แชร์

Bab. 07. Kencan Di Gang Sempit

ผู้เขียน: Kurnia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-22 14:41:57

Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.

Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?

Senyum tipis nyaris muncul. Bagus! Kalau begitu... Ini akan lebih mudah.

Aku memaksa napasku melambat, menekan detak jantung yang mulai tak teratur. Dalam situasi seperti ini, kepanikan hanya akan membunuhku lebih cepat.

Aku harus tenang, dan fokus!

Perlahan, aku mengatur posisi tubuhku. Sikuku kutarik sedikit ke belakang, mencari sudut yang tepat. Satu kesempatan sudah cukup bagiku.

Tanpa peringatan, aku menghentakkan tubuhku, lalu menghantamkan siku sekuat tenaga ke arah perut pria di belakangku.

"Akh!"

Bekapan di bibirku langsung terlepas.

Aku tersentak maju, menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dengan cepat, siap melanjutkan serangan.

Namun... Tubuhku membeku. Mataku membelalak.

Sosok yang kini meringkuk, bukanlah orang asing. Melainkan Reno. Iya! Reno!

"Kak Reno!" pekikku, panik.

Pikiranku langsung kosong. Satu kesimpulan brutal menghantam kesadaranku.

Gawat! Aku baru saja melukai sumber uangku.

Aku buru-buru menunduk, mensejajarkan tubuhku dengan Reno yang terduduk sambil memegangi perutnya.

Napasnya tertahan. Otot rahangnya mengeras, membuatku panik.

"Kak Reno... Kamu nggak apa-apa?" tanyaku cepat.

Suasana jadi kacau. Pikiranku ikut berantakan.

Dengan susah payah, Reno mengangkat wajahnya. Sorot matanya masih tajam, meski jelas menahan sakit.

"Kean... Kamu... Ter-nyata... Kuat juga." Reno menjeda kalimatnya, sebelum lanjut, "Kamu... Pria se-jatih!"

Aku langsung menggeleng cepat. Berulang kali aku meminta maaf, sekaligus menyangkal.

"Itu kebetulan, Kak! Aduh... Kakak ngapain sih? Begitukan aku?" Nada suaraku terdengar polos. Sedikit panik. Cukup aman... Untuk menutupi sesuatu.

Reno masih memegangi perutnya. Ia tidak mengeluh. Tapi justru itu yang membuatku semakin yakin kalau dia benar-benar kesakitan.

Aku menggigit bibir, bingung harus berbuat apa. Dan tepat saat itu, suara langkah kaki terdengar dari kegelapan gang.

Aku menoleh, bertepatan dengan Aldo yang muncul dengan wajah songong. Langkahnya santai, seolah tempat ini miliknya.

Aldo tidak sendirian. Beberapa pria berbadan kekar berdiri di belakangnya, membentuk bayangan gelap yang menekan.

Tatapan mereka dingin, tanpa ekspresi. Seperti orang-orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

"Wah... Wah... Wah... Masak Tuan Muda Lozi ngajak pacaran di gang sempit?" ujar Aldo. Senyumnya melebar. Suaranya ringan, tapi penuh ejekan yang tajam.

Berani sekali.

"Ah... Aku hampir lupa. Pasangan tabu kayak kalian, memang cocok berkencan di tempat seperti ini." Ucapan itu jatuh seperti racun.

Aldo terus menghina, tanpa jeda. Tatapannya bergantian antara aku dan Reno, penuh ejekan yang menjijikkan.

Aku melirik Reno. Lelaki tangguh itu masih diam. Napasnya berat.

Rasa sakit jelas mengganggunya. Dan itu... Salahku.

Aku menarik napas pelan, memaksa pikiranku tetap tenang.

"Aldo! Ngapain kamu di sini?" tanyaku, sengaja mengulur waktu.

Setiap detik yang berlalu... Bisa jadi peluang. Siapa tahu ada orang yang melewati gang ini. Atau setidaknya, memberi kami sedikit ruang untuk bergerak.

