FAZER LOGINDi sebuah restoran yang cukup ternama di salah satu hotel berbintang lima, Tristan dan beberapa staf perusahaan, sedang sibuk membahas tentang apa saja yang menjadi target utama mereka dalam upaya pengembangan bisnis. Miko sebagai kaki tangan dan juru bicara Tristan, dengan lantang menerangkan dan menjelaskan bagaimana caranya agar perusahaan mereka dapat berkembang dengan optimal, meski nyatanya perusahaan itu sendiri sudah berkembang pesat.
Miko memberi arahan kepada para karyawan yang baru bergabung di perusahaan itu agar mereka dapat bekerja dengan baik dan dapat mempertahankan pencapaian perusahaan saat ini. Terlihat para staf karyawan begitu menyimak dan sesekali merespon apa yang disampaikan oleh Miko. Mereka tampak antusias dan manggut-manggut ketika Miko memberi arahan.
Namun, tidak bagi Tristan. Pria bertampang keras itu terlihat tak menyimak apa yang Miko dan karyawannya perbincangkan. Ia malah asik dengan fantasinya sendiri. Memandang lurus ke sudut tembok dengan mata yang menyala dan tak berkedip.
"Tuan Tristan, bagaimana pendapat Anda?" Miko melayangkan pertanyaan yang sama sekali tak direspon oleh Tristan. Tristan diam tak bergerak. Pandangannya pun terlihat kosong seperti orang yang sedang melamun. Dan, memang nyatanya pria itu tengah melamun kan?
Pemandangan itu membuat Miko dan para karyawan lainnya ikut begong. Mereka heran menyaksikan pria berwajah tegas itu termangu, memandang lurus ke depan tanpa kedip sedikit pun. Sama-sama mereka mengikuti kemana arah pandang bos mereka itu. Bingung, ketika tak menemukan hal yang menarik perhatian.
Kedua bola mata Tristan hanya mengarah pada sebuah tembok. Ada beberapa pelayan restoran yang sibuk hilir mudik melewati tembok itu dengan membawakan pesanan. Membuat mereka semakin bingung, hal apa yang membuat Tristan terpaku. Matanya juga tidak bergerak mengikuti gerak-gerik pelayan. Lalu, siapa yang dia lihat? Tidak mungkinkan atasan mereka itu mengagumi tembok yang tidak bernyawa! Lalu, apa yang menarik perhatian Tristan sampai ia termangu seperti itu?
Saling memandang, saling mengangkat bahu. Itulah yang para karyawan itu lakukan. Bingung dengan sikap bos mereka saat ini.
"Tuan, Tristan!" tegur Miko lagi. Pelan, namun tegas.
Tristan tak berkutik. Masih diam dalam lamunan.
"Tris!" Miko menyenggol pelan lengan Tristan dengan lengannya. Sesekali melirik ke arah karyawan yang masih terpaku bingung menatap Tristan.
Tristan dibuai angan. Bayang-bayang Grizelle muncul di pelupuk matanya. Melambai-lambai di sudut ruangan. Tersenyum manis penuh godaan. Seakan merayunya untuk mendekat.
"Tristan!" bentak Miko. Terpaksa ia lakukan karena atasannya itu benar-benar sudah seperti orang gila.
'Hah!'
Dengan mata yang membulat, Tristan tersentak kaget. Buyar dari lamunan. Celengak-celenguk seperti orang begok. Memandang satu persatu wajah mereka yang melihatnya serius.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Ada apa ...?" Miko membeo.
Melihat wajah tegas Miko, Tristan segera tersadar. Sadar kalau dia sedang berada di tengah-tengah bawahannya yang menunggu instruksi darinya.
"Hh, sorry! Aku tidak konsentrasi," akunya hanya pada Miko. Ya, mungkin hanya pada orang-orang tertentu saja Tristan mau mengutarakan kata sorry atau maaf. Seperti yang dia lakukan saat ini pada Miko.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Tristan!" bisik Miko dengan nada tegas dan sedikit menggeram.
"Tidak ada. Aku hanya butuh istirahat. Pikiranku sedang kacau," bisik Tristan pula. Memijat-mijat pelipisnya.
"Apa karna gadis itu?" tebak Miko.
Tristan menghela nafas panjang. Tebakan Miko benar adanya.
"Ya! Gadis itu memenuhi otakku saat ini. Aku jadi tidak dapat berkonsentrasi," jawab Tristan jujur.
Miko menggeleng. Menghembuskan nafas berat. Tidak habis pikir dengan sikap Tristan beberapa hari ini.
"Jadi bagaimana? Menurutmu apa kita harus menunda meeting kali ini?"
Tristan membenarkan posisi duduknya.
"Tidak perlu! Kau selesaikan saja semuanya. Sampaikan apa yang perlu kau sampaikan. Bagaimanapun keputusanmu, aku akan menyetujuinya. Aku percaya padamu!" Ia berdiri tegak, mengambil tas dan ponselnya, tersenyum kecil sambil menepuk pelan bahu Miko, kemudian pergi meninggalkan Miko dan yang lainnya.
Jika sudah begini, Miko hanya dapat mengelengkan kepalanya. Tristan seperti orang yang baru pertama mengenal cinta. Padahal, sudah banyak wanita yang pernah dia tiduri, tapi tak satupun dari mereka yang mampu mencuri hati Tristan. Perhatian dan pikirannya hanya tertuju pada Grizelle. Gadis belia yang baru dua bulan ini dia kenal.
