pintu sebelum dia menjawab Anggun."Kakakmu datang. Apa dia tidur?" Dara mengangguk dan berjalan turun sebelum Juan membuat onar. Dia tidak mau mengganggu tidur Yudanta.Di temani Anggun, Dara berjalan ke depan gerbang besar rumah Yudanta. Di saja sudah ada Kale yang menghalangi Juan untuk masuk."Dar, aku ingin bicara padamu, tapi mereka menghalangiku untuk datang. Aku mohon, biarkan aku masuk dan bicara," ucap Juan. Dia seperti sedang terdesak, entah apa yang terjadi tapi dia sangat panik."Apa yang ingin Kakak katakan? Kakak ingin mengejekku atas kematian suam