Aldo menyeringai lebar. Ekspresi itu seperti predator yang akhirnya menemukan mangsanya.

"Tentu saja, aku di sini... Untuk menghabisi nyawamu," desis Aldo. Suaranya rendah dan berat. Penuh tekanan yang mengancam.

Udara di gang sempit terasa semakin dingin.

Dengan susah payah, Reno berdiri. Langkahnya tidak stabil, tapi ia tetap maju lalu berhenti tepat di depanku. Seolah menjadi tameng tanpa kuminta.

"Kurang ajar! Kamu nggak lihat aku?" geram Reno. Kedua tangannya terkepal kuat. Urat-urat di lengannya menonjol, menahan emosi yang hampir meledak.

Tatapan menusuk Reno mengunci Aldo. Sangat tajam dan mengintimidasi.

Sementara Aldo hanya tertawa kecil. Dia terlalu santai untuk situasi seperti ini. Sikapnya berubah, tidak seperti dirinya tempo hari yang lari terbirit-birit saat berhadapan dengan Reno.

"Tuan Lozi... Aku nggak ada urusan sama kamu. Tapi, kalau kamu maksa ikut campur. Jangan marah kalau aku melukaimu."

Aldo mengangkat tangan, memberi isyarat singkat pada anak buahnya. Dalam sekejap, mereka bergerak cepat dan terlatih.

Aku refleks mundur, tapi terlambat. Begitupun dengan Reno. Kondisinya yang belum pulih, membuatnya tidak mampu melakukan perlawanan berarti. Alhasil, tubuh kami ditahan. Dikunci. Seakan tidak ada celah untuk melawan.

Beberapa detik kemudian, kami sudah diseret keluar dari gang itu.

***

Aldo membawa kami ke gudang pakan ternak yang sudah lama ditinggalkan.

Udara di dalamnya pengap. Bau busuk menyengat, menusuk hidung tanpa ampun. Dinding-dindingnya kusam, lantainya kotor, dan suasananya terlalu sunyi.

Tempat ini jauh dari pusat kota, dan jauh dari jangkauan penduduk. Sayangnya, aku dan Reno dikurung di dalamnya.

Aku menoleh ke samping. Melihat Reno yang tergeletak lemah, bersandar pada dinding. Wajahnya penuh luka, napasnya berat, tubuhnya nyaris tak bergerak.

Akibat Reno yang selalu melawan, mereka mengeroyoknya tanpa ampun.

Dadaku mengencang. "Aldo! Kamu gila? Lihat! Apa yang kamu lakukan pada pewaris keluarga Lozi! Kamu nggak takut?!" teriakku.

Kedua mataku membelalak, menatap Aldo tanpa gentar. Di balik amarahku, pikiranku tetap bekerja untuk mencari celah, menghitung kemungkinan.

Pokoknya, aku harus bisa membuat mereka lengah.

Aldo mendecih. "Hanya keluarga Lozi. Siapa yang akan takut padanya?" timpalnya, enteng. Terlalu meremahkan.

Aku menyipitkan mata. Bukankah Aldo terlalu berani? Bahkan aku yakin, Sarah pun tidak akan berani sejauh ini. Menyentuh ahli waris keluarga Lozi bukan perkara kecil.

"Aldo... Meski ada orang yang melindungimu, tindakanmu sudah melewati batas!" bentakku.

Aldo tertawa cukup keras, hingga suaranya menggelegar. Seolah semua yang kukatakan hanyalah lelucon murahan.

Baiklah... Kesabaranku habis. Aku menantang Aldo secara langsung. Kata-kataku sengaja kupilih tajam, cukup untuk menusuk harga dirinya. Aku juga provokasi dia, dan... Itu berhasil.

Tatapan Aldo berubah. Ia memberi isyarat pada anak buahnya agar melepaskanku.

Akhirnya aku bisa berdiri bebas.

Sementara itu, Reno menatapku lelah. Matanya memancarkan sesuatu. Apakah itu... Sebuah peringatan? Atau kekhawatiran?

