Share

2. Putri yang malang

Penulis: Yeny Yuliana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-14 06:22:48

Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja.

Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka.

Elara berjalan memutari meja makan itu. Namun, langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Darian.

"Kau mau ke mana? Kau harus makan agar tetap bertenaga," ucap Darian, suaranya rendah dan penuh ejekan. Senyuman di wajah pemuda berusia 19 tahun itu selalu terlihat menyeramkan bagi Elara.

Pria itu memangkas jarak, hingga hanya tersisa satu jengkal dengan Elara sekarang. Pria itu menjilat bibirnya yang membuat pikiran Elara semakin kacau.

Elara tahu apa yang hendak Darian lakukan.

Calestra yang masih menyuapkan sup ke dalam mulutnya berhenti sejenak. "Lakukan, apapun terhadapnya. Aku masih belum puas melihat pertunjukan pagi ini."

Darian tertawa. "Tentu. Aku akan melakukan apapun demi menghibur saudariku tersayang."

"Tunggu, Darian," ucap Calestra menghentikan gerak Darian yang sedang menggosokkan kedua telapak tangannya, seperti hendak menyantap hidangan lezat.

Calestra melempar sepotong daging di atas lantai. "Biarkan dia makan. Aku khawatir peliharaan kita akan pingsan. Aku akan membawanya ke Asterion untuk mengawalku di acara sayembara pencarian calon permaisuri Asterion," ucap Calestra sembari menunjuk daging di lantai.

Darian mengangguk setuju. "Kau benar, Calestra. Sebaiknya kau mengikuti sayembara itu. Aku tak sabar menjadi saudara ipar dari pangeran tangguh dari Asterion itu."

Calestra tertawa penuh percaya diri. "Tentu saja. Aku yakin dia akan langsung bertekuk lutut begitu melihatku."

Rasa sesak memenuhi dada Elara. "Ternyata, keberadaanku di istana bukan lagi sebagai putri raja yang berharga. Aku hanya binatang peliharaan bagi mereka," batin Elara yang menatap sendu pada daging rusa di atas lantai marmer. "Dan apa kata Calestra tadi? Sayembara pencarian permaisuri untuk pangeran kerajaan Asterion?" Elara mencuri pandang pada Calestra yang dengan anggun menyuapkan potongan daging ke bibirnya. "Dilihat dari sisi manapun, Calestra memang sangat menawan. Wajar saja jika dia berpikir pangeran Asterion akan takluk padanya." Batin Elara terus berkata-kata, membandingkan penampilan Calestra dengan dirinya yang sedikit kumal, sangat jauh dari penggambaran putri seorang bangsawan.

Perut lapar Elara berbunyi, dia pun menelan saliva. Sepotong daging itu terlihat lezat di saat dia benar-benar lapar. Sherapine menghukum tidak memberi makan malam untuk Elara kemarin, karena gadis itu terlambat pulang dari pasar.

Calestra yang melihat Elara melamun lantas tersenyum menghina. "Mengapa kau melamun? Apa kau berencana untuk mengikuti sayembara yang diadakan Kerajaan Asterion? Jangan bermimpi, Elara. Banyak putri bangsawan kelas atas di sayembara itu. Aku yakin tak akan ada yang melirikmu," Calestra tertawa terbahak melihat raut canggung Elara. Sepertinya apa yang Calestra katakan benar.

"Mengapa kau hanya diam? Kakakku sudah berbaik hati berbagi sarapan denganmu." Darian mendorong Elara hingga gadis itu tersungkur di lantai.

Darian menggeleng. "Bukan begitu, kau harus makan sambil merangkak, Elara," titah Darian sembari melempar tatapan menghunus kepada Elara.

"Ya Tuhan, penghinaan macam apa lagi sekarang?" tanya Elara dalam hati.

Sebenarnya dia enggan menuruti kemauan Darian. Tapi pria itu menarik rambutnya, lalu berkata,"Cepat merangkak ke arah daging itu, dan pastikan kau menggonggong sebelum memakannya!"

Air mata kembali menggenangi kedua mata Elara. Dengan berat hati dia melakukan apa yang diperintahkan Darian.

"Woof, woof," ucap Elara menirukan suara anjing.

