LOGINDimas menunggu beberapa detik. Hanya terdengar suara tangis tertahan dari seberang. Dadanya ikut menegang.
“Saya turun sekarang.” gumamnya setengah panik, lebih pada pernyataan daripada permohonan. Dimas mematikan sambungan telepon. Lalu beranjak menuruni anak tangga dengan langkah lebar. Udara pengap menyambut, suasana gelap yang sedikit remang karena cahaya matahari dari kisi-kisi di atas pintu depan menyergap pandangan. Pria itu menoleh ke sana ke mari, mencari di mana kemungkinan Karina berada. Hingga, terdengar suara isakan samar yang tampaknya berasal dari sebuah kamar yang pintunya ditutup. Dimas melangkah menghampirinya. Tok! Tok! Tok! “Kar ….” Setelah beberapa saat, kenop pintu bergerak. Pintu berayun terbuka. Karina muncul di baliknya dengan wajah berlinang air mata. Dimas menghela napas berat. “Kamu dipukul lagi?” Karina tak menjawab. Namun matanya terus menatap wajah Dimas, tatapan memilukan yang mengajak Dimas ikut merasakan perih. Keduanya hanya saling menatap, hingga … air mata Karina semakin deras. Bahunya berguncang. Tanpa diduga, wanita itu melingkarkan lengannya memeluk Dimas. Tangisnya pecah dalam pelukan Dimas. Ragu-ragu, tangan Dimas terangkat, balik memeluk Karina erat. Mengusap punggungnya, mengelus kepalanya, dan mendengar irama perihnya luka dari tangisan Karina. Dimas tak berkata apa-apa, namun tangannya yang bergerak menenangkan Karina mengatakan semuanya. “Susah payah aku berusaha biar aku bisa hamil anaknya, Dim.” Karina mengambil jeda demi isakan sesaat, “Reno … malah hamilin pacarnya.” Dimas menegang. Rahangnya menguat kencang. Untuk sesaat, tangannya berhenti mengusap punggung Karina. Amarahnya menggelegak. Ada ya laki-laki seberengsek ini? Entah harus dengan kalimat apa Dimas menenangkan Karina. Dia sendiri tak terbayangkan bagaimana sakitnya berada di posisi Karina. Bahkan mungkin tak ada kalimat penghiburan yang tepat untuk melenyapkan luka wanita ini. “Kar … aku bisa bantu lunasin hutang kamu.” “Nggak, Dim.” “Berapa?” “Nggak. Jangan libatkan diri kamu ke masalahku. ” Dimas menghela napas berat. Iya, Dimas tahu. Dia memang cuma penghuni kos yang bahkan pernah meninggalkan jejak trauma di hidup Karina. Tetapi … dia tak bisa hanya diam. Apalagi yang tersakiti adalah wanita yang dulu pernah dia damba sebegitu hebatnya. “Bilang aku apa yang kamu butuhkan, Kar. Apa pun. Kapan pun. Aku janji bakal bantu sebisaku.” Dimas berbisik di telinga Karina. Tangannya di punggung Karina sedikit gemetar karena amarah yang tertahan. Tiba-tiba, Karina menjauhkan dirinya, lantas mendongak. Memperlihatkan wajahnya yang basah dengan air mata. “Dimas …” bisik Karina perlahan. Suaranya parau, kedua matanya terbuka lebar, dipenuhi kilatan membara yang tampaknya gelora dendam. Tangannya lalu beranjak menarik kedua sisi area kerah kaos Dimas. “Tolong. Hamilin aku.” Jantung Dimas bagai terhentak keras. Matanya membeliak. Keningnya berkerut tak percaya. “Kamu gila, Kar?” ucapnya dengan nada tinggi, diiringi sebuah gelengan. “Nggak.” Karina melepas seluruh rengkuhannya, menarik tangan Dimas, menyeretnya ke dalam kamar. Wanita itu lalu menutup pintu dan … Crek! Menguncinya. “Kar … kamu ….” Dimas masih setengah tak percaya menatap daun pintu yang kuncinya telah dicabut. Dilempar Karina ke tengah kasur. Udara yang pengap terasa semakin menyesakkan. Tak ada kipas. Tak ada penerangan lampu. Hanya ada ketegangan yang menggantung pekat. Karina mengusap sisa air mata di