Share

Bab. 117. Transfer Miliaran?

Author: Kurnia
last update publish date: 2026-08-27 23:53:17

Pertanyaan ngasal Deria terdengar masuk akal. Aku segera menghubungi Bibi Jane untuk menanyakan siapa saja wanita yang pernah dekat atau menjalin hubungan romantis dengan ayahku.

Meski mungkin tidak mengetahui semuanya secara pasti, Bibi Jane pasti tahu beberapa nama, mengingat dirinya dan ayahku berasal dari generasi yang sama.

Sambil menikmati makanan yang tersaji, aku menunggu balasan email dari Bibi Jane. Sementara itu, Deria dan Arlo mengobrol santai. Keduanya sama sekali tidak terlihat ca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 140. Masuk Ke Dunia Kartel

    Aku keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutku menggunakan handuk kecil. Setelah itu, aku duduk di atas ranjang. Pandanganku tak sengaja jatuh pada pantulan diriku di cermin yang berada di hadapanku. Tanpa sadar, aku pun memperhatikan diriku sendiri.“Ayah, nggak aku sangka. Orang-orang di belakangmu luar biasa hebat. Tapi, aku juga punya,” ucapku sambil tersenyum lebar.Tak lama kemudian, Meli tiba-tiba muncul dari jendela. Aku sampai melongo melihatnya. Ternyata, Meli juga ikut ke tempat ini.“Ibu, aku diperintahkan ayah untuk menjagamu,” kata Meli, santai.“Berhentilah memanggilku ibu,” tegurku sambil cemberut.Meli tertawa kecil sembari berjalan mendekatiku.“Ibu, beneran mau tidur? Gimana kalau kita jalan-jalan? Di kota ini, akulah yang berkuasa!” ujar Meli dengan penuh semangat.Aku menggelengkan kepala, lalu menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang yang empuk dan hangat. Aku segera menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuhku agar Meli menyingkir dari hadapanku. Namun,

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 139. Misi Baru

    Sore harinya, aku benar-benar dibawa ke sebuah penginapan di dekat dermaga, tempat Tuan Zilo menginap.Awalnya, pria itu menyambutku dengan ramah, mengingat bahwa aku adalah orang yang disayangi Arlo. Namun, begitu Reno memberitahu bahwa aku juga merupakan orang yang disayanginya, pria berumur yang masih terlihat tampan itu langsung menatapku sinis."Kean, sebagai seorang laki-laki sejati, masa depanmu secerah kulitmu. Dengan kemampuan otakmu, seharusnya kamu bisa sukses tanpa menggoda laki-laki berkuasa," tutur Tuan Zilo menasihatiku."Hati Tuan Arlo sangat rapuh semenjak kehilangan tunangan. Kebetulan, wajahmu sangat mirip dengan mendiang tunangannya. Wajar jika kamu menjadi kesayangan," lanjut Tuan Zilo.Aku melirik Reno yang hanya diam. Sialan, ia membiarkan ayahnya mengomeliku."Namamu... Kean, 'kan?" tanya Tuan Zilo, memastikan.Aku mengangguk sebagai jawaban."Apa tidak cukup menjadi kesayangan Tuan Arlo? Haruskah menggoda putraku juga? Kamu cukup serakah," lontarnya, sengaja m

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 138. Max Santai

    "Tidak ada istri yang masih perawan," tukas Tuan Gaxi. "Humormu ternyata jauh lebih buruk dari ayahmu dulu," ledeknya."Aku tidak sedang bercanda," sahut Arlo."Jelas-jelas kamu bercanda." Tuan Gaxi tidak mau kalah.Asisten Tuan Gaxi akhirnya turun tangan. Pria itu menegur tuannya agar kembali fokus pada pembahasan utama.Tuan Gaxi berdehem. Ia kemudian menjelaskan rencananya secara rinci kepada Arlo.Setelah menyampaikan semua hal yang perlu disampaikan, pertemuan dadakan antara dua kepala keluarga tersebut akhirnya berakhir.Saat berada di dalam mobil menuju apartemen Arlo, aku menanyakan keterkaitan kasus Airin dengan Sarah."Walau anak pemimpin kartel, Max tidak akan berani menyentuh Airin. Ada orang yang memerintahnya," tutur Arlo, sependapat denganku."Mungkinkah Sarah? Dia memanfaatkan rasa cinta Max," timpalku, menebak.Arlo mendengus. Ia memijat keningnya.Melihat Arlo yang tampak pusing, aku memilih tidak melanjutkan pembahasan."Aku akan selalu mendukung rencanamu bersama T

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 137. Oh! Ternyata!

