MasukSeorang wanita berusia 50 tahunan datang ke ruangan tamu rumah mewah yang baru saja Bobby dipersilahkan duduk di sana oleh salah seorang pembantu rumah itu, sementara Anto yang tadi mengantarnya ke sana sekarang telah kembali ke pos penjagaan yang ada di sisi pintu masuk deretan rumah kontrakan itu.
Wanita berusia 50 tahunan itu datang ke ruangan itu tidak sendiri, melainkan dengan salah seorang pembantunya sembari membawakan dua gelas minuman segar beserta kue-kue kering di dalam toples.
“Duduk aja lagi Bob, kayak nggak pernah berkunjung ke sini aja!”
Wanita berusia 50 tahunan itu mempersilahkan Bobby untuk duduk kembali, setelah Bobby sempat berdiri dari duduknya ketika wanita itu datang.
“Terima kasih Tante.”
Ucap Bobby, wanita yang dipanggil Tante itupun mengangguk diiringi senyum ramahnya.
Wanita 50 tahunan yang tidak lain dari Tante Merry itu pun kembali bersuara.
“Udah hampir sebulan ini kamu nggak pernah datang ke sini Bob, apa karena kamu lagi sibuk di tempat kerjamu?”
Bobby tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“Sibuk banget sih nggak Tante, hanya saja bulan ini aku dan Friska sering janjian ketemuan di luar makanya aku nggak mampir dulu ke sini.”
Tante Merry mengangguk faham, Bobby kemudian menyambung perkataannya.
“Oh ya, Tante. Tadi saat aku tanya ada nggaknya Friska di rumah kontrakan ke Pak Anto, dia malah mengajakku untuk menemui Tante di sini. Memangnya ada apa, Tante?”
Tante Merry tak segera menyawab, untuk sesaat ia arahkan pandangannya ke langit-langit ruang tamu itu seiring dengan menarik napas dalam-dalam. Bobby semakin penasaran dan mulai perasaan merasa tidak nyaman, ada kecemasan yang muncul di hatinya pada Friska kekasihnya itu.
Setelah beberapa saat menunggu Tante Merry pun bersuara.
“Hemmm, sebaiknya kita minum dulu Bob. Mari silahkan dicicipi juga kue-kuenya!”
Sebenarnya Bobby semakin tidak tenang dengan pertanyaannya yang dialihkan Tante Merry dengan menawarnya minum, akan tetapi karena rasa segannya ia pun memenuhi ajakan wanita 50 tahunan itu untuk minum bersama.
Tante Merry memperhatikan Bobby untuk beberapa saat, karena dilihat sudah sedikit tenang ia pun kembali berucap.
“Aku harap kamu nggak shok mendengar hal yang akan aku beritahukan tentang Friska, karena memang aku sendiri tak menyangka akan terjadi seperti itu di dirinya.”
“Apa yang terjadi dengan Friska, Tante?!”
Bobby nampak tak sabar ia semakin cemas, melihat hal itu Tante Merry berusaha menenangkan situasi itu dengan tersenyum.
“Hemmm, sabar Bob. Friska sebenarnya baik-baik saja, nggak ada sesuatu hal burukpun yang terjadi terhadap fisiknya. Hanya saja apa yang ia putuskan sangat tidak pantas, karena aku tahu kamu udah banyak berkorban untuknya.”
Sampai di situ Tante Merry hentikan bicaranya, Bobby nampak makin tak karuan menahan rasa penasaran serta kecemasannya.
“Tante, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang telah diputuskan Friska hingga Tante bicara seperti itu?”
Kali ini Bobby memohon pada Tante Merry untuk menceritakan sejelas-jelasnya, kembali Tante Merry terdengar menarik napasnya.
“Begini Bob, setelah ia memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya tiga hari yang lalu Friska menemuiku dan mohon pamit pergi. Tentu saja aku terkejut dengan keputusannya yang secara tiba-tiba itu, makanya aku tanyakan kenapa ia memutuskan untuk pergi dari rumah kontrakannya. Friska tadinya nggak mau cerita alasannya, tapi setelah aku desak dia pun menjelaskan.”
Kembali Tante Merry hentikan bicaranya, Bobby tentu saja terkeut dan makin penasaran hingga ia mendesak wanita pemilik deretan rumah kontrakan itu untuk meneruskan ceritanya.
“Friska pamit pergi dari kontrakan? Apa alasannya Tante? Tolong katakan padaku!”
Untuk kesekiannya Tante Merry terdengar menarik napasnya, sepertinya dia sangat berat dan tak tega bila harus mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada Bobby. Namun karena tak ada pilihan lain, Tante Merry pun melanjutkan ceritanya.
“Aku pikir tadinya dia pergi karena ingin menikah denganmu Bob ternyata bukan, Friska bilang pamit untuk menikah dengan seorang pria yang saat itu tengah menunggu di luar pagar. Tentu saja aku penasaran siapa pria yang ia maksud itu karena sebelumnya Friska katakan bukan denganmu, maka saat itu juga aku mengiringinya hingga depan pintu pagar...”