Suara tawa memekakkan telinga memenuhi ruang makan mewah yang bagi Elara bagai panggung sandiwara. Dua saudara tirinya tertawa geli melihat Elara yang bersikap seperti anjing.

Elara berusaha menikmati daging itu, meski sulit bagi nuraninya menerima cara yang harus dia lakukan untuk memakannya. Tapi di lain sisi, dia sangat lapar.

"Bagus, kau harus makan agar tetap sehat, Elara. Tenang saja ... aku akan membawamu ikut denganku mengikuti sayembara itu. Tapi ... sebagai pelayan, tidak lebih," sinis Calestra, lalu tertawa setelahnya.

"Pintar ... anjing yang pintar ..." puji Darian sembari bertepuk tangan.

Darian menatap Elara penuh hasrat, dan itu adalah ancaman yang nyata bagi Elara. Dia harus segera pergi. Gadis itu mengelap bibirnya dengan punggung tangan dan hendak beranjak. Tapi Darian dengan gerak cepat dan kasar kembali menarik tangan Elara.

"Jangan, Darian! Lepaskan!" Elara berusaha melepaskan cengkraman Darian dari tangannya. Tapi tentu saja tenaga Elara tidak ada apa-apanya dibanding Darian.

Darian memelintir tangan Elara dan mengunci tangan Elara di belakang punggung, dan dengan brutal mengecupi leher jenjang Elara. Dengan kasar satu tangannya yang bebas meraba tubuh Elara. Setiap sentuhan kasar yang dia terima di area sensitif terasa sakit. Tangis Elara pecah, jerit memenuhi ruang makan istana yang didominasi dengan ukiran emas. Tapi tak seorang pun berani mendekat.

Dari kejauhan, tukang masak dan pelayan istana menatap prihatin melihat cara keluarga tiri memperlakukan Elara. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa pun.

"Malang, putri yang sangat malang ..." lirih Lidia--tukang masak istana sembari menggeleng pelan, tapi tatapannya tak lepas melihat penyiksaan yang dialami Elara.

"Ya Tuhan, sampai kapan penderitaannya akan berakhir?"

"Penderitaan Putri Elara akan berakhir jika Raja Thaddeus berpisah dengan Ratu beracun itu, Lidia. Semenjak menikah dengan wanita licik itu, Raja kita bertambah kejam," jawab Amos, lalu menarik Lidia menjauh dari ambang pintu yang menghubungkan antara ruang makan dan dapur.

Calestra melihat adegan penyiksaan itu sembari menikmati makanannya. Sesekali gadis berambut pirang bergelombang itu tertawa melihat rintihan dan tangis Elara.

Elara merasakan harga dirinya dikoyak, tubuhnya menjadi objek hinaan di atas panggung yang disebut ruang makan. Mereka menjadikannya lelucon, sebuah hiburan yang murah.

"Tuhan, rasanya aku sudah tak sanggup," gadis malang itu merintih dalam hati.

Untuk sesaat pandangan Elara menyapu seluruh ruang dapur yang luas. Tempat yang menjadi saksi bisu atas keindahan masa lalunya bersama ayah dan ibunya. Di ruang makan itu, Chinzia dan Thaddeus memastikan putri kesayangan mereka makan dengan baik agar gizi Elara terpenuhi. Istana itu adalah tempat dia dilahirkan dan di besarkan. Istana yang dulu Thaddeus katakan bahwa putri kandungnya kelak akan mewarisi tempat tinggal itu.

Tapi tempat tinggal megah dan mewah itu tak ubahnya hanya sebuah neraka penyiksaan bagi Elara sekarang.

Di tengah penyiksaan itu, pandangan Elara terlempar ke seberang meja. Calestra Valestra duduk tegak. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh jeritan yang memecah keheningan. Ia menikmati sarapannya yang mewah--mengiris daging dengan pisau perak, lalu memasukkannya ke mulutnya dengan anggun. Setiap gigitan yang dinikmati Calestra seolah menjadi musik latar bagi kehancuran Elara.

Saat menyadari Elara menatapnya, Calestra mengangkat kepala. Ia tidak menunjukkan rasa iba, tetapi justru menyunggingkan senyum kecil. Ada kilatan kesenangan di mata Calestra saat melihat betapa tidak berdayanya Elara.

