MasukAir sungai Ciliwung mengalir pekat seperti oli, membawa sampah-sampah plastik dan sisa-sisa komponen elektronik yang dibuang dari pusat kota. Di bawah jembatan beton yang retak di kawasan perbatasan Jakarta Pusat, Tri menyandarkan tubuh Adrian yang masih gemetar. Suara sirene di Menteng terdengar sayup-sayup, namun di sini, di perut bumi Jakarta, suasana terasa sangat sunyi, sebuah kesunyian yang tidak alami.
"Mereka sudah di sini, Tri," bisik Adrian. Matanya yang kini memiliki pendar perak tipis menatap ke arah kegelapan di sepanjang tepian sungai.Tri menoleh dan terpaku. Dari balik bayang-bayang pilar jembatan dan gundukan sampah, sosok-sosok mulai bermunculan. Mereka bukan manusia sipil, bukan pula pasukan taktis yang rapi. Mereka adalah para replika dari berbagai Batch, mulai dari pekerja kasar hingga unit domestik yang telah sadar namun kehilangan arah. Wajah mereka kuyu, beberapa memiliki bagian kulit sintetis yang terkelupas, namun mata mereka semua tertujuUdara di dalam Klinik Nurani terasa pengap oleh aroma antiseptik murah dan debu yang tak kunjung hilang. Tri sedang mencoba mengatur botol-botol antibiotik yang berhasil diselamatkan Bayu dari bunker medis lama ketika pintu klinik terbuka dengan kasar. Aruna masuk sambil membopong seorang pria muda yang tubuhnya kejang-kejang secara tidak wajar. "Tri! Dia pingsan saat sedang membersihkan puing di depan. Matanya terus berkedip biru, tapi Lazarus sudah mati, kan?" Aruna meletakkan pria itu di atas ranjang lipat dengan cemas. Tri segera mendekat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat pendaran biru yang redup di pupil mata pasien itu. Itu bukan biru yang cerah dan tajam milik Lazarus, melainkan biru yang keruh, seperti sisa-sisa residu yang terjebak. Tri menyentuh leher pria itu, merasakan denyut nadi yang tidak beraturan, pola yang sangat ia kenal. Pola itu mirip dengan algoritma pemrosesan Adrian saat ia sedang melakukan dekripsi data berat.
Jakarta tidak lagi bergetar oleh denyut frekuensi Lazarus, namun ia juga tidak lagi memiliki kemegahan yang dulu pernah dibanggakan. Yang tersisa hanyalah kerangka gedung-gedung tinggi yang menghitam dan debu sisa pembakaran sirkuit yang menyelimuti setiap sudut jalan. Di sebuah sudut kawasan Salemba, di antara tumpukan puing yang masih mengeluarkan aroma logam terbakar, Tri berdiri menatap sebuah bangunan tua berlantai dua yang dindingnya retak-retak.Bangunan itu dulu adalah sebuah apotek kecil. Kini, dengan bantuan Bayu dan beberapa warga yang selamat, Tri mencoba membangkitkan kembali apa yang ia sebut sebagai "Klinik Nurani"."Dokter, air bersih sudah mengalir, tapi tekanannya lemah," seru Bayu dari dalam bangunan. Seragam taktisnya kini digantikan oleh kaos kumal yang penuh noda semen.Tri mengangguk kecil, mencoba menarik napas dalam-dalam. Namun, setiap kali ia mengembuskan napas, ada ruang kosong di dadanya yang terasa perih. Pemandangan ini, memb
Aroma melati yang semula manis kini telah berubah menjadi bau busuk dari pembusukan organik yang dipaksakan. Tri bersimpuh di atas tanah yang bergetar, menatap sosok di depannya dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Saraswati atau makhluk yang kini menggunakan raga ibunya berdiri tegak dengan sulur-sulur saraf yang menjulur dari punggungnya, menembus dinding-dinding aula dan terhubung langsung ke seluruh ekosistem Kalimantan. Di tengah dadanya, wajah Aria tampak terperangkap di balik lapisan kulit transparan, matanya terpejam namun mulutnya bergerak-gerak mengikuti irama napas Saraswati."Kau tidak mengerti, Tri," suara itu kini bukan lagi bisikan, melainkan gemuruh yang keluar dari setiap helai daun di hutan itu. "Kehendak bebas adalah penyakit. Ia menciptakan perang, ia menciptakan dermaga-dermaga penantian yang tak pernah berakhir. Di dalam pelukanku, kau tidak akan pernah menunggu lagi. Kau akan menjadi bagian dari harmoni yang abadi."Adrian bangkit den
