แชร์

Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin
Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin
ผู้แต่ง: Yeny Yuliana

1. Jamuan Luka

ผู้เขียน: Yeny Yuliana
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-12 18:42:27

"Kyaaaaa!"

Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya.

"D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.

Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan.

Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya.

"Kenapa? Kaget?"

Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan.

Gadis berusia 18 tahun itu menatap ke arah ibu tirinya yang masih menatapnya tajam.

"Prang!!"

Sherapine melempar bejana kosong ke lantai. Suara bejana yang menghantam lantai terdengar menggema di dalam kamar Elara yang tampak seperti gudang dibandingkan sebuah kamar. Membuat Elara terperanjat kaget.

"Bangun! Enak saja kau masih bisa tidur lelap sementara orang tua dan saudaramu kelaparan! Ck, aku bisa bayangkan kalau ibumu juga pasti dulunya wanita pemalas seperti dirimu," decak Sherapine sembari berjalan mondar-mandir di depan ranjang Elara. Menatap gadis itu bagi seekor rusa buruan.

Elara memeluk kakinya semakin erat, menahan amarah setiap kali wanita paruh baya itu menghina ibunya di sela makian yang dialamatkan padanya.

"Baik, Bu. Aku akan bangun. Beri aku sedikit waktu," ucap Elara, meminta dispensasi waktu untuk mempersiapkan diri sebelum melaksanakan semua tugas yang dibebankan padanya.

Rahang tinggi Sherapine kian mengetat setiap kali menatap wajah Elara dengan seksama. "Sial, mengapa dia begitu mirip dengan ibunya. Aku harus membuat Thaddeus membenci gadis sialan ini, atau membunuhnya jika perlu," batin Seraphine.

"Kau pikir dirimu masih putri? Kau hanyalah pengingat akan kelemahan dan masa lalu ayahmu. Aku memberi waktu 5 menit, segera pergi ke dapur, atau aku akan meminta ayahmu yang datang untuk menyeretmu keluar!" pekik Sherapine, lalu pergi meninggalkan kamar Elara yang terletak di kuil reyot yang terletak di belakang istana.

"Selalu saja seperti ini ..." lirih Elara sembari menyeka air matanya.

Elara bangkit dengan tubuh gemetar, mengabaikan rasa sakit yang meradang di otot-ototnya akibat kerja paksa yang tak pernah usai. Waktu istirahatnya tidak lebih dari 4 jam setiap malam. Namun, yang lebih menyakitkan dari siraman air pagi itu adalah bayangan ayahnya--Thaddeus Wynslade yang menantinya di ruang makan. Tidak ada makian dan pukulan yang lebih sakit dibandingkan pukulan dan makian dari ayahnya.

Thaddeus Wynslade dulunya adalah seorang ayah yang baik dan penyayang. Tapi sikapnya berubah setelah pria itu menikahi Seraphine. Kehadiran Seraphine dan dua anaknya di kerajaan Eldoria membuat Elara hidup dalam bayang-bayang neraka.

Elara segera memakai apron dan bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi ayah dan keluarga tirinya. Memang menyakitkan, mengingat Thaddeus memiliki banyak pelayan, tapi dia tak dapat menolak permintaan istrinya yang menjadikan Elara pelayan khusus bagi mereka. Thaddeus dibutakan oleh cintanya terhadap Sherapine.

"Dengar-dengar putri Calestra akan mengikuti sayembara pencarian permaisuri untuk pangeran Kerajaan Asterion."

"Ya, aku sudah mendengar kabar itu. Tidak adil memang, Ratu Sherapine hanya mengajukan Putri Calestra, tapi tidak dengan Putri Elara yang jelas-jelas putri kandung Paduka Raja,"

"Kau benar, Lidia. Tak terhitung berapa banyak para pedagang perhiasan dan perancang busana itu datang untuk menyediakan semua yang dibutuhkan Putri Calestra."

Percakapan para tukang masak istana terdengar oleh Elara saat langkahnya semakin dekat dengan dapur.

"Oh, ternyata para pedagang dan perancang busana datang untuk mempersiapkan kebutuhan Calestra yang hendak ikut sayembara," batin Elara tanpa berpikir jauh. Karena perlakuan tidak adil orang tuanya sudah bukan hal tabu baginya.

Lidia dan Amos yang melihat kedatangan Elara langsung menata ekspresi. Mereka tidak ingin perbincangan pagi mereka menambah luka hati putri kerajaan Eldoria yang sesungguhnya.

"Selamat pagi, Putri Elara. Syukurlah anda sudah datang," sapa Amos berusaha terdengar hangat.

