Share

Chapter 7

Author: Rayana Lovely
last update publish date: 2021-08-15 12:56:27

Kantin sudah tutup. Grizelle, Stella dan dua orang pekerja lainnya bersiap-siap untuk pulang. 

"Dek!" Stella menyapa Grizelle di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas.

"Ya, Mbak?" sahut Grizelle.

"Sepeda motor Mbak mengalami pecah ban. Kayaknya Mbak harus ke bengkel dulu untuk ganti ban."

"Oh, ya udah. Biar aku nunggu di depan gerbang. Mbak bisa pergi sendiri kan?"

"Bisa. Kan bengkelnya gak jauh di sekitar sini. Nanti kalo udah selesai, Mbak bakalan balik jemput kamu."

"Oke deh!" Grizelle menyetujui.

"Kamu gak pa'pa kan Mbak tinggal sendiri?"

"Gak pa'pa kok, Mbak! Kan udah selesai. Hanya tinggal nyapu sedikit, trus setelah itu aku akan tutup pintu kantin."

"Ya, udah kalo begitu Mbak tinggal dulu ya," pamit Stella.

Grizelle mengangguk. Tersenyum manis kepada kakaknya yang berlalu pergi meninggalkannya.

***

Dengan tas kecil yang tersandang menyamping di tubuhnya, Grizelle berjalan keluar gerbang perusahaan. Menunggu kakaknya yang belum kembali dari bengkel sepeda motor. Ia berjalan ke sebuah taman kecil yang terdapat di pinggir jalan tepat di depan gedung perusahaan. Duduk dengan sabar menantikan Stella kembali.

Belum semenit ia duduk di taman itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Menghalau pandangannya yang dari tadi mengarah ke jalan raya. Grizelle terkesiap kala melihat mobil yang sudah sangat ia kenal itu. Mobil itu adalah mobil milik—

"Tuan Tristan!" gumamnya kaget. Terbelalak menatap mobil yang menghalau pandangannya.

Kaca bagian kursi penumpang sebelah kemudi perlahan turun. Tentu Tristan yang melakukannya. Memperlihatkan sesosok laki-laki berwajah garang mengenakan kacamata biru gelap. Pandangan Tristan yang lurus, perlahan bergerak ke samping. Melirik gadis yang tercegang melihat kehadirannya.

"Sedang apa kau di situ?" tanyanya dengan intonasi penuh penekanan.

"Nunggu jemputan, Tuan," jawab Grizelle hati-hati.

Ada angin segar yang menyapa jiwa Tristan saat mendengar jawaban Grizelle.

"Butuh tumpangan?" tanyanya dengan sudut bibir yang melengkung tajam.

"Tidak Tuan! Saya sedang menunggu kakak saya," tolak Grizelle. 

Wajah Tristan berubah kecut saat mendengar jawaban Grizelle kali ini. Tapi ia tidak kehabisan akal. Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Hari menjelang malam. Masuklah! Kau akan aku antar sampai rumah," pujuk Tristan. Sungguh, seumur-umur baru kali ini ia memohon kepada seseorang untuk ikut dengannya. Apalagi orang tersebut adalah seorang gadis sederhana yang sama sekali tak memiliki fungsi untuk karirnya.

"Maaf Tuan, saya tidak bisa! Saya sedang menunggu kakak saya. Saya sudah janji akan menunggunya di sini. Saya takut nanti dia merasa khawatir jika saya tidak ada di sini setelah dia kembali nanti."

Jawaban Grizelle membuat Tristan kembali merasa tidak senang. Sebab gadis itu telah berani menolak tawarannya. Bukankah Tristan merupakan sosok yang sangat tidak terima jika seseorang menolak keinginannya? 

Maka, ia turun dari mobil. Tergesa-gesa menghampiri Grizelle yang semakin menguncup karena diserang ketakutan melihatnya mendekat.

Tristan melepas kacamatanya. Menatap Grizelle dengan tajam.

"Kau tau! Hanya baru kali ini aku bersikap baik kepada seseorang terutama pada gadis sederhana seperti dirimu! Kau harusnya paham dengan sifatku!" kecam Tristan.

