로그인Dirga melepaskan Delisa dengan kasar, membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Napas Delisa tersengal, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa terkejut, bingung, dan sedikit takut.
"Maaf, Delisa," ucap Fredi dengan nada apologetik, menghampiri Delisa dan memastikan ia baik-baik saja. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya."Delisa mengangguk, mencoba menenangkan dirinya. "Tidak apa-apa, Pak," jawab DeliSementara itu, di sebuah tempat lain, Clarisa duduk di bar mewah dengan gelas wine di tangannya. Wajahnya memancarkan kepuasan yang jahat. Di depannya, Reno duduk dengan wajah murung dan tatapan kosong."Lihatlah dirimu, Reno," ucap Clarisa sinis. "Kau mencintai wanita itu sedari dulu, berkorban untuknya, tapi pada akhirnya? Dia malah menikah dengan kakakmu sendiri. Kau tertawakan, Reno."Reno mengepalkan tangannya di bawah meja. "Sudah, Claris. Jangan bahas itu lagi. Sakit.""Sakit? Tentu saja sakit!" seru Clarisa, mendekatkan wajahnya ke arah Reno. "Tapi kenapa kau harus diam saja? Biarkan mereka bahagia? Kau pikir Delisa bahagia menikah dengan Dirga yang dingin dan kejam itu? Dia dijual, Reno! Dia dikorbankan demi nama baik keluarga!"Clarisa tahu kata-kata itu adalah tombol yang tepat untuk menekan emosi Reno."Dirga tidak mencintainya. Dia menikahi Delisa hanya terpaksa karena Om Winata yang terbaring lemah," lanjut Clarisa dengan nada berbisik penuh racun. "Bayangkan, Delisa hid
Delisa terperanjat, jantungnya berdegup kencang mendengar suara berat Dirga tepat di sebelahnya. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang menatapnya tajam, seolah mampu menembus isi kepalanya."Tidak... tidak ada apa-apa, Pak," jawab Delisa terbata-bata, berusaha menyembunyikan gugupnya. "Hanya basa-basi biasa."Dirga mengerutkan kening, tidak percaya sepenuhnya. Namun, melihat wajah pucat dan ketakutan istrinya itu, ia memilih untuk tidak menekan lebih jauh saat ini. "Hati-hati dengan Clarisa," ucap Dirga dingin sambil berbalik badan. "Dia bukan wanita biasa. Jangan mudah percaya pada omongannya."Delisa mengangguk pelan, meski dirinya sendiri kini dipenuhi rasa gelisah. Kata-kata Clarisa terus berputar di kepalanya. Reno patah hati... Reno rela melakukan apa saja untukku...Apakah benar selama ini Reno menyembunyikan perasaan yang sedalam itu? Dan apa maksud Clarisa memberitahu hal itu padanya? Apakah hanya untuk membuatnya merasa bersalah, atau ada niat lain yang lebih jahat?Hari
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
Hari ini, pernikahan Dirga dan Delisa akhirnya dilaksanakan di kediaman orang tua Dirga. Suasana rumah itu terasa suram dan tegang. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta meriah. Hanya ada beberapa anggota keluarga inti yang hadir, itupun dengan wajah yang muram dan tanpa senyum.Lima ratus juta rupiah. Angka yang tertera dalam buku nikah itu terasa seperti vonis hukuman seumur hidup bagi Delisa. Di antara gemerlap dekorasi pernikahan yang dipaksakan, ia merasa seperti tahanan yang dipaksa menikah dengan algojonya.Winata Adiwangsa, sang patriark keluarga, duduk di kursi roda, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Maafkan Papa, " bisiknya lirih, "Papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Namun, kata-kata itu terasa hampa di telinga Dirga.Di hadapan meja akad, Dirga Adiwangsa duduk dengan wajah sekeras batu. Jas hitam yang dikenakannya terasa seperti baju besi yang melindungi hatinya dari sentuhan apa pun.Delisa, batinnya berteriak,
Setelah pertemuan yang menyesakkan dengan Dirga di rumah sakit siang tadi, Delisa memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sepulang dari kantor. Ia berharap secangkir kopi dan suasana yang tenang dapat membantu menjernihkan pikirannya yang kalut. Namun, sepertinya dewi fortuna enggan berpihak padanya.Saat Delisa tengah menikmati kopinya, matanya menangkap sosok yang sangat familiar. Sosok itu adalah Andre, mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri, Sandra. Jantung Delisa berdegup kencang, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Andre dan fokus pada kopinya.Namun, sepertinya takdir sedang mempermainkannya. Delisa melihat Andre berlutut di hadapan Sandra, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian. Delisa tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Andre akan melamar Sandra di kafe ini, di tempat yang sama di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.Suasana di kafe itu tiba-tiba berubah
Delisa terdiam sejenak di taman rumah sakit, menimbang-nimbang permintaan Dirga. Permintaan untuk merahasiakan pernikahan mereka. Ia merasa ada yang janggal, tapi ia tak punya pilihan. "Baiklah," ucap Delisa dengan nada pasrah. "Saya mengerti. Saya berjanji, saya tidak akan memberitahukan pernikahan ini kepada siapa pun."Dirga mengangguk, merasa sedikit lega. Beban di pundaknya seakan sedikit terangkat. "Terima kasih," ucap Dirga singkat. "Saya tahu, saya dapat mengandalkan kamu." Ia menatap Delisa, tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan Dirga sendiri tidak bisa pahami.Delisa balas menatap Dirga, tatapannya penuh tanya. "Saya hanya ingin mengetahui satu hal," ucap Delisa lirih. "Apakah... apakah Bapak akan mencintai saya?"Dirga terdiam. Pertanyaan itu membuatnya kalut. Ia tidak punya jawaban. Ia tidak punya keinginan untuk mencintai Delisa, tapi ia juga tidak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh.
Delisa merasa jantungnya berhenti sejenak ketika Dirga menyebut nama "Helen" dan menariknya mendekat. Ia merasa terkejut, bingung, dan sedikit takut. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Dirga, tapi Dirga memegangnya dengan kuat, seolah takut ia akan menghilang."Tidak, Pak... saya Delisa,"
"Baiklah, Rio," jawab Delisa akhirnya, menghela napas panjang. "Aku akan menjemput Dirga."Rio merasa lega mendengar jawaban Delisa. "Terima kasih banyak, Delisa. Kau benar-benar penyelamatku," ucap Rio dengan nada tulus. "Aku akan mengirimkan alamat bar itu padamu sekarang. Hati-hati di jala
Sesampainya di bar milik Fredi, Dirga langsung disambut dengan senyuman hangat dari sahabatnya itu. Aroma alkohol dan musik yang menghentak langsung menyergap indranya, namun kali ini tidak mampu menghibur hatinya yang sedang gundah."Dirga! Apa kabar, bro?" sapa Fredi dengan nada ceria, berusaha m
Sesampainya di kantor Jaya Sentosa, Delisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bukan karena AC, tapi karena tatapan mata yang mengarah padanya. Semua mata tertuju padanya saat ia berjalan di belakang Dirga memasuki lobi yang megah. Ia bisa merasakan tatapan penasaran, sinis, dan bahkan iri







