Home / Romansa / Gairah Liar CEO Nakal / 1. DIBUANG SUAMI

Share

Gairah Liar CEO Nakal
Gairah Liar CEO Nakal
Author: NONA_DELANIE

1. DIBUANG SUAMI

Author: NONA_DELANIE
last update Huling Na-update: 2024-12-13 21:11:30

"Aaah, Yang, udah! Kamu harus ke rumah sakit, Aurora nelponin kamu loh itu!" Raline memekik dengan keras saat hunjaman demi hunjaman dia terima.

"Diem lah bentar! Berisik!" Sedangkan Samuel tetap memompa dan dia tak peduli rintihan kekasihnya itu.

Tubuh Aurora menegang mendengar hal itu. Tiga jam dia di klinik dan sudah bukaan satu, tapi suaminya tak kunjung datang setelah mengatakan iya. Saat dia pulang, justru dia mendapatkan kejutan luar biasa.

"Mas Samuel! Kamu tega duain aku,Mas? Aku sebentar lagi lahiran anak kamu, loh! Aku bahkan udah kontraksi, Mas!"

"Kenapa? Ada masalah? Kamu kan udah gak cantik lagi. Lihat diri kamu, burik, badan kamu gendut, dan jelas kamu gak buat aku berhasrat lagi. Jadi, lebih baik kita pisah!"

"Aku begini karena kamu yang mau anak, Mas! Bukan aku! Aku juga gak mau badan aku rusak!"

"Terus? Mau gimana? Semua udah terlanjur. Pergi saja sana, deh! Berisik banget. Dan mulai detik ini, kita cerai! Rumah ini milikku, pergi kamu!"

"Oh, kau menantangku, Mas? Baik! Baik! Awas kamu!"

Aurora Vindira, seorang wanita cantik dan anggun. Saat hamil, badannya mengalami perubahan fisik yang sangat mencolok.

Malam itu, rumah yang dulu dipenuhi tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa. Aurora menggigit bibir, berusaha menahan rasa sakit yang semakin menusuk.

Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk jantungnya. Kontraksi demi kontraksi datang menggempur tubuhnya, namun yang lebih menyakitkan dari itu adalah kata-kata suaminya yang seperti pisau, menghujam tepat di hati.

Saat dia hendak melahirkan, kini dia justru diduakan. Tak terima, Aurora membawa tongkat baseball dan memukuli mereka.

Dan saat dia hendak membela diri dari pelakor itu; yang hendak menyerangnya, dia justru didorong kuat. Tubuhnya terjatuh dari tangga dan menggelinding.

Karena panik melihat darah begitu banyak, maka Samuel memiliki ide untuk membuang Aurora yang dia yakini telah meninggal.

"Yang, bantuin angkat Aurora ke dalam koper. Berat ini!" Samuel menatap ke arah Raline yang saat itu telah berpakaian.

"Buat apa, Yang?" Raline mendekat, tapi dirinya enggan menolong. "Udahlah, kalau mati, biarin aja. Kita kubur aja dia di belakang, beres."

"Kamu mau rumah ini berhantu nanti? Mau arwah Aurora hantuin kamu terus setiap saat?"

Mendengar kata hantu, kini Raline menggeleng. "Ya gak lah! Masa kita tinggal di rumah berhantu."

"Ya udah, jangan bawel. Cepet bawa dia ke koper, bantu aku!"

"Kamu mau apain, Yang?"

Akhirnya, mereka berdua bekerja sama mengangkat tubuh Aurora ke dalam koper besar. Setelah memastikan Aurora ada di koper itu, Samuel segera menghubungi seseorang untuk membersihkan rumahnya.

"Ya, kamu bersihkan. Uangnya akan aku transfer."

Selepas menutup panggilam telepon, Samuel menarik gagang koper dan dia menuju ke garasi melalui pintu samping.

di belakangnya, Raline mengekor dan dia cemas. dia segera membantu kekasihnya mengangkat tubuh Aurora ke dalam bagasi.

"Yang, jadi kita buang dia?"

"Iya lah! Kamu ambilin spiritus di sana, kemarin aku beli buat sesuatu."

"Buat apa?"

"Kita buat seolah mobil ini kecelakaan!"

"Katanya mau buang ke jurang?"

"Itu beresiko, Yang. Cepet ah!"

Tak lama kemudian, mereka segera menaiki mobil dan Raline cemas. "Mobil sebagus ini sayang kalau dibuang, Yang!"

Samuel tak peduli, dia memikirkan bagaimana caranya dia harus segera pergi membawa tubuh Aurora jauh dari rumahnya. "Mobil bisa beli lagi. Berapa sih mobil kaya gini? Harganya cuma 200 an. Kita bisa beli lagi."

Mobil itu melaju cepat meninggalkan kediaman Samuel. Pria itu memacu kendaraan lebih cepat dan segera berniat menuju jurang. Namun di tengah perjalanan, hujan tetiba mengguyur deras dan kini tetiba pula ban mobil kempes. Menyebabkan Samuel oleng ketika mengendarainya sejauh 3 jam menuju ke hutan belantara.

"Eh, eh!"

Akhirnya, mobil itu berhenti. Samuel menepikan kendaraan di jalanan sepi dan dia melihat bannya kempes.

