ANMELDENKeesokan paginya, suasana ruang keluarga mansion utama Whitmore kedatangan tamu. Frederick, selaku ketua dewan duduk di kursi favoritnya, serta tablet di tangannya bergetar karena amarah yang tersulut.Tatapan matanya terpaku pada layar.Membaca judul berita yang terpampang jelas.Istri Steave Alexander Whitmore Diduga Alami Gangguan Kejiwaan : Hasil Laboratorium Bocor ke Publik.Rahang Frederick mengeras. Jarinya menggulir layar, membaca setiap baris dan semakin sulit mengendalikan emosinya. Bukan hanya tudingan, tetapi ini terlalu detail, sampai pada hasil laboratorium medis yang seharusnya tidak mungkin keluar dari sistem tertutup. “Ini sudah keterlaluan,” gumamnya.Ethan yang juga berada di sana memasang Wajah keprihatinan yang dibuat-buat. “Paman Frederick,” ujar Ethan. “Aku juga membaca beritanya.”Frederick menoleh tajam. “Siapa yang menyebarkan ini?”Ethan menghela napas, lalu duduk di seberang Frederick. “Entahlah. Tapi… jujur saja, aku tidak terkejut.”Frederick menyipitkan
Para pelayan berkumpul di sudut dapur belakang mansion. Suara mereka dibuat sepelan mungkin, tetapi bisikan-bisikan itu tetap terdengar jelas di ruangan yang sepi.“Katanya waktu, di Villa Nyonya berteriak-teriak sambil bawa pisau…” “Iya, aku dengar sendiri. Susternya sampai gemetar.” “Kasihan Tuan Muda… Nyonya kelihatannya berbeda sekali akhir-akhir ini.” “Dulu Nyonya itu lembut, tenang. Sekarang mudah sekali marah, tatapannya juga sering kosong…”Salah satu pelayan menoleh ke arah tangga, memastikan tidak ada siapa pun di sana. “Jangan-jangan Nyonya jadi stres dan gila,” bisiknya.“Eh, jangan asal bicara–”“APA YANG KALIAN LAKUKAN?” Suara itu memotong bisikan mereka dengan tajam.Semua pelayan tersentak dan langsung membeku di tempat. Catherine berdiri di ambang pintu dapur. Tangannya bersedekap di dada, dengan tubuh yang tegak seolah sedang menilai satu per satu orang di hadapannya.“Jam kerja kalian masih panjang,” ucap Catherine datar. “Atau kalian sudah kehabisan pekerjaan sa
Steave berlari tanpa sempat menutup panggilan. Ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai saat ia menerobos keluar kamar. “Nyonya, jangaaaan!” Teriakan itu semakin jelas. Begitu tiba di ruang utama vila, pemandangan yang menyambutnya membuat darah Steave seolah membeku. Serena berdiri di tengah ruangan. Rambutnya tergerai berantakan, napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Di tangannya, ada sebuah pisau dapur. Genggamannya gemetar, dengan ujung pisau itu terarah jelas ke depan. Di hadapannya, seorang suster berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, dan kedua tangannya mendekap Rion erat-erat ke dada. “Nyonya… tolong tenang.” Suara suster itu bergetar, hampir menangis. “Saya hanya membawa Tuan Muda ke kamar–” “DIAM!” teriak Serena tiba-tiba. Suara itu bukanlah Serena yang Steave kenal. Penuh ketakutan dan kemarahan yang tercampur menjadi satu “Jangan sentuh anakku!” teriak Serena lagi. “Kalian mau bawa dia ke mana? Mau ambil dia dariku, ya?!” Rion menan
Mobil berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik dengan dinding batu alam dan jendela-jendela besar menghadap langsung ke danau. Airnya berkilau memantulka perbukitan hijau yang tampak dari jauh. Lake District.Saat turun dari mobil, Serena langsung merasakan angin yang menerpa wajahnya. Ia mengitari sekitar, dan tempat ini sangat sepi. Ia melihat Rion langsung berlari kecil di halaman luas, tertawa saat kakinya menginjak rumput tanpa sepatu. Serena menatap pemandangan itu lama, lalu tersenyum tipis. “Aku sangat bersalah pada Rion,” gumamnya.Steave berdiri di sampingnya, satu tangannya melingkar di pinggang Serena dengan protektif. “Aku ingin kita menghabiskan waktu di sini, aku tidak akan bawa pekerjaan. Hanya ada kita.”Serena mengangguk. “Terima kasih sudah membawaku ke sini.”Mereka masuk ke dalam vila. Pengasuh Rion langsung membawanya ke kamar, sementara Serena duduk di sofa, meneguk minuman yang sudah disiapkan pelayan.Untuk beberapa jam, semuanya terasa normal.Sore me
Sekembalinya dari arah toilet, langkah Serena terasa jauh lebih goyah. Kakinya seperti tidak sepenuhnya menapak lantai dan epalanya kembali berdenyut karena pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa henti. Apa benar yang dikatakan Clarine? Bukankah Steave bilang semuanya sudah selesai? Bukankah wanita itu sudah diurus, dijauhkan dari mereka? Lalu kenapa Clarine muncul lagi? Atau… Dada Serena semakin sesak. Atau semua itu hanya alasan Steave? Alasan untuk menyembunyikan Clarine. Untuk memindahkannya dari mansion agar mereka bisa tetap berhubungan… diam-diam, di belakangnya. Pikiran itu menusuk jauh lebih tajam daripada gosip mana pun. Kepalanya semakin sakit, seolah ada tekanan kuat dari dalam. Suara musik di aula terdengar mendengung, wajah-wajah tamu menjadi kabur. Dan ruangan itu terus berputar tanpa henti. Serena mencoba mencari Steave di antara kerumunan. Namun langkahnya tidak kuat lahi, pandangannya jadi menghitam. ‘Tidak… aku tidak apa-apa…’ Ia
Sepanjang acara berlangsung, tangan Steave tidak sekali pun melepaskan genggaman Serena. Seolah ia ingin memastikan istrinya benar-benar ada di sisinya. Setiap kali Serena melangkah, Steave menyesuaikan ritmenya. Saat Serena tampak melamun, jemari pria itu mengencang sedikit, memberi isyarat tanpa kata. Aula utama perusahaan Whitmore malam itu dipenuhi para tamu dari kalangan elite bisnis, mitra internasional, hingga petinggi keluarga besar Whitmore berbaur dalam percakapan forml sekedar basa-basi. Bagi Serena, acara ini tidak lagi menyenangkan. “Minumlah sedikit,” bisik Steave sambil menyodorkan gelas. “Kamu tampak pucat, Sayang.” Serena mengangguk dan menerima gelas itu. Ia menyesap perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Tak lama kemudian, seorang pria mendekat. “Paman Steave,” sapa Ethan. “Acara ini sangat mengesankan.” Steave menoleh. “Ternyata kau menyempatkan diri untuk datang.” “Tentu saja. Aku harus tahu seluk beluk perushaan utama kan?” goda Ethan denga