***
Ditengah-tengah kesibukan mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba pintu ruang kerja Tristan diketuk dengan sangat pelan. “Masuk!” Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya, Tristan tetap melanjutkan pekerjaannya. Jemarinya masih bergerak lincah di atas papan ketik, sementara beberapa berkas penting terhampar rapi di atas meja kerjanya. Namun, beberapa detik kemudian, gerakan jemarinya perlahan terhenti. “Selamat siang, Tuan Tristan,” Lelaki itu mengangkat kepala. Sedikit terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia sangat mengenali suara itu. Kedua alis Tristan sedikit bertaut ketika mendapati sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan saling menggenggam gelisah. “Why?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Nada suaranya terdengar datar, tetapi jelas menyiratkan keterkejutan. Selama ini, perempuan paruh baya itu tidak pernah datang ke ruangannya tanpa alasan yang berkaitan dengan pekerjaan. Biasanya, ia hanya masuk ketik
Di ruang kerja yang luas, Tristan berdiri menghadap dinding kaca sambil menikmati secangkir kopi hitam. Ia menatap lurus ke bawah sana, ke jalanan kota yang sudah biasa terlihat sibuk di siang hari seperti ini.Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pada pintu kaca ruang kerja Tristan. Kaca itu hanya tembus pandang dari sisi dalam, sedangkan dari luar, bagian dalam ruangan tidak dapat terlihat. “Masuk!” seru Tristan dari dalam Pintu terbuka perlahan. Menampilkan sosok lelaki yang tidak asing bagi Tristan. Miko melangkah masuk sambil membawa beberapa map berisi laporan perusahaan. Senyum tipis langsung menghiasi wajah Miko. Melihat sahabatnya telah kembali dan memutuskan untuk menetap lagi di Indonesia membuatnya happy. “Selamat siang, Tuan Tristan. Terima kasih telah kembali ke negara ini,” ucap Miko bergurau. Tristan menoleh sekilas. “Kau kerasasukan setan apa sampai mengatakan hal menjijikan seperti itu?” Miko terkekeh pelan. “Maaf, aku ingin terbiasa memanggilmu d
Koridor rumah sakit dipenuhi aroma obat-obatan dan langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang tanpa henti. Setiap langkah orang-orang di tempat itu tentu memiliki peranan dan artinya masing-masing. Bu Ambar duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya terus menatap pintu ruang operasi yang sejak satu jam lalu belum juga terbuka. Di sampingnya, Stella berusaha tegar meskipun wajahnya tidak mampu menyembunyikan kepanikan. Bu Ambar terdiam termenung di depan ruang operasi dengan mata sembap. Berkali-kali perempuan paruh baya itu mengusap air matanya menggunakan ujung kerudung. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi. “Keluarga Bapak Adi?” Ibu dan anak itu tersentak dan segera berdiri. “Iya, Dok,” jawab Bu Ambar dengan suara bergetar. Ia dan Stella berjalan mendekati dokter. Dokter melepaskan masker dari wajahnya. “Kondisi pasien sudah harus segera ditangani malam ini. Operasi tidak dapat ditunda lagi, Bu.” Bu Ambar dan Stella s
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Tiga tahun telah berlalu sejak berbagai peristiwa yang pernah mengguncang kehidupan Grizelle. Kini, gadis yang dahulu dikenal sebagai penjaga kantin sekolah itu telah tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang anggun. Grizelle Lasmaya genap berusia delapan belas tahun. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas dan bertekad melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Impian itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, di sela-sela waktu luangnya, Grizelle masih membantu ibunya bekerja demi menambah penghasilan keluarga. Wajahnya yang mungil dengan pesona baby face seolah tidak berubah dimakan waktu. Bahkan, kecantikannya kini semakin terpancar, memancarkan kesan lembut sekaligus menawan. Tak sedikit pria yang berusaha mendekatinya. Ada yang mengirimkan bunga, mengajaknya makan malam, hingga terang-terangan menyatakan perasaan. Namun, tidak
“Zel, tadi Ibu melihatmu duduk bersama Tuan Miko. Ada apa sebenarnya?” tanya Bu Ambar setelah selesai mengantarkan secangkir kopi pesanan Miko ke meja yang ditempatinya. Grizelle yang telah berganti pakaian kerja sedang merapikan tali celemek ke belakang pinggangnya. Jemarinya bergerak pelan, sementara ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab. “Tidak ada apa-apa, Bu,” ucapnya berusaha terdengar tenang. “Tuan Miko hanya menanyakan bagaimana perkembangan kafe ini. Dia hanya ingin tahu apakah kita mengalami kendala selama bekerja di sini atau ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Dia bilang, masukan dari kita akan menjadi bahan pertimbangan agar perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman buat para karyawan lainnya.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Grizelle. Ia sengaja menyembunyikan isi percakapannya dengan Miko yang sebenarnya. Bukan karena ingin membohongi ibunya, melainkan karena ia belum siap menjelaskan semua hal yang baru saja terjadi. “O
“Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera
Kantin sudah tutup. Grizelle, Stella dan dua orang pekerja lainnya bersiap-siap untuk pulang."Dek!" Stella menyapa Grizelle di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas."Ya, Mbak?" sahut Grize
"Hem—" Tristan menarik nafas dan membuangnya pelan. Ekspresi kerasnya sedikit memudar. Ia menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Pagi ini, Grizelle dan kakak perempuannya yang bernama Stella, tampak sibuk mondar-mandir melayani karyawan kantor yang sengaja mampir untuk makan atau sekedar memesan secangkir teh hangat atau kopi. Kedua gadis itu dengan cekatan menyiapkan berbagai menu yang dipesan
Grizelle masih saja mencibir. Bahkan ketika dia sudah tiba di dapur kantin, gadis itu masih saja mengumpat dengan mulut yang berkomat-kamit tak jelas. Bu Ambar yang menyaksikan gerak-gerik anaknya mengerutkan kening.







