Compartir

6. Mati Listrik

Autor: Harucchi
last update Última actualización: 2025-09-19 10:23:27

Reno di lantai dua. Fakta itu bagai mimpi buruk yang mengacak-acak nyali Karina.

“Aku harus keluar sekarang.” Karina menepis kasar tangan Dimas. Namun pria itu malah menarik tanganya.

“Tunggu.”

Karina mendongak, memicing sengit.

“Kalau dia lukai kamu sekali lagi ….” Dimas mengambil jeda, tatapannya teguh, “Aku yang maju.”

Karina membeku. Matanya berkilat sendu. Sesaat benaknya dipenuhi kecamuk dilema. Kenapa … ketika dia pada akhirnya menemukan rasa aman, datangnya justru dari laki-laki lain … yang bukan suaminya?

“Karinaa!!” Suara garang itu kembali terdengar.

Karina kembali menangkis tangan Dimas, lalu keluar dari ruangan kecil itu menuju ke dalam rumah. Di depan pintu balkon yang berhadapan langsung dengan tangga menuju lantai satu, dia bertemu Reno.

Pria itu berdiri tegak di atas anak tangga tertinggi. Matanya menyorot tajam. Tangannya menekan susuran tangga begitu erat. Di sisi lain, ada Jimmy yang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri.

“Nah, itu Mbak Karina tuh Pak.” sahut Jimmy. “Mbak, dicariin Bapak.”

Karina terpaku. Apa tadi Reno sempat menanyakan keberadaannya pada Jimmy?

Jimmy menyipitkan mata. Tangannya terangkat menggaruk kepala. “Eh tapi … perasaan tadi di balkon belakang adanya si orang baru.”

Karina tersentak, matanya membelakak, mulutnya terbuka sekelumit, hendak mengarang sebuah alasan yang sayangnya … tak juga muncul di kepala.

Sementara itu, Reno menatap tajam Karina dan Jimmy bergantian. Pada Karina, pria itu menggerakkan dagunya ke arah lantai satu, sebuah perintah tanpa suara agar Karina kembali ke bawah.

“Diminta bikin kopi malah jemur cucian nggak kelar-kelar.” Sungutnya dengan suara meredam, langkahnya semakin jauh menyusuri satu per satu anak tangga.

Sedangkan Jimmy, mengangguk sopan pada Karina lalu masuk ke kamarnya sambil tersenyum canggung.

Selamat.

Usai mengambil napas panjang, Karina bergegas turun menuju dapur. Kemudian menyiapkan kopi.

Dengan hati-hati, Karina membawa cangkir kopi yang mengepulkan uap panas ke ruang tengah. Namun dilihatnya Reno sudah melangkah keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Tangannya menyambar kunci mobil di atas meja, sedangkan tangan yang lain merapatkan ponsel ke telinga.

“Iya. Aku ke sana sekarang.” sahut pria itu tanpa mengacuhkan Karina.

“Mas! Mau kemana? Kopinya?”

Dan seperti biasa, sahutan Karina tak bersambut apa-apa.

Wanita itu terpaku menatap sang suami menaiki mobil yang sudah menyala mesinnya. Hanya bisa mengernyit dengan segelas kopi yang masih penuh tanpa dia tahu akan berakhir ke mana—mungkin ke saluran pembuangan air.

Begitu mobil meninggalkan pelataran, Karina meletakkan kopi di tangannya ke meja. Bergegas dia menutup pintu pagar yang tak dirapatkan seenaknya. Lalu berjalan tenang ke kamar setelah sebuah helaan berat.

Kepalanya pening. Sungguh, dia ingin cepat-cepat berpisah dari Reno.

Dibukanya lemari pakaian, dicarinya sebuah lembar cetak lebar yang menampilkan utang pinjaman bersama bunganya. Dibawanya kertas itu duduk di sisi kasur. Tangannya memijit pelipis yang semakin berdenyut.

Hingga saat ini jumlah yang harus dia bayar sudah menyentuh angka satu miliar, dan angka itu akan terus bertambah semakin lama dia menunda pembayaran—dalam bentuk uang, atau ….

Keturunan dari Reno.

Semua ini gara-gara Ibunya meminjam uang tanpa berpikir panjang. Bertahun-tahun lalu, mereka memang terdesak karena membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Ayah. Namun pada akhirnya, Ayah tak selamat. Dan perjuangan mereka menyisakan utang yang tak sanggup mereka lunasi.

Keluarga Reno dan keluarga Karina memang kerabat dekat. Mereka tahu persis bagaimana kemampuan keuangan keluarga Karina, sehingga menawarkan jalan keluar lain dari pelunasan dengan uang, yaitu dengan melahirkan keturunan dari Reno.

Mereka berharap, kehadiran Karina sebagai seorang istri akan memalingkan Reno dari rasa cintanya terhadap Rachel, dan munculnya seorang anak akan berperan seperti jangkar yang menjamin Reno tak kembali lagi pada wanita itu.

Reno sendiri pada akhirnya terpaksa menikahi Karina karena iming-iming kepemilikan restoran keluarga Reno yang cabangnya telah menyebar di mana-mana. Hingga … mereka kini terjebak dalam ikatan yang sama-sama tak mereka inginkan.

Karina melipat kertas itu kembali. Dadanya sesak hanya dengan melihat angka itu.

Sekarang, dia harus bagaimana agar bisa segera hamil anak Reno? Rasanya terlalu mustahil mengingat betapa Reno sangat tergila-gila pada Rachel.

Saat tanpa sengaja memalingkan wajah ke samping, sepasang mata Karina menyipit, menangkap sesuatu yang lekas membuat dadanya panas.

Sebuah foto rekaman USG, terselip di bawah laptop Reno.

Tergesa Karina menyambarnya.

Pasien : Ny. Rachel

Jantung Karina rasanya seperti dihantam ribuan luka.

*

Dimas yang baru saja selesai mandi, sedang memakai kaos di kamarnya ketika tiba-tiba …

Pet!

Kipas angin berhenti berputar. Lampu kamar padam. Ponselnya yang sedang diisi daya berpendar, menandakan pengisian baterai terhenti.

Listrik padam.

Dimas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apakah pemadaman listrik dari pusat? Atau listrik turun?

Dimas beranjak mengambil ponsel, kemudian ke luar kamar untuk memeriksa situasi. Tepat saat itu, didapatinya Jimmy juga ke luar kamar.

“Listrik mati ya?” tanya Jimmy sambil celingukan.

Dimas mengangguk. “Kayaknya.”

“Panas banget, gila.” Jimmy menarik area kerah kaosnya, mengibas-ngibasnya.

Hendak memastikan kondisi di lantai satu, Dimas melongok ke bawah melalui langit-langit terbuka di depan kamar, tangannya berpegangan pada susuran yang mengelilingi area kosong itu.

Suasana di bawah nyaris gelap total, mungkin karena pintu depan dan semua gorden ditutup rapat. Dilihatnya Jimmy sedang membuka lebar-lebar pintu utama dan semua jendela di lantai dua, membiarkan cahaya matahari masuk dan juga udara bertukar bebas.

“MCB-nya dimana ya Jim?” tanya Dimas sedikit lantang.

“Di bawah kayaknya. Pernah lihat di ruang tamu bawah.” sahut Jimmy, pria itu sedang melangkah mendekat.

“Eh Bang, namanya siapa?” tanya Jimmy, tangannya terulur ke arah Dimas.

“Dimas.” jawab Dimas yang menjabat tangan Jimmy.

“Pinjam power bank punya nggak?” Jimmy menggaruk tengkuk, terkekeh canggung.

Dimas yang sedang mencari kontak Karina di ponsel mengangguk sesaat, “Ada. Bentar.”

Pria itu kembali ke kamar, meraih sebatang power bank di atas meja, lalu kembali keluar, menyerahkannya pada Jimmy.

“Thanks ya. Nanti gue balikin.” ucap Jimmy sambil tersenyum lebar. Setelah pria itu masuk ke kamarnya yang dibiarkan terbuka, Dimas menekan tombol ‘dial’ di ponsel, menghubungi Karina.

Ditempelkannya benda pipih itu ke telinga. Sambil menunggu nada sambung berbunyi, Dimas melongok ke lantai bawah. Mana tahu Karina lewat sehingga bisa dia panggil tanpa harus menelepon.

Namun rupanya, panggilan itu bersambut suara serak Karina.

“Halo?”

“Mm— “ Dimas melirik Jimmy yang sedang rebah di kamar, pintunya dia biarkan terbuka lebar. Dimas tidak bisa sembarangan panggil ‘Karina’ saat ini. “—Mbak … ini, listriknya mati atau turun ya?”

