Compartilhar

Bab 2

Autor: Abu
Nadine tak pernah menyangka Arsen tega berbuat sejauh ini demi Saskia Adinata.

Demi mengejar gadis itu, dia sampai tega menyakiti istrinya sendiri.

Di tengah nyeri yang luar biasa, Nadine baru saja hendak bersuara, tetapi pandangannya seketika menggelap dan dia pun pingsan.

Saat siuman, rasa nyeri menusuk kembali menyapa di belakang kepalanya. Dengan susah payah dia membuka mata, menatap langit-langit yang asing, sejenak dia kehilangan arah, tak tahu di mana dia berada.

"Bu Nadine, Anda sudah siuman."

Sebuah suara dingin terdengar.

Nadine menoleh dan melihat Saskia berdiri di sisi tempat tidur, membawa kotak P3K. Gadis itu mengenakan kaos putih dan celana jins sederhana, rambutnya dikuncir tinggi. Wajahnya polos tanpa riasan, tetapi tetap memancarkan aura muda yang segar.

"Saya perawat Bu Nadine, Saskia Adinata." Raut wajah gadis itu tenang, tetapi nadanya terasa berjarak. "Meskipun saya sudah tinggal di sini, tolong jaga baik-baik Pak Arsen. Kalau dia masih bertindak melampaui batas, saya akan langsung pergi."

Dada Nadine terasa nyeri.

Sungguh ironis. Gadis ini sudah tinggal di rumahnya, tetapi malah menyuruh sang nyonya rumah untuk mengurusi suaminya sendiri.

"Aku mau ganti perawat." Suara Nadine terdengar serak.

Akan tetapi, Saskia seolah tidak mendengar. Dia sibuk sendiri mengeluarkan jarum suntik. "Sekarang saya akan menyuntikkan antiradang."

Suntikan pertama gagal, tidak mengenai pembuluh darah.

Suntikan kedua meleset, punggung tangan Nadine langsung membengkak membentuk benjolan kecil.

Suntikan ketiga malah langsung tembus hingga mengeluarkan darah.

"Kalau nggak bisa nyuntik, biar orang lain aja." Nadine gemetar kesakitan, suaranya ikut bergetar.

Mendengar itu, mata Saskia seketika merah. Dengan nada keras kepala, dia berkata, "Maksudmu apa? Kalau bukan karena nenekku sakit keras, kamu pikir aku mau datang ke sini?"

Sambil bicara, dia kembali hendak meraih tangan Nadine. Kali ini, ujung jarum malah menggores kulitnya cukup dalam, darah segar menetes mengalir di sepanjang pergelangan tangan yang putih bersih.

Nadine tak sanggup lagi menahan sakit. Dia dengan keras mendorong gadis itu. "Cukup! Jangan sentuh aku!"

Saskia terhuyung mundur, menyenggol nampan obat hingga jatuh, botol-botol kaca pecah berserakan di lantai.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Arsen melangkah masuk dengan langkah lebar.

"Ada apa ini?" Tatapannya beralih di antara mereka berdua, lalu berhenti pada Saskia yang terduduk lemas di lantai. Raut wajahnya seketika berubah.

"Kalau memang kalian nggak menyambutku, mending aku pergi!" Saskia bangkit dengan mata merah, hendak menerobos keluar.

Arsen buru-buru menangkap lengannya. "Siapa yang bilang begitu!"

Saskia berusaha melepaskan cengkeramannya. "Istrimu! Aku berniat baik nyuntik dia, eh dia malah dorong aku! Aku cuma belum terbiasa, bukannya kalian udah tahu dari awal?"

Arsen langsung menatap punggung tangan Nadine yang merah dan bengkak. Sekilas, terlintas rasa iba di matanya, tetapi seketika lenyap menjadi sikap mengalah saat dia menoleh ke arah Saskia.

"Mau gimana supaya kamu tetap tinggal di sini?" tanyanya dengan nada merendah.

Saskia mengangkat dagunya. "Aku paling benci sikap kalian, orang kaya, yang sok berkuasa. Aku mau dia minta maaf sama aku."

"Nadine." Arsen menoleh ke arah Nadine, nadanya tak terbantahkan. "Minta maaf."

Nadine menatapnya tak percaya. "Dia nyuntik aku sampai begini dan kamu masih nyuruh aku minta maaf?"

Tatapan Arsen meredup tajam. "Kalau kamu nggak mau, coba ingat baik-baik nasib perusahaan orang tuamu."

Rasa dingin seketika merambat ke sekujur tubuh Nadine. "Demi dia ... kamu berani ancam aku?"

"Nadine, ini cuma minta maaf doang." Dahi Arsen mengernyit tidak sabar. "Toh, nggak bakal bikin kamu rugi, 'kan? Masa kamu tega lihat perusahaan orang tuamu bangkrut sih?"

Saat itu juga, hati Nadine terasa tertusuk ribuan panah.

Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sampai-sampai mengecap rasa anyir darah.

Melihat raut wajah Arsen yang kian dingin dan sadar pria itu benar-benar serius, Nadine terpaksa bangkit dari tempat tidur dengan susah payah. Menelan seluruh harga dirinya, dia membungkuk dalam-dalam ke arah Saskia. "Maaf."

Saskia mengernyit. "Orang kaya kalau minta maaf suaranya pelan banget gitu, ya?"

Kuku Nadine menancap dalam ke telapak tangan. Dia membungkuk sekali lagi, menaikkan suaranya. "Maaf! Sekarang udah puas?"

Melihat Saskia akhirnya mengangguk enggan, barulah raut wajah Arsen berangsur lembut. Dengan sangat hati-hati dan penuh kesabaran, dia membujuk gadis itu untuk pergi mengobati lukanya.

Begitu pintu tertutup, Nadine tak kuasa lagi menahan dirinya. Dia jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara.

Dia meraba ke bawah bantal, mengeluarkan sepucuk surat cinta yang kertasnya telah menguning, lalu membakarnya dengan tangan gemetar.

Saat lidah api melahap surat cinta ke-96 itu, bayangan Arsen saat berusia 16 tahun ketika menulis surat ini seketika terlintas di benaknya.

Di bawah pohon tabebuya di kampus, pemuda itu dengan telinga yang merah menyodorkan surat kepadanya, berkata, "Nadine, kamu mau nggak jadi pacarku? Aku janji bakal baik sama kamu seumur hidup."

Saat api hampir padam, pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka.

"Kamu lagi bakar apa?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status