MasukTangan Karina berhenti. Hening memerangkap sesaat. Hingga, wanita itu kembali melanjutkan kesibukannya.
“Kamu dengar semuanya?” suara itu sedikit gemetar, seperti berusaha terdengar tegar. “Nggak semua sih. Sebagian besar, iya.” jawab Dimas berpura-pura santai. Padahal hatinya tak tenang sejak tahu Karina menjalani rumah tangga dengan kekerasan di dalamnya. Karina hanya diam. “Sudah berapa lama … dia perlakukan kamu kasar seperti itu?” “Pelankan suaramu, Dim! Dia di bawah!” Karina menoleh tajam, “Aku nggak mau dia dengar kita ngobrol berdua begini.” bisik Karina dengan lirikan penuh peringatan. Dimas tertegun, lantas melengoskan wajah. Rahangnya mengeras. Ada amarah yang tertahan ketika tahu bahwa Karina masih memikirkan perasaan suaminya. Suaminya yang berengsek itu. “Kami menikah sudah tiga tahun. Dan selama itu aku cuma jadi pajangan buatnya.” sambung Karina lagi, suaranya lebih pelan. “Sudah tiga tahun dan kamu memilih bertahan?” tanya Dimas, sedikit geram. “Bukannya memilih bertahan. Memang nggak ada pilihan untukku selain bertahan Dim.” Dimas menaikkan alis, semakin tak mengerti. “Kenapa?” “Aku harus melahirkan anaknya supaya utang keluargaku dianggap lunas. Makanya, sebelum dia menyentuhku dan membuatku hamil, aku nggak bisa pergi—” “—Tunggu. Kalian menikah sudah tiga tahun dan dia nggak pernah menyentuhmu?” Karina membisu. Tangannya turun ke samping badan. Entah seperti apa wajahnya sekarang karena posisi Dimas berada di belakangnya. Namun, Dimas tahu. Dari suara helaan napas Karina, punggung yang putus asa itu seolah berteriak menginginkan kebebasan. “Dia punya pacar. Sejak sebelum kami menikah. Dan seluruh nafkah batin juga lahirnya, untuk wanita itu.” Dimas mengeratkan rahang. Bajingan. Dimas bangkit berdiri, hendak menjemur setelah seluruh cuciannya selesai diperas. Tatapannya tajam. Dadanya masih bergemuruh usai mendengar ketidakadilan yang dilakukan suami Karina. “Kalau kamu nggak diberikan nafkah, terus … selama ini uang makanmu dari mana?” Bisik Dimas yang kini berdiri di sebelah Karina, menggantungkan sepotong kaos. “Dari kos-kosan.” Karina menjawab ringan. Tangannya berhenti sejenak untuk mengusap peluh di dahi. “Rumah ini milik keluarga Mas Reno. Uang kos semestinya kami berikan ke keluarga Mas Reno. Tapi mertuaku menolak, katanya untuk kami saja, karena kami yang mengelola.” Dimas terdiam, tangannya fokus menggantungkan pakaian. Walau tampangnya tenang, sesungguhnya hatinya dipenuhi bara yang menggelora. “Jadi kamu nggak terima uang dari gaji suamimu? Sepeser pun?” Karina menggeleng. “Nggak. Uangnya dia berikan untuk pacarnya.” jawabnya enteng, seolah hal itu bukan perkara yang melukai hati. Atau mungkin, hati Karina yang sudah kepalang mati rasa? Dimas mencengkeram erat cucian di tangannya, berusaha mengalihkan amarah yang menggelegak. “Kamu nggak apa-apa?” Dimas menoleh, bertanya hati-hati. “Ya mana mungkin lah Dim. Walau nggak cinta pun, dia tetap suamiku. Tempat seharusnya aku menerima rasa aman. Kadang aku berharap dia berubah, walau rasanya ….” Karina tersenyum getir. “Kayak harus nunggu kiamat.” Dimas menghela napas berat. Ditatapnya Karina