Dengan tangan bergetar, Reno meraih kalung di lehernya, menariknya hingga putus. Tanpa ragu, ia menggigit liontin itu hingga pecah.

Aku mengernyit. Apa yang Reno lakukan?

Belum sempat aku mencerna, Aldo sudah bergerak cepat dan agresif. Ia berlari ke arahku, melayangkan serangan tanpa ragu.

Aku menghindar dengan mudah.

Aldo mendecak kesal, wajahnya berubah gelap.

"Reno... Dia sudah mati! Jangan memalingkan wajahmu, Sialan!"

Bersambung...​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 153. Putri Asli Telah Kembali

    Dua minggu berlalu. Dokumen hasil tes DNA akhirnya tiba dan sampai ke tangan kakek. Beliau membacakan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa aku benar-benar putri biologis Tuan David.Pernyataan itu sontak mengejutkan ayahku dan istrinya. Tubuh mereka berdua menegang, seakan hasil tes tersebut merupakan kabar yang sama sekali tidak mereka harapkan."Ayah, mayat yang katamu hangus terbakar itu siapa? Putri kandungmu masih hidup, dan duduk di hadapanmu," lontarku sambil tersenyum tipis."David, putri yang kamu sayangi telah kembali. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak senang?" sambung kakek, heran melihat sikap ayahku.Tuan David buru-buru menggelengkan kepala. Ia mengaku terlalu terkejut hingga tidak mampu memberikan reaksi yang tepat."Putriku, tentu aku senang kamu ternyata tidak meninggal. Aku... Sangat bersyukur," tutur ayahku, berusaha keras menunjukkan kebahagiaannya.Sayangnya, di mataku, ekspresi yang ditampilkan

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 152. Terlahir Kembali

    Tiga tahun kemudian.Aku menyisir rambutku yang kini telah panjang, rambut yang selama tiga tahun terakhir kurawat dengan baik. Mahkota baruku.Aku menatap pantulan diriku di cermin, mengamati setiap detail penampilanku, lalu berkata, "Inilah diriku. Cantik dan feminim."Namun entah mengapa, setelah mengucapkan kalimat itu, air mataku justru mengalir. Aku masih sulit memercayai bahwa akhirnya aku bisa mengenakan pakaian yang kusukai dan berdandan menor layaknya remaja perempuan yang baru mengenal makeup.Kehidupan seperti ini bahkan tak pernah berani kubayangkan selama tujuh tahun penyamaranku. Kini, aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus menyembunyikan identitasku. Tinggal selangkah lagi, aku akan menuntaskan semuanya dan benar-benar bangkit.Nama baik ibuku telah pulih. Orang yang membunuhnya pun telah menerima ganjaran yang jauh lebih menyakitkan. Sekaeang, sudah waktunya pelaku utama diadili.Ayah... Aku datang.

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 151. Kehancuran Dua Kartel Besar

    Tuhan kali ini berpihak kepadaku. Kartel nomor dua melancarkan serangan terhadap markas kartel nomor satu tanpa mengirimkan surat peringatan terlebih dahulu. Keputusan yang diambil Tuan Ciko itu memicu peperangan terbuka antara kedua kartel, membuat mereka saling menyerang tanpa ampun.Kerusuhan yang merebak di berbagai kota di negara itu mulai menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia. Terutama di kalangan keluarga mafia yang menguasai kota-kota besar. Mereka khawatir peperangan tersebut akan meluas dan menyeret kartel mereka ke dalam konflik yang sama.Para petinggi keluarga mafia yang memegang kendali atas kartel nomor satu pun mulai merasa terancam. Kartel nomor dua sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Sebaliknya, mereka terus menghancurkan berbagai fasilitas penting milik kartel nomor satu. Bahkan, mereka nyaris berhasil membunuh pemimpin kartel tersebut.Dalam situasi yang semakin genting, kepala keluarga mafia dari kartel nomor satu seg