Langkah kaki Tri tenggelam dalam lapisan lumut yang terasa kenyal dan hangat di bawah kakinya. Bau melati yang tadi sempat menyapa kini mulai kalah oleh aroma logam yang teroksidasi dan sesuatu yang amis, menyerupai bau darah namun dengan aroma kimia yang tajam. Mereka telah masuk sekitar seratus meter ke dalam lorong akar yang terbuka di jantung hutan Kalimantan itu, dan cahaya matahari dari luar telah lama hilang, digantikan oleh pendaran merah redup yang berasal dari dinding-dinding lorong. "Dinding ini... mereka bernapas," bisik Bayu, ujung senjatanya gemetar saat ia menyentuh sebuah sulur yang menjuntai. Sulur itu seketika mengerut, mengeluarkan cairan bening yang berdenyut seirama dengan detak jantung mereka. Adrian, yang berjalan di depan dengan perangkat pemindai saraf kunonya, mendadak berhenti. Jarum pada alatnya bergetar hebat hingga patah. "Kita tidak sedang berada di dalam bangunan, Tri. Kita berada di dalam sebuah organ. Titik Nol bukan se
Keheningan di basement Menara Radio itu terasa lebih mencekik daripada gemuruh perang satelit yang baru saja mereka lalui. Tri menatap Aria yang berdiri mematung di tengah kegelapan, matanya yang tadi berpendar merah kini telah meredup, kembali menjadi mata anak kecil yang tampak bingung. Suara Saraswati yang tadi keluar dari mulut Aria masih terngiang di telinga Tri, dingin dan penuh peringatan."Aria? Kau dengar aku?" Tri mendekat, mencoba menyentuh bahu anak itu, namun Aria mundur satu langkah."Ibu... dia ada di tempat yang sangat gelap, Dokter," bisik Aria dengan suaranya sendiri, namun nadanya hampa. "Ada banyak akar yang mengikatnya. Dia tidak ingin kalian datang, karena jika kalian datang, 'dia' yang lain akan ikut bangun."Adrian menghidupkan kembali lampu darurat bertenaga baterai. Cahaya kuning yang redup menerangi wajahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua. "Fase 3," gumamnya sambil menatap monitor yang kini hanya menampilkan layar statis. "R
Jakarta pagi itu tidak lagi bersuara dengan dengungan mesin atau sinkronisasi frekuensi yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, yang terdengar adalah suara yang sangat manusiawi, isak tangis lega, teriakan memanggil nama anggota keluarga yang hilang, dan desau angin yang tidak membawa muatan statis. Cahaya matahari yang merambat dari ufuk timur berwarna oranye keemasan, menyentuh sisa-sisa Menara Radio Kebun Jeruk yang kini tampak seperti kerangka raksasa yang telah menunaikan tugas terakhirnya.Tri berdiri di balkon menara, menatap ke arah kota yang perlahan terbangun. Matanya sembab, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena duka yang mendalam atas hilangnya Liora. Di tangannya, ia memegang sepotong logam kecil yang hangus bagian dari pelat dada Liora yang ia temukan di puing-puing setelah ledakan Archangel."Dia benar-benar menjadi manusia di saat terakhirnya," suara Adrian terdengar dari belakang. Pria itu berjalan perlahan, tubuhnya masih te







