Share

Paket yang sama

Author: NomNom69
last update Last Updated: 2025-10-24 12:41:38

Pagi itu udara masih lembap, embun belum sepenuhnya mengering di atas daun mangga depan kosan. Raga menyapu halaman perlahan, suara gesekan sapu dan dedaunan jadi satu-satunya yang terdengar.

Dari arah tangga lantai dua, langkah ringan terdengar menuruni anak tangga. Raga mendongak sebentar, dan melihat sosok Gita turun dengan tas selempang di bahunya. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya tampak segar tapi ada sesuatu di matanya—ragu, seperti menimbang harus lewat mana.

Langkah Gita sempat terhenti saat matanya bertemu pandang dengan Raga. Hanya sesaat, tapi cukup membuat Raga tahu, Gita mengingat apa yang terjadi semalam di mall.

“Pagi, Git,” sapa Raga ringan, berusaha seolah tak ada apa-apa.

Gita menunduk cepat, suaranya pelan. “Pagi, Kak.”

Setelah itu ia berjalan cepat melewati halaman, tidak seperti biasanya yang suka sempat basa-basi atau senyum kecil. Raga hanya menatap punggungnya menjauh, langkahnya sedikit terburu, seolah ingin cepat keluar dari pandangan.

Sapu di tangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kebenaran di balik Foto

    Malam di kediaman Nyonya Besar. Lampu gantung di ruang makan memancarkan cahaya hangat, memantul di permukaan meja panjang yang tertata rapi. Aroma hidangan mewah masih mengepul tipis, bercampur dengan wangi anggur. Nyonya Besar duduk di ujung meja, punggungnya tegak, satu tangan memegang sendok perak. Gerakannya tenang, dan santai menikmati hidangan makan malam itu. Langkah sepatu terdengar mendekat. Lucy muncul di ambang ruang makan, jaketnya masih dikenakan, rambutnya sedikit berantakan seolah baru turun dari perjalanan panjang. Begitu melihat Lucy, Nyonya Besar menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh perlahan. “Sudah pulang kamu?” Nada suaranya lembut, hampir keibuan. “Sini duduk. Temani saya makan malam.” Lucy berjalan mendekat tanpa ragu. Ia menarik kursi di hadapan Nyonya Besar, lalu duduk. Tangannya langsung meraih piring yang terletak terbalik, membukanya, dan mulai menyendok nasi. Beberapa lauk mahal ikut ia ambil tanpa sungkan. “Saya lapar kali, Nyonya…

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella si Nyonya Besar

    Sore itu saung terasa lebih hidup dari biasanya. Raga duduk santai di bangku kayu, satu kaki dinaikkan, rokok menyala di antara jarinya. Ningsih dan Cahya duduk berseberangan, sesekali tertawa kecil menanggapi obrolan ringan yang mengalir tanpa arah. Tiba-tiba dari sana muncul Elistia dan Marni. Marni melambaikan tangan lebih dulu, langkahnya ringan dan santai berjalan menuju saung. “Halo Mas Raga.. halo semua..” Raga, Cahya, dan Ningsih serempak menoleh. Raga menggeser duduknya, menepuk-nepuk abu rokok ke asbak kecil di lantai. “Eh Mbak.. Udah siap barangnya?” Sementara itu Elistia tidak langsung mendekat. Ia membelok ke samping saung, membuka pintu kamarnya, masuk sebentar hanya untuk meletakkan tas kerja dan melepas jaket. “Udah, Mas.. tapi masih di mobil elis..” jawab Marni sambil menunjuk ke arah gerbang. Raga langsung bangkit. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya hingga padam, lalu berdiri tegak. “Yaudah aku bantuu.. bentar aku ambil kunci kamarnya