Tak terdengar jawaban Karina di seberang, yang dia dapati malah suara isakkan pelan.

Kening Dimas lekas berkerut. “Halo?”

“Aku nggak tau Dim.” suara itu parau, serak dan bersambut isakan lain yang menggetarkan hati Dimas.

Karina menangis. Pikiran Dimas tak bisa tak melayang pada kemungkinan bahwa wanita itu habis dihajar lagi oleh suaminya. Apalagi tadi … si bajingan itu sempat mencari-cari Karina dengan suara bernada kasar.

Dimas beralih menatap pintu gerbang penutup tangga yang menyatu dengan susuran tempatnya berpegangan. Pintu itu masih terbuka setelah tadi Karina habis menjemur.

“Saya izin ke bawah sekarang ya?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Sadri Khairuddin
dilanjut yuk
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Godaan Ibu Kos Cantik   260. Kamu 'mau'?

    Dimas hampir menahan napas ketika Karina menurunkan wajahnya ke bawah, ke bagian pribadinya yang sudah mendesak tegak. Jakunnya naik turun merasakan kecanggungan.Waktu seolah berhenti. Menciptakan hening yang hanya diisi suara tetesan air dari kran. Bunyinya pelan, namun entah mengapa seperti dentuman raksasa di telinga Dimas. Kehangatan kulit Karina yang kontras dengan dinginnya keramik lantai kamar mandi, kini mengacak-acak kesadarannya. Karina terpaku, matanya yang masih basah dengan sisa tangis menatap dada Dimas yang naik turun dengan ritme cepat. Lalu beralih pada wajah Dimas yang kini memerah hebat hingga ke telinga.“Dim ….” Karina berbisik pelan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Dimas menarik tangannya, melepas sentuhan dari area berbahaya itu. “Maaf.” ucapnya, dengan suara yang diselingi napas cepat, sebuah wujud nyata dari hadirnya desakan kebutuhan.“Kecoaknya udah nggak ada. Aku keluar.” Dimas berbalik cepat. Namun tangan Karina menariknya. “Tunggu.”Dimas kembali

  • Godaan Ibu Kos Cantik   259. Hal fatal di kamar mandi

    “Kar. Sementara, kita pulang ke kontrakanmu dulu.” Dimas menatap kosong pada layar ponselnya. Sementara itu, Karina membeku. Alisnya lantas bertaut, seolah bisa menebak apa yang sedang terjadi.“Ada masalah lagi … di apartemen?”Dimas mengangguk, lalu menjawab sambil mengusap wajahnya. “Iya. Aku lupa untuk diskusi dengan manajemen soal saran keamanan dari mereka.” Napasnya lalu dihembuskan berat. Diliriknya jam tangan. Sudah lewat dari tengah malam. “Sekarang sudah selarut ini.”“Mau diantar sekalian ndak Mas?” Suara itu memecah fokus Dimas. Membuatnya tersadar bahwa Agus masih berada di antara mereka. Pria itu sedang merapikan tensimeter dan melepas sarung tangan karet dari tangannya.“Tak antar sekalian naik ambulans. Sampeyan kaca mobilnya pecah, toh?” Agus bertanya tanpa mengalihkan fokus dari kotak peralatan medis yang dipeluknya.Dimas melirik Karina, bertanya tanpa suara. Wanita itu mengangkat bahunya sejenak, sepenuhnya melepas keputusan pada Dimas.“Nggak perlu. Gue pesen ta

  • Godaan Ibu Kos Cantik   258. Pulang ke kontrakanmu dulu

    Dimas melirik Agus tajam. “Dalam pengawasan gue.”“Siap Mas.” Agus mengangguk cepat. “Ngomong-ngomong, anu … karena ndak ada kursi, kita ke kabin belakang ambulans gimana Mas?” Agus mengarahkan satu jempolnya ke arah ambulans. Dimas beralih ke arah Karina, wanita itu mengangguk setuju. Maka, keduanya mengikuti Agus menuju pintu belakang ambulans. Di dalam, Karina duduk dengan Dimas mendampingi di sebelahnya.“Mbak Karina, permisi ya. Saya tensi dulu.” ucap Agus dengan nada bicara profesional. Dia memasang alat pengukur tensi di lengan Karina. Gerakannya penuh hati-hati, sadar bahwa Dimas mengawasinya.“Tensinya agak tinggi ya, Mbak. Wajar karena syok.”Dimas mengepalkan tangan. Ucapan Agus mengalirkan sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Ketika Agus merapikan perangkat pengecek tensi itu, tatapan Karina pindah pada Dimas, seperti mencari rasa aman. Dimas meraih tangan wanita itu, menggenggamnya. Sesuatu yang dulu tak akan pernah dia lakukan di depan Agus maupun Jimmy.Namun sekar

  • Godaan Ibu Kos Cantik   257. Boleh saya periksa Mbak Karina?

