Home / Romansa / Gairah Liar Sahabat Suamiku / 1. Pertemuan Pertama

Share

Gairah Liar Sahabat Suamiku
Gairah Liar Sahabat Suamiku
Author: Lucyofheart

1. Pertemuan Pertama

Author: Lucyofheart
last update publish date: 2025-06-17 18:18:55

“Good morning Honey,” sapa Dion yang baru saja keluar kamar kepada istrinya Zwetta.

“Good morning,” balas Zwetta sambil membawakan dua gelas ke meja makan.

Zwetta baru saja menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Seperti biasa kopi untuk Dion dan teh tanpa gula untuk dirinya, ditambah dengan roti yang sudah di bakar. Begitu Zwetta duduk, Dion langsung mencium bibir Zwetta sapaan keduanya setiap mereka baru bertemu.

“Kau bangun cepat?” tanya Dion saat melihat Zwetta yang kini sudah siap lebih awal. Biasanya mereka akan selesai secara bersamaan dan akan sama-sama membuat sarapan. Tetapi kali ini Zwetta yang melakukannya sendiri.

“Iya, tadi harus mengerjakan laporan lagi jadi bangun lebih cepat,” jawab Zwetta sambil memakan roti yang sudah disiapkannya itu.

Sedangkan Dion membuka I-pad miliknya sambil memakan roti. Begitu juga dengan Zwetta yang memainkan handphone miliknya. Rutinitas keduanya setiap pagi pasti melihat laporan yang masuk.

Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai terkadang mereka bertemu hanya ketika sarapan dan makan malam. Bahkan mereka juga harus di sibukkan dengan laporan yang ada sehingga fokus dengan kegiatan masing-masing.

“Oh iya kau masih inget dengan temanku yang mau nginap di rumah kita bukan?” tanya Dion tiba-tiba.

Zwetta mengangkat kepalanya dan menatap Dion dengan mengernyitkan keningnya.

“Masih kenapa?” tanya Zwetta bingung.

“Temenku akan datang nanti malam, aku akan berusaha pulang cepat,” kata Dion memberitahu.

Zwetta langsung mematikan handphonennya dan meletakkannya di meja.

“Kenapa baru bilang sekarang? Aku tahu dia tidak mengebarimu pagi ini, tapi kenapa kau baru memebritahuku sekarang? Kau tahu kalau aku lagi sibuk bahkan aku belum menyiapkan apapun untuk menyambut kedatangan temanmu itu, untuk menyiapkan kamarnya saja belum,” kata Zwetta kesal dengan suara yang sudah meninggi.

“Maafkan aku. Aku lupa Honey, aku baru membaca pesannya lagi pagi ini untuk memberitahu bahwa dia sudah berangkat. Maafkan aku, apa kau bisa menyiapkannya?” tanya Dion dengan lembut.

“Tidak tahu, kau selalu saja seperti itu semua dilupakan dengan mudah. Kau anggap semuanya mudah, kau pikir aku hebat sampai semua bisa ku selesaikan dalam waktu cepat? Kau hanya bisa merepotkanku saja, tidak pernah mau membantuku,” kata Zwetta masih kesal sambil memasukkan barang-barangnya yang ada di atas meja ke dalam tas.

“Maafkan aku Honey, aku benar lupa,” ucap Dion penuh sesal.

“Selalu saja begitu, alasannya selalu lupa. Selalu banyak kerjaan, untuk hal kayak gini aja kau lupa apa lagi hal yang lain. Kapan ingatnya kalau terus kayak gini.”

Zwetta bangkit berdiri begitu juga dengan Dion.

“Kau mau berangkat?” tanya Dion.

Walaupun Zwetta sudah bersikap kesal dan marah, tetapi Dion masih saja bersikap sabar dan tidak mau ikutan emosi.

“Hm, aku berangkat.”

Zwetta hendak pergi namun langsung ditahan Dion untuk diciumnya, namun Zwetta mala menghindar membuat Dion terdiam. “Aku tidak mood, aku juga sudah terlambat.” Setelah mengatakan itu Zwetta pergi begitu saja meninggalkan Dion yang masih diam.