lekat-lekat. Saat itu, barulah dia sadari sesuatu. Ada rona kebiruan samar di pipi Karina. “Dia menyerang wajahmu?” Dimas bertanya dengan nada khawatir. Tangannya spontan menjangkau sisi wajah Karina tanpa izin. “Dim! Lepas!” Karina mendelik. Mungkin takut suaminya melihat. Namun Dimas tak gentar. Geram rasanya. “Sebentar.” Pria itu memaksa, menggerakkan dagu Karina, menelisik. “Kamu tunggu di sini. Aku ambilin salep.” Dimas beranjak ke kamarnya, mengambil salep yang dia simpan, lalu membawanya kembali ke balkon belakang. “Sini. Mendekat.” Dimas membuka tutup salep, lalu menggerakkan telapak tangannya, memberi kode agar Karina maju lebih dekat. Benar. Ada lebam samar di area pipi. Dimas menghela napas kasar, segenap udara itu seolah tercekat saat melewati dada. Hanya melihat penderitaan Karina saja, dia bisa ikut merasakan sesak. Bagaimana Karina yang merasakannya sendiri? “Kamu habis diapain sampai begini?” bisik Dimas. Tangannya dengan lihai memoles sedikit salep ke permukaan yang membiru, meratakannya. Raut penuh kecemasan menggantung di wajahnya. “Kamu nggak perlu tahu.” Karina menjawab lirih, wajahnya tampak menahan perih ketika Dimas menekan lukanya. “Boleh aku minta kunci pagar di depan tangga? Kalau bisa, tangga yang di dalam.” tanya Dimas sambil menunduk, fokus menyolek salep dari dalam kemasan. “Kenapa?” Dimas terdiam. Matanya menatap Karina datar. Wanita itu membalasnya dengan ekspresi penuh tanya, seperti tak menemukan petunjuk secuil pun. “Biar kalau kamu kenapa-kenapa, aku bisa nolongin.” Karina menunduk, lalu menggeleng pelan. “Nggak. Aku nggak bisa sembarangan kasih kunci.” ucapnya lirih, pandangannya beralih pada Dimas, tegas tak terbantah. “Kar, suami kamu temperamental. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi ke depan. Buat jaga-jaga aja.” Sungguh, Dimas tak ada maksud jahat, entah menyusup ke lantai satu untuk mencuri atau memanfaatkan keadaan mendekati Karina yang sendirian. Sama sekali tidak. Dia hanya ingin Karina selamat dari teror suami yang kasar. Bahkan kalau bisa, selamat dari pernikahan neraka yang wanita itu jalani. Namun, tatapan tajam Karina padanya menyadarkan Dimas. Dia hanya penghuni kos yang baru pindah. Karina tentu belum menaruh percaya padanya. “Oke.” Dimas tertunduk. Mau bagaimana lagi. “A-aku … balik duluan.” Karina mundur, namun kakinya tersandung ember cucian milik Dimas yang masih terisi penuh. Wanita itu memekik, tangannya mencari-cari pegangan, keseimbangannya kacau. “Awas!” Dimas berseru, refleks tergerak menolong. Detik berikutnya, suara berdebum terdengar. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Dimas tak sadar dirinya yang berniat menarik tangan Karina malah terseret dan berakhir mendarat di atas tubuh Karina—dengan sentuhan lembut dan lunak di bagian dadanya. Dimas mendelik. Sekujur tubuhnya menegang. Jantungnya memompa cepat. Kejantanannya bereaksi. Segala umpatan sumpah serapah banjir di kapala, menghakimi takdir dan kebodohan Dimas yang seharusnya buru-buru bangkit. Namun alih-alih menjauh, badannya malah berkhianat. Napasnya menderu, panjang dan dalam. Karina meringis, setengah terpejam dia menoleh ke wajah Dimas yang nyaris tak berjarak di depan wajahnya. Dan tatapan itu, bagai memanggil akal sehat Dimas untuk mengambil kendali. “M-maaf.” Dimas buru-buru bergegas bangkit. Namun baru sempat menggerakkan lutut, hal yang paling mengejutkan terjadi. Karina menahan tangannya. Kali ini, kewarasan Dimas dibuat rontok hingga nyaris tak tersisa.