wajahnya. Kini, tak ada lagi ekspresinya yang lara. Yang tertinggal justru tatapan penuh tekad yang membara. “Aku nggak gila, Dim.” Karina menarik kuncir rambutnya. Ketika tali itu tak lagi membelit surai hitamnya, wanita itu menggeleng, membiarkan rambut panjangnya yang bergelombang tergerai memikat. “Kamu bilang, kamu mau menebus kesalahanmu kan?” Dimas menelan saliva, mencoba mengais sisa akal sehat di kepala. Namun alih-alih waras, tubuhnya malah bereaksi jujur. Sialan. “Kamu juga bilang, kamu mau bantu aku … apa pun dan kapan pun, kan?” bisik Karina dengan suara serak. Wanita itu melangkah mendekat. Membiarkan tubuh mereka saling berdiri berhadapan. “Kar, kamu cuma lagi emosi. Jangan ambil keputusan dulu. Kamu mau akhirnya kacau semua?” Dimas mencoba meyakinkan. Walau, setan dalam diri Dimas mengutuk kalimatnya. “Semuanya udah hancur sejak awal, Dim. Reno pikir aku hanya akan diam aja selamanya? Nggak.” Karina melayangkan tangannya menggelayut di pundak Dimas. Dimas meremang. Sentuhan Karina di pundaknya bagai perintah bagi jantungnya untuk berdetak tak karuan. Irama napasnya mulai berubah, panjang dan dalam. “Aku mau dia tahu, seperti apa rasanya nggak mendapatkan apa yang dia mau. Sakit dibalas sakit Dim. Nggak akan kubiarkan dia dapatkan saham restoran, seperti aku yang nggak bisa lunasi hutangku.” Detik berikutnya, Karina melakukan hal paling gila yang pernah terpikir di benak Dimas. Dia melepas kaos rumahannya yang bagi Dimas terlalu sempit itu. Memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang mulus dengan hanya sebuah bra berenda. Berengsek. Dimas mengutuk dirinya ketika bagian bawah tubuhnya mulai bereaksi. Tahan Dimas … Tahan … Bagaimanapun, Karina istri orang. Dia belum benar-benar berpisah dari pasangannya. “Dim … bantu aku.” Dimas mengambil satu langkah mundur. Tindakannya kontra dengan deru napasnya yang jelas dikuasai gelombang hasrat. Di hadapan Karina yang sudah menanggalkan pakaian, sisa akal sehatnya masih mengambil kendali: Jangan. Tidak boleh. Tetapi … Bukankah Karina tersiksa dalam pernikahannya? Dia membutuhkan orang lain yang lebih layak, yang tulus mencintainya, dan bahkan … menyentuhnya tanpa motif tersembunyi apa pun. Bukankah dia yang lebih pantas? Karina melangkah maju, mendekat, dan kali ini mendaratkan kedua tangannya di sisi wajah Dimas. Kemudian berjinjit untuk berbisik, “Sentuh aku, Dim.” Dan bisikan serak penuh undangan itu, baru saja memutus sisa kewarasan Dimas.“Jadi, setelah hampir satu bulan di sini, kalian nemuin sesuatu yang mencurigakan nggak dari penghuni kos-kosan di sini?” Dimas membuka suara. Di lantai kamar Agus dan Jimmy, mereka duduk bertiga membentuk lingkaran.“Hm … “ Agus melirik ke arah Jimmy sekilas. “Saya sih, nggak curiga ke siapa-siapa ya Mas.” gumamnya, lalu mengembalikan pandangan ke arah Dimas.“Gue ya, gue sih curiga sama si Zaki. Itu orang kasarnya kebangetan. Inget nggak kemarin waktu gue nggak sengaja numpahin air panas ke baju dia?”“Yaa itu sih kamunya juga yang kebangetan, Koh.” Agus melirik sinis ke arah Jimmy, yang langsung dibalas tatapan tajam Jimmy.“Gue nggak sengaja anjir!” “Selain itu?” Dimas buru-buru memotong. “Kalian curiga sama Irwan nggak? Atau Zee? Amel? Nita?” Agus dan Jimmy mengernyit. Tiba-tiba, Jimmy menepuk keras tangannya.“Dim! Gue juga baru inget nih. Kemarin waktu gue lagi ngetik di pinggir pintu, itu dia jalan mondar mandir di depan kamar lo!”Dimas menyipitkan mata. “Serius?” “Serius!
