MasukMarni akhirnya tiba di rumah Tante Maya bersama Raga. Rumah itu sudah sunyi, lampu ruang tengah masih menyala. Raga membuka pintu, lalu melangkah ke samping memberi jalan. “Masuk,” katanya singkat. Marni melangkah masuk sambil menenteng perlengkapan mandinya. Matanya sempat menyapu seisi rumah, lalu berhenti ketika Raga menutup pintu dan mengunci perlahan. “Sepi ya,” gumam Marni ringan. Raga hanya mengangguk. Ia berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya tepat di samping kamarnya. “Kamar mandinya di sini,” ucap Raga sambil menunjuk. “Airnya aman.” Marni mendekat, jaraknya cukup dekat hingga aroma sabun dari tubuhnya masih samar terasa. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi gerakannya terhenti. Ia menoleh, menatap Raga dengan senyum kecil yang sengaja ditahan. “Mas Raga gak mau nemenin aku mandi?” katanya pelan, nadanya setengah bercanda, setengah menggoda. Raga terkekeh pendek. Ia menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menggeleng.
Siang harinya di kediaman Nyonya Besar. Ruang makan itu dipenuhi cahaya siang dan suara alat makan yang beradu pelan. Carmella duduk anggun di ujung meja panjang, tersenyum profesional pada para klien yang tengah berbincang soal bisnis. Tangannya baru saja meraih sendok ketika ponsel di samping piringnya bergetar. Nomor tak dikenal. Carmella melirik layar ponsel sekilas, alisnya bergerak tipis. Ia mengangkat telepon itu tanpa banyak pikir, masih mempertahankan senyum sopan. “Siang,” jawabnya singkat. “Siang, Carmella.” Suara itu membuat jemari Carmella langsung menegang. Senyumnya menghilang seketika, Ia mengenali suara itu bahkan tanpa perlu memperkenalkan diri. Carmella berdiri perlahan, menggeser kursinya tanpa suara, lalu memberi isyarat halus pada para klien sambil melangkah menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi. “Paula?” ucapnya pelan tapi dingin. “Dari mana kau dapat nomor saya?” Tatapan Carmella kosong menatap jendela besar di depannya. “Kamu tidak pe
Keesokan paginya, Raga sedang menyapu halaman rumah kos. Matahari belum tinggi, udara masih lembap, dan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar pelan. Dari arah tangga bangunan baru, Marni muncul. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga, rambutnya masih terurai acak, seolah baru bangun tidur. “Pagi, Mas Raga,” sapa Marni sambil meregangkan badan sedikit lebih lama. Raga menoleh sekilas. “Pagi, Mbak.” Marni melangkah lebih dekat, berdiri tak sampai satu meter dari Raga. Tatapannya turun naik, memperhatikan lengan Raga yang tegang saat menyapu. “Rajin banget ya pagi-pagi udah bersih-bersih,” ucap Marni sambil tersenyum miring. “Biasa, Mbakk. Namanya juga kerja.” jawab Raga singkat, kembali fokus ke halaman. Marni terkekeh kecil. “Mas Raga tuh dingin banget. Bikin aku makin penasaran.” Raga berhenti menyapu sebentar, menoleh, menatap Marni datar. “Enggak lah, Mbak. Mbak belum sarapan?” Marni terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi. “Belu
Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Ia berdiri di dekat jendela, tirai setengah terbuka, rokok mati terjepit di antara jari tanpa sempat dinyalakan. Vanya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar, lalu suara yang ia kenal menjawab dari seberang. “Ya, Van.” Vanya menarik napas pendek. “Nyonya,” katanya hati-hati. “Aku mau lapor soal file itu.” Di seberang sana, suara Nyonya terdengar tenang. “Lanjutkan.” Vanya melangkah mendekati kursi, lalu duduk. Punggungnya menegak, Matanya menatap ke arah jendela. “File itu sepertinya bukan di Julian,” ucapnya. “Saya dapat satu nama soal file itu dari Julian, yaitu Paula." Hening sejenak. Hanya terdengar bunyi sendok kecil menyentuh cangkir di seberang telepon. “Kamu yakin?” tanya Nyonya pelan. “Kamu gak lagi di bohongi sama Julian lagi kan, Van?" Vanya menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali. Jarinya mengetuk ringanbatang rokok yang berada
Gang sempit di belakang restoran itu becek dan berbau sisa makanan. Dinding kusam mengelupas, genangan air hitam memantulkan cahaya lampu jalan yang redup. Di sana, seorang bocah kecil meringkuk, lututnya tertekuk, punggungnya menempel pada tembok dingin. Langkah sepatu berhenti tak jauh darinya. Seorang wanita muda berdiri di ujung gang, gaun elegannya terlihat sangat kontras dengan gang kumuh itu. Di belakangnya, seorang ajudan berdiri tegak, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Wanita itu mencondongkan tubuh, tatapannya tertuju pada bocah di hadapannya. “Siapa namamu?” Julian mengangkat kepala perlahan. Matanya menyipit, wajahnya kotor, rambutnya kusut tak terurus. Ia menelan ludah, ragu untuk menjawab. “Sa-saya Julian…” Suaranya terdengar pelan dan ragu sekali. Wanita itu mengulurkan tangannya. Jari-jarinya bersih, kuku-kukunya terawat. Julian menatap tangan itu lama, terdiam, seolah takut mengotori tangan putih bersih itu. Julian mengulurkan tangannya denga
Malam di kediaman Nyonya Besar. Lampu gantung di ruang makan memancarkan cahaya hangat, memantul di permukaan meja panjang yang tertata rapi. Aroma hidangan mewah masih mengepul tipis, bercampur dengan wangi anggur. Nyonya Besar duduk di ujung meja, punggungnya tegak, satu tangan memegang sendok perak. Gerakannya tenang, dan santai menikmati hidangan makan malam itu. Langkah sepatu terdengar mendekat. Lucy muncul di ambang ruang makan, jaketnya masih dikenakan, rambutnya sedikit berantakan seolah baru turun dari perjalanan panjang. Begitu melihat Lucy, Nyonya Besar menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh perlahan. “Sudah pulang kamu?” Nada suaranya lembut, hampir keibuan. “Sini duduk. Temani saya makan malam.” Lucy berjalan mendekat tanpa ragu. Ia menarik kursi di hadapan Nyonya Besar, lalu duduk. Tangannya langsung meraih piring yang terletak terbalik, membukanya, dan mulai menyendok nasi. Beberapa lauk mahal ikut ia ambil tanpa sungkan. “Saya lapar kali, Nyonya…







