LOGINHawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya.
Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah mendiang Chinzia--ibu kandung Elara terbaring. Elara berlutut dan meletakkan kepalanya di atas batu itu, seolah benda padat itu adalah pangkuan ibunya. "Aku lelah, Bu. Sangat lelah. Ingin rasanya aku menyusulmu," ucapnya lirih, hampir tak terdengar. "Pria yang dulu menikahimu, pria yang mengaku bahwa dia adalah ayahku telah berubah menjadi monster. Dia tak pernah lagi melihatku sebagai permata yang berharga, Ibu." Gadis itu memejamkan mata, membiarkan hawa sejuk hutan yang didominasi pepohonan berwarna keperakan dan bunga-bunga liar itu bertiup membelai tubuhnya. Semerbak aroma bunga yang menguar terhirup oleh hidung mancungnya, membuatnya merasa tenang. Perlahan kedua mata gadis itu terasa berat. Elara tertidur pulas di dalam kedamaian hutan Silverwood yang menjadi rumah utama baginya. *** Waktu berjalan begitu cepat. Elara terbangun dan terperanjat saat melihat langit memperlihatkan lembayung senja. "Astaga, berapa lama aku tertidur?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari mengucek kelopak matanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski bengkak di matanya masih belum hilang sepenuhnya. Tiupan angin sejuk di hutan itu membuat kesadaranya terkumpul penuh. Elara tidak bisa berlama-lama di sana. Ada pekerjaan yang harus dia kerjakan saat itu juga. "Aku pamit, Bu. Aku akan datang lagi esok hari," ucapnya, lalu mengecup batu nisan Chinzia. Dengan langkah tergesa, Elara segera bergegas meninggalkan ketenangan Silverwood. Dengan sepatu kulit yang tak layak pakai gadis itu menuju Pasar Marleigh. Di sanalah ia mencari nafkah, mengangkat barang belanjaan orang-orang yang membutuhkan tenaganya, membantu para pedagang mengikat dan menimbang barang dagangan mereka, dan membeli kebutuhan dapur istana. Senja sudah semakin gelap. Tak ada waktu bagi Elara untuk mencari uang tambahan. Gadis itu melihat ujung sepatunya, jempol kakinya menyembul keluar. Sepatu yang jauh dari kata layak untuk dipakai seorang putri kerajaan. "Huh! Bersabarlah wahai kaki, suatu hari pasti terbeli sepatu baru untukmu," ucap Elara, berusaha menguatkan hatinya. Elara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Gadis itu tersenyum penuh luka saat bayangan Calestra yang selalu bergaun anggun dan memakai sepatu mahal berkelibat di benaknya. Sangat kontras dengan pakaian yang Elara pakai. Baju pelayan dengan apron kumal selalu melekat di tubuh mungilnya, ditambah sepatu rusak yang masih dia pakai sampai sekarang. Suasana pasar Marleigh masih ramai riuh. Aroma rempah, sayuran segar, dan suara tawar-menawar bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kehidupan yang kontras dengan kesunyian hati Elara. Elara menyelinap di antara kerumunan, matanya tajam mencari bahan makanan terbaik dengan harga paling murah, berharap uang belanja yang dia bawa cukup. Tiba-tiba, suara terompet memekakkan telinga membuat gadis itu terperanjat. Suara gemuruh langkah kuda dan sorak-sorai kerumunan membelah lautan manusia yang memenuhi pasar. "Minggir! Rombongan Pangeran Kaelan melintas!" seru seorang prajurit. Dengan sigap Elara turut menepi menyesuaikan pengunjung pasar yang lain. Dari kejauhan, tampak kemegahan pasukan perang berpakaian merah marun pekat, kontras dengan zirah lempengan baja yang dipoles sepuhan emas murni pada bagian bahu dan dada. Mereka turut membawa bendera berwarna merah marun pekat dengan simbol kepala elang berwarna emas. Semua pengunjung pasar tentu saja tahu, itu adalah lambang tentara dari kerajaan Asterion, kerajaan yang terkenal kaya dan memiliki kekuatan militer tak tertandingi di semenanjung benua Valtherra. Debu jalanan berkecamuk, namun tak seorang pun menghiraukan partikel kecil yang bisa membahayakan pernapasan mereka. Semua orang terpana oleh aura kemegahan yang memukau. Dentum langkah kuda dan gemerincing zirah menghentikan riuh rendah tawar-menawar di pasar. Kaelan muncul di barisan terdepan, menunggangi kuda ras aethelon berwarna hitam legam yang ototnya menonjol di balik tali kekang kulit. Di sebelahnya, tampak pria berwajah rupawan dengan rambut pirang yang diikat setengah. Di belakang mereka, bala tentara berjalan teratur bagaikan lahar api yang membanjiri jalanan sempit pasar Marleigh. "Lihat pangeran dari Kerajaan Asterion itu! Dia tampak begitu gagah dan tampan," "Benar, dia sangat sempurna. Seperti