Mag-log in"Tuan Walker, Nona Muda ini bayinya sudah meninggal dari dalam. Sepertinya, beliau mengalami benturan yang cukup serius. Kami terpaksa harus melakukan proses caesar malam ini juga."
Suasana ruangan rumah sakit itu penuh dengan ketegangan. Para dokter bergerak cepat, mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi darurat. Di ruang tunggu, seorang pria duduk dengan tenang, namun wajahnya memancarkan kekhawatiran yang tak dapat disembunyikan. Tuan Walker, seorang CEO ternama, memegangi ponselnya, seolah menunggu kabar buruk. "Lakukan yang terbaik. Semua biayanya akan ku tanggung," katanya. Suara Adam Sky Walker datar, namun tajam. Itu bukan sekadar pernyataan, tetapi lebih seperti perintah yang tidak bisa dibantah. "Baik. Bagaimana dengan bayinya nanti? Apakah Anda meminta kami sekalian mengurusnya?" tanya salah satu dokter, memecah keheningan sejenak, matanya memandang pria itu penuh hormat namun penuh keraguan. "Pastikan wanita itu selamat. Untuk bayinya, bawa saja ke kamar jenazah. Aku yang akan mengurusnya." Adam Walker menjawab tanpa ragu. Kata-katanya seolah dipenuhi dengan rasa kehilangan yang begitu dalam, namun tetap dingin, terkesan seperti seorang yang sudah terbiasa dengan kesedihan semacam itu. "Baik, Tuan." Alasan mengapa Adam menolong wanita ini karena ... dulu saat kuliah bersama, Adam menyukai Aurora. Sayangnya, dia terlambat dan Samuel lebih dulu mencuri start. Tiga jam berlalu, suasana di rumah sakit tampak mencekam. Proses operasi berjalan dengan penuh risiko, namun akhirnya, Aurora, wanita yang tak sadar selama beberapa waktu, mulai membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing, dan tubuhnya terasa sangat lelah. Namun, ada sesuatu yang sangat asing yang dirasakannya— perutnya kosong. Tidak ada gerakan atau kehangatan dari dalamnya. Ketika matanya mulai fokus, ia melihat seorang pria berdiri di samping tempat tidur, mengenakan jas formal yang terlihat terlalu rapi untuk berada di rumah sakit. Kini, Aurora memandang pria itu, dan walaupun matanya masih kabur, ia merasa mengenali sosok tersebut. CEO dari perusahaan tempat suaminya bekerja. "Si- siapa, Anda?" Suara Aurora terdengar serak, kebingungan, dan sedikit takut. Ia merasakan sesak di dada, namun mencoba menenangkan diri. Namun, rasa panik itu semakin membesar. "Kamu jelas mengenalku," jawab Tuan Walker, nada suaranya tenang namun penuh makna. Ia menatap Aurora dengan pandangan yang tajam, namun tidak dengan empati. Ya, sebelumnya Adam memang mencari tahu siapa wanita ini. Lantas, anak buahnya menginfokan jika Aurora adalah seorang istri dari karyawannya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Aurora dibuang suaminya sendiri dan itu tak bisa Adam maafkan. Perasaan asing yang melanda tubuh Aurora semakin memuncak. Ia meraba perutnya, tetapi yang ia rasakan hanya kehampaan. "Perutku, perutku. Kenapa datar? Mana anakku? Mana? Ya Tuhan! Anakku! Anakku!" Suara Aurora bergetar, semakin panik. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. Lantas, Sang Tuan Muda Walker menatapnya dengan mata yang penuh rasa kasihan, meskipun ia berusaha untuk tetap menunjukkan ekspresi yang tenang. "Anakmu tiada." Jawabannya singkat, tanpa emosi yang lebih mendalam. Namun, setiap kata itu terasa seperti palu yang menghantam keras ke dada Aurora. "Apa?" Aurora terdiam, seolah tak bisa menerima kenyataan itu. "Apa yang terjadi? Kenapa anakku—" kata-katanya terhenti, seolah tak mampu melanjutkan. Ia menangis, rasa kehilangan itu begitu mendalam. Tuan Walker menghela napas, kemudian berbicara lagi dengan lebih serius, suaranya rendah namun jelas. "Apa yang kau alami sehingga membuat anakmu tiada dari dalam kandungan? Apa yang terjadi, sampai kau dibuang di jalanan?" Aurora merasa seperti diserang dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Matanya terbuka lebar, menatap pria itu dengan rasa bingung dan ketakutan. "Aku ... aku ...." Suara Aurora tercekat, tak mampu melanjutkan. Kenangan buruk kembali muncul—tentang malam itu, tentang suaminya yang berubah, yang meninggalkannya begitu saja, dan anak yang harusnya lahir dengan bahagia, kini tak ada lagi. "Suamimu selingkuh? Kau mengetahuinya dan kau dicelakai?" tanya Tuan Walker, tatapannya tajam, penuh penyelidikan. Aurora terdiam, tubuhnya gemetar. Ia menatap pria itu dengan mata yang penuh kebingungan, seolah tidak percaya seseorang bisa menebak dengan begitu tepat. "Darimana Anda tahu?