首頁 / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 2: Ujian Ketulusan

分享

Bab 2: Ujian Ketulusan

作者: Alyantha_Z
last update publish date: 2025-10-27 04:32:34

​Tugas luar kota mendadak. Dua hari tidak bisa dihubungi. Janji segera dilamar. Tiga kalimat itu terasa seperti penenang yang dicampur dengan racun yang mematikan.

​Tri menghabiskan hari itu dalam dilema yang menyakitkan. Ia duduk di bangku kelas, di hadapannya terbentang lembar soal ulangan Biologi tentang genetika, tetapi yang berputar di benaknya bukanlah kromosom, melainkan janji-janji Raihan.

Di satu sisi, ia memegang pita maroon dan ingatan akan wanita bergelang merah, bukti visual yang kejam. Di sisi lain, ia menggenggam janji lamaran, janji yang mewakili seluruh masa depannya yang telah dirancang rapi. Ia memilih untuk percaya pada janji, menganggap pita dan gelang itu hanya kebetulan, sisa masa lalu Raihan yang belum sepenuhnya ia bersihkan.

​Namun, keraguan itu tidak hilang. Rasa mual menemani Tri sepanjang jam pelajaran, membuat Tri gagal fokus. Ia akhirnya menyerah. Tepat saat bel istirahat berbunyi, Tri sudah tidak tahan lagi memanggul beban kerahasiaan ini sendirian. Ia harus mencari Dina, sahabatnya yang selalu blak-blakan, untuk memvalidasi pilihannya.

​"Aku butuh bantuanmu, Din," ujar Tri, menarik Dina menjauh dari keramaian kantin ke sudut perpustakaan yang lebih sepi.

Dina menatap Tri. Ada kelelahan dan keputusasaan yang tidak biasa di mata Tri. "Kenapa? Raihan lagi? Aku sudah bilang, Tri, kau terlalu sering mengabaikan kami demi dia."

​"Bukan soal mengabaikan!" Tri berbisik tajam, suaranya dipenuhi frustrasi. "Ini berbeda. Kemarin, dia datang menjemputku dengan mobil pinjaman sedan hitam mewah, bukan mobilnya. Dia bilang itu pinjaman karena mobilnya diservis total. Lalu dia pamit tugas luar kota mendadak dua hari, tidak bisa dihubungi sama sekali, tapi dia janji akan melamarku begitu dia kembali."

​Tri sengaja tidak menyebutkan pita maroon atau wanita bergelang merah, karena itu terasa terlalu menyakitkan dan memalukan untuk diucapkan. Cukup mobil pinjaman dan alasan anehnya saja yang ia ungkapkan.

​Dina mendengarkan dengan ekspresi datar yang dingin. Ia menyilangkan tangan di dada, gerakannya penuh penilaian. "Dengar ya, Tri. Pria dewasa, apalagi perawat sibuk seperti dia, tidak akan 'tugas luar kota mendadak' sampai dua hari tanpa ponsel. Itu alasan klasik untuk menghilang dari tanggung jawab. Kenapa dia harus berbohong soal mobil kalau itu hanya pinjaman biasa? Dia perawat, bukan agen rahasia."

​"Tapi dia bilang dia akan melamarku setelah pulang!" Tri membela, suaranya menjadi lebih keras. Air matanya mulai menggenang. "Itu pasti karena dia ingin mengakhiri semua rahasia ini, Din! Dia ingin kita go public!"

​"Dia menjual ambisimu, Tri. Dia tahu kamu ingin menikah, ingin rumah di BSD, jadi dia menjual janji itu untuk membeli waktu," balas Dina tajam, tanpa basa-basi. "Dia mematikan ponselnya, Tri. Itu namanya menghilang, bukan tugas kantor. Berapa kali dia melakukan ini? Aku akan membuktikan siapa yang berbohong. Aku akan cari tahu sekarang."

​Dina segera mengambil ponselnya, menarik Tri ke balik rak buku katalog yang besar, mencari privasi yang total. "Karena Raihan mematikan ponselnya, kita mengandalkan jejak digital. Jangan ada yang menyentuhku, jangan ada yang menyela," perintah Dina,, nadanya kini berubah menjadi fokus seorang detektif.

​"Dia bilang tugas luar kota, kan? Kota mana?" tanya Dina. Tri menggeleng. "Dia tidak bilang. Cuma bilang tugas penting."