Malam berikutnya, Dimas sedang berada di kamar, sibuk membuat website resmi untuk lembaga kursus yang akan didirikan Karina. Tiba-tiba suara ketukan pintu memecah fokusnya.Tok! Tok! Tok!Dengan kening berkerut, pria itu menoleh ke arah pintu, menyahut lantang. “Siapa?”Hening.“Gue!”Itu suara berat perempuan yang khas. Zee.Dimas menarik mundur punggungnya, bersandar ke dinding.Untuk apa Zee menemuinya ke kamar?Pertanyaan itu akhirnya berakhir dengan bangkitnya Dimas menghampiri pintu. Ketika dia membukanya, tampak seorang wanita berambut potongan laki-laki sedang menyodorkan satu kotak makanan dengan aroma roti bakar menguar harum ke mana-mana. Kemeja kotak-kotak yang dia pakai benar-benar membuatnya semakin terlihat maskulin.Wanita itu sama sekali tak menatap Dimas. Wajahnya dipalingkan ke arah lain.“Makasih.” Zee berbisik rendah. Suaranya nyaris tak terdengar. “Lo … Udah bantuin gue tadi.”Dimas menaikkan sebelah alis. Sedikit ragu untuk menerimanya. Bagaimana kalau makanan
[ Mari kita lihat, siapa yang runtuh lebih dulu. ]Tulisan itu diketik, tidak ditulis dengan tangan. Seolah pelaku tahu bahwa tulisan tangan bisa dilacak dengan mudah. Pandangan Dimas bergetar. Tangannya meremat kertas itu kuat-kuat. Rahangnya mengeras, gelegak amarah membuncah di dadanya.Kalau dia beritahukan ancaman ini pada Karina, wanita itu bisa ikut panik. Apalagi, dia tinggal sendiri di sana. Hal yang paling Dimas khawatirkan sebenarnya, pelaku nekat menyerang Karina secara langsung. Ah, CCTV.Bagaimana mungkin dia bisa lupa?Dimas menatap langit-langit kamar. Tidak ada.Dia kembali beranjak ke luar pintu. Kepalanya masih menenggak untuk menelisik setiap sisi. Tidak ada juga.Napasnya dihembuskan berat. Kos-kosan ini belum dipasang CCTV. Seandainya sudah, seharusnya dia bisa melacak siapa yang meletakkan kotak ini ke depan kamarnya.Dimas kembali ke dalam kamar. Kemudian meraih ponsel untuk mengetik pesan ke nomor Rudi.[ Tolong pasang CCTV di lorong kosan atas dan bawah,
Begitu pandangan Nita bertemu dengan Dimas, wanita itu membuka mulut, terperangah total. Dimas mengernyit dalam. Kenapa Nita harus seterkejut itu? Karena tertangkap basah menghabiskan malam dengan kliennya di kamar kosan? Atau … Karena mengenali Dimas—yang tiba-tiba berada di kosan ini? Dimas menyipikan mata. Fitur wajah Nita terlihat sangat tidak alami. Tak hanya wajah, tubuhnya pun terlihat berlebihan di mata Dimas. Cukup kentara bahwa wanita itu telah melalui serangkaian sentuhan dokter kecantikan. Tak menemukan alasan untuk berinteraksi lebih jauh, Dimas melewati wanita itu, melanjutkan langkah menuju kamar. Setelah menutup pintu, pria itu menghela napas sambil mendudukkan diri di sisi kasur. Tangannya menjangkau rambut, menyisirnya pelan ke belakang. Sekarang, dia sudah bertemu dengan seluruh penghuni kos. Irwan, masih menyimpan misteri. Caranya menatap Dimas cukup berbeda. Alih-alih tatapan seorang rekan kos, matanya seperti sedang menargetkan mangsa. Zaki, fisikny
“Kak, malam minggu ini … ada waktu nggak?”Dimas yang tak siap dengan reaksi di luar prediksi itu tentu terheran-heran. Namun saat dia tanpa sengaja menoleh ke samping ….Ternyata Karina sedang berjalan ke arahnya, dan kini berdiri mematung menatap mereka. Dengan gerakan cepat, Dimas melepas tangan wanita muda itu dan berjalan mundur.“Maaf. Saya ada janji.”Wanita itu tersenyum sekilas. Mengingatkan Dimas pada salah satu foto penghuni kos yang pernah disebutkan Rudi.“Amelia. Usia 22. Mahasiswa tingkat akhir fakultas ekonomi di kampus swasta terdekat. Jarang terlihat keluar dari kamar. Tapi kabarnya sering terdengar suara video call mesra dari kamar itu sepanjang malam.”Dimas memalingkan wajah pada Karina yang kini membuang tatapan ke arah lain.“Kak, boleh minta nomornya? Kakak … tipe aku banget.” wanita bernama Amelia itu menarik tangan Dimas, menggenggamnya erat tanpa melepas tatapan lekat dari wajah pria itu. “Nama kakak siapa?”Lagi, Dimas menepis tangannya dengan tegas. Wajah
Caca tertawa kecil. “Masa sih Pak Dimas kayak gitu orangnya? Saya lihat sih, kayaknya setia deh. Walau yah … ada beberapa momen yang bikin saya emosi juga sih sama beliau.”Dimas tertegun. Rahangnya menegang.“Gus … tanya lebih detail.”Di dapur, Agus berdehem kecil. “Momen apa tuh Mbak? Soalnya, saya sendiri … punya banyak momen yang bikin saya emosi ke Dimas juga Mbak. Banyak banget malah.”“Oh ya?” Caca menatap Agus dengan senyum miring. “Hm … apa ya, saya nggak suka beliau suka ikut campur urusan pribadi saya sih. Adalah ceritanya. Intinya pada saat itu, saya sempat merasa lost respect sama beliau. Tapi … sekarang udah nggak sih.”Dimas mengerutkan dahi.“Gus, tanya. Seberapa jauh dia kesal? Apa dia pernah sampai di batas … berniat celakai gue?”Agus meneguk ludah. Ini pertanyaan yang sangat blak-blakan untuk diajukan pada orang yang baru kenal.“Mas Agus, saya duluan ya.” Caca mengangkat mangkuk berisi mie gorengnya, lalu memutar bahu dan berjalan menjauhi Agus. Kontan saja Agus







