Share

Abai Rasa

Author: Purwa ningsih
last update Last Updated: 2025-01-09 19:49:27

Semenjak Bibi bekerja di rumah Pak Adiyasa jarang sekali ia menemui keponakannya Sarah, mereka jarang bertemu. Apalagi setelah Ayahnya Sarah meninggal.

"Kamu baik-baik saja, kan?"

"Ya, aku baik-baik saja. Tadi aku hanya shok saja, Bi."

"Bagaimana kabarnya Shaka?"

Sarah tersenyum sambil mengangguk. "Aku baru pulang mengantarkan dia ke pondok Bi."

"Padahal Bibi sudah rindu dengannya."

Sarah tersenyum.

"Aku dengar pondok Shaka lumanyan mahal ya Sarah."

"Ya lumayan, Bi."

"Makanya kamu harus sehat terus demi Shaka."

"Tapi kadang, saat anak lain yang sedang diantar sama Ayahnya, ada rasa iri di dalam Shaka aku yakin itu. Temannya, masing-masing punya satu sosok yang dipanggil Ayah, tapi tidak dengan Shaka?"

Bibi Nik menarik napas, "bersamamu saja sudah membuat Shaka tersenyum bahagia. Percayalah, bukankah mencari ilmu masuk akal daripada mempertanyakan satu sosok yang tak pernah dilihatnya?"

"Eumm Bibi benar."

"Kalau setuju ikut bekerja sama Bibi. Ini telepon Bibi nanti Bibi jemput kamu ya."

"Baik Bi."

"Bibi akan bantu kamu, meminta izin setiap hari jumat untuk menjenguk Shaka ya."

"Emang boleh Bi?"

"Semoga boleh ya. Sekarang kamu makanlah Bibi bawakan kamu makanan kesukaan kamu nih."

"Ya, Bi."

Bibi Nik menatap tak tega. Dia dulu seorang gadis dengan lekuk tubuh nyaris sempurna. Berwajah oval dengan sinar mata indah, hidung mancung, dan bibir sensual kemerahan. Ditambah dengan rambut hitam panjang, menyempurnakan penampilannya sebagai wanita. Terlihat sangat menarik perhatian dengan gayanya yang kasual.

Sayang, nasibnya tak secantik wajahnya.

Bagaimana ia berjuang membesarkan anaknya, menutupi aib dari para tetangga. Selalu berpindah agar meninggalkan jejak kelamnya membesarkan anak dengan sangat baik.

***

Semua berakhir. Setelah mendapatkan kabar jika Sarah sudah meninggal hidup Devan muali berantakan lagi.

"Ya Allah … kenapa Kau beri ujian seberat ini? Kenapa harus ada kematian. Kenapa bukan aku saja yang membuat luka pada Sarah."

Ingatannya tak pernah sampai pada titik akhir. Kenangan perihal gadis itu tak akan pernah terganti. Pun begitu, tentang dia tak akan pudar dari kepalanya meski matahari telah timbul tenggelam ribuan kali.

Saat itu Devan masih diam di tempat di mana ia berdiri. Hatinya begitu cemas saat mereka bertabrakan di lobi kampus.

"Maaf."

Devan terdiam.

"Maaf Kak kalau aku tiba-tiba datang."

Devan masih tetap bergeming. Ia tak lepas menatap Sarah.

"Kak."

"Oh, aku juga salah kok. Maafin aku juga ya."

"Tentu."

"Oke permisi kalau gitu, Kak."

Devan masih terdiam. Ia seolah bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab gadis itu tapi bibirnya seolah tertutup rapat. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung. Sarah pergi meninggalkan Devan yang diam bak patung.

Devan tertawa mengingat kejadian malu-malu saat bertemu Sarah waktu itu, kini ia mendegar derap langkah mendekat. Jantungnya bergemuruh sebab sangat kenal dengan langkah berat itu. Persis ketika derap itu berhenti di balik punggung. Ternyata Zahira yang duduk di sisi Devan. Kedua tangannya meraih, kemudian menggenggam telapak tangan Devan.

"Mas, ayo masuk. Sudah hampir malam. Nanti bisa masuk angin." Suaranya pelan.

Devan mengerjap tatkala keyakinan timbul dalam dada, bahwa meski mereka persis satu sama lain, wanita itu memang bukan wanita dalam hatinya.

"Kamu duluan saja tidurnya aku nanti menyusul."

"Mas lama-lama bisa masuk angin."

"Sepuluh menit lagi?"

"Aku rindu."

Devan terdiam.