    “Maaf?” Dimas mendengus. “Mudah banget lo bilang maaf.”Agus menunduk lebih dalam. “Saya tahu saya salah. Saya dibutakan kondisi darurat Mas. Ibu saya waktu itu sekarat. Saya butuh uang untuk operasi Ibu. Saya ingat Mas Dimas sempat kasih saya uang melalui Koh Jimmy, sepuluh juta. Itu uang yang sangat cukup untuk biaya operasi Ibu saya Mas. Tapi saat itu … saya terlalu … menjaga harga diri.” Agus terbatuk kecil, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri.“Lalu, Pak Reno datang dan kasih saya tawaran itu Mas. Awalnya saya pikir, dengan saya bantu Pak Reno, saya juga bisa berdamai dengan dendam di dalam diri saya sendiri Mas. Tapi ternyata … setelah saya sadari, yang saya rasakan ketika melihat sampeyan dengan Mbak Karina itu bukan dendam.” Agus menghela napas berat. “Tapi rasa iri.”Dimas mengikuti arah pandangan Agus. Pada bagaimana kakinya memainkan batu di ujung sepatu. Mungkin dia gelisah. Mungkin butuh keberanian besar baginya untuk mengakui itu.“Saya iri sama sampeyan yang bi

  • Godaan Ibu Kos Cantik   256. Mudah banget lo bilang maaf?

    Seorang polisi menghampiri Dimas yang masih berada di mobil. “Selamat malam, Pak. Mohon izin. Kendaraan ini akan kami amankan sementara sebagai barang bukti.”Dimas menghela napas berat, lalu mengangguk dengan mata terpejam. “Oke. Silakan.”Begitu petugas tadi berlalu pergi, Dimas membuka pintu dan turun. Kakinya menginjak aspal dengan sedikit terhuyung, masih merasakan sisa-sisa adrenalin. Pria itu lalu berjalan perlahan ke pintu penumpang depan, hendak menuntun Karina. Begitu langkah Karina berpijak ke aspal, bibirnya meloloskan rintihan lirih. Sesuatu yang membuat Dimas seketika tersentak dalam mode siaga.“Kar? Ada yang sakit?” Dimas bertanya dengan kerutan dalam di dahi. Karina tak langsung menjawab. Tangannya mengusap perut perlahan sebelum wajahnya diangkat menatap Dimas.“Perutku … terasa kencang terus.” bisiknya dengan kernyitan di dahi. “Apa ini aman?”Pundak Dimas seketika menegang merasakan lonjakan kecemasan. Pikiran-pikiran liar mulai berkelebat. Bagaimana jika sesuatu

  • Godaan Ibu Kos Cantik   255. Tandu, bukan keranda

    Jalan di depan setelah tikungan buntu. Dan … kejutan yang dia siapkan sudah menunggu di ujung jalan.“POLISI! BERHENTI! JATUHKAN SENJATA KALIAN!” suara pengeras terdengar nyaring di antara gema sirine ambulans dari arah belakang. Dimas menginjak pedal rem. Tampak di ujung jalan—sesuai rencana, dua mobil polisi dengan beberapa petugas sudah menunggu. Di antara mereka, Bramanta berdiri menatap Dimas. Pandangan mereka bertemu. Dan pria memberi anggukan dalam, seperti sebuah penghargaan.Dilihatnya, pemotor dengan helm full face di samping masih belum menyerah, hendak memutar untuk kabur. Namun, ambulans berhenti tepat di belakang mereka. Disusul kemudian …Beberapa motor anggota tim kepolisian yang bertugas mengawal Jimmy. Akses kabur tertutup. Kedua pelaku perlahan mengangkat tangan. Klang! Parang jatuh membentur aspal.Di antara ketegangan yang mencekam itu, Dimas menarik napas panjangnya yang paling lega, untuk yang pertama sejak malam ini bergulir. Kepalanya disandarkan ke jok. M

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status