Mag-log inDirga melepaskan Delisa dengan kasar, membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Napas Delisa tersengal, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa terkejut, bingung, dan sedikit takut.
"Maaf, Delisa," ucap Fredi dengan nada apologetik, menghampiri Delisa dan memastikan ia baik-baik saja. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya."Delisa mengangguk, mencoba menenangkan dirinya. "Tidak apa-apa, Pak," jawab DeliHari demi hari berganti, namun suasana di dalam rumah megah itu tak pernah berubah. Dingin, kaku, dan mencekam. Seolah ada tembok tak kasat mata yang memisahkan dua insan yang terikat janji suci, namun hati mereka berjauhan.Dirga semakin sering menghabiskan waktu di luar rumah. Setiap kali ditanya, jawaban yang keluar dari mulutnya selalu singkat, datar, dan tanpa rasa peduli sedikitpun."Ada urusan mendesak," atau "Pertemuan dengan klien penting," itu saja. Kalimat yang terdengar begitu membosankan dan klise bagi Delisa, namun ia tak pernah berani memprotes atau bertanya lebih jauh. Ia tahu, mulutnya hanya akan mendapatkan cercaan sebagai balasannya.Namun, kenyataannya jauh dari itu. Di balik alasan-alasan itu, terselip agenda gelap yang sedang berjalan mulus. Rencana kotor yang telah disusun rapi oleh Clarisa dan Reno kini mulai membuahkan hasil. Berkat informasi yang "kebetulan" sangat mudah didapatkan oleh Rio, seolah-olah memang sudah disiapkan khusus, Dirga kini yakin sepenuhn
Sementara itu ditempat berbeda di sebuah apartemen mewah, Clarisa dan Reno duduk bersandar di ranjang besar tersebut, setelah malam tadi menghabiskan malam panas. Wajah mereka tampak tenang, namun di balik itu terselip niat jahat yang sudah matang."Rio pasti akan segera menemukan petunjuknya," kata Clarisa pelan, sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit. "Kita sudah memudahkan segalanya baginya. Foto-foto, alamat, bahkan detail kecil tentang malam itu... semua sudah tersedia di tempat yang mudah dia temukan."Reno tersenyum miring. "Bagus. Rio adalah orang yang tepat untuk tugas ini. Dia setia pada Dirga dan pasti akan segera melaporkan apa yang dia temukan. Begitu dia tahu bahwa wanita yang selama ini dicari Dirga adalah kau... segalanya akan berubah."Clarisa mengangguk setuju. "Ya. Dan dengan kondisiku yang sekarang mengandung, cerita ini akan terdengar semakin nyata. Rio pasti akan percaya bahwa anak ini adalah milik Dirga."S di kantor, suasana berubah drastis. Del
Sudah sebulan lamanya mereka terikat dalam ikatan suami istri. Namun, suasana di rumah mewah itu tidak pernah berubah, tetap dingin, kaku, dan penuh dengan tembok tak kasat mata yang memisahkan hati mereka. Dirga mendatangi Delisa jika saat membutuhkan saja.Setiap pagi, Delisa selalu bangun lebih awal. Dengan hati yang pasrah, ia berusaha menjalankan perannya sebaik mungkin, meski ia tahu semua ini hanyalah formalitas belaka. Ia memasak sarapan sederhana, menata meja makan dengan rapi, berharap sedikit kehangatan bisa ia ciptakan, meski nyatanya selalu berakhir sia-sia.Pintu kamar terbuka. Dirga muncul dengan wajah datar, tatapannya kosong seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat sosok Delisa yang sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik.Wanita itu mengenakan pakaian rumah yang sopan, rambutnya diikat rapi, dan ada aura ketenangan serta kelembutan yang memancar dari sosoknya. Sesuatu yang sangat kontras dengan kekacauan per