Elara hanya membalas sapaan itu dengan senyum tulus, lalu mengambil sup panas untuk dia bawa ke ruang makan istana.

"Hati-hati, Putri Elara. Sup ini masih sangat panas," bisik seorang pelayan mengingatkan Elara yang datang ke dapur dengan wajah lelah.

"Baik, Bibi Lidia," jawab Elara sembari tersenyum sebelum berlalu.

Dengan hati-hati Elara membawa sepanci sup yang masih mengepulkan asap ke atas meja. Semua tatapan orang yang mengelilingi meja makan panjang itu menatapnya dengan sinis, tetapi tidak dengan Darian Valestra. Saudara tiri laki-laki Elara yang selalu menatap Elara dengan tatapan melecehkan itu sedang memperhatikan Elara dengan tatapan seakan menelanjangi.

Dari ekor mata Elara dapat melihat raut menjijikkan Darian. Cepat-cepat Elara kembali ke dapur untuk mengambil hidangan lain.

"Kau lihat, Sayang. Elara baru saja bangun. Ck, gadis itu semakin hari bertambah malas," ucap Seraphine.

Thaddeus Wynslade duduk di kepala meja dengan ekspresi datar menanti hidangan sarapan pagi itu. Elara mendekat dengan langkah ragu, membawa nampan perak beserta beberapa menu makanan yang terasa berat di tangan mungilnya. Ia mencuri pandang ke arah ayahnya, mencari sisa-sisa kasih sayang pria yang dulu sangat mencintai dan melindunginya bagai permata yang rapuh.

Sangat disayangkan, Thaddeus bahkan tidak menatap putri kandungnya walau hanya sebentar.

"Aku curiga, dia sengaja bangun terlambat lagi agar kita mati kelaparan." Sherapine melirik ke arah Elara dengan pandangan merendahkan.

Elara mencengkram nampan dengan erat. Dia sangat ingin membela dirinya saat Sherapine kembali menuduhkan hal yang tidak benar atas dirinya. Tapi Elara sadar, Thaddeus hanya akan mendengarkan ucapan Sherapine.

"Huh," Thaddeus menghela napas berat, sebuah suara yang menyakitkan bagi Elara.

Hasutan Seraphine selama bertahun-tahun telah membangun tembok tebal di antara ayah dan anak tersebut.

Tangan Elara gemetar menahan tangis saat ia menuangkan air ke gelas ayahnya. Namun, sebuah gerakan kasar dari Seraphine yang pura-pura memperbaiki posisi duduknya membuat teko yang dipegang Elara miring. Air tumpah, membasahi jubah kebesaran Thaddeus. Waktu seakan berhenti berputar bagi Elara.

"Ceroboh!" bentak Thaddeus yang akhirnya menatap ke arah Elara.

Dengan gerak cepat Elara mengelap jubah Thaddeus dengan kain serbet yang dia letakkan di pundak.

"Maaf, Ayah... aku tidak sengaja," ucap Elara dengan panik.

Thaddeus menepis kasar putrinya. "Ceroboh, dasar gadis ceroboh!"

Thaddeus berdiri lalu mendorong kening Elara dengan kasar, hingga tubuh mungil Elara terhuyung ke belakang. "Nafsu makanku hilang karena kelakuanmu," ucapnya, lalu pergi meninggalkan ruang makan.

Thaddeus melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan Elara yang menangis dalam diam.

Seraphine tersenyum puas, tawa kemenangan dari mulutnya menggema di ruang makan yang luas itu. Ia mendekati Elara dan menarik rambut panjang Elera mendekati wajahnya.

"Kau lihat? Dia tidak lagi melihatmu sebagai anaknya," bisik Seraphine. Perempuan paruh baya itu mendaratkan tamparan keras di pipi Elara, hingga gadis malang itu tersungkur di lantai. Meninggalkan bekas memar merah di wajah cantik Elara.

"Thaddeus sepenuhnya milikku sekarang, jangan coba-coba merayunya untuk mengasihimu, atau akan ku buat hidupmu sengsara," ucap Sherapine, lalu pergi meninggalkan Elara yang mulai terisak.

Suara derap langkah Seraphine membuat hati Elara merasa teriris. Tak pernah terbayangkan jika suara derap kaki ibunya yang selalu menggema di setiap ruang istana, suara derap kaki yang selalu membuat Elara cepat menoleh, akan berganti dengan suara kaki yang selalu menghentak dan membuatnya bergidik ketakutan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   5. Tawa di atas derita

    Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat. Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernua

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   4. Saat takdir menyapa

    Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   3. Silverwood

    Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   2. Putri yang malang

    Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya. Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   1. Jamuan Luka

    "Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status