เข้าสู่ระบบRasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja makan itu. Namun, langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Darian. "Kau mau ke mana? Kau harus makan agar tetap bertenaga," ucap Darian, suaranya rendah dan penuh ejekan. Senyuman di wajah pemuda berusia 19 tahun itu selalu terlihat menyeramkan bagi Elara. Pria itu memangkas jarak, hingga hanya tersisa satu jengkal dengan Elara sekarang. Pria itu menjilat bibirnya yang membuat pikiran Elara semakin kacau. Elara tahu apa yang hendak Darian lakukan. Calestra yang masih menyuapkan sup ke dalam mulutnya berhenti sejenak. "Lakukan, apapun terhadapnya. Aku masih belum puas melihat pertunjukan pagi ini." Darian tertawa. "Tentu. Aku akan melakukan apapun demi menghibur saudariku tersayang." "Tunggu, Darian," ucap Calestra menghentikan gerak Darian yang sedang menggosokkan kedua telapak tangannya, seperti hendak menyantap hidangan lezat. Calestra melempar sepotong daging di atas lantai. "Biarkan dia makan. Aku khawatir peliharaan kita akan pingsan. Aku akan membawanya ke Asterion untuk mengawalku di acara sayembara pencarian calon permaisuri Asterion," ucap Calestra sembari menunjuk daging di lantai. Darian mengangguk setuju. "Kau benar, Calestra. Sebaiknya kau mengikuti sayembara itu. Aku tak sabar menjadi saudara ipar dari pangeran tangguh dari Asterion itu." Calestra tertawa penuh percaya diri. "Tentu saja. Aku yakin dia akan langsung bertekuk lutut begitu melihatku." Rasa sesak memenuhi dada Elara. "Ternyata, keberadaanku di istana bukan lagi sebagai putri raja yang berharga. Aku hanya binatang peliharaan bagi mereka," batin Elara yang menatap sendu pada daging rusa di atas lantai marmer. "Dan apa kata Calestra tadi? Sayembara pencarian permaisuri untuk pangeran kerajaan Asterion?" Elara mencuri pandang pada Calestra yang dengan anggun menyuapkan potongan daging ke bibirnya. "Dilihat dari sisi manapun, Calestra memang sangat menawan. Wajar saja jika dia berpikir pangeran Asterion akan takluk padanya." Batin Elara terus berkata-kata, membandingkan penampilan Calestra dengan dirinya yang sedikit kumal, sangat jauh dari penggambaran putri seorang bangsawan. Perut lapar Elara berbunyi, dia pun menelan saliva. Sepotong daging itu terlihat lezat di saat dia benar-benar lapar. Sherapine menghukum tidak memberi makan malam untuk Elara kemarin, karena gadis itu terlambat pulang dari pasar. Calestra yang melihat Elara melamun lantas tersenyum menghina. "Mengapa kau melamun? Apa kau berencana untuk mengikuti sayembara yang diadakan Kerajaan Asterion? Jangan bermimpi, Elara. Banyak putri bangsawan kelas atas di sayembara itu. Aku yakin tak akan ada yang melirikmu," Calestra tertawa terbahak melihat raut canggung Elara. Sepertinya apa yang Calestra katakan benar. "Mengapa kau hanya diam? Kakakku sudah berbaik hati berbagi sarapan denganmu." Darian mendorong Elara hingga gadis itu tersungkur di lantai. Darian menggeleng. "Bukan begitu, kau harus makan sambil merangkak, Elara," titah Darian sembari melempar tatapan menghunus kepada Elara. "Ya Tuhan, penghinaan macam apa lagi sekarang?" tanya Elara dalam hati. Sebenarnya dia enggan menuruti kemauan Darian. Tapi pria itu menarik rambutnya, lalu berkata,"Cepat merangkak ke arah daging itu, dan pastikan kau menggonggong sebelum memakannya!" Air mata kembali menggenangi kedua mata Elara. Dengan berat hati dia melakukan apa yang diperintahkan Darian. "Woof, woof," ucap Elara menirukan suara anjing. Suara tawa memekakkan telinga memenuhi ruang makan mewah yang bagi Elara bagai panggung sandiwara. Dua saudara tirinya tertawa geli melihat Elara yang bersikap seperti anjing. Elara berusaha menikmati daging itu, meski sulit bagi nuraninya menerima cara yang harus dia lakukan untuk memakannya. Tapi di lain sisi, dia sangat lapar. "Bagus, kau harus makan agar tetap sehat, Elara. Tenang saja ... aku akan membawamu ikut denganku mengikuti sayembara itu. Tapi ... sebagai pelayan, tidak lebih," sinis Calestra, lalu tertawa setelahnya. "Pintar ... anjing yang pintar ..." puji Darian sembari bertepuk tangan. Darian menatap Elara penuh hasrat, dan itu adalah ancaman yang nyata bagi Elara. Dia