Home / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 124: Autopsi Alam

Share

Bab 124: Autopsi Alam

Author: Alyantha_Z
last update publish date: 2026-02-11 10:00:12

Hujan badai yang tiba-tiba melanda pesisir Flores membawa aroma yang tidak biasa, bukan bau tanah basah yang segar, melainkan bau tembaga yang tajam dan menyengat.

Di bawah cahaya lampu badai yang bergoyang di dermaga, Tri berlutut di depan tumpukan bangkai ikan yang baru saja ia jaring dari permukaan laut yang berpendar merah. Ia mengenakan sarung tangan karet tua yang sudah mulai menipis, memegang pisau bedah dengan tangan yang berusaha ia paksa untuk tidak gemetar.

"Bayu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Persinggahan   Bab 136: Di Dalam Rahim Kaca

    Pintu baja raksasa itu berderit terbuka dengan suara yang menyerupai rintihan logam, mengungkapkan sebuah ruang silinder raksasa yang membentang jauh ke bawah fondasi Monas. Cahaya di dalam ruangan ini tidak berasal dari lampu, melainkan dari ribuan tabung berisi cairan berpendar yang tersusun melingkar seperti saraf-saraf tulang belakang. Di tengah ruangan, menggantung sebuah tangki kristal berbentuk oval yang dihubungkan oleh ribuan kabel fiber optik transparan yang berdenyut dengan irama jantung yang berat."Selamat datang di pusat penciptaan, Tri," suara Silas bergema dari segala arah, dingin dan tanpa emosi, disiarkan melalui sistem saraf ruang itu sendiri.Tri melangkah maju, kakinya gemetar. Di dalam tangki kristal itu, ia melihat sosok yang selama ini menjadi misteri. Bukan seorang monster, melainkan seorang gadis kecil yang tampak tertidur dengan damai. Namanya Elisa. Namun, ia tidak benar-benar ada di sana sebagai manusia. Tubuhnya adalah campuran antara sirkuit emas dan jar

  • Gadis Persinggahan   Bab 135: Limbah Kesadaran

    Bau amonia yang menyengat dan uap sulfur menyambut Tri saat ia menuruni tangga besi menuju jaringan gorong-gorong raksasa di bawah Jakarta Utara. Di sini, kegelapan tidaklah mutlak; dinding-dinding beton yang berlumut memancarkan pendaran hijau pucat dari limbah kimia nanit yang bocor dari laboratorium Silas di permukaan. Air hitam setinggi lutut mengalir perlahan, membawa serpihan-serpihan sirkuit dan fragmen memori yang terbuang."Tetap di jalur beton, Tri. Jangan sampai air itu menyentuh kulitmu," Bayu memperingatkan sambil memegang senapan pengacau sinyalnya dengan waspada. "Nanit di bawah sini sudah liar. Mereka tidak memiliki instruksi, mereka hanya mencoba menyatu dengan apa pun yang mereka sentuh."Aria berjalan di antara mereka, wajahnya ditutupi masker respirator tua. Ia terus menatap ke arah terowongan yang gelap, tangannya sesekali gemetar. "Dokter... di depan sana... banyak yang berteriak tanpa suara. Mereka terjebak di antara ada dan tiada."

  • Gadis Persinggahan   Bab 134: Arsip yang Berdarah

    Bau debu dan ozon memenuhi laboratorium bawah tanah yang tersembunyi di bawah Dermaga Lama. Lampu-lampu pijar berwarna kuning redup mulai menyala satu per satu, memberikan siluet pada deretan server tua yang tidak lagi menggunakan serat optik, melainkan kabel-kabel tembaga tebal yang dilapisi timah. Di tengah ruangan, sebuah monitor tabung berukuran besar berkedip-kedip, menampilkan antarmuka sistem operasi yang sangat kuno."Ini adalah teknologi air-gapped," Bayu menjelaskan sambil mengunci pintu baja di belakang mereka. "Tidak ada Wi-Fi, tidak ada Bluetooth, tidak ada celah bagi Silas untuk menyusup ke sini. Tempat ini adalah sebuah pulau analog di tengah samudera digital Jakarta."Tri meletakkan Aria di atas sofa kulit yang sudah pecah-pecah. Anak itu tampak kelelahan, namun matanya tetap tertuju pada monitor utama. Tri mendekati meja kerja yang dipenuhi dengan catatan tulisan tangan Adrian—sebuah pemandangan yang menyayat hatinya. Di tengah tumpukan kertas itu,

