Beranda / Romansa / Gairah Cinta Sang Dewa Perang / 92. Selamat Tinggal, River

Share

92. Selamat Tinggal, River

Penulis: Renata Respati
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-30 00:59:04

Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Lana bergerak ke arah River yang sudah sekarat. Pria itu bahkan harus bersusah payah untuk membuka matanya dan melihat Lana.

“Aku senang kau baik-baik saja,” ucapnya parau sembari mencoba tersenyum.

“Diamlah, jangan berbicara lagi.”

Lana meletakkan kepala River di kakinya, matanya tidak bisa berhenti menangisi keadaan River saat ini.

“Aku punya satu permintaan,” Kai mengernyit, ucapan River kali ini jelas ditunjukkan padanya.

“Apa?”

“Aku tidak ingin menjadi monster.”

“Apa maksudmu?” tanya Lana bingung.

“Kau tahu apa maksudku,” lagi-lagi River mengabaikan Lana dan tetap kekeuh menatap Kai.

“Kau bisa mati,” lanjut Kai.

“Aku tahu. Dan aku lebih baik mati sebagai manusia daripada harus hidup sebagai monster.”

“Kau yakin?”

“Ya. Hanya kau yang bisa melakukannya sekarang.”

“Apa maksudnya? Sebenarnya ada apa ini?” Lana menatap Kai dan River bergantian.

Percakapan mereka itu seperti hanya mereka saja yang tahu apa maksudnya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu mati
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   92. Selamat Tinggal, River

    Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Lana bergerak ke arah River yang sudah sekarat. Pria itu bahkan harus bersusah payah untuk membuka matanya dan melihat Lana.“Aku senang kau baik-baik saja,” ucapnya parau sembari mencoba tersenyum.“Diamlah, jangan berbicara lagi.”Lana meletakkan kepala River di kakinya, matanya tidak bisa berhenti menangisi keadaan River saat ini.“Aku punya satu permintaan,” Kai mengernyit, ucapan River kali ini jelas ditunjukkan padanya.“Apa?”“Aku tidak ingin menjadi monster.”“Apa maksudmu?” tanya Lana bingung.“Kau tahu apa maksudku,” lagi-lagi River mengabaikan Lana dan tetap kekeuh menatap Kai.“Kau bisa mati,” lanjut Kai.“Aku tahu. Dan aku lebih baik mati sebagai manusia daripada harus hidup sebagai monster.”“Kau yakin?”“Ya. Hanya kau yang bisa melakukannya sekarang.”“Apa maksudnya? Sebenarnya ada apa ini?” Lana menatap Kai dan River bergantian.Percakapan mereka itu seperti hanya mereka saja yang tahu apa maksudnya.“Aku tidak bisa membiarkanmu mati

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   91. Pengorbanan

    “Memang benar keturunan Estrela. Kau bahkan sama sekali tidak takut terhadapku. Dan malah menawarkan darahmu?”“Cih.”“Kalau saja kau tidak membunuh salah satu orang terbaikku.”Lana mengerutkan kening sejenak, lalu menyipitkan mata setelah memahami sesuatu.“Henry?”“Tepat sekali.”“Itu karena dia bodoh. Dan kau tentu lebih bodoh lagi karena memercayainya.”“Kau meragukan penilaianku?” rahang Jarek mengeras, terlihat pria itu tidak suka mendengar kata-kata Lana.“Ya.”Bukannya marah, Jarek malah tertawa, lebih tepatnya menertawakan diri sendiri karena gagal membuat Lana takut.Keberanian gadis itu tidak perlu diragukan lagi. Mungkin selain karena dia adalah seorang pewaris Estrela, Lana juga adalah tunangan Kai?‘Tidak. Tidak. Lebih tepatnya, karena dia keturunan Halvard Frost!’ koreksinya dalam hati.Seperti yang dia tahu, tak ada satu pun dari Klan Frost yang takut pada apa pun. Mereka terkenal kuat dan pemberani. Jarek telah hidup lebih lama dan dia jelas tahu tentang karakteristi

