ログインMata Serena membulat mendengar itu. Apa!?
Seseorang yang terlihat begitu berwibawa seperti Steave, menginginkan tubuhnya seperti sebuah alat tukar. Yang benar saja!?
"Jangan main-main!" seru Serena tak percaya. Ia berharap bahwa dirinya salah dengar atau Steave untuk menarik ucapannya.
Namun, yang datang justru sebuah penekanan dari Steave.
"Aku tidak pernah main-main dengan apapun," tegas Steave datar. Matanya hanya menatap Serena tajam. Serena sendiri tidak mampu membaca maksudnya.
Melihat Steave yang tak bergeming, Serena justru menjadi semakin kewalahan. Ia benar-benar tidak percaya.
"A..aku..." Serena terbata, ia tidak yakin harus mengatakan apa.
Di tengah hening keduanya, Steave mengakhiri pembicaraan. "Aku akan menunggu jawabanmu," kemudian pria itu berpaling tanpa suara lagi.
Serena masih mematung sebelum akhirnya tersadar bahwa pria itu tidak menerima jawaban lain selain ya atau tidak.
Dengan hati yang sesak dan perasaan yang bingung, Serena pun beranjak pergi. Pikirannya pun masih dihantui oleh penawaran Steave. Apakah ini satu-satunya jalan yang harus ditempuhnya?
Dalam kalutnya pikiran, Serena memutuskan untuk mengunjungi ibunya di rumah sakit.
Suara alat monitor berdenting, berpadu dengan aroma obat yang menyengat di dalam ruangan. Serena duduk di kursi kecil di samping ranjang, menatap wajah ibunya yang tampak pucat namun tenang. Tangannya menggenggam jemari wanita itu erat.
Air mata menetes satu per satu, membasahi punggung tangan sang ibu. Di sela tangis, Serena tersenyum lemah. “Serena janji, Ibu akan sembuh. Aku akan berusaha apa pun, asal Ibu bisa tetap hidup.” Kalimat itu seharusnya menjadi doa, tetapi terasa seperti kutukan. Karena setiap kali ia menatap wajah ibunya, pikirannya langsung kembali pada satu nama. Steave Alexander Whitmore. Serena mengusap wajah yang tampak lelah. “Aku benar-benar bodoh,” gumamnya pelan. “Kenapa aku percaya kalau dia akan membantu tanpa pamrih?” Ia kembali menatap ibunya. “Kalau aku menuruti keinginannya ... apa bedanya aku dengan Ethan?” Suaranya serak, nyaris seperti gumaman. “Aku juga akan berkhianat, hanya caranya saja yang berbeda.” Dada Serena terasa sesak. Ia menunduk, menempelkan dahinya di tepi ranjang. “Aku lelah, Bu...” Sejak mendengar penawaran tadi, pikirannya tidak pernah berhenti berperang. Antara ketakutan kehilangan ibunya dan rasa jijik terhadap dirinya sendiri. Ketika memejamkan mata, wajah Steave selalu muncul dengan tatapan dingin yang menawan sekaligus menakutkan. Tatapan yang membuat jantungnya berdebar, dan di saat bersamaan membuatnya ingin berlari sejauh mungkin. “Kalau aku menolak, Ibu mungkin kehilangan pengobatan. Tapi kalau aku menerima... aku kehilangan diriku sendiri.” ia berbisik lirih. “Jadi, luka mana yang harus kupilih, Bu?” Serena terdiam lama. Hanya suara monitor detak jantung yang terdengar, ia menarik napas panjang dan menghapus air mata yang tersisa. Beberapa hari kemudian, sepulang dari kantor, Serena langsung menuju rumah sakit seperti biasa. Serena terus berjalan ke dalam rumah sakit, tapi seperti ada yang berbeda. Ia terhenti saat melewati ruang tunggu ketika melihat dua perawat tengah memindahkan ibunya ke tempat tidur dorong. “Suster, mengapa Ibu saya dipindahkan?!” Serena menghampiri dengan langkah cepat, suaranya gemetar. Salah satu perawat tampak canggung. “Maaf, Nona Serena. Ini perintah dari pihak administrasi. Pasien atas nama Mrs. Collins akan dipindahkan ke kamar umum.” Serena mengerutkan kening. “Kenapa? Bukankah Ibu masih harus dirawat di kamar intensif?” Suster itu menunduk, menatap catatan di tangannya. “Dana pembiayaan sudah dihentikan oleh pihak sponsor. Atas nama Mr. Whitmore.” Wajah Serena seketika memucat. Dunia seolah berhenti berputar. Steave menghentikan biaya pengobatan? Ia berlari ke meja administrasi. “Tolong, ini pasti kesalahan! Tuan