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Sebuah File, Paula

    Keesokan paginya, rumah megah milik Nyonya Besar. Meja makan panjang dari kayu gelap tertata rapi. Piring porselen, gelas kristal, dan serbet kain terlipat simetris. Nyonya Besar duduk tegak di ujung meja. Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana tapi jelas mahal. Rambutnya disanggul rapi. Sebuah koran pagi terbuka di samping piringnya. Ia menggigit roti lapis dengan gerakan tenang, mengunyah perlahan, menikmati sarapannya seperti biasa. Seorang ajudan melangkah mendekat dengan sikap hormat. Ia sedikit membungkuk, menyerahkan sebuah ponsel. “Ada telepon dari Vanya, Nyonya.” Nyonya Besar tidak langsung meraih ponsel itu. Ia tetap mengunyah, menyesap teh hangat, lalu tersenyum tipis, dan menoleh sedikit ke arah telepon itu. “Lucy.. sudah ku blg untuk tidak berkomunikasi dgn vanya..” gumamnya pelan. Baru setelah itu tangannya terulur. Jemarinya ramping, kuku terawat sempurna. Ia mengambil ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga. “halo van, ada apa?” Dar

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Satria, Kepanikan Vanya

    Malam itu kamar Raga terasa tenang. Lampu menyala temaram, tirai jendela tertutup rapat. Raga baru saja keluar dari kamar mandi, handuk masih melingkar di pinggangnya. tetesan air masih menempel di kulit dan rambutnya yang sedikit basah. Ia melangkah masuk ke kamar, langsung menuju cermin besar di lemari. Tangannya meraih sisir, mulai merapikan rambut sambil berdiri tegak menghadap bayangannya sendiri. Di belakangnya, di atas ranjang, Wulan duduk bersandar. Daster pendeknya tampak kusut ringan karena ia sudah cukup lama di sana. Ponsel ada di tangannya, tapi sejak Raga masuk, pandangannya lebih sering terangkat dari layar. Raga menoleh lewat pantulan cermin ke arah Wulan. “Kamu laper gak, Lan?” tanya Raga. Wulan mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu lewat cermin. “Hmmm.. dikit sih, tapi nanti aja deh..” Raga kembali menatap bayangannya sendiri. Sisir masih bergerak pelan di rambutnya yang lembap. “Tumben banget kamu nunda makan, Lan..” Wulan terkekeh kecil. Ia m

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Lucy, Vanya, Masa lalu Raga.

    “Nyonyaaa!” Suara itu memecah keheningan ruang tamu rumah megah yang dipenuhi aroma tembakau dan kayu tua. Seorang gadis berambut sebahu melangkah cepat masuk, sepatu ketsnya berhenti tepat di atas karpet Persia. Celana jeans pendek dan sweater krem yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana ruangan yang tenang dan berkelas. Di sofa besar berlapis beludru, Nyonya Besar duduk santai. Daster anggun berwarna gelap membalut tubuhnya. Satu tangan memegang koran yang sudah terlipat setengah, tangan lainnya menjepit rokok yang asapnya naik perlahan ke langit-langit. Begitu mendengar panggilan itu, ia menurunkan koran, menoleh, lalu meletakkan rokoknya di asbak kristal. Wajahnya langsung berubah hangat. “Lucy!” katanya sambil membuka kedua tangan. “Sini, sayang… sini.” Lucy mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk penuh hormat. Ia mencium pipi kiri dan kanan Nyonya dengan gerakan cepat namun akrab, lalu duduk di sisi sofa, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. Nyon

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Vanya, Penghuni Baru

    Keesokan harinya, Raga dan Wulan duduk berhadapan di sebuah kedai lontong sayur kecil tak jauh dari kosan. Meja kayunya sudah agak kusam, dilapisi taplak plastik bening yang sedikit lengket di beberapa sudut. Asap tipis mengepul dari mangkuk lontong sayur di depan mereka, bercampur aroma santan dan bawang goreng. Raga duduk santai, satu tangannya memegang sendok, tangan satunya menopang mangkuk. Ia meniup pelan sebelum menyuap, matanya sesekali melirik ke jalanan kecil di depan kedai. Wulan duduk di seberangnya, mengaduk kuah perlahan. Beberapa detik berlalu dalam diam. Wulan akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya berhenti sebentar di wajah Raga, lalu turun lagi ke mangkuknya. “Mas…” Nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa. “Yang kemarin datang itu, temennya Mas ya?” Sendok Raga berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Wulan, alisnya sedikit terangkat. Ekspresi bingung langsung muncul di wajahnya, seolah pertanyaan itu datang tiba-tiba. “Temen?” Raga memiringkan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status