  • Gadis Persinggahan   Bab 133: Kota yang Bermimpi

    Truk lapis baja yang dikendarai Bayu melompat melewati tumpukan rongsokan mobil di gerbang masuk Jakarta Utara dengan suara hantaman logam yang memekakkan telinga. Tri terlempar ke dinding kabin yang sempit, tangannya tetap mendekap Aria yang masih tak sadarkan diri. Di balik jendela kecil yang diperkuat baja, Jakarta tampak seperti pemandangan dari dimensi lain. Kota ini tidak lagi gelap; ia justru berpendar dengan cahaya neon biru dan ungu yang merambat di sepanjang kabel-kabel listrik yang menjuntai seperti tentakel raksasa."Jangan lihat langsung ke cahaya itu, Tri!" Bayu berteriak sambil memutar kemudi dengan kasar untuk menghindari sebuah tiang lampu yang tiba-tiba melengkung ke arah mereka. "Silas tidak lagi menggunakan layar. Dia menggunakan modulasi cahaya untuk mengirimkan perintah langsung ke saraf optik siapa pun yang melihatnya!"Bayu tampak lebih kurus, wajahnya penuh dengan luka goresan baru, dan ia mengenakan kacamata khusus berlapis timbal yan

  • Gadis Persinggahan   Bab 132: Katup yang Retak

    Ledakan uap panas menyembur dari pipa-pipa di sepanjang koridor, menciptakan kabut putih yang membutakan penglihatan. Alarm mekanis bunker meraung dengan nada rendah yang menggetarkan tulang, sebuah tanda bahwa sabotase yang dilakukan Tri pada panel kontrol utama telah memicu reaksi berantai pada sistem pemancar interferensi milik Elian. Di tengah kekacauan itu, Tri berlari sambil menggendong Aria, kakinya tergelincir di atas lantai besi yang mulai basah oleh kondensasi uap."Dokter... panas..." rintih Aria, tangannya mencengkeram erat bahu Tri.Tri tidak berani berhenti. Di belakang mereka, suara langkah kaki yang berat dan berirama logam terdengar semakin dekat. Itu bukan langkah kaki manusia biasa; itu adalah "Pemburu Uap" anggota faksi Elian yang telah mengganti tungkai mereka dengan piston hidrolik bertenaga uap bertekanan tinggi. Mereka tidak butuh penglihatan digital untuk melacak Tri, mereka mengikuti perubahan suhu udara dan getaran lantai yang diakibatkan

  • Gadis Persinggahan   Bab 131: Hantu di Koridor Beton

    Uap panas yang berbau minyak pelumas dan besi berkarat menyambut Tri saat ia melangkah masuk ke dalam aula utama bunker bawah tanah yang tersembunyi di balik gua pesisir utara. Di sini, suara detak jam mekanis yang raksasa bergema, menenggelamkan suara ombak yang masih terngiang di telinga Tri. Tempat ini bukan sekadar bunker, ini adalah sebuah pabrik bawah tanah yang hidup, sebuah anomali mekanis yang bertahan di era digital."Bawa mereka ke ruang dekontaminasi biologis! Cepat!" suara itu terdengar tegas, berwibawa, dan sangat familier.Tri mendongak, matanya masih perih karena air garam. Di atas balkon besi yang melintang di langit-langit aula, berdiri seorang pria mengenakan jas laboratorium yang kusam dan penuh noda oli. Pria itu memegang sebuah papan klip kayu bukan tablet digital. Saat ia menunduk dan menatap Tri, waktu seolah berhenti berputar."Dokter Elian?" bisik Tri, suaranya hampir hilang karena terkejut.Elian adalah mentor Tri di Rumah Sakit Pusat Jakarta sebelum Proyek

  • Gadis Persinggahan   Bab 80: Lantai Nol dan Mahkota Duri

    Udara di Lantai Nol tidak berbau limbah. Ia berbau ozon, antiseptik, dan dingin yang steril, sebuah kontras yang memuakkan setelah perjalanan panjang melalui pipa-pipa kotor Jakarta. Tri melangkah keluar dari lubang palka darurat, kakinya mendarat di atas lantai marmer putih yang memantulkan caha

  • Gadis Persinggahan   Bab 79: Labirin Pipa dan Darah

    Udara di dalam saluran pembuangan bawah tanah ini terasa kental, membawa rasa logam dan sisa-sisa bahan kimia yang menyengat tenggorokan. Tri merayap di belakang Ishak, mengikuti setiap gerakan pria buta itu yang tampak begitu hafal dengan lekuk-lekuk pipa raksasa yang berkarat. Di ata

  • Gadis Persinggahan   Bab 78: Gerbang Limbah dan Logam

    Bau busuk itu datang lebih dulu sebelum daratan terlihat. Itu bukan sekadar bau sampah organik, melainkan aroma tajam dari limbah kimia dan logam teroksidasi yang menyengat paru-paru. Di hadapan moncong kapal Siri-Ganda, Teluk Jakarta membentang seperti rawa mekanis yang luas. Airnya tidak lagi b

  • Gadis Persinggahan   Bab 77: Titik Nadi Laut Jawa

    Malam ketiga di Laut Jawa terasa lebih menyesakkan daripada badai di Alor. Langit di atas mereka bersih dari awan, namun ketiadaan bintang membuat cakrawala tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan apa pun yang melintas. Kapal Siri-Ganda bergoyang pelan, mesinnya hanya sesekali menderu untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status