Dion sudah sering mendapati Zwetta yang marah padanya karena kesalahannya. Maka itu Zwetta akan menghindar saat Dion mempunyai kesalahan. Jikalau seperti itu Dion hanya bisa memahami dan mencoba sabar, karena bagaimanapun Zwetta seperti itu karena kesalahannya. Dion menghembuskan napasnya kasar, lalu ia juga ikut pergi ke kantor.

***

“Rossie tolong belikan bed cover yang baru sekarang, untuk umum saja bisa di pakai di kamar pria atau wanita,” kata Zwetta pada Rossie asistennya begitu sampai di kantor.

“Kenapa sangat mendadak?” tanya Rossie bingung.

“Kau tahu kalau Dion selalu lupa memberitahu sesuatu hal yang penting. Dia baru mengatakan kalau temannya bakalan datang hari ini dan menginap di rumah, jadi aku belum mempersiapkan apa-apa. Oh iya pesankan makan malam dan minuman juga, tidak mungkin tamu Dion tidak disambut.”

Rossie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Baik, akan aku siapkan,” jawab Rossie patuh.

Rossie merupakan orang kepercayaan Zwetta, ia akan meminta tolong pada Rossie akan apapun itu. Sudah lama Rossie bekerja dengan Zwetta dan wanita itu suka dengan sifat Rossie yang humble dan bekerja keras.

Sebelum Zwetta bertemu dan menikah dengan Dion lebih dahulu Zwetta kenal dengan Rossie karena Rossie merupakan anak dari asisten rumah tangga Mommynya. Melihat Rossie anak yang baik maka Zwetta mengurus Rossie sampai bekerja dengannya di kantor tempatnya bekerja sekarang.

Sehingga Rossie tidak lagi menganggap Zwetta sebagai rekan kerja tetapi juga saudara. Maka itu Rossie tahu betul bagaimana sikap Dion suami dari Zwetta, karena wanita itu sering sekali cerita tentang suaminya.

Rossie yang selalu mendengarkan keluh kesah seorang Zwetta saat kesal dengan suaminya sendiri. Maka Rossie akan menjadi pendengar yang baik, karena kalau memberikan solusi tidak mungkin karena menurutnya terlalu jauh.

“Bagaimana dengan laporan yang tadi pagi di kirim sudah selesai? Apa sudah ada tanggapan?” tanya Zwetta lagi.

“Belum ada, kalau sudah ada akan aku beritahu.”

Zwetta menganggukkan kepalanya paham dan melanjutkan pekerjannya.

***

Zwetta memilih pulang dari kantor lebih cepat karena harus membereskan rumahnya karena mereka akan kedatangan tamu. Bukan hanya itu saja Zwetta juga harus membereskan kamar untuk tamunya itu, karena Zwetta memang tidak punya asisten rumah tangga. Lebih baik seperti itu pikirnya, karena Zwetta tipe orang yang tidak suka privasinya di ganggu.

Saat ada pembersihan besar-besaran ia akan memanggil banyak orang itupun Zwetta harus memantaunya secara langsung. Karena Zwetta tipe orang yang harus sempurna dalam hal apapun termasuk urusan rumah. Sama halnya seperti sekarang ia sangat kesal begitu sampai rumah ternyata bekas sarapan mereka tadi pagi masih ada di atas meja makan.

Ia pikir Dion akan membereskan bekas makan keduanya, tetapi ternyata dia salah. Karena semut datang memenuhi dua gelas mereka yang masih ada sisa air di dalamnya. Zwetta melemparkan tasnya asal di sofa dan langsung membawa piring dan gelas tersebut ke belakang dan langsung mencucinya.

Satu hal lagi yang Zwetta tidak suka dari Dion yaitu tidak bertanggungjawab dan selalu membebankan semuanya pada dirinya. Dion juga orang yang sangat berantakan, sehingga Zwetta sering sekali marah karena Dion yang tidak taat aturan. Setelah mencuci bekas makan mereka tadi pagi, Zwetta membuka blazer yang masih digunkannya begitu juga dengan rok pensil hitam yang digunakannya.