"Sial!"

"Kenapa?"

"Ban mobil kempes."

"Terus, kamu mau ganti dulu, Yang?"

"Cih, itu kelamaan. Keburu polisi hutan yang biasanya patroli tahu perbuatan kita."

"Terus gimana?"

"Gimana gimana? Cepet turun lah, kita buang dia di sini!"

"Di sini?"

"Iya! Ini hujan, sidik jari kita akan hilang kena air hujan. Ayo cepet. Keburu ketahuan!"

Mereka berdua mengangkat koper itu, dan mengeluarkan Aurora dari dalamnya. Lalu, mereka juga membiarkan tubuh Aurora kehujanan.

"Yang, kamu yakin buang dua kaya gini?"

"Ya! Dia akan menjadi korban tabrak lari. Lagian, kita udah jauh pergi. Ini jalanan kalau subuh, agak ramai, Yang. Nanti kalau ada yang curiga, pasti ngiranya dia korban tabrak lari. Udah, ayo cepet tinggalin. Kalau nekat buang ke jurang, kita yang gak aman."

"Kan harusnya kamu nurut sama aku. Kubur di rumah!"

"Berisik! Ayo pulang!"

Mereka berdua meninggalkan tubuh Aurora di sana sendirian.

Hujan semakin deras, menyapu jalanan dengan intensitas yang tak terduga. Suara gemuruh di langit seakan bersaing dengan ketukan hujan yang menghantam aspal, menciptakan suasana yang mencekam.

Di tengah kegelapan malam yang dibalut oleh hujan deras, suasana jalanan yang biasanya ramai kini begitu sepi. Semua kendaraan berlalu lalang dengan hati-hati, menghindari genangan air yang menghalangi pandangan.

Tiba-tiba, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, menembus hujan yang semakin deras.

Dari dalam mobil itu, sopir yang waspada mengerem mendadak dan memperhatikan sesuatu di depan.

"Tuan, ada korban tabrak lari. Dia sepertinya hamil. Kita selamatkan atau tidak?" suara sopir terdengar panik, menatap sosok yang tergeletak di tengah jalan, tubuhnya terbujur lemah, tak bergerak.

"Mana?" suara Tuan itu, seorang pria berpenampilan rapi dan tegas, terdengar datar, namun mata tajamnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang muncul begitu saja. Sopir menunjuk ke depan, di mana Aurora, yang terluka parah, tergeletak di tengah jalan dengan darah yang menggenang di sekitarnya.

"Ayo turun, kita selamatkan." Tuan itu memberi perintah tegas.

Tanpa ragu, mereka berdua segera keluar dari mobil. Suara langkah kaki mereka beradu dengan suara hujan yang semakin membasahi bumi.

Mereka berlari menuju tubuh wanita yang terbaring tak berdaya di tengah jalan. Hujan yang mengguyur dengan derasnya membuat tubuh Aurora semakin terlihat rapuh dan lemah.

Mereka berhenti di sampingnya. Tuan itu segera membungkuk, memeriksa keadaan Aurora dengan teliti, sementara sopir mengamati situasi sekitar.

Setelah beberapa detik yang terasa lama, Tuan itu akhirnya membuka mulutnya dengan nada penuh urgensi. "Wanita ini masih hidup. Cepat ke rumah sakit terdekat!" serunya, suaranya tegas namun terdengar penuh kekhawatiran.

Sopir terlihat ragu sejenak, memandang ke arah tubuh Aurora yang terluka parah, darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Jaraknya satu jam, Tuan. Apa mungkin dia akan selamat?" tanya sopir itu dengan nada penuh keraguan. Sepertinya ia ragu apakah ada cukup waktu untuk membawa wanita ini ke rumah sakit dan menyelamatkan hidupnya.

"Selamat atau tidak, setidaknya kita telah berusaha. Cepat! Kecepatan tinggi!" jawab Tuan itu dengan mantap. Tidak ada waktu untuk ragu. Keputusan telah diambil, dan mereka harus bertindak cepat. Dengan sigap, sopir itu kembali ke kursinya, menghidupkan mesin mobil dan memacu kendaraan dengan kecepatan yang luar biasa, menembus hujan deras, menantang waktu dan takdir.

Setiap detik terasa berharga, setiap detik penuh dengan ketegangan. Hujan yang menghalangi pandangan, jalan yang licin, dan perasaan panik yang menguasai mereka semakin mempercepat detak jantung mereka.

Namun, mereka tahu satu hal—ini adalah usaha terakhir untuk memberi Aurora kesempatan hidup, dan mereka tak bisa membiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.

Tanpa Samuel sadari, setelah dia membuang Aurora, kini istrinya justru ditemukan oleh atasannya sendiri. Adam Sky Walker, sang CEO tempat di mana dia bekerja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Liar CEO Nakal   70. ENDING

    “Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”

  • Gairah Liar CEO Nakal   69. AMMOUDI BAY

    “Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula

  • Gairah Liar CEO Nakal   68. POSESIF

    Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin

  • Gairah Liar CEO Nakal   67. HONEYMOON

    Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan

  • Gairah Liar CEO Nakal   66. MALAM PERTAMA

    Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M

  • Gairah Liar CEO Nakal   65. BENAR-BENAR BERAKHIR

    "Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status