Zahira merasuk, merengkuh erat, menghirup dalam-dalam aroma lelaki yang seminggu itu keluar kota.

"Mas kenapa?" Zahira bertanya bingung tatkala mendapati tubuh kaku dan wajah keruh suaminya.

Pelan, Devan melepas belitan tangan istrinya.

"Aku cape banyak pekerjaan." Tanpa menatap Zahira.

Devan memilih tak menjawab. Tangannya sibuk menyalakan korek, entah sudah berapa rokok yang sudah ia hi-sap.

"Mas."

"Sudah tidurlah."

Kalimat serta suara dingin Devan membuat Zahira mundur sekian langkah. Zahira merasakan suara dalam dadanya merintih. Perempuan itu terlalu syok pada apa yang baru saja ia dengar bahwa Devan menolaknya secara halus. Setelah susah payah memungut perasaannya yang tercecer, Zahira menelan ludah, lalu berbalik menatap Devan.

"Mas menolakku?"

Devan menarik napas, lalu menoleh.

"Aku capek, Za. Pikiranmu terlalu jauh."

Devan berjalan mendekat, lalu mendekap istrinya dengan pelukan erat meski tanpa kehangatan. Di dada suaminya, Zahira tak bisa menahan tangis.

"Aku hanya rindu?" Suara Zahira putus-putus.

Devan tak menjawab. Hanya hela napas beratnya yang terdengar. Lalu, menangkup wajah istrinya, mendaratkan banyak kecupan di kening istrinya.

"Sudah. Aku disini."

Devan memilih diam dan merasakan badai dalam dadanya yang kian pecah. Harusnya Devan ingat bahwa gadis itu sudah meninggalkan dunia.

***

Besoknya di malam hari Reno mengantarkan Devan yang sempoyongan hampir tak sadarkan diri lalu mengetuk pintu. Zahira membukakan pintu mendapati suaminya sedang tak sadarkan diri. Zahira mencium aroma yang sangat menyengat. Seketika ia menutup hidung dengan tangan. Ia merasa kaget baru kali ini setelah sekian lama suaminya tak pernah menyentuh barang haram itu lagi.

"Reno kenapa dengan Mas Deva?"

"Emm tadi minum-minuman keras. Sampai tidak sadarkan diri seperti ini."

"Apa. Kok kamu biarkan sih."

"Ngak tahu orang tadi juga aku ditelepon teman suruh jemput Devan."

Reno membawa tubuh Devan ke sofa.

"Saya izin pamit."

"Tunggu dulu, apa Mas Devan ada masalah di kantornya?" tanya Zahira curiga.

Reno menaikkan bahu. "Aku rasa tidak, semuanya baik-baik saja. Kami juga tadi selesai meeting ia pamit mau pulang duluan."

"Astaga. Apa yang terjadi?"

"Aku ngak tahu, Mbak. Ya sudah sama pamit."

"Ya terima kasih sudah mengantarkan Mas Deva."

"Ya."

Zahira menatap ke arah suaminya yang setengah sadar. "Mas, bangun ...." Zahira mengguncangkan lengannya dengan lebih bertenaga.

Devan membuka matanya sayu dan menatap Zahira.

"Kamu," ucapnya serak. Sesaat kemudian, matanya kembali terpejam.

Ingin rasanya Zahira melampiaskan kekesalan padanya. Tapi logika mengingatkan, percuma saja memarahinya saat ini.

"Ayo, pindah. Masuk ke kamar! Sejak kapan Mas minum lagi? Sampai teler kayak gini," gerutu Zahira kesal.

"Lepasin! Kamu siapa?" Devan terus mencoba memberontak saat tangannya ditarik paksa oleh Zahira.

Tak menghiraukannya, Zahira terus menyeret Devan masuk ke dalam kamar yang letaknya lumayan jauh dari ruang utama.

"Lepas!" Devan menghentakkan tangannya sampai cekalan Zahira terlepas.

"Nyusahin ya!"

Devan yang masih setengah sadar, meski tenaganya kuat tetapi sering terhuyung karena kepalanya berasa berputar-putar usai minum.

"Lepas!" Untuk sepersekian detik mereka saling tatap. Devan memindai wajah di hadapan, bulu mata yang begitu lentik membuatnya berbeda dari yang lain. Apalagi alis tebal yang dimiliki gadis itu sukses membuat Devan benar-benar tertarik untuk saat ini.

"Kau bukankah kau sudah meninggal?" tanya Devan ngelantur.