Ia membukanya dan meletakkannya asal di sofa dekat tasnya berada. Sehingga menyisakan celana pendek setengah paha dan tanktop hitam yang melekat di tubuhnya. Zwetta langsung mengambil bed cover yang di bawanya tadi dan ia segara ke kamar kosong yang ada di rumahnya itu. Zwetta sengaja melepas bajunya agar memudahkannya untuk melakukan pekerjaan rumah.

Zwetta kali ini malas untuk naik ke atas guna mengganti bajunya karena menurutnya waktu sangat tidak memadai. Karena masih banyak hal yang mau disiapkannya, termasuk membereskan rumahnya dan menunggu makanan yang sudah dipesannya melalui Rossie. Zwetta tak pernah gengsi untuk melakukan pekerjaan rumah sendiri, karena ia sudah biasa mengerjakannya sendiri.

Karena Zwetta dari kecil sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah dikala Mommynya pergi bekerja. Ia hanya hidup berdua saja dengan Mommynya, karena Daddynya sudah lama meninggalkan mereka berdua. Meninggalkan mereka dalam arti bukan meninggal ataupun tidak ada di dunia lagi, tetapi meninggalkan begitu saja entah kemana.

Setelah beres menyiapkan kamar untuk tamunya, Zwetta kembali membereskan seluruh rumahnya. Baik mencuci bajunya dengan Dion walaupun dengan mesin cuci, lalu menyetrika, menyapu, membersihkan lantai dan yang lainnya. Keringat membasahi tubuhnya dan bajunya juga sudah basah karena ia mencuci kembali beberapa gelas dan piring yang akan di pakai untuk makan mereka malam ini.

Zwetta memang memesan banyak makanan untuk menyambut tamu tersebut, maka ia harus mengeluarkan beberapa piring yang jarang untuk di pakai. Bunyi bel membuat Zwetta menghentikan aktivitas mencuci piringnya guna membuka pintu. Ternyata Rossie yang datang dengan banyak plastik di tangannya yang ia tahu itu makanan.

“Akhirnya kau datang juga,” kata Zwetta mempersilahkan Rossie masuk sambil mengambil beberapa plastik dari tangan Rossie untuk dibantunya.

“Restorannya padat, makanya lama. Aku mengantri beberapa jam karena menunggu makanannya selesai, maafkan aku Nona,” kata Rossie dengan menyesal.

“It’s okay Rossie no problem. Teman Dion belum datang, aku bisa paham itu,” jawab Zwetta dengan santai.

“Sepertinya kau lelah sekali, terlihat dengan pakaianmu yang basah dan kau tidak mengganti baju sama sekali karena sibuknya,” kata Rossie melihat penampilan Zwetta. Wanita itu tertawa melihat penampilannya.

“Ya bagaimana, aku harus mengerjakan semuanya sendiri.”

“Aku sudah bilang menggunakan asisten rumah tangga saja, aku akan cari yang sesuai dengan keinginanmu,” usul Rossie.

Zwetta menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu, begini saja lebih baik. Selama aku bisa mengerjakan semuanya sendiri kenapa harus butuh bantuan orang lain? Kecuali tadi aku tidak bisa mengerjakannya sendiri karena sudah mempunyai anak itu beda hal,” jelas Zwetta.

Rossie menganggukkan kepalanya paham. Rossie tahu kalau sebenernya Zwetta sangat menginginkan anak hadir di dalam pernikahannya dengan Dion.

Karena bagaimanapun sibuknya Zwetta, tetap saja ia ingin mempunyai keturunan bukan? Kalau ia sudah punya anak, Zwetta lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dibandingkan bekerja. Karena dia mau menjadi Ibu yang baik untuk anaknya, tapi sayang keinginannya itu sampai sekarang juga belum tercapai.

Sudah delapan tahun ia menjadi istri seorang Dion Grissham tapi tetap saja ia belum diberikan keturunan. Padahal Zwetta sudah sangat menginginkan anak di rumah mereka.

“Ya sudah lebih baik kau pulang saja, Ibumu pasti sudah lama menunggu. Sampaikan salamku padanya, maaf sudah membuatmu pulang lama.” Rossie tersenyum pada Zwetta.

“Tidak apa Nona, baik akan ku sampaikan salammu. Kalau begitu aku pulang, permisi,” pamit Rossie, Zwetta menghantarkan Rossie pulang sampai ke depan.