    Tiga hari setelah insiden kebakaran di laboratorium Fakultas Kedokteran, aku dan teman-teman lainnya menghadiri pemakaman Airin.Aku sama sekali tidak menyangka bahwa inilah jawaban dari kegelisahan yang kurasakan. Aku harus kehilangan sahabat masa kecilku, tepat ketika ingatanku tentang dirinya mulai kembali sedikit demi sedikit.Rasanya jauh lebih menyakitkan.Sepanjang prosesi pemakaman, aku hanya mampu membisu dengan tatapan kosong. Bahkan Arlo yang berdiri di sampingku pun tak banyak bicara. Sorot matanya menyiratkan luka mendalam akibat kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya.Setelah prosesi pemakaman selesai, ayah kandung Airin melakukan wawancara dengan seorang reporter dari salah satu stasiun televisi swasta milik keluarga Lozi.Dalam wawancara tersebut, ayah Airin, Tuan Gaxi, mengungkapkan kesedihannya atas kepergian sang putri. Namun, ia memutuskan untuk tidak menyelidiki kematian Airin lebih lanjut. Ia percaya bahwa kepergian putrinya merupakan bagian dari takdir

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 136. Laboratorium Meledak!

    Nyonya Mayun menghajar Sarah tanpa ampun. Ia sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk berbicara sepatah kata pun. Menurutnya, semua bukti sudah terpampang jelas. Sarah tidak perlu menjelaskan.Sarah meringkuk telungkup sembari menangis menahan sakit. Kedua tangannya berusaha melindungi wajah dari pukulan sang ibu. Untuk saat ini, ia tidak berani melawan. Ia menganggap ibunya telah kehilangan akal sehat.Saat Sarah disiksa oleh ibunya, Deria hanya menyaksikan dalam diam dari atas ranjang. Ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya.Setelah merasa Nyonya Mayun mulai kelelahan, barulah Deria menghentikan wanita itu.“Nyonya, sudah cukup!” teriak Deria sembari berlari menghampiri Nyonya Mayun.Deria memeluk tubuh Nyonya Mayun dari belakang, berusaha keras menjauhkan wanita itu dari sang putri.“Nyonya... Tenangkan dirimu. Sarah sudah babak belur. Dia seorang wanita. Jangan sampai wajahnya cacat,” tutur Deria, sedikit menasihati Nyonya Mayun.“Aku bahkan tak menyentuh wajahnya!” tu

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 135. Airin Bertindak, Kenapa?

    Dalam kondisi lunglai tak berdaya di atas ranjang pasien rumah sakit, aku membantah tuduhan Daniel dengan suara lirih.Arlo yang khawatir dengan kondisiku segera menegur Daniel yang usil dan memintanya diam untuk saat ini.Tak lama kemudian, Reno masuk ke dalam ruangan. Tumben ia datang seorang diri. Biasanya, ia selalu membawa rombongan.“Bisa demam juga bocah ini,” ucap Reno, mencibirku.Aku membalas tatapan Reno. Lelaki itu memang bermulut pedas, tetapi raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran terhadap kondisiku.Arlo menyentuh pipiku dan mengelusnya perlahan.Rupanya Reno tak mau kalah. Ia ikut menyentuh pipiku yang sebelah dan mengelusnya perlahan.Tindakannya langsung dihentikan oleh Arlo.Kini, keduanya saling melempar tatapan satu sama lain.Aku yang masih terbaring lemah hanya bisa menghela napas. Untungnya, Daniel berhasil memecah keheningan mencekam yang sempat singgah di antara kedua sahabat itu.“Kak Arlo... Kak Reno, kalian keluar saja. Biar Kak Daniel yang menjagaku,” pin

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 02. Kue Manis Dari Bella!

    Arlo langsung melesat ke depanku, tangannya meraih daguku dengan cepat. Matanya memancarkan kekhawatiran yang jarang terlihat. Jempolnya menekan lembut rahangku, memaksa mulutku terbuka untuk memeriksa lukanya. Darah segar merembes dari sela-sela gigiku. Di lantai, Reno memungut pecahan kue basah

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 01. Hallo, Aku Kembali!

    Dada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tun

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 10. Menemui Aldo (Arc : Tuan Jefery)

    Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 08. Dua Kali Berulah, Dua Kali Kalah

    Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status