Home / Urban / Godaan Ibu Kos Cantik / 104. Menanti Reno

Share

104. Menanti Reno

Author: Harucchi
last update Last Updated: 2025-11-03 23:25:34

Annaya datang mendekat sambil membawa ponsel yang memperdengarkan nada sambung. Benda itu dia letakkan di meja ruang tamu, memperlihatkan layar yang menampilkan panggilan ke kontak bernama ‘Mas Reno’.

‘Tuut … tuut ….’

Suara nada sambung itu menjadi satu-satunya yang terdengar di tengah senyap, menciptakan ketegangan yang mencekik Karina.

“Halo?” suara berat pria terdengar dari speaker ponsel Annaya.

“Reno, Ini Mama.”

“Kenapa, Ma?”

“Mama mau kasih tau kamu, Mama akan tanda tangan surat pelunasan hutangnya Karina—”

“Tunggu dulu, Ma!”

Pundak Karina menegang. Tentu Reno tak akan diam saja.

“Dengar dulu, kesepakatannya kan kalau Karina melahirkan anakku. Anak itu masih di dalam kandungan, belum tentu dia lahir.”

Gejolak amarah mendorong getaran di tangan Karina perlahan mengepal. Gemuruh panas di dadanya bagai mendesak untuk diluapkan.

“Apa maksud kamu belum tentu dia lahir? Sembarangan kamu, Reno.” alis Mama bertaut curam, nada suaranya meninggi.

“Yaa memang benar kan, Ma? Nanti sajal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Ibu Kos Cantik   261. Godaan di kontrakan

    Dimas tak mampu berkata-kata ketika jemari lentik Karina melayang perlahan di atas kancing kemejanya, melepas satu demi satu. Waktu seakan berjalan melambat. Setiap kali sentuhan itu bergerak turun, sengatan dalam tubuhnya terasa semakin membakar. Ketika Karina menyentuh kancing terakhir paling bawah, Dimas mengangkat sisi wajah wanita itu. Membuatnya mendongak menatapnya.“Kamu nggak capek Kar?” Dimas bertanya dengan suara rendah. Namun ruangan yang minim perabotan itu membuat suaranya memantul tegas ke seluruh penjuru ruangan. “Sebentar aja Dim.” Karina merapatkan sisi wajahnya di dada Dimas yang kemejanya telah tersingkap, menyisakan selapis kaos dalam tipis yang entah setipis apa, sampai kecupan bibir Karina sanggup menyentak tubuhnya. Tak berhenti sampai di sana, jemari wanita itu kini perlahan menyelusup masuk ke baliknya, mengusap area kulitnya yang kini terasa jauh lebih sensitif.Dimas menahan erangan. Gegas ditariknya tangan Karina dari sana, khawatir wanita itu makin membu

  • Godaan Ibu Kos Cantik   260. Kamu 'mau'?

    Dimas hampir menahan napas ketika Karina menurunkan wajahnya ke bawah, ke bagian pribadinya yang sudah mendesak tegak. Jakunnya naik turun merasakan kecanggungan.Waktu seolah berhenti. Menciptakan hening yang hanya diisi suara tetesan air dari kran. Bunyinya pelan, namun entah mengapa seperti dentuman raksasa di telinga Dimas. Kehangatan kulit Karina yang kontras dengan dinginnya keramik lantai kamar mandi, kini mengacak-acak kesadarannya. Karina terpaku, matanya yang masih basah dengan sisa tangis menatap dada Dimas yang naik turun dengan ritme cepat. Lalu beralih pada wajah Dimas yang kini memerah hebat hingga ke telinga.“Dim ….” Karina berbisik pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Dimas menarik tangannya, melepas sentuhan dari area berbahaya itu. “Maaf.” ucapnya, dengan suara yang diselingi napas cepat, sebuah wujud nyata dari hadirnya desakan kebutuhan.“Kecoaknya udah nggak ada. Aku keluar.” Dimas berbalik cepat. Namun tangan Karina menariknya. “Tunggu.”Dimas kembali