Belum selesai Tante Merry bicara Bobby pun seketika memotong sembari terlonjak dari duduknya.
“Apa Friska menikah dengan pria lain..?! Nggak mungkin, Tante pasti salah dengar.”
Saking terkejutnya Bobby menuding Tante Merry salah mendengar penjelasan dari Friska tentang alasannya pergi dari rumah kontrakan, Tante Merry maklum akan sikap dan kata-kata yang Bobby tudingkan itu karena memang Bobby saat itu benar-benar panik.
“Aku tahu kamu nggak percaya dengan yang aku katakan itu, sama halnya saat Friska kemarin menceritakan alasannya itu aku juga nggak percaya. Namun setelah aku melihat pria yang menunggunya di dalam dalam mobil di depan pintu pagar, barulah aku yakin semua yang ia katakan itu benar adanya.”
Tutur Tante Merry, Bobby yang tadi sempat berdiri dari duduknya tiba-tiba henyakan pantatnya di sofa dengan tubuh tersandar. Untuk beberapa saat suasana di ruang tamu itu hening, Tante Merry membiarkan Bobby menenangkan hati dan pikirannya dengan bersandar di sofa.
Bobby kemudian nampak membenahi posisi duduknya, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun hati dan pikirannya saat itu berkecamuk.
“Tante kenal dengan pria itu?”
Tanya Bobby dengan suara yang terdengar serak dan lemah, Tante Merry menggelengkan kepala lalu menjawab.
“Aku nggak kenal Bob, pria itu nggak pernah datang ke sini sebelumnya makanya aku juga heran kenapa tiba-tiba saja Friska memutuskan untuk menikah dengannya. Yang aku tahu bukankah selama ini dia menjalin hubungan denganmu Bob?”
Raut wajah Bobby terlihat merah padam, bahkan saking menahan emosi yang muncul tubuhnya terlihat seperti orang menggigil kedinginan.
“Apa salahku Friska, hingga kau tega berbuat begini?!”
Seru Bobby, meskipun seruan itu tak terdengar melengking keras namun dari nadanya jelas sekali menunjukan kekesalannya bahkan saat itu kedua tangannya tampak terkepal.
Tante Merry benar-benar kasihan melihat kondisi Bobby saat itu, hingga tanpa ia sadari kedua matanya berkaca-kaca.
“Bobby...”
Tante Merry seperti ingin berkata panjang lebar namun tak kuasa.
Bobby merasa sedikit lega saat henyakan pantatnya di sofa empuk di ruangan yang terhubung langsung dengan teras di lantai atas rumah mewah milik sahabatnya itu, hatinya sejak di mall tadi seakan terbakar karena melihat sosok wanita yang dia anggap telah menghancurkan hidupnya.Tak beberapa lama Bobby duduk, wanita setengah baya yang tadi mengantarnya ke ruangan itu datang kembali membawa dua gelas kopi hangat dan beberapa potong jenis kue basah di piring lalu menaruhnya di atas meja depan sofa di mana Bobby duduk dengan sahabatnya itu.“Silahkan diminum dan dicicipi Tuan,” tawar wanita setengah baya itu.“Makasih Bi Asih,” ucap Bobby diiringi senyum ramahnya, wanita setengah baya yang dipanggil Bi Asih itu balas tersenyum kemudian pamitan untuk kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah mewah itu.“Emangnya tadi dari rumah kamu rencananya mau ke mana Bob?” tanya pria yang duduk di samping Bobby itu.“Aku nggak dari rumah Ray melainkan dari hotel,
Sekitar jam 8 pagi Bobby terbangun dari tidurnya di ranjang di kamar hotel tempat ia menginap dan bercinta dengan Dina tadi malam, dengan hanya mengenakan celana pendek ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah menyalakan air hangat ke dalam bathtup yang tersedia di kamar mandi itu, Bobby pun merendam tubuhnya berbaring di bathtup itu dengan sesekali memejamkan mata.Air hangat di bathtup itu benar-benar membuat tubuhnya nyaman dan terasa segar kembali, cukup lama ia berada di sana hingga akhirnya menyudahi mandinya dan mengenakan pakaian ganti yang telah ia persiapkan dari rumah kemarin sebelum ke kantor dan menginap di hotel itu.Bobby meraih ponselnya yang ada di meja di sisi ranjang lalu melakukan panggilan, seseorang yang dihubungi itu langsung mengangkatnya.“Hallo, selamat pagi Pak.”“Pagi, jemput aku sekarang ya?” pinta Bobby.“Baik Pak, saya akan segera ke sana,” ujar sosok yang dihubungi itu lalu Bobby mengakhiri panggilan di ponselnya.Tak beberapa lama setelah chek out dan be