pahatan patung dewa yunani yang menjelma menjadi nyata," "Dengar-dengar Pangeran Asterion sedang mencari calon permaisuri," "Rumor itu memang benar. Ah, betapa beruntung wanita yang menjadi permaisuri Pangeran itu," Para pengunjung pasar Marleigh saling berbisik saat melihat pangeran yang berada di depan pasukan berkuda tersebut. Sementara itu, Elara hanya menggigit bibir bagian bawah dan mengangguk. Elara membenarkan bisik-bisik para pengunjung pasar yang memuji kesempurnaan Pangeran dari Asterion tersebut. "Ternyata itu pangeran yang tadi pagi dibicarakan Calestra. Memang benar, dia sangat tampan. Pantas saja gadis secantik dan seanggun Calestra sangat berambisi mengikuti sayembara itu," batin Elara sembari menatap rombongan Pangeran Kaelan dalam diam. Saat rombongan prajurit melintas di depan lapak sayur dan buah, Kaelan menarik tali kekang kudanya. Kuda perang milik Kaelan berhenti. Membuat rombongan di belakangnya pun turut berhenti. Tatapan tajam Kaelan tertuju pada gadis cantik berpakaian pelayan yang turut berdiri dengan pengunjung pasar yang lain. Di antara wajah-wajah yang menunduk hormat, gadis itu mendongak menatapnya. Rambut hitam kecokelatan sepinggang milik gadis itu tampak sedikit berantakan, memar di salah satu pipi gadis itu tampak sedikit meradang. Gadis itu tidak memandangnya dengan kekaguman, melainkan dengan tatapan kosong, seolah pikirannya melayang jauh. "Ah, betapa menyenangkan menjadi pangeran itu. Dia begitu dipuji dan disayangi banyak orang. Andai aku bisa menjadi seperti dirinya," batin Elara. Kaelan belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Untuk sesaat, pandangan mereka beradu, dan entah mengapa Kaelan merasakan debaran aneh di dadanya. Elara yang menyadari Pangeran Kaelan menatapnya segera menunduk, menyembunyikan diri dalam kerumunan. Rowan Hale--jendral kepercayaan Kaelan menangkap sesuatu yang tak biasa dari pandangan Kaelan terhadap gadis itu. Rowan tersenyum lalu berkata, "Dia putri dari kerajaan Eldoria." Kaelan menatap jandral kebanggaanya dengan alis bertaut. Menurutnya, penampilan lusuh gadis tadi sama sekali tidak mencerminkan kalau gadis itu adalah putri seorang raja. "Ya, Anda tidak salah dengar, Pangeran," ucap Rowan Hale. Seolah dia bisa membaca pertanyaan tak terucap dari tatapan Kaelan. Ada semburat tak biasa di wajah lelah Kaelan yang lagi-lagi membuat ujung bibir Rowan berkedut menahan tawa. Pria itu berdeham, lalu berkata,"Daripada berdiam di sini, bagaimana kalau kita menuju kedai dulu, Tuan. Lihat, mereka sudah dua hari menahan lapar," ucap Rowan seraya menunjuk pasukan tentara yang berada di belakang mereka. Kaelan menarik napas dan melirik ke arah Elara berdiri tadi. "Aku pasti bisa menemuinya lagi suatu hari," batin Kaelan. Ia terpaksa melaju, tapi bayangan gadis itu terus menari-nari di benaknya. Siapakah dia?Tubuh yang ternoda itu merasa tak layak lagi berada di istana. Dia memilih untuk tunduk terhadap perintah sang Putra Mahkota untuk turut ke medan perang. Berharap dia akan hancur di sana sebagai penebus dosa yang bahkan bukan miliknya.Aroma ramuan pahit menguar memenuhi kamar yang temaram. Di tepi ranjang, Maera masih setia menemani Elara sedari siang. Gadis pelayan itu menatap penuh iba wajah calon permaisuri yang tampak pucat. Keringat membasahi keningnya. Maera menggenggam tangan Elara yang sedingin salju, sangat kontras dengan kepala dan bagian tubuh lain yang terasa sangat panas. Maera tidak menyangka Pangeran Kaelan akan tetap membawa Elara pergi ke medan perang, meski tahu kondisi kesehatan Elara yang memburuk. Maera meletakkan baju perjalanan yang sudah ia siapkan untuk Elara di atas nakas. Berbanding dengan Kaelan yang tidak menaruh iba sedikitpun kepada calon permaisuri, Maera adalah salah satu dari manusia normal yang tidak bisa membenarkan keputusan Kaelan. Sehingga samp
Sontak semua mata menatap pada pelaku kekerasan yang melemparkan tubuh pria berwajah tak berdosa itu. Mereka melihat dada kekar putra permata Asterion naik turun begitu cepat. Amarah terukir jelas di wajah Kaelan sehingga Ratu Aurelia segera berlari menghampiri putranya."Kaelan, apa yang kau lakukan!" Raja Arcturus berteriak. Apa yang dilakukan Kaelan benar-benar tidak sopan. "Putraku, apa yang sedang terjadi?" Aurelia bertanya dengan hati-hati sembari mengelus lengan putra pertamanya. Namun bukan jawaban yang keluar dari bibir Kaelan. Kaelan justru bergerak cepat dan menghujani Darian dengan pukulan. "Hentikan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku?" Seraphine menjerit histeris. Raja Arcturus segera memerintahkan pelayan yang semula melayani mereka di meja makan untuk memanggil para jendral istana untuk melerai Kaelan. Bukan tak mungkin Darian akan kehilangan nyawa jika mereka tidak segera bertindak memisahkan Kaelan dari pria yang sudah tak berdaya itu. "Astaga, apa yang
