Teilen

Bab 3

Abu
Nadine menggenggam erat sisa-sisa surat cinta yang belum habis terbakar. Panas dari bara api menyengat telapak tangannya hingga terasa perih.

"Bukan apa-apa, cuma bakar barang nggak berguna."

Arsen mengernyit menatap sisa-sisa lembaran hangus itu. Kertas itu terasa familier baginya. Namun, belum sempat dia berpikir lebih jauh, suara Saskia terdengar dari luar pintu.

"Pak Arsen, Anda jadi ke pesta atau nggak? Kalau nggak berangkat sekarang, saya nggak ikut lagi!"

Nadine mendongak. "Pesta apa?"

"Aku mau ajak dia ke acara biar dia kenal sama orang-orang di lingkaran kita." Dia terdiam sejenak. "Tapi, katanya, karena dia perawatmu, dia cuma mau pergi kalau kamu ikut."

"Nadine, temenin aku pergi sekali ini aja, ya."

Dada Nadine serasa dihantam palu. Dia tersenyum pahit, "Arsen, aku ini sebenernya apa sih di mata kamu?"

Arsen tampak tertegun. Butuh waktu cukup lama baginya untuk bersuara, "Nadine, aku udah jelasin, 'kan? Aku belum pernah nemuin cewek yang sesusah itu ditaklukin, makanya aku tertarik sama dia. Kamu nggak usah cemburu. Nanti kalau aku udah berhasil ngedapetin dia dan bosen, aku bakal balik dan hidup baik-baik sama kamu."

Nadine perlahan memejamkan mata. Bagian hatinya seolah sudah mati rasa, tak lagi mampu merasakan perih.

Pada akhirnya, dia tetap dipaksa Arsen pergi ke pesta.

Di dalam mobil, Saskia tiba-tiba mengeluarkan beberapa butir pil putih dari tasnya.

"Bu Nadine, ini obat antiradang. Diminum ya, biar cepat sembuh."

Nadine menatap pil-pil itu, tanpa mengulurkan tangan. "Kamu yakin ini obat antiradang?"

Raut wajah Saskia berubah. "Kalau kamu nggak percaya sama aku, ya udah, aku nggak mau ngomong lagi."

"Nadine." Arsen mengernyit, buru-buru melindungi Saskia. "Minum aja obatnya."

Tatapan dingin Arsen membuat Nadine merasa sangat lelah.

Dia memejamkan mata sejenak, lalu akhirnya pasrah mengambil pil itu dan menelannya dengan bantuan air putih.

Di ruang VIP klub, geng Arsen sudah menunggu lama. Begitu melihat mereka masuk, teman-temannya langsung bersorak menggoda.

"Tuan Muda Arsen akhirnya mau bawa Nona Saskia nih!"

"Jadi ini Saskia yang bikin Arsen terobsesi berat? Emang beda sih!"

Nadine duduk di sudut ruangan. Menatap wajah-wajah yang dulu juga pernah mendukung hubungannya dengan Arsen, dadanya kembali terasa perih.

"Nona Saskia, Arsen tuh benaran cinta mati sama kamu," celetuk salah satu cowok di sana sambil tertawa. "Kamu tinggal minta, bintang di langit juga dia ambil!"

Saskia tampak tidak percaya. "Sungguh?"

Melihat Saskia masih ragu, teman-temannya pun mulai mendesaknya untuk mencoba.

"Kalau gitu ... kasih dia mobil paling mahal di garasimu?" Saskia menunjuk salah satu teman Arsen.

Tanpa ragu, Arsen tersenyum lalu melempar kunci mobilnya.

Semua orang bersorak.

Saskia mencoba beberapa kali lagi. Minta jam tangan, minta rumah, semua dituruti Arsen tanpa bantahan.

Suasana di ruang VIP langsung memanas. "Tuh 'kan, Arsen serius sama kamu! Udahlah, ngalah aja, terima tawarannya buat jadi simpanannya!"