  • Godaan Ibu Kos Cantik   259. Hal fatal di kamar mandi

    “Kar. Sementara, kita pulang ke kontrakanmu dulu.” Dimas menatap kosong pada layar ponselnya. Sementara itu, Karina membeku. Alisnya lantas bertaut, seolah bisa menebak apa yang sedang terjadi.“Ada masalah lagi … di apartemen?”Dimas mengangguk, lalu menjawab sambil mengusap wajahnya. “Iya. Aku lupa untuk diskusi dengan manajemen soal saran keamanan dari mereka.” Napasnya lalu dihembuskan berat. Diliriknya jam tangan. Sudah lewat dari tengah malam. “Sekarang sudah selarut ini.”“Mau diantar sekalian ndak Mas?” Suara itu memecah fokus Dimas. Membuatnya tersadar bahwa Agus masih berada di antara mereka. Pria itu sedang merapikan tensimeter dan melepas sarung tangan karet dari tangannya.“Tak antar sekalian naik ambulans. Sampeyan kaca mobilnya pecah, toh?” Agus bertanya tanpa mengalihkan fokus dari kotak peralatan medis yang dipeluknya.Dimas melirik Karina, bertanya tanpa suara. Wanita itu mengangkat bahunya sejenak, sepenuhnya melepas keputusan pada Dimas.“Nggak perlu. Gue pesen ta

  • Godaan Ibu Kos Cantik   258. Pulang ke kontrakanmu dulu

    Dimas melirik Agus tajam. “Dalam pengawasan gue.”“Siap Mas.” Agus mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, anu … karena ndak ada kursi, kita ke kabin belakang ambulans gimana Mas?” Agus mengarahkan satu jempolnya ke arah ambulans. Dimas beralih ke arah Karina, wanita itu mengangguk setuju. Maka, keduanya mengikuti Agus menuju pintu belakang ambulans. Di dalam, Karina duduk dengan Dimas mendampingi di sebelahnya.“Mbak Karina, permisi ya. Saya tensi dulu.” ucap Agus dengan nada bicara profesional. Dia memasang alat pengukur tensi di lengan Karina. Gerakannya penuh hati-hati, sadar bahwa Dimas mengawasinya.“Tensinya agak tinggi ya, Mbak. Wajar karena syok.”Dimas mengepalkan tangan. Ucapan Agus mengalirkan sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Ketika Agus merapikan perangkat pengecek tensi itu, tatapan Karina pindah pada Dimas, seperti mencari rasa aman. Dimas meraih tangan wanita itu, menggenggamnya. Sesuatu yang dulu tak akan pernah dia lakukan di depan Agus maupun Jimmy.Namun sekar

  • Godaan Ibu Kos Cantik   257. Boleh saya periksa Mbak Karina?

    “Maaf?” Dimas mendengus. “Mudah banget lo bilang maaf.”Agus menunduk lebih dalam. “Saya tahu saya salah. Saya dibutakan kondisi darurat Mas. Ibu saya waktu itu sekarat. Saya butuh uang untuk operasi Ibu. Saya ingat Mas Dimas sempat kasih saya uang melalui Koh Jimmy, sepuluh juta. Itu uang yang sangat cukup untuk biaya operasi Ibu saya Mas. Tapi saat itu … saya terlalu … menjaga harga diri.” Agus terbatuk kecil, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri.“Lalu, Pak Reno datang dan kasih saya tawaran itu Mas. Awalnya saya pikir, dengan saya bantu Pak Reno, saya juga bisa berdamai dengan dendam di dalam diri saya sendiri Mas. Tapi ternyata … setelah saya sadari, yang saya rasakan ketika melihat sampeyan dengan Mbak Karina itu bukan dendam.” Agus menghela napas berat. “Tapi rasa iri.”Dimas mengikuti arah pandangan Agus. Pada bagaimana kakinya memainkan batu di ujung sepatu. Mungkin dia gelisah. Mungkin butuh keberanian besar baginya untuk mengakui itu.“Saya iri sama sampeyan yang bi

  • Godaan Ibu Kos Cantik   256. Mudah banget lo bilang maaf?

    Seorang polisi menghampiri Dimas yang masih berada di mobil. “Selamat malam, Pak. Mohon izin. Kendaraan ini akan kami amankan sementara sebagai barang bukti.”Dimas menghela napas berat, lalu mengangguk dengan mata terpejam. “Oke. Silakan.”Begitu petugas tadi berlalu pergi, Dimas membuka pintu dan turun. Kakinya menginjak aspal dengan sedikit terhuyung, masih merasakan sisa-sisa adrenalin. Pria itu lalu berjalan perlahan ke pintu penumpang depan, hendak menuntun Karina. Begitu langkah Karina berpijak ke aspal, bibirnya meloloskan rintihan lirih. Sesuatu yang membuat Dimas seketika tersentak dalam mode siaga.“Kar? Ada yang sakit?” Dimas bertanya dengan kerutan dalam di dahi. Karina tak langsung menjawab. Tangannya mengusap perut perlahan sebelum wajahnya diangkat menatap Dimas.“Perutku … terasa kencang terus.” bisiknya dengan kernyitan di dahi. “Apa ini aman?”Pundak Dimas seketika menegang merasakan lonjakan kecemasan. Pikiran-pikiran liar mulai berkelebat. Bagaimana jika sesuatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status