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 150. Bergerak Secara Alami

    Keesokan harinya, aku mengajak Meli, yang baru tiba tadi malam, untuk makan siang bersama kami di paviliun tepi laut. Bagiku, Meli bukan sekadar pengawal yang diutus Arlo untuk menjagaku, melainkan sosok kakak yang selalu ada setiap kali aku membutuhkannya.Setelah semua hidangan tertata rapi di atas meja, Arlo mengambil sepotong daging lobster, lalu meletakkannya di atas piring Reno.Reno menerimanya dengan senang hati sembari mengucapkan terima kasih atas perhatian Arlo.Sementara itu, aku dan Daniel hanya menyantap daging sapi panggang dan sayuran karena kami berdua alergi terhadap makanan laut."Kak Meli, makan yang banyak sampai kenyang," kataku sembari meletakkan sepotong daging ke piringnya."Terima kasih, Ibu," ucap Meli sambil tersenyum senang.Aku mendengus pelan. Kendati sudah sering mendengar Meli memanggilku begitu, aku tetap merasa risih dan belum terbiasa dengan panggilan tersebut."Ngomong-ngomong, aku ak

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 149. Kecemburuan Reno

    Setelah puas melepas rindu, Kakek menyuruh kami beristirahat. Kami pun menurut tanpa membantah.Aku ditempatkan di kamar termewah yang ada di mansion itu. Kamar tersebut dilengkapi berbagai fasilitas kelas atas, dengan pelayan yang selalu siap siaga untuk memenuhi segala kebutuhanku setiap saat.Begitu memasuki kamar, aku langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang yang empuk. Kasur yang begitu nyaman seolah memelukku, membuatku ingin segera memejamkan mata dan menikmati istirahat yang sesungguhnya."Malam ini, aku mau tidur nyenyak!" seruku penuh semangat.***Keesokan harinya, aku mencoba berbagai gaun indah yang diberikan kakek, lengkap dengan perhiasan dan segala sesuatu yang berbau feminin. Sesuatu yang selama tujuh tahun terakhir aku tinggalkan.Setelah hampir dua jam memilah dan mencoba berbagai gaun, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah gaun sederhana berwarna putih. Renda tipis menghiasi beberapa bagiannya, sementara tabu

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 148. Cucu Telah Kembali

    Malam itu, Reno menceritakan semua yang ia ketahui tentangku kepada ayahnya. Siapa sangka, selama ini Reno diam-diam menyelidiki kasus kematianku tujuh tahun lalu.Bukan hanya itu, Reno jugalah yang bergerak membungkam semua wartawan agar tidak menyiarkan berita apa pun mengenai terbongkarnya identitasku.Reno berusaha melindungiku dengan caranya sendiri, tanpa pernah memberitahuku tentang semua yang telah dilakukannya."Ayah mencintai ibunya, Nyonya Liana. Dan aku mencintai putrinya, Qiqiela. Jika kita bernasib sama, aku berharap bisa bertemu wanita seperti ibu dan melupakan Qiqi," tutur Reno setelah mencurahkan seluruh isi hatinya kepada sang ayah."Tapi, Ayah. Sebelum cintaku benar-benar bertepuk sebelah tangan. Aku ingin melindungi Qiqiela."Tuan Zilo tersenyum tipis mendengar pengakuan putranya. Ia bisa memahami perasaan Reno. "Kalau begitu, selesaikan kuliahmu tahun ini. Lalu pergi ke perusahaan. Biar pamanmu yang mengajar

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 10. Menemui Aldo (Arc : Tuan Jefery)

    Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 08. Dua Kali Berulah, Dua Kali Kalah

    Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 06. Sarah, Kamu Ngapain?

    Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga

  • Gadis yang Mempermainkan Para Penguasa Kampus   Bab. 05. Aldo, Kamu Yang Memulai!

    "Kalau mau bunuh orang, jangan di tempat terbuka. Dasar bodoh!" bentak Reno. Suara baritonnya menggema di lorong yang sepi. Otot-otot di lengan Reno menegang, rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, bersiap melayangkan tendangan ke perut Aldo yang masih meringkuk di lantai. Melihat situasi yang bi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status