Raut wajah Saskia mengeras, penuh sikap keras kepala. "Nggak mungkin! Aku nggak akan pernah mau jadi simpanan siapa pun! Kalau kalian masih ngomong begitu, aku pulang!"

Takut Saskia benar-benar pergi, teman-temannya buru-buru mengalihkan topik dan mengajak bermain gim.

Setiap ronde, mereka sengaja membuat Saskia kalah.

Hukumannya selalu sama yaitu, duduk di pangkuan Arsen atau menggenggam tangan Arsen dengan jari-jari yang saling menjalin.

Dan saat Saskia kalah untuk kesepuluh kalinya, hukumannya adalah berciuman selama tiga menit dengan pria di sebelah kirinya.

Sorak sorai meledak di ruang VIP dan kebetulan Arsen duduk tepat di sebelah kiri Saskia.

Raut wajah Saskia seketika kaku. Dia buru-buru berdiri, "Kalian sengaja, 'kan? Kalau masih begini, aku nggak main lagi."

"Ah, cuma main-main doang, jangan baper dong."

"Iya nih, mana mungkin kita curang. Arsen 'kan bos besar, masa sih dia mau repot-repot main curang kekanak-kanakan gitu?"

Nadine mencengkeram gelasnya erat-erat, menatap senyum yang tersungging di bibir Arsen.

Memangnya bukan?

Demi bisa bersentuhan intim dengan Saskia, pria bergelimang harta ini ternyata tega bersekongkol dengan teman-temannya memainkan trik kekanak-kanakan seperti ini.

Terakhir kali dia melihat Arsen bersikap seperti ini, adalah saat pria itu mengejarnya dulu.

Dadanya serasa diiris perlahan oleh pisau tumpul, perih hingga berdarah-darah. Namun, yang membuatnya makin tak nyaman, napasnya kini terasa kian sesak.

Rasa sesak itu memaksanya memegangi dada. Baru saat itulah dia sadar, lengannya entah kapan sudah dipenuhi ruam merah yang mengerikan.

Ini jelas-jelas reaksi alergi.

Padahal selama ini dia sangat berhati-hati soal makanan.

Napasnya kian sesak dan dalam keadaan setengah sadar, dia teringat obat antiradang yang diberikan Saskia tadi.

Di tengah sorak sorai yang menggema, Saskia buru-buru mengecup pipi Arsen.

Arsen jelas tidak puas. Dia tiba-tiba mencengkeram tengkuk gadis itu. "Ciuman gitu mah nggak ada rasanya. Sini, aku ajarin ciuman yang bener."

Detik berikutnya, Nadine hanya bisa terpaku menyaksikan bibir mereka bertaut dalam ciuman yang dalam, sementara jari-jari Arsen menyelinap ke dalam rambut panjang Saskia.

Pria itu sama sekali tak menyadari, ruam di tubuh istrinya telah menjalar hingga ke leher, napasnya kian tersengal-sengal.

"Arsen ...." Nadine susah payah mencengkeram lengan pria itu. "Antar aku ke rumah sakit. Aku alergi ...."

"Jangan berisik." Arsen mendorongnya tanpa menoleh, tangan satunya masih mencengkeram tengkuk Saskia.

"Kumohon ...." Dia kembali menarik ujung baju pria itu, suaranya kini serak.

Kali ini, Arsen langsung mengempaskan tangan Nadine dengan kasar, lalu menekan tubuh Saskia ke sofa untuk memperdalam ciuman mereka.

Ciuman itu makin menuntut, makin memabukkan, dan makin larut dalam keintiman.

Di saat Arsen tenggelam dalam permainannya, pandangan Nadine mulai mengabur. Tubuhnya terhuyung, lalu ambruk menabrak menara gelas sampanye.

Di tengah suara kaca yang pecah berkeping-keping, barulah terdengar jeritan Saskia, "Dia pingsan!"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status