Sekitar jam 10 malam sebuah mobil mewah jenis Alphard memasuki halaman sebuah hotel di kawasan Kota Jakarta, sosok pria tampan bertubuh atletis turun kemudian mobil mewah itupun memutar balik meninggalkan kawasan hotel itu.Pria tampan itu melangkah ke lobi lalu masuk menghampiri resepsionis memesan sebuah kamar, setelah menerima key card ia pun menuju kamar yang dipesan. Langkah kakinya sedikit sempoyongan dan sesekali pria itu nampak meraba kepalanya sendiri yang terasa agak berat.Sepertinya pria itu sebelum menuju hotel meneguk minuman beralkohol di sebuah bar, atau tempat yang juga menyediakan minuman-minuman mengandung alkohol lainnya. Begitu masuk ke kamar ia langsung merebahkan diri di ranjang, entah sadar atau memang sengaja sepatu yang ia kenakan tak dibukanya terlebih dahulu.Tak berselang lama ponsel di saku celananya berbunyi, pria yang berbaring di ranjang kamar hotel itupun mengangkatnya.“Hallo Dina, kamu udah nyampai di hotel ini ya?”“Udah Om, nih aku di depan pintu
“Tapi usiaku dan Mas Bobby terpaut sangat jauh, apakah nanti tak jadi masalah bagi Papi dan Mami? Karena siapa tahu saja akan dipandang tidak baik oleh para tamu undangan, di hari pernikahan kami nanti.”Pak Haris dan Bu Widya sama-sama tersenyum mendengar perkataan Aulia itu, Pak Haris memberi isyarat pada istrinya agar dia saja yang menanggapi.“Aulia, Mami dan Papimu sudah tahu sebelumnya bahwa Bobby saat ini telah berusia 38 tahun sementara kamu tahun ini genap 23 tahun. Akan tetapi menurut pandangan kami Bobby masih kelihatan muda, orang-orang pasti takan menyangka usianya hampir 40 tahun. Bukankah begitu Mas?”Pak Haris mengangguk saat diminta tanggapan oleh Bu Widya.“Benar Aulia, kalaupun nanti ada yang kurang setuju atas perbedaan usia kalian takan berparuh bagi Papi. Justru kami berpandangan sosok Bobby yang jauh lebih dewasa akan dapat membimbingmu dalam berumah tangga nantinya, sekarang yang ingin kami dengar keputusan dari kamu bersedia tidaknya dijodohkan dengannya?”Pak
“Untuk mempererat hubungan keluarga besar kita, maka kami memutuskan akan menjodohkan Bobby dengan Aulia.”Terperanjatlah Bobby begitu pula Aulia mendengar penuturan dari Pak Haris itu, mereka berdua tentu saja tak menyangka jika kedua orang tua mereka telah memiliki rencana sebelumnya untuk menjodohkan mereka.Baik Bobby maupun Aulia tak berani bersuara meskipun mereka sama-sama ingin menyampaikan sesuatu atas pernyataan dari Pak Haris itu, karena tak satupun di antara mereka menanggapi Pak Azhar kemudian bicara.“Benar apa yang dikatakan Haris, dengan dijodohkannya Bobby dengan Aulia maka hubungan kekeluargaan kita semakin erat. Bagaimana menurutmu Bobby?”Ditanya seperti itu Bobby pun tersentak dan tak tahu harus menjawab bagaimana, ia kemudian berucap sekenanya saja.“Terserah Papa dan Om Haris, aku ngikut aja.”Pak Azhar pun tersenyum mendengar jawaban dari putranya, lalu ia alihkan pandangan seraya bertanya pada Aulia.“Bagaimana dengan kamu, Aulia?”Aulia tak menjawab, ia arahk
Setelah dirasa cukup tenang dengan menarik napasnya, Bobby pun bersuara.“Aku memang sedang ada masalah Ma, tapi masalah yang terjadi itu bukan di tempat kerja melainkan dengan Friska..”Bobby hentikan bicaranya, hal itu tentu membuat Bu Andini makin penasaran.“Masalah dengan Friska?!”Bobby mengangguk lemah, tatapannya jauh mengarah ke depan teras penuh kehampaan.“Coba ceritakan sama Mama, ada masalah apa kamu dengan Friska?”Pinta Bu Andini, kembali Bobby menarik napasnya dalam-dalam.“Aku dikhianati Friska Ma, dia kabur menikah dengan pria lain..”Bu Andini sangat terkejut tak percaya lalu memotong bicaranya Bobby.“Apa..? Friska menikah dengan pria lain?! Nggak mungkin, bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja?”Bobby terdengar mendengus napasnya yang terasa berat, ia melanjutkan bicaranya dengan tatapan masih ke arah depan.“Kenyataan yang terjadi memang begitu Ma, tadi siang saat aku ingin mengajaknya makan siang bareng dan menelponnya nomornya nggak aktif. Lalu aku