Setelah itu ia mulai membuka satu persatu makanan yang di bawa Rossie masih dalam keadaan panas dan ia letakkan di piring. Sesekali Zwetta menyicipinya satu persatu dan ia memuji makanan tersebut karena enak.

Zwetta berpikir sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan tersebut. Bel rumahnya kembali bunyi, Zwetta kembali berjalan ke depan guna membukakan pintu. Zwetta merasa suaminya Dionlah yang pulang.

Tetapi ketika ia membuka pintu Zwetta dikejutkan dengan pria asing yang tak dikenalnya sebelumnya dengan membawa dua koper. Zwetta mengernyitkan keningnya bingung sedangkan pria yang ada di depannya menilai Zwetta dari atas sampai bawah membuat Zwetta juga ikut melihat dirinya sendiri karena melihat pemandangan mata pria tersebut hingga ia juga ikut terkejut.

“Eh, maaf.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   198. Keputusan

    Sesampainya di apartement, Alan masuk berjalan dengan lesu. Zwetta yang berada di dalam mendengar suara pintu terbuka langsung saja berjalan dan melihat wajah Alan tampak kacau.“Dari mana aja? Aku telepon tak diangkat,” kata Zwetta membuat Alan terkejut.Alan segera mengambil handphonenya di dalam sakunya dan melihat banyak pesan serta panggilan tak terjawab dari Zwetta. Bahkan Alan takt ahu jika begitu banyak panggilan dari sang istri. Ia tak mendengar bahkan tak merasakan hal tersebut karena pikirannya yang sangat kacau itu.“Aku tak sadar,” lirih Alan.“Titipanku mana?” tanya Zwetta lagi saat sadar Alan tak membawa kantong belanjaan.Alan bingung dan mengernyitkan keningnya.“Tadi aku minta

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   197. Permintaan Terakhir

    “Apa maksudmu mengirimkan itu?” tanya Alan langsung sekaligus marah begitu pintu apartement Clarabelle terbuka.“Elara lagi tidur, jangan teriak-teriak. Ayo kita bicara di dalam dengan tenang,” ajak Clarabelle membuat Alan menghela napasnya kasar.Alan masuk ke dalam dengan kesal, Clarabelle mengikuti Alan dari belakang dan duduk di seberang Alan. Rahang Alan mengeras menatap Clarabelle.“Apa benar kau hamil?” tanya Alan kesal.“Ya, aku hamil. Saat itu memang masa suburku dan kita tidak menggunakan pengaman. Aku tak tahu akan jadi seperti ini. Aku tak pernah melakukannya dengan siapapun, bahkan aku tak memiliki kekasih. Aku hanya melakukannya denganmu, sudah pasti aku hamil anakmu,” tegas Clarabelle.“Tapi bagaimana bisa?” tanya Alan masih tak percaya. “Aku pikir kita hanya tidur bersama saja tanpa melakukan apapun pada malam itu,” tegas Alan.“Kau mabuk dan kau tak sadar apa yang sudah kau lakukan. Kau memaksaku untuk melakukannya, bahkan dulu saat kita masih berpacaran kita sering m

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   196. Kejutan

    “Aku tak terima dengan yang terjadi malam ini. Aku akan datang lagi dan akan berjuang. Tuan akan menyesal sudah melakukan hal ini padaku. Tuan tidak akan mendapatkan wanita seperti aku lagi. Hanya aku yang bisa mencintai Tuan sebesar ini,” kata Mauryn masih saja tak terima dengan Dion serta Diana.Setelah itu Mauryn keluar dari sana dengan membawa barangnya yang sudah dibawanya itu. Mauryn menutup pintu dengan keras sehingga meninggalkan dentuman yang begitu keras. Dion sampai harus memejamkan matanya karena itu.“Bagaimana? Apa kau masih belum percaya padaku? Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, tak ada wanita lain lagi. Aku ingin kau kembali padaku, tolong percaya padaku. Aku benar-benar menyesal, kasih aku kesempatan sekali lagi. Kalau kesempatan ini masih saja tak bisa ku pakai dengan baik, aku janji tak akan mengejarmu lagi. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk meninggalkanku,” tegas Dion sambil menatap Diana dengan lekat.“Kau yakin dengan itu?” tanya Diana untuk