Dina membuka akun I*******m Raihan. Akun itu hening, tidak ada story atau unggahan baru, sesuai dengan alibi 'tugas penting'. Namun, Dina kemudian beralih ke akun F******k, tempat Raihan jarang aktif dan cenderung meninggalkan jejak lama. Ia mencari unggahan lama, sekitar dua tahun lalu, yang pernah Raihan buat tentang ambisinya mendapat promosi di rumah sakit.

​Di sana, di antara komentar-komentar lama yang penuh ucapan selamat, Dina menemukan jejak. Seorang wanita bernama Sarah, dengan foto profil wanita berambut panjang yang sangat cantik, pernah menulis, "Semoga sukses di Surabaya, Rai. Aku akan menunggumu kembali."

​"Surabaya?" gumam Dina, alisnya terangkat. "Dia bilang tugas luar kota, itu luas sekali. Kenapa Dina tahu lokasi pastinya dua tahun lalu?"

Dina tidak membuang waktu. Ia kembali ke I*******m Raihan, beralih ke bagian following. Ia mencari nama 'Sarah'. Dan benar saja, di antara rekan-rekan Raihan, ada akun Sarah, perawat cantik yang sering berfoto di depan tagline RS Harapan Bunda. Wanita yang sama yang Tri lihat sekilas di dekat pos satpam kemarin!

​Tri merasakan darahnya mengering. Ketakutan itu nyata. "Jangan, Din. Jangan lihat lagi," Tri memohon, tetapi Dina sudah tidak mendengarkan.

​Dina membuka story Sarah, yang baru diunggah dua jam lalu. Story itu adalah sebuah foto tiket pesawat dengan tujuan SUB (Surabaya), lengkap dengan jam keberangkatan pagi tadi. Di sudut foto itu, terdapat caption yang penuh teka-teki "Bersiap untuk peran penting. 💍"

​Tri menatap tiket pesawat itu, dadanya berdebar semakin kencang, seolah akan meledak. Ia tidak tahu mengapa Sarah harus ikut Raihan ke Surabaya jika Raihan hanya 'tugas kantor'. Dan mengapa ada emoji cincin di sana? Peran penting apa yang melibatkan tiket pesawat ke Surabaya dan janji pertunangan?

​"Lihat, Tri," bisik Dina, suaranya tercekat. Ia menunjuk ke feed Sarah, menggulir jauh ke bawah, ke foto-foto lama. "Ini dia, tunangan Raihan yang dia bilang sudah dia batalkan! Dia perawat senior yang sama dengannya."

​Tri melihat foto itu, Raihan dan Sarah dalam balutan seragam perawat, merayakan sesuatu dengan kue ulang tahun rumah sakit. Caption-nya jelas, "Empat tahun bersama, selangkah lagi menuju janji abadi." Empat tahun. Raihan mengenal Sarah jauh sebelum ia mengenal Tri. Tri merasakan nyeri tajam di dadanya, lebih sakit dari ditampar, lebih sakit dari keraguan. Ia bukan masa depan, ia adalah selingan.

​Tiba-tiba, Dina menarik napas kencang. Wajahnya pucat pasi. "Ya Tuhan, Tri! Lihat ini!"

​Dina menunjuk pada salah satu foto Raihan dan Sarah, yang merupakan foto pre-wedding lama. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana, dan di rambutnya, tersemat sebuah pita.

​Pita rambut yang ada di foto pre-wedding Sarah itu memiliki warna, bahan, dan simpul yang sama persis 'satin maroon' dengan yang Tri sembunyikan di lacinya. Tri menyadari, pita itu bukan hanya barang asing yang tertinggal, melainkan bukti yang terencana, sengaja ditinggalkan, seolah Raihan sedang memperingatkannya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gadis Persinggahan   Bab 136: Di Dalam Rahim Kaca

