LOGINDinding ruang interogasi sementara di markas keamanan Rumah Sakit Graha Medika tampak abu-abu dan suram, memantulkan suasana hati siapa pun yang berada di dalamnya.
Di balik kaca satu arah, dr. Adrian berdiri dengan tangan bersedekap, rahangnya masih mengeras menahan amarah yang belum padam. Di sampingnya, Tri duduk di sebuah kursi plastik, bahunya merapat seolah mencoba mengecilkan diri dari kenyataan pahit yang sedang terjadi. Di dalam ruangan, Raihan duduk terborgol. Seragam perawatnya yang putih kini tampak kotor dan berantakan. Ia terus berteriak, suaranya parau karena emosi yang meledak-ledak. "Kalian tidak mengerti! Tri yang memberiku akses itu! Dia memberikan memo itu padaku di ruangannya! Dia yang ingin aku mengambil data itu!" teriak Raihan sambil menunjuk ke arah kamera pengawas di sudut ruangan. Petugas kepolisian yang memeriksanya hanya menggelengkan kepala. "Kami sudah memeriksa rekaman CCTV koridor dan ruangLampu darurat berwarna merah berputar di sepanjang koridor sempit dek bawah kapal Arka-V, menciptakan bayangan panjang yang tampak menari-nari di dinding logam yang lembap. Tri melangkah dengan hati-hati, memegang senter taktis di tangan kiri dan sebuah alat pendeteksi biometrik di tangan kanan. Di belakangnya, Adrian dan dua personel tim keamanan Yayasan Harapan Kita mengikuti dengan senjata siaga, moncong senapan mereka menyapu setiap sudut gelap yang mencurigakan. Suara tetesan air yang menghantam lantai besi bergema seperti detak jam yang sedang menghitung mundur menuju ledakan, menciptakan irama mencekam yang menekan dada. "Udara di sini mengandung konsentrasi sulfur yang sangat tinggi," bisik Tri, suaranya teredam oleh masker respirator yang melekat erat di wajahnya. "Bau ini... ini bukan sekadar limbah kimia. Mereka tidak hanya menyimpan bahan sisa, mereka melakukan proses inkubasi aktif di bawah sini. Sesuatu sedang ditumbuhkan."
Ruang kendali utama di kapal induk Harapan Kita adalah sebuah jantung teknologi yang berdenyut dalam ritme cahaya biru dan desis pendingin mesin yang konstan. Di tengah ruangan yang luas itu, Tri Ananda Putri berdiri tegak, jauh berbeda dengan sosok rapuh yang setahun lalu meringkuk di sudut bangsal rumah sakit. Ia mengenakan headset taktis yang melingkar di telinganya, sementara matanya yang tajam tidak lepas dari layar monitor sentral yang menampilkan koordinat radar kapal Arka-V. Kapal misterius itu kini terlihat melaju kencang di peta digital, membelah ombak dengan kecepatan tinggi, mencoba mencapai zona bebas di perbatasan perairan internasional agar bisa lolos dari yurisdiksi hukum. Di sampingnya, Adrian berdiri dalam diam yang penuh rasa hormat. Ia tidak mencoba mengambil alih, tidak pula memberikan instruksi yang tak perlu. Sebagai pemilik Yayasan Harapan Kita, Adrian telah menyerahkan seluruh otoritas operasional malam ini kepad
Laboratorium di dalam kapal induk Harapan kita adalah sebuah keajaiban teknologi yang sangat kontras dengan klinik kayu milik Tri di daratan. Dindingnya terbuat dari baja tahan karat yang memantulkan cahaya lampu neon putih yang tajam, memberikan kesan dingin dan tanpa kompromi. Di tengah ruangan, mesin sekuensing DNA bekerja dengan dengungan halus yang konstan, sementara layar-layar besar di dinding menampilkan grafik pergerakan sel-sel ungu yang sedang dianalisis. Tri berdiri di depan meja laboratorium, masih mengenakan pakaian taktis hitamnya yang kini telah kering namun menyisakan noda garam dan lumpur. Ia sedang memindahkan sampel dari tabung reaksi ke dalam wadah inkubator ketika pintu geser otomatis di belakangnya terbuka. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma campuran antara sabun ringan, kopi hitam, dan sedikit sisa mesiu dari peluncur granat tadi segera memenuhi ruangan. Adrian melangkah masuk, namun ia berhenti sekitar dua
Suara baling-baling helikopter itu tidak lagi terdengar seperti dengungan jauh, kini ia adalah raungan raksasa yang mengguncang udara dan menggetarkan kaca-kaca jendela klinik yang tersisa. Tri berlari keluar melalui pintu belakang, menerjang semak belukar yang basah menuju jalur setapak di lereng tebing. Di pundaknya, tas taktis berisi sampel berharga itu terasa berat, namun tidak seberat firasat buruk yang menghimpit dadanya. Ia tidak menoleh ke belakang saat lampu sorot dari helikopter mulai menyapu atap kliniknya, mengubah kegelapan menjadi siang hari yang mencekam dalam sekejap. "Target terdeteksi di sektor belakang. Gerak ke arah utara menuju tebing karang," sebuah suara berat bergema dari pengeras suara helikopter, bercampur dengan deru angin. Tri memacu kakinya lebih cepat. Adrenalin Batch 04 memaksa paru-parunya bekerja di luar batas normal, menghirup udara malam yang tajam tanpa rasa sesak. Ia memilih jalur yang paling berbahay
Klinik yang biasanya menjadi tempat penyembuhan itu kini berubah menjadi labirin maut yang dingin. Kegelapan di dalam ruangan terasa begitu pekat, hanya menyisakan siluet-siluet perabot medis yang tampak seperti monster bisu di bawah cahaya bulan yang pucat. Tri berdiri mematung di balik lemari penyimpanan obat, napasnya diatur sedemikian rupa hingga nyaris tak terdengar. Adrenalin Batch 04 di dalam nadinya mulai bekerja, mempertajam indranya hingga ke tingkat yang tidak manusiawi, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melambat secara sengaja, serta gesekan halus sol sepatu taktis di atas lantai kayu ruang tunggu. Penyusup itu tidak menggunakan lampu senter. Ia bergerak dalam kegelapan dengan kepercayaan diri seorang profesional yang dilengkapi dengan perangkat penglihatan malam (night vision). Tri tahu, dalam kondisi ini, ia berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan secara visual. Namun, ia memiliki satu keunggulan, ia mengenal set
Klinik itu tampak sunyi dari luar, namun di ruang belakang yang berfungsi sebagai laboratorium darurat, suasana terasa begitu mencekam. Tri masih mengenakan pakaian hitamnya yang basah kuyup oleh air laut, membiarkan tetesan air garam membasahi lantai semen. Ia tidak peduli pada rasa dingin yang menusuk tulang atau detak jantungnya yang masih memacu adrenalin sisa pelarian tadi. Fokusnya hanya tertuju pada tabung reaksi kecil berisi cairan ungu pekat yang diletakkannya di bawah lensa mikroskop binokular. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit bergetar saat ia meneteskan reagen penguji ke atas kaca preparat. Ia menyalakan lampu mikroskop, lalu menempelkan matanya ke lensa. Awalnya, hanya terlihat gumpalan protein yang tidak beraturan, melayang-layang dalam medium cair. Namun, saat reagen mulai bereaksi, struktur seluler di dalam cairan itu mulai berubah dengan cara yang mengerikan. Tri menahan napas. Sel-sel itu tidak hancur, mereka justr