Kedua tangan Kaelan mengepal kuat saat tiba di depan pintu kamar calon permaisuri. Wajah pria itu mengetat, kedua manik abu-abu gelapnya menatap tajam pada pintu kayu berukiran bunga yang ada di hadapannya, seakan ia sudah siap untuk menghabisi orang di belakang pintu tersebut.Kaelan menekan knop pintu, namun pintu tak terbuka. "Terkunci," gumamnya dengan gigi yang rapat. Kaelan menarik napas dalam, lalu menendang pintu kamar calon permaisuri dengan kemarahan yang meluap. Pintu terlepas dari engselnya. Dapat terlihat jelas di netra abu-abu kelamnya--seorang gadis yang tadi ia tinggalkan dengan wajah ketakutan berada dalam kungkungan saudara laki-lakinya. Darian yang menyadari pintu di belakangnya terbuka segera memakai celana miliknya yang sempat ia tanggalkan. Sementara itu, Elara menoleh ke arah Kaelan dengan rasa yang sedikit lega. Dengan kehadiran Kaelan, setidaknya dapat menghentikan kekejaman Darian terhadapnya. Tapi melihat situasi dirinya saat ini, mungkinkah Kaelan dapat
Peringatan : Bab ini mengandung unsur kekerasan dan penindasan seksual. Pastikan Anda sudah berusia 18 tahun atau lebih. Setiap sentuhan kasar itu tak pernah benar-benar berlalu. Tubuh mungil gadis itu menyimpan setiap sentuhan yang mengoyak harga dirinya dengan baik. Menjadi memori yang membuatnya trauma, dan semua luka yang ia rasakan sudah mendarah daging. Pintu kamar calon permaisuri tertutup. Meredam isak tangis Elara yang tak akan terdengar oleh siapapun yang melintas. Darian mengangkat tubuh rapuh Elara dan melemparkannya dengan kasar di atas ranjang. Netra birunya berkilat penuh gairah menatap Elara yang mulai menangis gelisah di atas ranjang berkanopi itu. Darian bergerak dramatis saat melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya. Senyum mengerikan dari wajahnya tak sedikitpun berkurang. Ia langsung melompat ke atas ranjang begitu tubuh bagian atasnya tak lagi tertutup sehelai benangpun. "Calon Permaisuri ... kau terlihat menawan setelah sekian lama kita tidak berjumpa,"
Kaelan berpikir apa yang sedang ia lakukan adalah memperbaiki sesuatu. Ia tak sadar sedang merobek luka yang belum sempat sembuh. Pintu ruang kamar calon permaisuri terbuka perlahan, namun suara itu terdengar seperti suara denting lonceng kematian. Pagi itu, Elara berpikir bahwa Kaelan menemuinya untuk memberinya jawaban atas permintaanya kembali ke Eldoria. Elara yang sedang berbincang dengan Maera seketika berhenti berbicara. Elara yang sedang duduk di tepi ranjang menggenggam kain gaun yang menutupi lututnya saat kedua matanya menatap Kaelan yang baru saja melintas di ambang pintu. Namun, suara derap kaki yang mengikuti Kaelan membuat gadis itu menyipitkan mata. Netra hazel keemasan gadis itu terbuka lebar saat melihat dua orang yang berada di belakang Kaelan. Tanpa sepengetahuan Kaelan, Seraphine menatap Elara tajam, sarat akan kebencian. Sedangkan Darian menyeringai dan membasahi bibirnya dengan lidah. Elara reflek mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Seketika Ka
Utusan Kerajaan Asterion tiba di Eldoria dengan iring-iringan pasukan berkuda yang membawa panji berwarna merah marun pekat bergambar kepala elang emas--simbol Kerajaan Asterion. Stempel kerajaan tertera jelas, tak ada ruang untuk penolakan. Rombongan itu seakan menegaskan bahwa keluarga Elara harus memenuhi undangan dari Asterion dengan penuh kepatuhan yang dibungkus dengan kehormatan. Calestra membaca undangan dari Asterion dengan senyum getir. Jemarinya meremas ujung surat undangan saat satu kalimat terasa seperti duri yang menancap di dadanya--Elara Wynslade, calon permaisuri Asterion. "Seharusnya namaku yang tercantum sebagai calon permaisuri Asterion," desisnya dengan rahang mengeras. Seraphine meletakkan cangkir tehnya dengan tak acuh. Bukan hal baru melihat sikap iri putri kandungnya yang tak terima dengan nasib beruntung yang diperoleh Elara. Seraphine mendidik Calestra menjadi gadis yang manja, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tapi nahas, kali ini dia tidak bi