Steave, dia tidak mungkin menghentikan pengobatannya kan?” Petugas administrasi hanya menggeleng. “Kami hanya menjalankan perintah, Nona. Tadi pagi stafnya datang langsung membawa berkas pemberhentian biaya.” Jantung Serena berdentum keras. Ia berbalik dan berlari keluar rumah sakit. Dadanya terasa sesak mengetahui ini semua. Setelah percakapan kemarin, Serena belum bisa berpikir jernih. Bagaimanapun itu, Serena harus segera mencari jawaban atas semua ini. Kenapa Steave melakukannya tanpa berbicara dulu!?Bandara malam itu dipenuhi lalu lalang penumpang. Namun di sudut khusus keberangkatan, suasana terasa lebih intim.Serena memeluk Luna dengan hati-hati, tangannya mengusap punggung menantunya penuh kasih. “Jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu lelah,” ucapnya. Luna mengangguk patuh. “Iya, Bu.”Serena lalu menoleh ke arah Rion. Tatapannya berubah sedikit tegas, khas seorang ibu. “Kamu juga. Jangan terlalu keras kepala.”Rion mengangguk paham. “Iya, Bu.”Sementara itu, Steave berdiri di depan Leo yang sedang menggendong Azzura yang tidak bisa diam.“Awas kamu,” ujar Steve setengah mengancam, tapi dengan nada bercanda. “Kalau Azzura jatuh lagi dan terus menangis–”“Iya Ayah! Intruksi diterima!” Leo langsung panik. “Aku akan menjaga princess Whitmore dengan baik.”Steave mendengus, lalu mengusap kepala Azzura yang malah tertawa tanpa mengerti apa-apa. “Kamu bisa perintahkan apa saja pada Om-mu,” gumamnya pada sang cucu. Leo memutar mata kesal, kalau ayahnya tidak menjanjikan bahwa ia
Beberapa hari setelah malam itu, suasana megah menyelimuti sebuah hotel bintang lima di pusat London.Resepsi pernikahan yang selama ini tertunda akhirnya digelar.Aula besar itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dihiasi bunga-bunga segar yang elegan. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan pebisnis besar, relasi internasioal, hingga keluarga dekat. Jumlahnya bukan lagi kalanga, tapi hampir mencapai ribuan.Di atas pelaminan, Rion dan Luna berdiri berdampingan.Luna tampak begitu anggun dalam balutan gaun putih panjang yang menjuntai sempurna. Senyumnya tidak pernah lepas, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan.Sementara di sampingnya, Rion berdiri tegap dengan setelan jas elegan. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi sesekali sudut bibirnya terangkat saat menatap istrinya.Tangannya tidak pernah lepas dari Luna.“Kamu capek?” tanya Rion sedikit menunduk ke arah Luna.Luna menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku sangat senang.”Rion menatapnya beberapa detik le
Di ruang keluarga, Serena tampak duduk santai di sofa sambil memangku Azzura. Tangan wanita itu dengan sabar menggoyangkan mainan kecil, membuat balita mungil itu tertawa riang tanpa henti.“Pintarnya,” ujar Serena, matanya penuh kasih.Azzura merespons dengan suara celoteh yang belum jelas, tetapi cukup membuat Serena semakin gemas. Ia mengecup pipi kecil itu berkali-kali.Kemudian, ia mendengar langkah kaki yang mendekat, Serena menoleh, lalu mendapati Luna berdiri tidak jauh dari sana. Wajah menantunya itu tampak berbeda, dan sedikit gugup, bahkan cenderung malu.“Luna?” panggil Serena. “Ada yang kamu butuhkan?”Luna menggigit bibir bawahnya sebentar, ragu untuk berbicara. Tangannya saling menggenggam, terlihat sedang menahan rasa canggung.“Ibu…” suaranya sekecil mungkin. “Ya?” Serena tersenyum, menunggu dengan sabar.Luna menarik napas, lalu akhirnya memberanikan diri. “Malam ini… apakah Ibu bisa menjaga Azzura?”Serena terdiam sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit p