    Pintu baja raksasa itu berderit terbuka dengan suara yang menyerupai rintihan logam, mengungkapkan sebuah ruang silinder raksasa yang membentang jauh ke bawah fondasi Monas. Cahaya di dalam ruangan ini tidak berasal dari lampu, melainkan dari ribuan tabung berisi cairan berpendar yang tersusun melingkar seperti saraf-saraf tulang belakang. Di tengah ruangan, menggantung sebuah tangki kristal berbentuk oval yang dihubungkan oleh ribuan kabel fiber optik transparan yang berdenyut dengan irama jantung yang berat."Selamat datang di pusat penciptaan, Tri," suara Silas bergema dari segala arah, dingin dan tanpa emosi, disiarkan melalui sistem saraf ruang itu sendiri.Tri melangkah maju, kakinya gemetar. Di dalam tangki kristal itu, ia melihat sosok yang selama ini menjadi misteri. Bukan seorang monster, melainkan seorang gadis kecil yang tampak tertidur dengan damai. Namanya Elisa. Namun, ia tidak benar-benar ada di sana sebagai manusia. Tubuhnya adalah campuran antara sirkuit emas dan jar

  • Gadis Persinggahan   Bab 135: Limbah Kesadaran

    Bau amonia yang menyengat dan uap sulfur menyambut Tri saat ia menuruni tangga besi menuju jaringan gorong-gorong raksasa di bawah Jakarta Utara. Di sini, kegelapan tidaklah mutlak; dinding-dinding beton yang berlumut memancarkan pendaran hijau pucat dari limbah kimia nanit yang bocor dari laboratorium Silas di permukaan. Air hitam setinggi lutut mengalir perlahan, membawa serpihan-serpihan sirkuit dan fragmen memori yang terbuang."Tetap di jalur beton, Tri. Jangan sampai air itu menyentuh kulitmu," Bayu memperingatkan sambil memegang senapan pengacau sinyalnya dengan waspada. "Nanit di bawah sini sudah liar. Mereka tidak memiliki instruksi, mereka hanya mencoba menyatu dengan apa pun yang mereka sentuh."Aria berjalan di antara mereka, wajahnya ditutupi masker respirator tua. Ia terus menatap ke arah terowongan yang gelap, tangannya sesekali gemetar. "Dokter... di depan sana... banyak yang berteriak tanpa suara. Mereka terjebak di antara ada dan tiada."

  • Gadis Persinggahan   Bab 134: Arsip yang Berdarah

    Bau debu dan ozon memenuhi laboratorium bawah tanah yang tersembunyi di bawah Dermaga Lama. Lampu-lampu pijar berwarna kuning redup mulai menyala satu per satu, memberikan siluet pada deretan server tua yang tidak lagi menggunakan serat optik, melainkan kabel-kabel tembaga tebal yang dilapisi timah. Di tengah ruangan, sebuah monitor tabung berukuran besar berkedip-kedip, menampilkan antarmuka sistem operasi yang sangat kuno."Ini adalah teknologi air-gapped," Bayu menjelaskan sambil mengunci pintu baja di belakang mereka. "Tidak ada Wi-Fi, tidak ada Bluetooth, tidak ada celah bagi Silas untuk menyusup ke sini. Tempat ini adalah sebuah pulau analog di tengah samudera digital Jakarta."Tri meletakkan Aria di atas sofa kulit yang sudah pecah-pecah. Anak itu tampak kelelahan, namun matanya tetap tertuju pada monitor utama. Tri mendekati meja kerja yang dipenuhi dengan catatan tulisan tangan Adrian—sebuah pemandangan yang menyayat hatinya. Di tengah tumpukan kertas itu,

  • Gadis Persinggahan   Bab 133: Kota yang Bermimpi

    Truk lapis baja yang dikendarai Bayu melompat melewati tumpukan rongsokan mobil di gerbang masuk Jakarta Utara dengan suara hantaman logam yang memekakkan telinga. Tri terlempar ke dinding kabin yang sempit, tangannya tetap mendekap Aria yang masih tak sadarkan diri. Di balik jendela kecil yang diperkuat baja, Jakarta tampak seperti pemandangan dari dimensi lain. Kota ini tidak lagi gelap; ia justru berpendar dengan cahaya neon biru dan ungu yang merambat di sepanjang kabel-kabel listrik yang menjuntai seperti tentakel raksasa."Jangan lihat langsung ke cahaya itu, Tri!" Bayu berteriak sambil memutar kemudi dengan kasar untuk menghindari sebuah tiang lampu yang tiba-tiba melengkung ke arah mereka. "Silas tidak lagi menggunakan layar. Dia menggunakan modulasi cahaya untuk mengirimkan perintah langsung ke saraf optik siapa pun yang melihatnya!"Bayu tampak lebih kurus, wajahnya penuh dengan luka goresan baru, dan ia mengenakan kacamata khusus berlapis timbal yan