Grizelle yang tak mengerti hal apa yang membuat Tristan berkata demikian, hanya dapat menundukkan pandangan. Sedikit tidak senang atas ucapan Tristan yang menyebutnya gadis sederhana. Apa itu maksudnya? Apakah itu pujian? Atau malah sebuah penghinaan?

"Ikut denganku sekarang!" hentak Tristan dengan mencekal lengan Grizelle. Menarik tubuh gadis itu secara paksa.

"Maaf Tuan! Saya tidak mau!" ronta Grizelle panik. "Kenapa Anda memaksa saya seperti ini! Saya tidak mau Tuan!" 

Tristan membuka pintu mobil. Sebelum memaksa Grizelle masuk, ia menatap kedua mata Grizelle dengan tajam. Mengangkat telunjuknya mengarah ke wajah Grizelle.

"Kau sudah berani menolak tawaranku! Dan aku tidak suka itu!" sergah Tristan.

"Tapi saya memang sedang menunggu kakak saya! Kenapa Anda marah pada saya! Apa salah saya?" pekik Grizelle dengan tubuh yang luar biasa gemetar.

Sebelum menjawab pertanyaan Grizelle, Tristan diam dalam ekspresinya yang mengeras. Kedua manik matanya mengunci retina mata Grizelle. Hingga mata coklat milik gadis itu melemah karena tatapan tajamnya.

"Kau tau? Kau adalah wanita yang paling berbahaya bagiku! Semua yang ada di dirimu membuatku tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan!"

'Wanita berbahaya? Tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan? Apa maksudnya itu? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padanya! Bahwa dia adalah pria paling menakutkan dan berbahaya yang pernah aku temui di dunia ini! Trus kenapa aku yang dapat julukan seperti itu?'

Batin Grizelle memberontak. Perkataan Tristan barusan sangat tidak masuk akal. Tak mengerti apa maksud dari ucapan Tristan. Apa yang ia lakukan hingga pria itu menjulukinya sebagai wanita berbahaya? Bukankah disini dia yang selalu merasa terancam?

"Masuk!" Tristan mendorong tubuh lemah itu agar masuk ke dalam mobilnya.

Siap tidak siap, tubuh lemah Grizelle terhempas masuk ke dalam mobil. Dengan cepat, Tristan memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Grizelle yang meronta-ronta. 

"Lepas! Tuan, saya tidak ingin ikut dengan Anda!"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 29

    Ditengah-tengah kesibukan mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba pintu ruang kerja Tristan diketuk dengan sangat pelan. “Masuk!” Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya, Tristan tetap melanjutkan pekerjaannya. Jemarinya masih bergerak lincah di atas papan ketik, sementara beberapa berkas penting terhampar rapi di atas meja kerjanya. Namun, beberapa detik kemudian, gerakan jemarinya perlahan terhenti. “Selamat siang, Tuan Tristan,” Lelaki itu mengangkat kepala. Sedikit terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia sangat mengenali suara itu. Kedua alis Tristan sedikit bertaut ketika mendapati sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan saling menggenggam gelisah. “Why?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas menyiratkan keterkejutan. Selama ini, perempuan paruh baya itu tidak pernah datang ke ruangannya tanpa alasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Biasanya, ia hanya masuk ketik

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 28

    Di ruang kerja yang luas, Tristan berdiri menghadap dinding kaca sambil menikmati secangkir kopi hitam. Ia menatap lurus ke bawah sana, ke jalanan kota yang sudah biasa terlihat sibuk di siang hari seperti ini.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu kaca ruang kerja Tristan. Kaca itu hanya tembus pandang dari sisi dalam, sedangkan dari luar, bagian dalam ruangan tidak dapat terlihat. “Masuk!” seru Tristan dari dalam Pintu terbuka perlahan. Menampilkan sosok lelaki yang tidak asing bagi Tristan. Miko melangkah masuk sambil membawa beberapa map berisi laporan perusahaan. Senyum tipis langsung menghiasi wajah Miko. Melihat sahabatnya telah kembali dan memutuskan untuk menetap lagi di Indonesia membuatnya happy. “Selamat siang, Tuan Tristan. Terima kasih telah kembali ke negara ini,” ucap Miko bergurau. Tristan menoleh sekilas. “Kau kerasasukan setan apa sampai mengatakan hal menjijikan seperti itu?” Miko terkekeh pelan. “Maaf, aku ingin terbiasa memanggilmu d