Selesai makan malam, Luna mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih gelap. Azzura akhirnya tertidur setelah cukup lama bermain lagi di atas tempat tidur. Napas kecilnya terdengar teratur, dan wajah mungilnya tampak damai. Luna mengelus kepala putrinya sebelum berdiri. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.Tubuhnya terasa lelah. Hari ini cukup panjang, jadi ia berniat mandi sebentar untuk merilekskan diri.Namun, baru saja ia tiba di dalam kamar mereka, dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang melingkupi pinggangnya.Luna tersentak dan tubuhnya sempat menegang. “Rion?!” ucapnya kaget.Napas hangat menyentuh lehernya. “Hemm.”Suara rendah itu langsung membuat tubuh Luna melemas. “Kamu ini,” gumamnya, tangannya menyentuh lengan Rion yang masih memeluknya erat.Rion semakin mendekat. Wajahnya bersandar di bahu istrinya. Ia benar-benar lelah.“Kapan pulang?” tanya Luna. “Dari tadi.”Luna tersenyum kecil. “Kenapa tidak bila
Beberapa bulan kemudian…Suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Rion membawa Luna dan anaknya untuk tinggal kembali di mansion karena Serena terus memohon, dan Rion tidak tega melihat ibunya. Tawa kecil bercampur teriakan riang memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana sulit untuk tidak ikut tersenyum.Di tengah ruang keluarga, seorang bocah kecil dengan langkah belum sempurna berlari ke sana kemari.“Azzura, pelan-pelan!” seru Leo yang sudah mulai kewalahan.Namun bocah perempuan itu sama sekali tidak berhenti.nKakinya yang mungil terus melangkah cepat, sesekali hampir tersandung karpet, lalu.. Bruk!Ia terjatuh.Semua orang refleks menoleh.Luna yang duduk di sofa langsung menegakkan tubuhnya, tapi belum sempat berdiri, Serena sudah lebih dulu menahan tangannya.“Biarkan saja,” ujar Serena lembut. “Tidak apa-apa.”Luna menggigit bibirnya menahan diri.Sementara itu, Azzura hanya diam satu detik lalu tertawa. Ia bangkit lagi, lalu kembali berlari.“Lihat kan?” gu
Ruangan VIP yang ditempati Luna mulai di penuhi aroma makanan yang baru datang. Luna tengah bersandar lemah di ranjang dengan wajah pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Serena duduk di samping ranjang, memegang mangkuk sup. Dengan penuh perhatian, ia meniupnya sebelum menyuapkan ke arah Luna. “Pelan-pelan, saja,” ucapnya. Luna sempat ragu, matanya melirik ke arah Rion sekilas, seolah meminta izin. Rion yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Bukannya apa, ia masih bingung harus bagaimana setelah status barunya di akui ibu mertuanya. “Buka mulutmu,” kata Serena.Luna akhirnya mengikuti, menerima suapan itu. “Terima kasih… Bu,” ucapnya malu-malu.“Kamu tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga ini,” ujar Serena. Ucapan itu membuat dada Luna terasa hangat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hampir membuatnya ingin menangis.Di sisi lain ruangan, Rion berdiri
Serena berdiri terpaku di ambang pintu mansion.Tatapannya tampak kosong menembus deretan mobil hitam yang terparkir rapi di halaman depan.Mesin-mesin kendaraan itu sudah menyala, dan siap berangkat kapan saja. Para sopir pun berdiri tegap di samping pintu masing-masing.Semuanya terasa seperti ad
Asap rokok melayang ke udara yang sejuk, menyilang pandangan Steave yang menatap jauh ke hamparan taman di bawah mansion. Sudah bertahun-tahun ia tidak menyentuh rokok, namun hari ini rasa tekanan yang luar biasa membuatnya kembali pada kebiasaan lama itu.Jempol dan telunjuknya menggenggam batang
Steave mengendurkan tali dasi dengan cepat saat mobil melaju kencang menuju mansion.Ia sudah menghubungi tim keamanan untuk memperketat pengawasan di semua pintu masuk dan area sekitar mansion. "Pastikan tidak ada satu pun orang yang tidak dikenal masuk ke dalam area, dan pantau setiap kendaraan
Di ruang tamu yang dihiasi dengan dekorasi klasik ala Inggris, sofa besar berlapis kain merah tua, meja bundar bertutup alas putih, dan bunga-bunga segar di setiap sudut.Evelyn sudah duduk bersama beberapa teman sosialita sebayanya yang juga berasal dari kalangan konglomerat. Mereka sedang berbinc