“Jadi, setelah hampir satu bulan di sini, kalian nemuin sesuatu yang mencurigakan nggak dari penghuni kos-kosan di sini?” Dimas membuka suara. Di lantai kamar Agus dan Jimmy, mereka duduk bertiga membentuk lingkaran.“Hm … “ Agus melirik ke arah Jimmy sekilas. “Saya sih, nggak curiga ke siapa-siapa ya Mas.” gumamnya, lalu mengembalikan pandangan ke arah Dimas.“Gue ya, gue sih curiga sama si Zaki. Itu orang kasarnya kebangetan. Inget nggak kemarin waktu gue nggak sengaja numpahin air panas ke baju dia?”“Yaa itu sih kamunya juga yang kebangetan, Koh.” Agus melirik sinis ke arah Jimmy, yang langsung dibalas tatapan tajam Jimmy.“Gue nggak sengaja anjir!” “Selain itu?” Dimas buru-buru memotong. “Kalian curiga sama Irwan nggak? Atau Zee? Amel? Nita?” Agus dan Jimmy mengernyit. Tiba-tiba, Jimmy menepuk keras tangannya.“Dim! Gue juga baru inget nih. Kemarin waktu gue lagi ngetik di pinggir pintu, itu dia jalan mondar mandir di depan kamar lo!”Dimas menyipitkan mata. “Serius?” “Serius!
Malam berikutnya, Dimas sedang berada di kamar, sibuk membuat website resmi untuk lembaga kursus yang akan didirikan Karina. Tiba-tiba suara ketukan pintu memecah fokusnya.Tok! Tok! Tok!Dengan kening berkerut, pria itu menoleh ke arah pintu, menyahut lantang. “Siapa?”Hening.“Gue!”Itu suara berat perempuan yang khas. Zee.Dimas menarik mundur punggungnya, bersandar ke dinding.Untuk apa Zee menemuinya ke kamar?Pertanyaan itu akhirnya berakhir dengan bangkitnya Dimas menghampiri pintu. Ketika dia membukanya, tampak seorang wanita berambut potongan laki-laki sedang menyodorkan satu kotak makanan dengan aroma roti bakar menguar harum ke mana-mana. Kemeja kotak-kotak yang dia pakai benar-benar membuatnya semakin terlihat maskulin.Wanita itu sama sekali tak menatap Dimas. Wajahnya dipalingkan ke arah lain.“Makasih.” Zee berbisik rendah. Suaranya nyaris tak terdengar. “Lo … Udah bantuin gue tadi.”Dimas menaikkan sebelah alis. Sedikit ragu untuk menerimanya. Bagaimana kalau makanan
[ Mari kita lihat, siapa yang runtuh lebih dulu. ]Tulisan itu diketik, tidak ditulis dengan tangan. Seolah pelaku tahu bahwa tulisan tangan bisa dilacak dengan mudah. Pandangan Dimas bergetar. Tangannya meremat kertas itu kuat-kuat. Rahangnya mengeras, gelegak amarah membuncah di dadanya.Kalau dia beritahukan ancaman ini pada Karina, wanita itu bisa ikut panik. Apalagi, dia tinggal sendiri di sana. Hal yang paling Dimas khawatirkan sebenarnya, pelaku nekat menyerang Karina secara langsung. Ah, CCTV.Bagaimana mungkin dia bisa lupa?Dimas menatap langit-langit kamar. Tidak ada.Dia kembali beranjak ke luar pintu. Kepalanya masih menenggak untuk menelisik setiap sisi. Tidak ada juga.Napasnya dihembuskan berat. Kos-kosan ini belum dipasang CCTV. Seandainya sudah, seharusnya dia bisa melacak siapa yang meletakkan kotak ini ke depan kamarnya.Dimas kembali ke dalam kamar. Kemudian meraih ponsel untuk mengetik pesan ke nomor Rudi.[ Tolong pasang CCTV di lorong kosan atas dan bawah,