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   90. Ancaman Serius

    “Jarek.” “Apa?” “Dia ada di sana tadi. Sepertinya juga dia yang sudah membebaskan Yael dari menara paviliun.” “Brengsek,” Kai berlari ke menara, dia perlu memastikan sendiri kalau Yael benar-benar tidak ada di sana. ‘Bagaimana ini, Jarek tahu aku sedang hamil dan sekarang dia membawa pergi Yael. Apa yang akan terjadi setelah ini,’ batinnya. Lana meremas gaun di sisi tubuhnya, tubuhnya bergetar karena Jarek sudah terang-terangan menunjukkan dirinya di Estrela. Dia bahkan mengancam Lana dan membebaskan seorang tahanan. “Tuan putri, kau baik-baik saja?” tubuh Lana nyaris ambruk kalau saja Layla tidak segera menopangnya dari belakang. “Aku ingin pulang dan beristirahat,” ucapnya pelan. Layla mengangguk tanpa banyak bertanya lagi. Dia tahu Lana sedang syok saat ini, wajahnya pucat dan pandangannya tidak fokus, terlebih lagi dirinya sedang hamil. “Pastikan tidak ada seorang pun masuk ke kamarku setelah ini.” Layla mengangguk. Dia segera membawanya kembali ke istana sebe

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   89. Kehamilan Tak Terduga

    Lana memegang benda kecil memanjang itu dengan tangan bergetar. Salah satu tangannya menangkup di mulutnya, menahan teriakannya agar tidak sampai keluar.“Aku… benar-benar hamil.”Air matanya jatuh melintasi pipinya. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi dia merasa bahagia dengan kehadiran buah hati kecil yang sedang tumbuh di dalam perutnya, namun di sisi lain dia masih belum tahu bagaimana cara memberitahu Kai tentang informasi ini.Terlebih lagi mereka belum menikah! Kalau sampai berita ini menyebar, Lana sungguh akan menjadi aib bagi istana. Dia takut, bagaimana akan menghadapi kakeknya nanti.“Tuan putri, kau—“ suara Layla tertahan di tenggorokan saat melihat Lana yang duduk lunglai di lantai kamar mandi.Salah satu tangannya yang tergeletak di samping tubuhnya memegang benda kecil yang tadi di dibelinya.“Kau—“ Layla menatap benda itu dan Lana bergantian.“Jangan beritahu siapa pun,” ucap Lana tanpa menatap Layla.“Baiklah.”Layla menurut ta

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   88. Pembalasan Yang Setimpal

    Dia sudah berani mempermainkan tunanganku selama bertahun-tahun, tentu saja pembalasannya jg harus setimpal, dan yang pasti… menyakitkan.”“Kita akan membuatnya berpikir kalau kematian adalah hal terbaik daripada menjalani hukuman yang akan dia terima,” lanjutnya.“Maksudmu?”“Potong semua kukunya, pasung kedua kakinya, dan… kurung di dalam puncak paviliun dalam waktu yang tidak ditentukan. Tidak boleh ada yang menjenguknya termasuk maidnya sendiri, hanya pengawal yang diperbolehkan, itupun untuk mengantarkan makanan. Makanannya tidak boleh mengandung garam, gula dan lada.”Ucapan panjang lebar Lana sukses membuat kedua pria itu membelalak sempurna.“Gila. Benar-benar gila. Aku tidak menyangka kau bisa memikirkan hukuman segila itu,” Louise menggeleng tak percaya, ada perasaan takjub bercampur ngeri setelah mendengar secara langsung hukuman yang sedang disiapkan Lana untuk Yael.“Bukankah dia sudah terbiasa lumpuh selama beberapa tahun ini? Seharusnya dipasung juga bukan sesuatu yang

  • Gairah Cinta Sang Dewa Perang   87. Yelena Adalah Yael

    “Ada apa dengannya?” wajah pria itu mengeras menahan kesal, mendengar nama River saja sudah membuatnya emosi tingkat tinggi.“Kau benar, perdana menteri terlibat soal kasus penculikan dan penjualan orang, termasuk anak-anak.”“Sudah kuduga, Louise sudah mengajukan kasus ini ke raja. Paling lambat besok, istana akan menerbitkan surat penangkapannya.”“Tapi River tidak akan terseret, kan? Kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyentuhnya.”Kai memijit pelipisnya, di situasi seperti ini, Lana masih saja berusaha melindungi pria itu.‘Menyebalkan sekali,’ pikirnya.“Hm.”“Kenapa hanya ‘hm’?”“Ya, baiklah. Aku tidak akan menyentuh pria favoritmu itu.”“Pria favorit apa? Jelas-jelas pria favoritku adalah kau.”Kata-kata Lana berhasil meredakan gejolak emosi di dada Kai, pria itu memalingkan wajah karena tidak ingin Lana menangkap basah dirinya yang tengah tersenyum salah tingkah.“Jadi, apa kita bisa melanjutkan yang tadi?” sebelah alis Lana te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status