"Gil-a! Aneh-aneh kalau bicara?" Zahira memekik.

"Kau yang gil-a, kenapa kau kesini?"

Lagi-lagi Zahira tak mengerti apa yang dibicarakan suaminya. Devan membuka mata lagi, ia bangun lalu duduk dan muntah. Menyembur di baju Zahira. Dia mulai panik lalu berteriak minta bantuan.

"Mas ini. Astaga nyusahin aja sih." Kesal Zahira.

"Mbok, mbok?" panggilnya pada si Mbok.

Si Mbok berlari ke arah dimana Devan dan Zahira berada. "Nggeh Non."

"Tolong kamu urusin Den Deva ya. Bajuku kotor kena muntahan dia."

"Nggeh, Non.

Kesal Zahira pergi meninggalkan Devan sama si Mbok untuk mengganti pakaian.

Devan tertawa. "Heii. Kamu masih hidup."

"Den sadar ini Mbok."

"Benar kau masih hidup."

Devan melihat gadis itu datang tersenyum menghampirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Pena dua jempol
seru ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Yang Kunodai   Ending Bersamamu

    "Ya Zahira pelakunya."Devan mencoba menjelaskan, tetapi mengherankan karena saat menjawab tak sedikit pun ia berani menatap Sarah."Astagfirullah jadi?''Devan diam. "Mas!""Iya dia." Sarah bahkan tak tahu jika suaminya Devan menyembunyikan sesuatu yang mungkin bisa membuat Sarah marah. "Kenapa, Mas tak memberitahu aku?" Sarah sungguh tak ingin berprasangka buruk, tetapi ia seorang wanita. Ekspresi sangat bersalah jelas ia tunjukkan, matanya masih belum berani menatap mata Sarah. "Aku tak ingin kamu kepikiran."Sarah diam."Maaf Sayang.""Apa menurut, Mas aku tak bisa dipercaya?" cecar Sarah bertubi-tubi."Sayang bukan begitu.""Aku tidak paham apa yang ada di pikiranmu. Kenapa menyembunyikan sesuatu yang penting begini?""Maaf, Sayang," ujar Devan. "Bukan masalah minta maaf, Mas. Tapi lihat ini kelewatan. Astaga? Dia hampir mencelakai kita semua lo. Pantasnya dia dipenjara kan?""Iya sih tapi belom punya bukti. Lagian hembus yang beredar saat kecelakaan dia hampir kritis.""Mas

  • Gadis Yang Kunodai   Semua Rindu Devan

    "Bunda lihatlah Kak Shaka teleponan sama seorang wanita." Adu Raiyan pada sang Bunda. Sarah tersenyum. "Masa? Benar itu Shaka?" tanya Sarah penasaran karena selama ini Shaka begitu rapat menyimpan teman wanitanya. "Tidak ada. Orang ini teman mengajar aku Bunda. Adek saja yang kepo," jawabannya seraya menunduk. "Itung-itungan buat semangatin kalau ngajar kan, Mas.""Apaan ngak ngak ngak.""Dih. Cakep tau itu fotonya." Goda adiknya Raiyan. Shaka merasa malu. "Adek." Shaka kembali menggendong adik perempuannya Syena. Sarah menggelengkan kepala, "sudah-sudah mungkin Kakak kamu ingin fokus mengajar Raiyan."Raiyan tergelak, jalan pikiran kakaknya Shaka memang lain dari yang lain. Baginya itu sangat menghibur karena ia tipe pendiam, "Ide bagus. Tapi jangan kelamaan jomblo Mas." Godanya seraya menemani Syema bermain. "Raiy sudah jangan ganggu Kakakmu, lihatlah mukanya merah itu." Kata Sarah tersenyum. "Iya iya, Bunda."Shaka menguncir rambut adiknya. ''Bunda Syena dan Syema sudah maka

  • Gadis Yang Kunodai   Rindu kamu

    Devan mengisap dalam-dalam rokoknya, lalu mengembuskannya pelan. Ia menatap istrinya lama. Tatapan mata itu yang dulu selalu berhasil meluluhkan Devan, hingga Devan kalah berulang kali. "Minumlah, Mas!" Sarah membawakan secangkir kopi panas untuk suaminya. "Ya.""Bagaimana tangannya masih linu?'' tanya Sarah pada suaminya lagi. "Lumayan sih."Sarah menggeleng. "Jadi hari ini terakhir kontrol?''"Ya Sayang. Alhamdulillah pen sudah dilepas semua normal tinggal pemulihan saja.''"Alhamdulillah kalau begitu." Sarah duduk didekat suaminya. "Kamu tidak mencintaiku lagi?" Sarah tertawa keras hingga air mata menghentikannya. "Mas."Kekhawatiran berlebih pada sesuatu yang belum terjadi, kerap menimbulkan ketakutan tak beralasan, karena usai jatuh beberapa tahun lalu Devan harus terapi karena tangannya cidera akibat menghindari mobil yang mengarah ke pada dirinya. Sarah mendorong pelan dadanya untuk melepaskan diri dari pelukannya. Tersenyum kaku saat melihat tatapannya yang seolah menunt