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 27

    Koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat-obatan dan langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang tanpa henti. Setiap langkah orang-orang di tempat itu tentu memiliki peranan dan artinya masing-masing. Bu Ambar duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya terus menatap pintu ruang operasi yang sejak satu jam lalu belum juga terbuka. Di sampingnya, Stella berusaha tegar meskipun wajahnya tidak mampu menyembunyikan kepanikan. Bu Ambar terdiam termenung di depan ruang operasi dengan mata sembap. Berkali-kali perempuan paruh baya itu mengusap air matanya menggunakan ujung kerudung. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi. “Keluarga Bapak Adi?” Ibu dan anak itu tersentak dan segera berdiri. “Iya, Dok,” jawab Bu Ambar dengan suara bergetar. Ia dan Stella berjalan mendekati dokter. Dokter melepaskan masker dari wajahnya. “Kondisi pasien sudah harus segera ditangani malam ini. Operasi tidak dapat ditunda lagi, Bu.” Bu Ambar dan Stella s

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 26

    Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Tiga tahun telah berlalu sejak berbagai peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan Grizelle. Kini, gadis yang dahulu dikenal sebagai penjaga kantin sekolah itu telah tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang anggun. Grizelle Lasmaya genap berusia delapan belas tahun. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas dan bertekad melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Impian itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, di sela-sela waktu luangnya, Grizelle masih membantu ibunya bekerja demi menambah penghasilan keluarga. Wajahnya yang mungil dengan pesona baby face seolah tidak berubah dimakan waktu. Bahkan, kecantikannya kini semakin terpancar, memancarkan kesan lembut sekaligus menawan. Tak sedikit pria yang berusaha mendekatinya. Ada yang mengirimkan bunga, mengajaknya makan malam, hingga terang-terangan menyatakan perasaan. Namun, tidak

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 25

    “Zel, tadi Ibu melihatmu duduk bersama Tuan Miko. Ada apa sebenarnya?” tanya Bu Ambar setelah selesai mengantarkan secangkir kopi pesanan Miko ke meja yang ditempatinya. Grizelle yang telah berganti pakaian kerja sedang merapikan tali celemek ke belakang pinggangnya. Jemarinya bergerak pelan, sementara ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab. “Tidak ada apa-apa, Bu,” ucapnya berusaha terdengar tenang. “Tuan Miko hanya menanyakan bagaimana perkembangan kafe ini. Dia hanya ingin tahu apakah kita mengalami kendala selama bekerja di sini atau ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Dia bilang, masukan dari kita akan menjadi bahan pertimbangan agar perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman buat para karyawan lainnya.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Grizelle. Ia sengaja menyembunyikan isi percakapannya dengan Miko yang sebenarnya. Bukan karena ingin membohongi ibunya, melainkan karena ia belum siap menjelaskan semua hal yang baru saja terjadi. “O

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 24

    “Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 6

    Di sebuah restoran yang cukup ternama di salah satu hotel berbintang lima, Tristan dan beberapa staf perusahaan, sedang sibuk membahas tentang apa saja yang menjadi target utama mereka dalam upaya pengembangan bisnis. Miko sebagai kaki tangan dan juru bicara Tristan, dengan lantang menerangkan da

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 2

    "Grizeeeelle ...."Teriakkan seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana itu memekik telinga. Tersenyum melihat gadis yang sedang sibuk mengilap satu persatu meja dengan selembar kain di ta

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 1

    "Rekapitulasi data pengeluaran dan pemasukan perusahaan sudah aku selesaikan. Kau hanya tinggal menandatangani ini!"Pria berjas hitam bernama Miko itu memberikan map yang beris

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Prolog

    Ringkasan Cerita 👇Grizelle Lasmaya, tidak menyangka akan terpenjara pada gairah laki-laki dewasa yang ingin memperistrinya. Adalah Tristan Satria Adinata, seorang pria mapan yang merupakan CEO di perusahaan, memaksa Grizelle agar mau menikah dengannya.Awalnya Tristan mencoba untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status