Home / Urban / Godaan Penghuni Kos Puteri / Karoke Imas & Raga

Share

Karoke Imas & Raga

Author: NomNom69
last update Last Updated: 2025-10-26 15:41:56
suasana di depan gedung karaoke masih sepi. Hanya lampu neon yang berkedip di atas pintu dan beberapa kendaraan yang melintas sesekali.

Di bawah cahaya redup itu, Arman berdiri sambil menempelkan ponsel ke telinganya, wajahnya tampak tegang.

> “Bos, sorry... barang yang lu minta gak bisa malam ini,” katanya dengan nada menahan cemas.

Suara di seberang terdengar berat dan dingin.

> “Ah, gimana sih lu, Man? Jangan buat klien kita nunggu lama. Lu pikir mereka bisa sabar terus?”

Arman menatap sekeliling, memastikan gak ada yang dengar.

> “Tadi tuh barang udah siap angkut, Bos. Gue cuma tinggal bentar, kencing doang, eh pas balik udah ngilang.”

> “Lu gimana sih!?” bentak suara di ponsel. “Kalo sampe ketahuan orang bisa bahaya, ngerti gak!? Ini bukan urusan kecil, Man!”

Arman menelan ludah, wajahnya memucat.

> “Iya, iya, gue ngerti, Bos. Tenang aja. Nanti gue cari penggantinya. Gak bakal gagal lagi.”

Suara di seberang diam beberapa detik, hanya terdengar tarikan napas pan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Raga mengambil Langkah

    Siang itu udara di kosan terasa lebih panas dari biasanya. Raga duduk sendirian di saung, bersandar di tiang kayu sambil menatap halaman yang lengang. Suara kipas angin kecil di sudut saung berputar pelan, kalah oleh suara serangga siang hari. Ia menggeser posisi duduknya, satu kaki dinaikkan ke bangku, siku bertumpu di lutut. Matanya menyapu sekeliling kosan—gerbang, tangga bangunan lama, lalu bangunan baru—memastikan tak ada satu pun orang yang lalu-lalang. Setelah yakin keadaan aman, Raga merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama kontak lama. Nada sambung terdengar. “Bro… apa kabar?” ucap Raga saat panggilan terangkat. Suaranya terdengar santai. Di seberang sana terdengar tarikan napas kaget. “Julian?” suara itu ragu, lalu meninggi. “Lo Julian, kan?” Raga sedikit menunduk, matanya masih awas menatap sekitar. “Iya,” katanya pelan. “Gue Julian.” Beberapa detik hening, lalu suara tawa meledak dari sebe

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   File yang di Incar x Paula x Carmella

    Hari Minggu pun tiba, siang itu udara dermaga terasa panas menyengat. Deru ombak kecil memukul tiang-tiang kayu, sementara bau asin laut bercampur solar kapal menusuk hidung. Mobil hitam Nyonya berhenti tak jauh dari bibir dermaga, mesin masih menyala, kaca gelap menutup pandangan dari luar. Nyonya duduk tenang di jok belakang, punggungnya tegak, satu tangan menopang dagu. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya, membentuk garis tipis sebelum lenyap tertiup angin laut. Di sampingnya, Vanya duduk kaku, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, pandangannya sesekali melirik ke kaca depan lalu kembali menunduk. Beberapa ajudan berdiri menyebar di sekitar mobil. Ada yang pura-pura memeriksa ponsel, ada yang menatap ujung dermaga dengan sorot waspada. Mata mereka menatap sekeliling dengan waspada, langkah kaki mereka jarang berpindah, tapi terlihat siap bergerak kapan saja. Nyonya memecah keheningan tanpa menoleh. “Vanya, nanti kamu diam saja,” ucapnya pelan namun tegas. Asap

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kehangatan Pagi With Wulan x Kepulangan Vanya

    Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar Raga, Raga mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di dadanya yang ternyata adalah kepala Wulan yang bersandar nyaman. Saat Raga mencoba menggeser tubuhnya pelan untuk beranjak dari ranjang, pelukan Wulan justru semakin mengencang secara tiba-tiba. Wulan menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Raga dengan pandangan yang seolah melarang pria itu pergi selangkah pun dari jangkauan tangannya. "Mas... mau ke mana sih? Jangan bangun dulu kenapa, di sini aja temenin aku," rengek Wulan dengan suara serak-serak basah yang menggoda. "Udah siang, Lan. Nanti Laura nyariin kalau aku nggak ke Kosan," jawab Raga sambil mengelus pipi Wulan lembut. "Biarin aja, sebentar doang kok, gak sampe sejam." sahut Wulan sambil menarik leher Raga agar kembali berbaring di sampingnya. Raga akhirnya menyerah, ia kembali merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wulan menindih sebagian tubuhnya dengan posis

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kecurigaan Wulan x Kondisi Lucy

    Malam semakin larut ketika Marni memutuskan kembali ke kosan. Ia keluar dari rumah Tante Maya, menyusuri gang sempit dengan langkah santai. Raga sempat menawarkan untuk mengantar, tapi Marni menolak dengan alasan jaraknya dekat. Setibanya di gerbang kosan, Marni membuka lalu menguncinya kembali. Ia berjalan ke arah kiri, melewati deretan kamar lantai bawah, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat Marni tepat di depan kamar Elistia, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Elistia berdiri bersandar di kusen pintu, segelas bir di tangan kiri dan sebatang rokok di tangan kanan. “Eh, Mar,” sapa Elistia sambil menyipitkan mata. “Kamu habis dari mana? Seger banget kayak abis berenang.” Marni terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Eh, kamu Lis. Aku kira kamu udah tidur.” “Aku tadi numpang mandi di rumah Tante Maya.” Mendengar itu, ekspresi Elistia berubah sedikit serius. Ia menurunkan gelasnya. “Serius? Emang kamar mandi kamu kenapa?”

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Numpang Mandi x Numpang Berkeringat

    Marni akhirnya tiba di rumah Tante Maya bersama Raga. Rumah itu sudah sunyi, lampu ruang tengah masih menyala. Raga membuka pintu, lalu melangkah ke samping memberi jalan. “Masuk,” katanya singkat. Marni melangkah masuk sambil menenteng perlengkapan mandinya. Matanya sempat menyapu seisi rumah, lalu berhenti ketika Raga menutup pintu dan mengunci perlahan. “Sepi ya,” gumam Marni ringan. Raga hanya mengangguk. Ia berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya tepat di samping kamarnya. “Kamar mandinya di sini,” ucap Raga sambil menunjuk. “Airnya aman.” Marni mendekat, jaraknya cukup dekat hingga aroma sabun dari tubuhnya masih samar terasa. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi gerakannya terhenti. Ia menoleh, menatap Raga dengan senyum kecil yang sengaja ditahan. “Mas Raga gak mau nemenin aku mandi?” katanya pelan, nadanya setengah bercanda, setengah menggoda. Raga terkekeh pendek. Ia menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menggeleng.

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella, Kecerobohan Lucy

    Siang harinya di kediaman Nyonya Besar. Ruang makan itu dipenuhi cahaya siang dan suara alat makan yang beradu pelan. Carmella duduk anggun di ujung meja panjang, tersenyum profesional pada para klien yang tengah berbincang soal bisnis. Tangannya baru saja meraih sendok ketika ponsel di samping piringnya bergetar. Nomor tak dikenal. Carmella melirik layar ponsel sekilas, alisnya bergerak tipis. Ia mengangkat telepon itu tanpa banyak pikir, masih mempertahankan senyum sopan. “Siang,” jawabnya singkat. “Siang, Carmella.” Suara itu membuat jemari Carmella langsung menegang. Senyumnya menghilang seketika, Ia mengenali suara itu bahkan tanpa perlu memperkenalkan diri. Carmella berdiri perlahan, menggeser kursinya tanpa suara, lalu memberi isyarat halus pada para klien sambil melangkah menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi. “Paula?” ucapnya pelan tapi dingin. “Dari mana kau dapat nomor saya?” Tatapan Carmella kosong menatap jendela besar di depannya. “Kamu tidak pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status