Begitu pandangan Nita bertemu dengan Dimas, wanita itu membuka mulut, terperangah total. Dimas mengernyit dalam. Kenapa Nita harus seterkejut itu? Karena tertangkap basah menghabiskan malam dengan kliennya di kamar kosan? Atau … Karena mengenali Dimas—yang tiba-tiba berada di kosan ini? Dimas menyipikan mata. Fitur wajah Nita terlihat sangat tidak alami. Tak hanya wajah, tubuhnya pun terlihat berlebihan di mata Dimas. Cukup kentara bahwa wanita itu telah melalui serangkaian sentuhan dokter kecantikan. Tak menemukan alasan untuk berinteraksi lebih jauh, Dimas melewati wanita itu, melanjutkan langkah menuju kamar. Setelah menutup pintu, pria itu menghela napas sambil mendudukkan diri di sisi kasur. Tangannya menjangkau rambut, menyisirnya pelan ke belakang. Sekarang, dia sudah bertemu dengan seluruh penghuni kos. Irwan, masih menyimpan misteri. Caranya menatap Dimas cukup berbeda. Alih-alih tatapan seorang rekan kos, matanya seperti sedang menargetkan mangsa. Zaki, fisikny
“Kak, malam minggu ini … ada waktu nggak?”Dimas yang tak siap dengan reaksi di luar prediksi itu tentu terheran-heran. Namun saat dia tanpa sengaja menoleh ke samping ….Ternyata Karina sedang berjalan ke arahnya, dan kini berdiri mematung menatap mereka. Dengan gerakan cepat, Dimas melepas tangan wanita muda itu dan berjalan mundur.“Maaf. Saya ada janji.”Wanita itu tersenyum sekilas. Mengingatkan Dimas pada salah satu foto penghuni kos yang pernah disebutkan Rudi.“Amelia. Usia 22. Mahasiswa tingkat akhir fakultas ekonomi di kampus swasta terdekat. Jarang terlihat keluar dari kamar. Tapi kabarnya sering terdengar suara video call mesra dari kamar itu sepanjang malam.”Dimas memalingkan wajah pada Karina yang kini membuang tatapan ke arah lain.“Kak, boleh minta nomornya? Kakak … tipe aku banget.” wanita bernama Amelia itu menarik tangan Dimas, menggenggamnya erat tanpa melepas tatapan lekat dari wajah pria itu. “Nama kakak siapa?”Lagi, Dimas menepis tangannya dengan tegas. Wajah
Caca tertawa kecil. “Masa sih Pak Dimas kayak gitu orangnya? Saya lihat sih, kayaknya setia deh. Walau yah … ada beberapa momen yang bikin saya emosi juga sih sama beliau.”Dimas tertegun. Rahangnya menegang.“Gus … tanya lebih detail.”Di dapur, Agus berdehem kecil. “Momen apa tuh Mbak? Soalnya, saya sendiri … punya banyak momen yang bikin saya emosi ke Dimas juga Mbak. Banyak banget malah.”“Oh ya?” Caca menatap Agus dengan senyum miring. “Hm … apa ya, saya nggak suka beliau suka ikut campur urusan pribadi saya sih. Adalah ceritanya. Intinya pada saat itu, saya sempat merasa lost respect sama beliau. Tapi … sekarang udah nggak sih.”Dimas mengerutkan dahi.“Gus, tanya. Seberapa jauh dia kesal? Apa dia pernah sampai di batas … berniat celakai gue?”Agus meneguk ludah. Ini pertanyaan yang sangat blak-blakan untuk diajukan pada orang yang baru kenal.“Mas Agus, saya duluan ya.” Caca mengangkat mangkuk berisi mie gorengnya, lalu memutar bahu dan berjalan menjauhi Agus. Kontan saja Agus