"Astaga, Darian. Itu terlalu keras," ucap Calestra dengan raut pura-pura peduli. Sungguh, itu bukan karena Calestra benar-benar peduli pada Elara, tetapi secara tidak langsung dia sedikit terganggu dengan volume jeritan Elara yang meninggi.

Calestra kembali tertawa renyah, suara itu bagaikan belati yang menusuk pendengaran Elara.

Kemarahan Elara memuncak, melebihi rasa takut. Saat ini dia tidak peduli lagi dengan konsekuensi. Dengan tenaga yang tersisa dan didorong oleh kemarahan, Elara menginjak kaki Darian sekuat tenaga dengan tumitnya.

"Ouch!" ringis Darian. Pria itu terkejut dan reflek melepaskan cengkeramannya dari Elara.

Elara menggunakan kesempatan singkat itu untuk melarikan diri. Ia tahu, kepergiannya hanyalah penundaan. Neraka di Eldoria tidak akan membiarkannya pergi terlalu lama. Tapi tak mengapa, dia akan tetap pergi--walau ketenangan yang akan diperolehnya berlangsung singkat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   23. Tandu menuju kehancuran

    Tubuh yang ternoda itu merasa tak layak lagi berada di istana. Dia memilih untuk tunduk terhadap perintah sang Putra Mahkota untuk turut ke medan perang. Berharap dia akan hancur di sana sebagai penebus dosa yang bahkan bukan miliknya.Aroma ramuan pahit menguar memenuhi kamar yang temaram. Di tepi ranjang, Maera masih setia menemani Elara sedari siang. Gadis pelayan itu menatap penuh iba wajah calon permaisuri yang tampak pucat. Keringat membasahi keningnya. Maera menggenggam tangan Elara yang sedingin salju, sangat kontras dengan kepala dan bagian tubuh lain yang terasa sangat panas. Maera tidak menyangka Pangeran Kaelan akan tetap membawa Elara pergi ke medan perang, meski tahu kondisi kesehatan Elara yang memburuk. Maera meletakkan baju perjalanan yang sudah ia siapkan untuk Elara di atas nakas. Berbanding dengan Kaelan yang tidak menaruh iba sedikitpun kepada calon permaisuri, Maera adalah salah satu dari manusia normal yang tidak bisa membenarkan keputusan Kaelan. Sehingga samp

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   22. Titah untuk calon permaisuri yang rapuh

    Sontak semua mata menatap pada pelaku kekerasan yang melemparkan tubuh pria berwajah tak berdosa itu. Mereka melihat dada kekar putra permata Asterion naik turun begitu cepat. Amarah terukir jelas di wajah Kaelan sehingga Ratu Aurelia segera berlari menghampiri putranya."Kaelan, apa yang kau lakukan!" Raja Arcturus berteriak. Apa yang dilakukan Kaelan benar-benar tidak sopan. "Putraku, apa yang sedang terjadi?" Aurelia bertanya dengan hati-hati sembari mengelus lengan putra pertamanya. Namun bukan jawaban yang keluar dari bibir Kaelan. Kaelan justru bergerak cepat dan menghujani Darian dengan pukulan. "Hentikan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku?" Seraphine menjerit histeris. Raja Arcturus segera memerintahkan pelayan yang semula melayani mereka di meja makan untuk memanggil para jendral istana untuk melerai Kaelan. Bukan tak mungkin Darian akan kehilangan nyawa jika mereka tidak segera bertindak memisahkan Kaelan dari pria yang sudah tak berdaya itu. "Astaga, apa yang

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   21. Kecemburuan yang beracun