  • Gadis Persinggahan   Bab 132: Katup yang Retak

    Ledakan uap panas menyembur dari pipa-pipa di sepanjang koridor, menciptakan kabut putih yang membutakan penglihatan. Alarm mekanis bunker meraung dengan nada rendah yang menggetarkan tulang, sebuah tanda bahwa sabotase yang dilakukan Tri pada panel kontrol utama telah memicu reaksi berantai pada sistem pemancar interferensi milik Elian. Di tengah kekacauan itu, Tri berlari sambil menggendong Aria, kakinya tergelincir di atas lantai besi yang mulai basah oleh kondensasi uap."Dokter... panas..." rintih Aria, tangannya mencengkeram erat bahu Tri.Tri tidak berani berhenti. Di belakang mereka, suara langkah kaki yang berat dan berirama logam terdengar semakin dekat. Itu bukan langkah kaki manusia biasa; itu adalah "Pemburu Uap" anggota faksi Elian yang telah mengganti tungkai mereka dengan piston hidrolik bertenaga uap bertekanan tinggi. Mereka tidak butuh penglihatan digital untuk melacak Tri, mereka mengikuti perubahan suhu udara dan getaran lantai yang diakibatkan

  • Gadis Persinggahan   Bab 131: Hantu di Koridor Beton

    Uap panas yang berbau minyak pelumas dan besi berkarat menyambut Tri saat ia melangkah masuk ke dalam aula utama bunker bawah tanah yang tersembunyi di balik gua pesisir utara. Di sini, suara detak jam mekanis yang raksasa bergema, menenggelamkan suara ombak yang masih terngiang di telinga Tri. Tempat ini bukan sekadar bunker, ini adalah sebuah pabrik bawah tanah yang hidup, sebuah anomali mekanis yang bertahan di era digital."Bawa mereka ke ruang dekontaminasi biologis! Cepat!" suara itu terdengar tegas, berwibawa, dan sangat familier.Tri mendongak, matanya masih perih karena air garam. Di atas balkon besi yang melintang di langit-langit aula, berdiri seorang pria mengenakan jas laboratorium yang kusam dan penuh noda oli. Pria itu memegang sebuah papan klip kayu bukan tablet digital. Saat ia menunduk dan menatap Tri, waktu seolah berhenti berputar."Dokter Elian?" bisik Tri, suaranya hampir hilang karena terkejut.Elian adalah mentor Tri di Rumah Sakit Pusat Jakarta sebelum Proyek

  • Gadis Persinggahan   Bab 49: Peluru Terakhir Sang Ratu

    Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, bergema di antara pilar-pilar beton RSJ yang dingin dan lembap. Peluru yang diletuskan Sarah melesat, menyerempet bahu Adrian yang baru saja didorong oleh Tri ke balik pilar, lalu menghantam kaca tebal di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping.

  • Gadis Persinggahan   Bab 48: Pertarungan di Bangsal Maut

    Udara di sel isolasi 404 terasa membeku saat Sarena menyerahkan suntikan berisi cairan bening mematikan itu kepada salah satu algojonya. Matanya yang dingin menatap Tri seolah-olah Tri hanyalah sebuah spesimen yang sudah rusak dan harus segera dimusnahkan. Di luar, suara guntur mulai me

  • Gadis Persinggahan   Bab 39: Sandiwara Sang Predator

    Pintu besi gudang tua itu berderit nyaring, suara logam yang beradu seolah merobek kesunyian mencekam di kawasan industri Marunda. Adrian menerjang masuk dengan napas memburu, diikuti oleh dua petugas keamanan yang tampak ragu melihat kegelapan pekat di dalam ruangan luas itu. Mata Adrian liar me

  • Gadis Persinggahan   Bab 30: Badai di Labuan Bajo

    Labuan Bajo menyambut mereka dengan langit biru yang bersih dan aroma laut yang asin. Adrian telah menyewa sebuah kapal pinisi mewah untuk perjalanan mereka, sebuah istana terapung dengan layar yang megah, yang seharusnya menjadi pelabuhan kedamaian bagi sepasang pengantin baru. Namun bagi Tri An

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status