Sementara itu, di sebuah tempat lain, Clarisa duduk di bar mewah dengan gelas wine di tangannya. Wajahnya memancarkan kepuasan yang jahat. Di depannya, Reno duduk dengan wajah murung dan tatapan kosong."Lihatlah dirimu, Reno," ucap Clarisa sinis. "Kau mencintai wanita itu sedari dulu, berkorban untuknya, tapi pada akhirnya? Dia malah menikah dengan kakakmu sendiri. Kau tertawakan, Reno."Reno mengepalkan tangannya di bawah meja. "Sudah, Claris. Jangan bahas itu lagi. Sakit.""Sakit? Tentu saja sakit!" seru Clarisa, mendekatkan wajahnya ke arah Reno. "Tapi kenapa kau harus diam saja? Biarkan mereka bahagia? Kau pikir Delisa bahagia menikah dengan Dirga yang dingin dan kejam itu? Dia dijual, Reno! Dia dikorbankan demi nama baik keluarga!"Clarisa tahu kata-kata itu adalah tombol yang tepat untuk menekan emosi Reno."Dirga tidak mencintainya. Dia menikahi Delisa hanya terpaksa karena Om Winata yang terbaring lemah," lanjut Clarisa dengan nada berbisik penuh racun. "Bayangkan, Delisa hid
Delisa terperanjat, jantungnya berdegup kencang mendengar suara berat Dirga tepat di sebelahnya. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang menatapnya tajam, seolah mampu menembus isi kepalanya."Tidak... tidak ada apa-apa, Pak," jawab Delisa terbata-bata, berusaha menyembunyikan gugupnya. "Hanya basa-basi biasa."Dirga mengerutkan kening, tidak percaya sepenuhnya. Namun, melihat wajah pucat dan ketakutan istrinya itu, ia memilih untuk tidak menekan lebih jauh saat ini. "Hati-hati dengan Clarisa," ucap Dirga dingin sambil berbalik badan. "Dia bukan wanita biasa. Jangan mudah percaya pada omongannya."Delisa mengangguk pelan, meski dirinya sendiri kini dipenuhi rasa gelisah. Kata-kata Clarisa terus berputar di kepalanya. Reno patah hati... Reno rela melakukan apa saja untukku...Apakah benar selama ini Reno menyembunyikan perasaan yang sedalam itu? Dan apa maksud Clarisa memberitahu hal itu padanya? Apakah hanya untuk membuatnya merasa bersalah, atau ada niat lain yang lebih jahat?Hari
Saat Delisa berjalan menuju meja akad, jantung Reno berdegup kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia cintai akan menjadi kakak iparnya. Sungguh ironi takdir yang tak terduga. Reno yang berusaha keras mendekati Delisa, namun Dirga yang menikahinya."Tidak mungkin," gumam Reno dalam hati. "Ini pasti mimpi buruk."Reno merasakan dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat terpukul dan hancur. Ia merasa semua usahanya untuk mendekati Delisa selama ini sia-sia belaka. Ia merasa takdir begitu kejam kepadanya.Ia ingat bagaimana dulu ia selalu berusaha mencari perhatian Delisa. Ia selalu berusaha membuat Delisa tertawa. Ia selalu berusaha membantu Delisa dalam segala hal. Namun, semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil.Delisa selalu menganggapnya hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih.Dan sekarang, Delisa akan menjadi istri kakaknya. Delisa akan menjadi bagian dari keluarg
"Baiklah, Rio," jawab Delisa akhirnya, menghela napas panjang. "Aku akan menjemput Dirga."Rio merasa lega mendengar jawaban Delisa. "Terima kasih banyak, Delisa. Kau benar-benar penyelamatku," ucap Rio dengan nada tulus. "Aku akan mengirimkan alamat bar itu padamu sekarang. Hati-hati di jala
Sesampainya di kantor Jaya Sentosa, Delisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bukan karena AC, tapi karena tatapan mata yang mengarah padanya. Semua mata tertuju padanya saat ia berjalan di belakang Dirga memasuki lobi yang megah. Ia bisa merasakan tatapan penasaran, sinis, dan bahkan iri
Sesampainya di bar milik Fredi, Dirga langsung disambut dengan senyuman hangat dari sahabatnya itu. Aroma alkohol dan musik yang menghentak langsung menyergap indranya, namun kali ini tidak mampu menghibur hatinya yang sedang gundah."Dirga! Apa kabar, bro?" sapa Fredi dengan nada ceria, berusaha m
Delisa merasa jantungnya berhenti sejenak ketika Dirga menyebut nama "Helen" dan menariknya mendekat. Ia merasa terkejut, bingung, dan sedikit takut. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Dirga, tapi Dirga memegangnya dengan kuat, seolah takut ia akan menghilang."Tidak, Pak... saya Delisa,"