  • Gadis Yang Kunodai   Penyesalan Zahira

    Tangan Zahira mengusap cepat air yang tersisa di mata dan pipi. Ia lantas mengulas sebuah senyum, senyum yang bisa Zahira pastikan hanya sebuah kamuflase. Ya, hanya untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Padahal, gurat kesedihan dan kecewa terlihat jelas di wajahnya."Pagi Sayang.""Pagi, Ma.""Bagaimana semalam tidurnya nyenyak?""Eumm.""Syukurlah. Kita lalui ini sama-sama," ucap Mamanya seraya menariknya dalam pelukan. Zahira tahu Mamanya bermaksud menghiburnya, tetapi yang terjadi ia malah kembali menangis, hingga terisak-isak di pelukannya. "Sudah, jangan nangis lagi. Hanya kamu satu-satunya harta Mama.''"Kenapa pas kecelakaan aku tak mati saja, Mama. Kenapa harus Joy?" "Hus. Jangan bicara begitu, mungkin Allah punya rencana lain untukmu, Nak."Zahira terdiam. "Sabar ya."Sang Ibu mendorong kursi Zahira ke dekat sofa. "Tapi aku bukan wanita sempurna aku cacat, Mama."''Kamu masih punya Mama. Tenanglah.''Zahira menggelengkan kepala. "Tidak, aku kesepian, Ma.""Sudah, ja

  • Gadis Yang Kunodai   Tak Bisa Melupa

    Sekarang apa yang bisa Zahira lakukan selain menjalani hidup tanpa arti, mungkin itu karmanya karena sikap jahatnya selama ini padanya. Mata kini terpejam, segera kembali terbuka ketika mobil sepertinya sudah berhenti di depan rumah. Zahira menyusuri halaman rumah di dorong dengan kursi roda, oleh bodyguard sekaligus sopir kiriman Papanya tiga tahun lalu. "Deri, apa aku terlalu buruk?" tanyanya tidak sanggup lagi menahan ucapan. Ada yang menekan keras hati di dalam sini, seluruh sendi seakan lepas dari pengait. "Siapa yang bilang, Non?" tanya balik Deri pada majikannya itu. "Aku. Aku bahkan wanita tak berguna juga wanita jahat, aku telah menyakiti banyak orang.""Non semua orang punya masa lalu.""Aku lelah bolak-balik berobat ke Singapore tapi sepertinya tak ada hasil."Deri menatapnya lembut, terlihat dia tersenyum. "Karena bolak-balik itu akan membuat, Non bisa berjalan lagi."Zahira menunduk karena tidak kuasa menahan rasa bersalah, merasa malu telah berbuat semena-mena dengan

  • Gadis Yang Kunodai   Karma

    Tiga tahun kemudian. Perjalanan pulang dari Singapura terasa panjang dan melelahkan. Bandara Soekarno Hatta yang selalu ramai juga jalanan Jakarta yang padat, menyambut kedatangan Zahira seperti sekarang ini. Sudah hampir satu tahun belakangan ini Sarah mondar-mandir Jakarta-Singapura. Demi pengobatan kakinya yang lumpuh karena tak bisa jalan. Zahira menghela napas panjang. Mematikan layar ponsel dan memasukannya ke tas yang ia kenakan. Di dorong Deri sang bodyguard dengan kursi roda itu membuatnya muak dan putus asa, ia menangis hampir setiap saat. Zahira memejamkan mata lelah dan berat. Teringat terakhir kali mereka bertemu Devan di kantor sehari setelah Zahira mengalami kecelakaan hebat, Karena Zahira ingin menabrak Devan hingga dirinya terbanting sendiri bahkan rekan kerja juga sahabatnya Joy meninggal di tempat. Berdua duduk berdampingan siang itu, Zahira mulai berkeluh kesah. Mulai menyesali diri, mengutuki diri karena kematian Joy sahabatnya. Masih Zahira ingat perkataan Devan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status