    Kedua tangan Kaelan mengepal kuat saat tiba di depan pintu kamar calon permaisuri. Wajah pria itu mengetat, kedua manik abu-abu gelapnya menatap tajam pada pintu kayu berukiran bunga yang ada di hadapannya, seakan ia sudah siap untuk menghabisi orang di belakang pintu tersebut.Kaelan menekan knop pintu, namun pintu tak terbuka. "Terkunci," gumamnya dengan gigi yang rapat. Kaelan menarik napas dalam, lalu menendang pintu kamar calon permaisuri dengan kemarahan yang meluap. Pintu terlepas dari engselnya. Dapat terlihat jelas di netra abu-abu kelamnya--seorang gadis yang tadi ia tinggalkan dengan wajah ketakutan berada dalam kungkungan saudara laki-lakinya. Darian yang menyadari pintu di belakangnya terbuka segera memakai celana miliknya yang sempat ia tanggalkan. Sementara itu, Elara menoleh ke arah Kaelan dengan rasa yang sedikit lega. Dengan kehadiran Kaelan, setidaknya dapat menghentikan kekejaman Darian terhadapnya. Tapi melihat situasi dirinya saat ini, mungkinkah Kaelan dapat

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   20. Tubuhmu adalah milikku!

    Peringatan : Bab ini mengandung unsur kekerasan dan penindasan seksual. Pastikan Anda sudah berusia 18 tahun atau lebih. Setiap sentuhan kasar itu tak pernah benar-benar berlalu. Tubuh mungil gadis itu menyimpan setiap sentuhan yang mengoyak harga dirinya dengan baik. Menjadi memori yang membuatnya trauma, dan semua luka yang ia rasakan sudah mendarah daging. Pintu kamar calon permaisuri tertutup. Meredam isak tangis Elara yang tak akan terdengar oleh siapapun yang melintas. Darian mengangkat tubuh rapuh Elara dan melemparkannya dengan kasar di atas ranjang. Netra birunya berkilat penuh gairah menatap Elara yang mulai menangis gelisah di atas ranjang berkanopi itu. Darian bergerak dramatis saat melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya. Senyum mengerikan dari wajahnya tak sedikitpun berkurang. Ia langsung melompat ke atas ranjang begitu tubuh bagian atasnya tak lagi tertutup sehelai benangpun. "Calon Permaisuri ... kau terlihat menawan setelah sekian lama kita tidak berjumpa,"

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   19. Tidakkah kau rindu padaku, Calon Permaisuri?

    Kaelan berpikir apa yang sedang ia lakukan adalah memperbaiki sesuatu. Ia tak sadar sedang merobek luka yang belum sempat sembuh. Pintu ruang kamar calon permaisuri terbuka perlahan, namun suara itu terdengar seperti suara denting lonceng kematian. Pagi itu, Elara berpikir bahwa Kaelan menemuinya untuk memberinya jawaban atas permintaanya kembali ke Eldoria. Elara yang sedang berbincang dengan Maera seketika berhenti berbicara. Elara yang sedang duduk di tepi ranjang menggenggam kain gaun yang menutupi lututnya saat kedua matanya menatap Kaelan yang baru saja melintas di ambang pintu. Namun, suara derap kaki yang mengikuti Kaelan membuat gadis itu menyipitkan mata. Netra hazel keemasan gadis itu terbuka lebar saat melihat dua orang yang berada di belakang Kaelan. Tanpa sepengetahuan Kaelan, Seraphine menatap Elara tajam, sarat akan kebencian. Sedangkan Darian menyeringai dan membasahi bibirnya dengan lidah. Elara reflek mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Seketika Ka

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   18. Sekutu dalam kebencian

    Utusan Kerajaan Asterion tiba di Eldoria dengan iring-iringan pasukan berkuda yang membawa panji berwarna merah marun pekat bergambar kepala elang emas--simbol Kerajaan Asterion. Stempel kerajaan tertera jelas, tak ada ruang untuk penolakan. Rombongan itu seakan menegaskan bahwa keluarga Elara harus memenuhi undangan dari Asterion dengan penuh kepatuhan yang dibungkus dengan kehormatan. Calestra membaca undangan dari Asterion dengan senyum getir. Jemarinya meremas ujung surat undangan saat satu kalimat terasa seperti duri yang menancap di dadanya--Elara Wynslade, calon permaisuri Asterion. "Seharusnya namaku yang tercantum sebagai calon permaisuri Asterion," desisnya dengan rahang mengeras. Seraphine meletakkan cangkir tehnya dengan tak acuh. Bukan hal baru melihat sikap iri putri kandungnya yang tak terima dengan nasib beruntung yang diperoleh Elara. Seraphine mendidik Calestra menjadi gadis yang manja, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tapi nahas, kali ini dia tidak bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status