INICIAR SESIÓNKeesokan harinya, setelah sarapan bersama kakek, aku diajak Leon memancing di danau kediaman keluarga Varelian. Ia bercerita bahwa dahulu kami sering menghabiskan waktu untuk memancing bersama.
Kenangan indah masa kecil yang hilang dari ingatanku.Kami duduk berdampingan di tepi danau, masing-masing memegang tongkat pancing sambil menunggu ikan menyambar umpan.Alih-alih memperhatikan permukaan air, perhatianku justru lebih banyak tertuju pada ponsel yang terus berBeberapa hari berlalu. Aku duduk di bangku taman hotel, menikmati pemandangan bunga-bunga tulip yang bermekaran sembari menyesap kopi panas dari gelas sekali pakai yang kubawa. Udara dingin menyentuh kulitku, membuatku merapatkan jaket agar tubuhku tetap hangat.Seorang manajer hotel menghampiriku. Dengan sopan, ia memintaku masuk karena matahari mulai tenggelam. Aku menurut tanpa banyak bicara, lalu beranjak meninggalkan taman.Sore itu, aku sengaja datang untuk melakukan inspeksi mendadak di hotel yang dihadiahkan Reno kepadaku.Hotel ini memang bukan termasuk hotel kelas atas, tetapi suasananya nyaman dan asri. Kualitas pelayanannya pun terjaga dengan baik, meskipun tarif menginap per malam tergolong murah.Saat berada di lobi khusus, pandanganku tanpa sengaja menangkap sosok Leon yang sedang bersama seorang wanita berpakaian minim. Wanita itu jelas bukan Bella.Aku memperhatikan mereka sejenak, kemudian meminta manajer hotel memberiku
Keesokan harinya, setelah sarapan bersama kakek, aku diajak Leon memancing di danau kediaman keluarga Varelian. Ia bercerita bahwa dahulu kami sering menghabiskan waktu untuk memancing bersama.Kenangan indah masa kecil yang hilang dari ingatanku. Kami duduk berdampingan di tepi danau, masing-masing memegang tongkat pancing sambil menunggu ikan menyambar umpan.Alih-alih memperhatikan permukaan air, perhatianku justru lebih banyak tertuju pada ponsel yang terus berdering.Aku asyik memeriksa beberapa pesan dari Arlo dan Reno, lalu membalasnya secara bergantian. Tanpa sadar, senyum tipis terus menghiasi bibirku setiap kali membaca pesan mereka.Tiba-tiba, Leon menegurku dan memberitahu bahwa tongkat pancingku sedang bergoyang. Aku sontak menoleh, lalu buru-buru meletakkan ponsel dan menarik tongkat pancingku dengan penuh semangat.Namun, bukannya mendapatkan ikan, aku malah mendapati Leon sedang menahan tawa. Rupanya, pria itu ha
Setelah puas memelukku, Reno melonggarkan rangkulannya. Pria itu kemudian menuntunku menuju sofa di sudut ruang kerjanya. Ia duduk, lalu menarikku ke dalam pangkuannya.Sebenarnya aku merasa risih karena asisten Reno masih berada di ruangan dan sesekali melirik ke arah kami. Meski begitu, aku menahan diri dan tidak melayangkan protes."Nggak perlu kenalan. Aku sudah mengenalmu," bisiknya.Reno menyibakkan rambut panjangku dari bahu, memperlihatkan sisi leherku. Gerakannya mendadak terhenti ketika pandangannya menangkap tanda kemerahan di kulitku. Ia berdecap, lalu menatapku dengan wajah masam."Kamu membiarkan Arlo meninggalkan bekas ciumannya. Qiqi, aku cemburu," tegasnya, mendengus kesal.Aku refleks menyentuh leherku sendiri. Setelah makan malam, Arlo mengajakku ke rumahnya, dan kami bercinta hingga fajar.Belum sempat aku memberikan tanggapan, Reno mendekatkan wajahnya ke leherku. Hembusan napasnya menyentuh kulitku sebelum b
Restoran VIP di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit tampak begitu memesona. Kemewahannya terpancar dari setiap sudut ruangan, mulai dari lampu kristal berkilauan yang menggantung anggun di langit-langit, lantai marmer yang memantulkan cahaya keemasan, hingga deretan meja eksklusif dengan dekorasi bunga segar dan peralatan makan berkelas.Dinding kaca yang membentang luas menyuguhkan panorama kota yang bermandikan cahaya. Gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan, sementara jalanan di bawah sana tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti.Alunan piano mengisi ruangan dengan melodi lembut, berpadu dengan percakapan tenang para tamu yang berasal dari kalangan konglomerat dan keluarga elite. Di tempat semewah ini, setiap orang seolah memiliki dunia dan kekuasaannya sendiri.Di antara segala kemewahan yang tersaji, ada satu sosok yang jauh lebih menarik perhatianku. Dia adalah Arlo Ocean Herlan, tunanganku tercinta.Pria itu du
Malam harinya, kami makan malam bersama di paviliun utama kediaman. Kami duduk mengelilingi meja bundar yang dipenuhi berbagai hidangan. Suasananya begitu sunyi dan sedikit tegang, jauh dari kesan keluarga normal pada umumnya.Sarah menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan mencibir masakan koki yang tak satu pun sesuai dengan seleranya."Aku tidak suka daging babi. Kenapa semua menu terdapat daging babi?" sungut Sarah sambil mengerucutkan bibir."Karena aku menyukai daging babi," sahutku, tersenyum mengejek.Tanpa membuang waktu, aku justru memuji kepiawaian koki dalam mengolah daging babi. Sebagai bentuk apresiasi, aku menghadiahkan cincin berlian yang sedang kukenakan kepada koki tersebut."Qiqi, kamu cukup dermawan juga ya? Menyerahkan cincin seharga miliaran rupiah hanya untuk seorang koki." Sarah langsung menyindir tindakanku.Aku terkekeh. "Aku memang dermawan, baru tahu? Lihatlah dirimu, kamu pikir, dari mana k
Dua minggu berlalu. Dokumen hasil tes DNA akhirnya tiba dan sampai ke tangan kakek. Beliau membacakan hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa aku benar-benar putri biologis Tuan David.Pernyataan itu sontak mengejutkan ayahku dan istrinya. Tubuh mereka berdua menegang, seakan hasil tes tersebut merupakan kabar yang sama sekali tidak mereka harapkan."Ayah, mayat yang katamu hangus terbakar itu siapa? Putri kandungmu masih hidup, dan duduk di hadapanmu," lontarku sambil tersenyum tipis."David, putri yang kamu sayangi telah kembali. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak senang?" sambung kakek, heran melihat sikap ayahku.Tuan David buru-buru menggelengkan kepala. Ia mengaku terlalu terkejut hingga tidak mampu memberikan reaksi yang tepat."Putriku, tentu aku senang kamu ternyata tidak meninggal. Aku... Sangat bersyukur," tutur ayahku, berusaha keras menunjukkan kebahagiaannya.Sayangnya, di mataku, ekspresi yang ditampilkan
Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga







