MasukSuara baling-baling helikopter itu tidak lagi terdengar seperti dengungan jauh, kini ia adalah raungan raksasa yang mengguncang udara dan menggetarkan kaca-kaca jendela klinik yang tersisa. Tri berlari keluar melalui pintu belakang, menerjang semak belukar yang basah menuju jalur setapak di lereng tebing. Di pundaknya, tas taktis berisi sampel berharga itu terasa berat, namun tidak seberat firasat buruk yang menghimpit dadanya. Ia tidak menoleh ke belakang saat lampu sorot dari helikopter mulai menyapu atap kliniknya, mengubah kegelapan menjadi siang hari yang mencekam dalam sekejap. "Target terdeteksi di sektor belakang. Gerak ke arah utara menuju tebing karang," sebuah suara berat bergema dari pengeras suara helikopter, bercampur dengan deru angin. Tri memacu kakinya lebih cepat. Adrenalin Batch 04 memaksa paru-parunya bekerja di luar batas normal, menghirup udara malam yang tajam tanpa rasa sesak. Ia memilih jalur yang paling berbahay
Klinik yang biasanya menjadi tempat penyembuhan itu kini berubah menjadi labirin maut yang dingin. Kegelapan di dalam ruangan terasa begitu pekat, hanya menyisakan siluet-siluet perabot medis yang tampak seperti monster bisu di bawah cahaya bulan yang pucat. Tri berdiri mematung di balik lemari penyimpanan obat, napasnya diatur sedemikian rupa hingga nyaris tak terdengar. Adrenalin Batch 04 di dalam nadinya mulai bekerja, mempertajam indranya hingga ke tingkat yang tidak manusiawi, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melambat secara sengaja, serta gesekan halus sol sepatu taktis di atas lantai kayu ruang tunggu. Penyusup itu tidak menggunakan lampu senter. Ia bergerak dalam kegelapan dengan kepercayaan diri seorang profesional yang dilengkapi dengan perangkat penglihatan malam (night vision). Tri tahu, dalam kondisi ini, ia berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan secara visual. Namun, ia memiliki satu keunggulan, ia mengenal set
Klinik itu tampak sunyi dari luar, namun di ruang belakang yang berfungsi sebagai laboratorium darurat, suasana terasa begitu mencekam. Tri masih mengenakan pakaian hitamnya yang basah kuyup oleh air laut, membiarkan tetesan air garam membasahi lantai semen. Ia tidak peduli pada rasa dingin yang menusuk tulang atau detak jantungnya yang masih memacu adrenalin sisa pelarian tadi. Fokusnya hanya tertuju pada tabung reaksi kecil berisi cairan ungu pekat yang diletakkannya di bawah lensa mikroskop binokular. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit bergetar saat ia meneteskan reagen penguji ke atas kaca preparat. Ia menyalakan lampu mikroskop, lalu menempelkan matanya ke lensa. Awalnya, hanya terlihat gumpalan protein yang tidak beraturan, melayang-layang dalam medium cair. Namun, saat reagen mulai bereaksi, struktur seluler di dalam cairan itu mulai berubah dengan cara yang mengerikan. Tri menahan napas. Sel-sel itu tidak hancur, mereka justr
Malam itu, bulan hanya tampak sebagai sabit tipis yang tertutup awan mendung, memberikan kegelapan yang sempurna bagi Tri dan Pak Yusuf untuk bergerak. Suara mesin perahu motor Pak Yusuf sengaja dimatikan sejak mereka berada dalam radius satu mil dari koordinat kapal putih tersebut. Sekarang, hanya suara dayung yang membelah air dengan lembut, ritme yang hampir tidak terdengar di tengah deburan ombak kecil yang menghantam lambung perahu. Tri duduk di haluan perahu, mengenakan pakaian serba hitam yang melekat erat di tubuhnya. Rambutnya diikat kencang di bawah penutup kepala. Di dalam tas taktis yang melingkar di pinggangnya, tersimpan beberapa tabung sampel kosong, kamera saku dengan sensor inframerah, dan sebuah alat pendeteksi radiasi biologis yang ia rakit sendiri. "Dokter, yakin mau melakukan ini?" bisik Pak Yusuf dengan suara yang gemetar. Tangannya yang kasar menggenggam dayung dengan erat. "Kapal itu... auranya tidak enak. Seperti ada sesuatu yan
Langit Labuan Bajo masih menyisakan rona jingga pucat ketika Tri melangkah keluar ke teras kliniknya. Udara pagi terasa asin, segar, dan membawa aroma kayu basah dari dermaga yang baru saja diguyur hujan semalam. Di sini, di ujung teluk yang jauh dari kebisingan Jakarta, Tri telah menemukan ritme hidupnya sendiri. Tidak ada lagi panggilan darurat dari dewan direksi, tidak ada lagi perjamuan formal yang menyesakkan. Hanya ada suara ombak dan kicauan burung camar. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah perahu motor kecil mendekat dengan kecepatan tinggi ke dermaga pribadinya. Suara mesinnya meraung kasar, memecah kesunyian fajar. "Dokter Tri! Dokter!" teriak seorang pria paruh baya, Pak Yusuf, salah satu nelayan dari Pulau Komodo. Tri segera menyampirkan stetoskopnya dan bergegas turun ke dermaga. Di dalam perahu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun terbaring lemas
Setahun telah berlalu sejak badai di Rumah Sakit Jiwa itu mereda, meninggalkan puing-puing sejarah yang kini mulai ditumbuhi lumut waktu. Di sebuah pesisir terpencil di bagian timur nusantara, di mana riak ombak berkejaran mencium pasir putih, Tri Ananda Putri akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari, keheningan yang jujur. Tri berdiri di teras kliniknya yang sederhana, menatap cakrawala yang tak berujung. Ia tidak lagi mengenakan jas putih dengan bordir emas "Yayasan Harapan Kita". Kini, ia hanya mengenakan kemeja katun tipis berwarna gading yang lengannya digulung hingga siku. Di papan kayu yang tergantung di depan pintu klinik, hanya tertulis satu baris nama yang bersahaja. Dokter Tri. Penduduk desa nelayan itu mengenalnya sebagai perempuan yang tangguh, yang bisa menjahit luka secepat ia menarik jaring ikan, namun memiliki mata yang selalu menatap jauh ke arah samudera, seolah sedang menunggu atau justru sedang melepaskan sesuatu.