harus segera pergi. Gadis itu mengelap bibirnya dengan punggung tangan dan hendak beranjak. Tapi Darian dengan gerak cepat dan kasar kembali menarik tangan Elara. "Jangan, Darian! Lepaskan!" Elara berusaha melepaskan cengkraman Darian dari tangannya. Tapi tentu saja tenaga Elara tidak ada apa-apanya dibanding Darian. Darian memelintir tangan Elara dan mengunci tangan Elara di belakang punggung, dan dengan brutal mengecupi leher jenjang Elara. Dengan kasar satu tangannya yang bebas meraba tubuh Elara. Setiap sentuhan kasar yang dia terima di area sensitif terasa sakit. Tangis Elara pecah, jerit memenuhi ruang makan istana yang didominasi dengan ukiran emas. Tapi tak seorang pun berani mendekat. Dari kejauhan, tukang masak dan pelayan istana menatap prihatin melihat cara keluarga tiri memperlakukan Elara. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa pun. "Malang, putri yang sangat malang ..." lirih Lidia--tukang masak istana sembari menggeleng pelan, tapi tatapannya tak lepas melihat penyiksaan yang dialami Elara. "Ya Tuhan, sampai kapan penderitaannya akan berakhir?" "Penderitaan Putri Elara akan berakhir jika Raja Thaddeus berpisah dengan Ratu beracun itu, Lidia. Semenjak menikah dengan wanita licik itu, Raja kita bertambah kejam," jawab Amos, lalu menarik Lidia menjauh dari ambang pintu yang menghubungkan antara ruang makan dan dapur. Calestra melihat adegan penyiksaan itu sembari menikmati makanannya. Sesekali gadis berambut pirang bergelombang itu tertawa melihat rintihan dan tangis Elara. Elara merasakan harga dirinya dikoyak, tubuhnya menjadi objek hinaan di atas panggung yang disebut ruang makan. Mereka menjadikannya lelucon, sebuah hiburan yang murah. "Tuhan, rasanya aku sudah tak sanggup," gadis malang itu merintih dalam hati. Untuk sesaat pandangan Elara menyapu seluruh ruang dapur yang luas. Tempat yang menjadi saksi bisu atas keindahan masa lalunya bersama ayah dan ibunya. Di ruang makan itu, Chinzia dan Thaddeus memastikan putri kesayangan mereka makan dengan baik agar gizi Elara terpenuhi. Istana itu adalah tempat dia dilahirkan dan di besarkan. Istana yang dulu Thaddeus katakan bahwa putri kandungnya kelak akan mewarisi tempat tinggal itu. Tapi tempat tinggal megah dan mewah itu tak ubahnya hanya sebuah neraka penyiksaan bagi Elara sekarang. Di tengah penyiksaan itu, pandangan Elara terlempar ke seberang meja. Calestra Valestra duduk tegak. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh jeritan yang memecah keheningan. Ia menikmati sarapannya yang mewah--mengiris daging dengan pisau perak, lalu memasukkannya ke mulutnya dengan anggun. Setiap gigitan yang dinikmati Calestra seolah menjadi musik latar bagi kehancuran Elara. Saat menyadari Elara menatapnya, Calestra mengangkat kepala. Ia tidak menunjukkan rasa iba, tetapi justru menyunggingkan senyum kecil. Ada kilatan kesenangan di mata Calestra saat melihat betapa tidak berdayanya Elara. "Astaga, Darian. Itu terlalu keras," ucap Calestra dengan raut pura-pura peduli. Sungguh, itu bukan karena Calestra benar-benar peduli pada Elara, tetapi secara tidak langsung dia sedikit terganggu dengan volume jeritan Elara yang meninggi. Calestra kembali tertawa renyah, suara itu bagaikan belati yang menusuk pendengaran Elara. Kemarahan Elara memuncak, melebihi rasa takut. Saat ini dia tidak peduli lagi dengan konsekuensi. Dengan tenaga yang tersisa dan didorong oleh kemarahan, Elara menginjak kaki Darian sekuat tenaga dengan tumitnya. "Ouch!" ringis Darian. Pria itu terkejut dan reflek melepaskan cengkeramannya dari Elara. Elara menggunakan kesempatan singkat itu untuk melarikan diri. Ia tahu, kepergiannya hanyalah penundaan. Neraka di Eldoria tidak akan membiarkannya pergi terlalu lama. Tapi tak mengapa, dia akan tetap pergi--walau ketenangan yang akan diperolehnya berlangsung singkat.Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat. Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernua
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah
Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya. Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja
"Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun







