Short
Mulai Hari Ini, Kita Takkan Bertemu Lagi

Mulai Hari Ini, Kita Takkan Bertemu Lagi

By:  MontanoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah bercerai, dengan hati hancur karena terlalu banyak luka, aku menandatangani perjanjian kerahasiaan dan masuk ke sebuah pangkalan penelitian di Evermont. Selama lima tahun, aku mengganti nomor ponsel, nama, dan menghilang sepenuhnya dari kehidupan lamaku. Semua orang mengira diriku telah mati di hari suamiku membawa putra kami merayakan ulang tahun adik tiriku. Selama lima tahun penuh, mawar putih yang diletakkan untuk mengenangku di depan makam tidak pernah terputus sehari pun. Lima tahun kemudian, proyek penelitian yang kuikuti akhirnya berhasil diselesaikan dengan sempurna. Aku pulang untuk berziarah ke makam ibuku. Di sana, mantan suamiku, Marco, dan putra kami kembali datang membawa mawar putih untuk mengenangku. Saat melihatku, mata Marco langsung memerah dan mawar putih di tangan putraku pun terjatuh. “Farah ... kamu tidak mati?” Aku menatap mereka berdua sekilas, lalu tersenyum. “Lama tidak bertemu.” Namun, mereka salah. Farah sudah lama mati. Lima tahun yang lalu, dia telah dibunuh oleh suami dan putranya sendiri.

View More

Chapter 1

Bab 1

Marco bergegas menghampiriku dengan langkah sempoyongan.

“Farah, ke mana saja kamu selama lima tahun ini? Aku sampai mengira ....”

Mungkin karena angin di pemakaman bertiup kencang, matanya tampak memerah.

Aku menatapnya dengan tenang, lalu menyelesaikan kalimat yang tidak sempat dia ucapkan, “Mengira aku sudah mati? Bukankah itu yang kamu inginkan?”

Pada malam Tahun Baru lima tahun lalu, ibuku berada dalam kondisi kritis.

Sebagai dokter penanggung jawab yang merawat ibuku, Marco justru menghilang.

Aku meneleponnya berkali-kali, memohon agar dirinya segera kembali untuk menyelamatkan ibuku.

Namun saat itu dia sedang sibuk merayakan ulang tahun adik tiriku, Melani.

Akhirnya panggilan terakhirku dijawab.

“Farah, aku hanya sedang menemani Melani merayakan ulang tahun. Kenapa kamu harus mengganggu di saat seperti ini?”

“Jangan bilang ibumu sedang kritis. Sekalipun yang sekarat itu dirimu, jangan menggangguku.”

Aku sudah mati sesuai keinginannya, tetapi dia malah tidak senang?

Saat ini, sorot mata Marco sedikit goyah, namun dia tidak menjawab.

Tiba-tiba dia menoleh ke belakang dan memandang putra kami, Noah.

“Farah, lihatlah. Ini putra kita. Dia sudah tumbuh sebesar ini. Selama bertahun-tahun, dirinya selalu merindukanmu.”

Aku mengikuti arah pandangannya.

Noah sedang menatapku dengan berkaca-kaca.

Begitu mendengar suara Marco, dia segera mengusap air matanya dan berlari ke arahku. Dengan hati-hati, dia memanggil, “Bu ….”

Namun aku justru mundur selangkah dan menjaga jarak.

Putra?

Aku sudah tidak punya putra sejak lima tahun yang lalu.

Dulu setelah ibuku meninggal dunia, aku menjadi linglung dan mengalami kecelakaan lalu lintas.

Ketika dilarikan ke UGD, dokter menghubungi Marco sebagai kontak darurat dan memintanya datang menandatangani surat persetujuan operasi.

Tetapi yang mengangkat telepon justru Noah.

Saat mendengar dokter mengatakan bahwa aku kehilangan banyak darah, bukannya merasa cemas, dia malah tertawa.

“Kenapa dia masih belum mati walau sudah kehilangan darah sebanyak itu?”

“Biarkan saja dia segera mati. Kalau mati, aku bisa meminta Bibi Melani menjadi ibuku.”

Diriku yang terbaring di meja operasi merasakan tatapan simpati dan rasa iba dari para dokter serta perawat di sekelilingku dengan jelas.

Mungkin, orang yang dikutuk mati oleh anak kandungnya sendiri adalah pemandangan yang jarang mereka lihat.

Melihatku menjaga jarak dari putra kami, Marco langsung menegurku, “Farah, apa yang kamu lakukan? Apa ini sikap seorang ibu?”

“Saat itu Noah masih sangat kecil. Kamu pergi begitu saja selama lima tahun. Dirimu sama sekali tidak merasa bersalah?”

“Kuberitahu, sekarang banyak orang yang bersedia menyayangi Noah. Jika tidak meminta maaf, jangan harap dirimu akan mendengarnya memanggilmu 'Ibu' lagi!”

“Kamu terlalu banyak berpikir.” Aku memotong ucapannya karena sudah tidak tahan.

“Aku kembali hanya untuk memindahkan makam ibuku. Begitu urusannya selesai, diriku akan segera pergi.”

“Dan lagi ....”

Aku berhenti sejenak, lalu berbalik dan melangkah menuju gerbang pemakaman.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status