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Menebak saja." Tuan Walker menjawab dengan nada datar, namun dalam mata yang memancarkan pemahaman yang lebih dalam dari yang mungkin Aurora bayangkan. Kemudian, pria itu mendekat, bersandar sedikit di kursi, seolah sudah memutuskan apa yang ingin disampaikan selanjutnya. "Jadi, mau kah kamu bekerja sama denganku, Aurora?" Suaranya lebih serius, penuh dengan niat yang tak bisa disangkal. "Hah?" Aurora menatapnya dalam kebingungan. Jantungnya berdebar kencang, antara rasa takut dan keputusasaan. "Bekerja sama dalam hal apa?" Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sepertinya tak ada pilihan lain, selain menerima tawaran ini, meski itu berarti mengorbankan banyak hal. "ASI mu melimpah. Berikan pada anakku, dan kita jadi partner." "Partner untuk?" "Membalas suamimu. Apa kamu tak mau, hm?" Setelah mempertimbangkan hal itu, Aurora menjawab, "Beri aku waktu." "Ku tunggu 1x24 jam. Penawaranku tak datang dua kali. Kau akan ku gaji, dan kau akan hidup layak setelah ini. Dengan kekuasaanku, kau bisa membalas semua perbuatan keji suamimu. Setuju?" "Setuju!" Bayi mungil itu, dengan tubuh yang membiru, terbaring diam di dalam peti kayu yang kecil. Langit sore yang kelabu seakan turut merasakan duka yang mendalam, menatap dengan hening pada pemakaman yang baru saja selesai. Dengan tubuh yang rapuh, Aurora terjatuh ke dalam pelukan rasa kehilangan yang sangat dalam. Tangisnya terdengar keras, seperti pecahnya jiwa yang hancur, namun tak ada yang bisa mengembalikan apa yang telah hilang. Beberapa kali ia jatuh pingsan karena rasa sakit yang tak tertahankan. Adam berdiri di sampingnya. Bahkan, dia tadi sudah menyarankan dengan lembut agar Aurora tetap berada di rumah sakit. Namun, wanita itu, dengan tekad yang keras, memaksakan diri untuk datang. "Aku harus menyaksikan penguburan anakku." Kata-katanya penuh dengan air mata, namun ada kekuatan tersembunyi dalam dirinya. "Anakku, lelaki kecilku." Hanya itu yang bisa diulangnya, seolah kalimat itu menjadi mantra pengingat, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Setiap langkah menuju pemakaman terasa berat bagi Aurora. Pundaknya terkulai lemas, tubuhnya goyah, namun tekadnya tak bergeming. Seiring dengan berjalannya prosesi pemakaman putranya, ia beberapa kali terjatuh pingsan, dan setiap kali sadar kembali, air matanya terus mengalir. Tak ada yang bisa menenangkan hatinya yang porak poranda. Adam yang terus mendampinginya, kini memandangnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun di dalam dirinya berperang antara rasa iba dan kekhawatiran. "Relakan anak itu," ucap Adam lembut namun tegas. "Kali ini, bukan saatnya menangis. Tapi, saatnya balas dendam dan buktikan jika kamu bisa." "Enak sekali kau bicara seperti itu!" Aurora menatapnya dengan tatapan kosong, seolah tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang dikatakan. "Kenapa tak enak? Katamu, suamimu menghinamu karena gendut dan jelek, kan?" tanya Adam, menatap wajahnya yang penuh luka. "Maka, ikuti perintahku. Kau akan cantik, dan perubahanmu nanti bisa membuatnya menyesal karena telah mencampakkanmu." Kini, Aurora terdiam, seperti mencerna kata-kata itu dalam dalam. Air matanya berhenti sejenak, tetapi pikirannya terus bergulir dengan cepat. Ia tahu, kata-kata Adam mungkin benar. Rasa sakit dan kehilangan yang ia alami tak akan pernah bisa disembuhkan dengan menangis atau berlarut dalam kesedihan. Sebuah perubahan, sebuah pembuktian, mungkin bisa menjadi cara untuk mengangkat dirinya dari kehancuran ini. Dengan tatapan penuh tekad, Adam pun melanjutkan, "Jangan biarkan dirimu terjatuh lebih dalam. Ini waktumu untuk bangkit dan tunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Kau tahu, suamimu bersenang senang dengan selingkuhannya. Sedangkan kamu, menangis di sini dan tak ada gunanya. Bukankah itu membuang buang waktu? Kau harus balas dendam, Aurora."“Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”
“Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula
Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin
Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan
Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M
"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga







