Share

3. Silverwood

Penulis: Yeny Yuliana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-14 15:27:32

Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya.

Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup.

Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata.

Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya.

Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah mendiang Chinzia--ibu kandung Elara terbaring.

Elara berlutut dan meletakkan kepalanya di atas batu itu, seolah benda padat itu adalah pangkuan ibunya.

"Aku lelah, Bu. Sangat lelah. Ingin rasanya aku menyusulmu," ucapnya lirih, hampir tak terdengar. "Pria yang dulu menikahimu, pria yang mengaku bahwa dia adalah ayahku telah berubah menjadi monster. Dia tak pernah lagi melihatku sebagai permata yang berharga, Ibu."

Gadis itu memejamkan mata, membiarkan hawa sejuk hutan yang didominasi pepohonan berwarna keperakan dan bunga-bunga liar itu bertiup membelai tubuhnya. Semerbak aroma bunga yang menguar terhirup oleh hidung mancungnya, membuatnya merasa tenang.

Perlahan kedua mata gadis itu terasa berat. Elara tertidur pulas di dalam kedamaian hutan Silverwood yang menjadi rumah utama baginya.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Elara terbangun dan terperanjat saat melihat langit memperlihatkan lembayung senja.

"Astaga, berapa lama aku tertidur?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari mengucek kelopak matanya.

Tubuhnya terasa lebih ringan, meski bengkak di matanya masih belum hilang sepenuhnya. Tiupan angin sejuk di hutan itu membuat kesadaranya terkumpul penuh. Elara tidak bisa berlama-lama di sana. Ada pekerjaan yang harus dia kerjakan saat itu juga.

"Aku pamit, Bu. Aku akan datang lagi esok hari," ucapnya, lalu mengecup batu nisan Chinzia.

Dengan langkah tergesa, Elara segera bergegas meninggalkan ketenangan Silverwood. Dengan sepatu kulit yang tak layak pakai gadis itu menuju Pasar Marleigh. Di sanalah ia mencari nafkah, mengangkat barang belanjaan orang-orang yang membutuhkan tenaganya, membantu para pedagang mengikat dan menimbang barang dagangan mereka, dan membeli kebutuhan dapur istana.

Senja sudah semakin gelap. Tak ada waktu bagi Elara untuk mencari uang tambahan. Gadis itu melihat ujung sepatunya, jempol kakinya menyembul keluar. Sepatu yang jauh dari kata layak untuk dipakai seorang putri kerajaan.

"Huh! Bersabarlah wahai kaki, suatu hari pasti terbeli sepatu baru untukmu," ucap Elara, berusaha menguatkan hatinya.

Elara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Gadis itu tersenyum penuh luka saat bayangan Calestra yang selalu bergaun anggun dan memakai sepatu mahal berkelibat di benaknya. Sangat kontras dengan pakaian yang Elara pakai. Baju pelayan dengan apron kumal selalu melekat di tubuh mungilnya, ditambah sepatu rusak yang masih dia pakai sampai sekarang.

Suasana pasar Marleigh masih ramai riuh. Aroma rempah, sayuran segar, dan suara tawar-menawar bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kehidupan yang kontras dengan kesunyian hati Elara. Elara menyelinap di antara kerumunan, matanya tajam mencari bahan makanan terbaik dengan harga paling murah, berharap uang belanja yang dia bawa cukup.

Tiba-tiba, suara terompet memekakkan telinga membuat gadis itu terperanjat. Suara gemuruh langkah kuda dan sorak-sorai kerumunan membelah lautan manusia yang memenuhi pasar.

"Minggir! Rombongan Pangeran Kaelan melintas!" seru seorang prajurit.

Dengan sigap Elara turut menepi menyesuaikan pengunjung pasar yang lain.

Dari kejauhan, tampak kemegahan pasukan perang berpakaian merah marun pekat, kontras dengan zirah lempengan baja yang dipoles sepuhan emas murni pada bagian bahu dan dada. Mereka turut membawa bendera berwarna merah marun pekat dengan simbol kepala elang berwarna emas.

Semua pengunjung pasar tentu saja tahu, itu adalah lambang tentara dari kerajaan Asterion, kerajaan yang terkenal kaya dan memiliki kekuatan militer tak tertandingi di semenanjung benua Valtherra.

Debu jalanan berkecamuk, namun tak seorang pun menghiraukan partikel kecil yang bisa membahayakan pernapasan mereka. Semua orang terpana oleh aura kemegahan yang memukau. Dentum langkah kuda dan gemerincing zirah menghentikan riuh rendah tawar-menawar di pasar.

Kaelan muncul di barisan terdepan, menunggangi kuda ras aethelon berwarna hitam legam yang ototnya menonjol di balik tali kekang kulit. Di sebelahnya, tampak pria berwajah rupawan dengan rambut pirang yang diikat setengah. Di belakang mereka, bala tentara berjalan teratur bagaikan lahar api yang membanjiri jalanan sempit pasar Marleigh.

"Lihat pangeran dari Kerajaan Asterion itu! Dia tampak begitu gagah dan tampan,"

"Benar, dia sangat sempurna. Seperti pahatan patung dewa yunani yang menjelma menjadi nyata,"

"Dengar-dengar Pangeran Asterion sedang mencari calon permaisuri,"

"Rumor itu memang benar. Ah, betapa beruntung wanita yang menjadi permaisuri Pangeran itu,"

Para pengunjung pasar Marleigh saling berbisik saat melihat pangeran yang berada di depan pasukan berkuda tersebut. Sementara itu, Elara hanya menggigit bibir bagian bawah dan mengangguk. Elara membenarkan bisik-bisik para pengunjung pasar yang memuji kesempurnaan Pangeran dari Asterion tersebut.

"Ternyata itu pangeran yang tadi pagi dibicarakan Calestra. Memang benar, dia sangat tampan. Pantas saja gadis secantik dan seanggun Calestra sangat berambisi mengikuti sayembara itu," batin Elara sembari menatap rombongan Pangeran Kaelan dalam diam.

Saat rombongan prajurit melintas di depan lapak sayur dan buah, Kaelan menarik tali kekang kudanya. Kuda perang milik Kaelan berhenti. Membuat rombongan di belakangnya pun turut berhenti.

Tatapan tajam Kaelan tertuju pada gadis cantik berpakaian pelayan yang turut berdiri dengan pengunjung pasar yang lain. Di antara wajah-wajah yang menunduk hormat, gadis itu mendongak menatapnya. Rambut hitam kecokelatan sepinggang milik gadis itu tampak sedikit berantakan, memar di salah satu pipi gadis itu tampak sedikit meradang. Gadis itu tidak memandangnya dengan kekaguman, melainkan dengan tatapan kosong, seolah pikirannya melayang jauh.

"Ah, betapa menyenangkan menjadi pangeran itu. Dia begitu dipuji dan disayangi banyak orang. Andai aku bisa menjadi seperti dirinya," batin Elara.

Kaelan belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Untuk sesaat, pandangan mereka beradu, dan entah mengapa Kaelan merasakan debaran aneh di dadanya.

Elara yang menyadari Pangeran Kaelan menatapnya segera menunduk, menyembunyikan diri dalam kerumunan.

Rowan Hale--jendral kepercayaan Kaelan menangkap sesuatu yang tak biasa dari pandangan Kaelan terhadap gadis itu. Rowan tersenyum lalu berkata, "Dia putri dari kerajaan Eldoria."

Kaelan menatap jandral kebanggaanya dengan alis bertaut. Menurutnya, penampilan lusuh gadis tadi sama sekali tidak mencerminkan kalau gadis itu adalah putri seorang raja.

"Ya, Anda tidak salah dengar, Pangeran," ucap Rowan Hale. Seolah dia bisa membaca pertanyaan tak terucap dari tatapan Kaelan.

Ada semburat tak biasa di wajah lelah Kaelan yang lagi-lagi membuat ujung bibir Rowan berkedut menahan tawa. Pria itu berdeham, lalu berkata,"Daripada berdiam di sini, bagaimana kalau kita menuju kedai dulu, Tuan. Lihat, mereka sudah dua hari menahan lapar," ucap Rowan seraya menunjuk pasukan tentara yang berada di belakang mereka.

Kaelan menarik napas dan melirik ke arah Elara berdiri tadi. "Aku pasti bisa menemuinya lagi suatu hari," batin Kaelan. Ia terpaksa melaju, tapi bayangan gadis itu terus menari-nari di benaknya. Siapakah dia?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   5. Tawa di atas derita

    Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat. Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernua

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   4. Saat takdir menyapa

    Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   3. Silverwood

    Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   2. Putri yang malang

    Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya. Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   1. Jamuan Luka

    "Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status