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   195. Tak Mau Berakhir

    “Apa maksud Tuan? Tuan bercanda bukan? Tuan bahkan sudah menunjukkan semuanya padaku dan aku menyukainya. Aku menyetujui apapun yang Tuan inginkan. Hubungan ini bahkan baru saja terjadi. Kenapa begitu cepat? Kenapa Tuan tak membutuhkanku lagi? Apakah Tuan bosan padaku?” tanya Mauryn yang tak terima.“Aku sudah tak membutuhkanmu lagi. Kau jelas tahu aku melakukannya hanya untuk mau bersenang-senang saja tak lebih. Aku hanya menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan saja tak lebih. Jadi saat aku tak menginginkanmu lagi itu hakku,” tegas Dion.“Sebelumnya Tuan tak mengatakan hal ini padaku. Kenapa Tuan tiba-tiba seperti ini? Apa karena wanita ini?” tanya Mauryn tak suka menunjuk Diana.Hal itu membuat Diana tertawa mengejek.“Dia punya nama dan namanya Diana. Dia adalah wa

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   194. Mengakhiri Hubungan Part 2

    Pada sore harinya Dion menjemput Diana ke kantornya supaya keduanya bisa pulang bersama. Sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan malam di luar. Namun saat makan malam, Diana meminta sesuatu hal pada Dion sehingga membuat pria itu terkejut.“Aku ingin ketemu dengan wanita itu malam ini. Di mana dia?” tanya Diana dengan serius.“Kau yakin mau bertemu dengannya hari ini?” tanya Dion memastikan.“Ya, kenapa? Kau tak mau mempertemukan kami?” tanya Diana kesal.“Bukan begitu sayang, kau sangat terburu-buru sekali. Aku pikir kau ak…”“Aku tak mau membuang waktu. Supaya kau tak memakai waktu yang ada untuk bermain api lagi. Aku mau semua permainan ini berakhir, lebih cepat lebih baik supaya tak memberikan wanita itu

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   193. Mengakhiri Hubungan Part 1

    “Dion ada di ruangannya?” tanya Diana pada Kimberly membuat wanita itu terkejut dengan kehadiran kekasih Dion.“Ada di dalam,” jawab Kimberly.Diana menganggukkan kepalanya dan segera berjalan. Namun tiba-tiba Diana menghentikan langkahnya dan segera berbalik. Diana menghampiri Kimberly kembali membuat wanita itu terkejut. Kimberly dari tadi memang melihat Diana yang hendak masuk ke dalam ruangan Dion itu.“Ada apa?” tanya Kimberly sopan.Diana melipat tangannya di depan dada, mengangkat wajahnya dan terlihat dingin. Matanya menyorotkan ketajaman dan ketegasan. Aura Diana terlihat sangat berbeda dari pada biasanya, membuat Kimberly sedikit takut.“Aku tahu hubunganmu dengan Dion, jadi segera akhiri. Jangan pernah menggodanya lagi a

  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   134. Ruang Kerja 18+

    “Aku ingin memakanmu,” lirih Dion membuat Diana tertawa.“Ya ampun aku pikir apa. Kau pasti bercanda?” tanya Diana.“Apa aku terlihat bercanda? Aku sangat serius, a

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   133. Seperti Bayi

    Hubungan Dion dan Diana semakin baik. Dion lebih banyak tinggal di tempat Diana dibandingkan rumahnya sendiri. Sesekali ia akan pulang ke rumahnya untuk mengambil barangnya atau sedang melakukan sesuatu.Diana memang wanita yang ba

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   130. Insecure

    “Tapi pandangan mereka tadi berbeda,” lirih Zwetta.“Tak perlu pikirkan. Di saat semua orang menolakmu, ada aku yang akan selalu menerimamu. Kau akan cantik pada orang tepat. Tak semua orang bisa melihat kecantika

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Gairah Liar Sahabat Suamiku   117. Dion Tak Berubah

    Malam sudah tiba Diana mengirimkan pesan padanya bahwa ia akan pulang malam karna harus lembur. Padahal Dion sudah sangat merindukan Diana dan membutuhkan wanita itu Dion merindukannya terutama permainan mereka di atas ranjang.Bel

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status