Home / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 219 - Biarkan Aku Memuaskan mu.

Share

BAB 219 - Biarkan Aku Memuaskan mu.

Author: Cassian Story
last update Last Updated: 2026-02-13 22:35:28

Kesadaran datang secara perlahan, Serena merasa tidak nyaman saat menggeliat dalam tidurnya.

Tubuhnya merasa dingin dan terbuka, sementara sesuatu yang hangat dan basah menyentuh punggungnya dengan intens.

Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum tertidur. Serena masih ingat mengenakan piyama saat terbaring bersama anak-anak.

Ia membuka mata sedikit demi sedikit, tubuhnya langsung kaku saat menyadari dirinya sudah tidak mengenakan apa-apa.

Selimut yang seharusnya menu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 247 - EP 5

    Sudah tiga hari sejak bayi perempuan itu lahir. Dan rumah Ethan benar-benar berubah. Botol susu berserakan di meja. Selimut bayi tergantung di sandaran kursi. Tas perlengkapan terbuka di lantai. Aroma minyak telon bercampur dengan kopi.Di tengah semua itu, Ethan duduk di sofa dengan rambut acak-acakan dan mata panda yang jelas terlihat. Ia tampak seperti pria yang baru kalah perang.Serena berdiri memperhatikannya dengan kedua tangan terlipat di dada. Sementara Steave berdiri di samping istrinya, ekspresinya datar seperti biasa, meski sudut bibirnya hampir bergerak.“Serena…” suara Ethan terdengar berat. “Tolong tinggal di sini beberapa hari.”Serena mengangkat alis. Ini bukan Ethan yang biasanya. Tidak ada nada percaya diri, atau kesan pongah.Hanya seorang ayah baru yang kelelahan.“Kau baru tiga hari jadi ayah dan sudah menyerah?” ujar Steave dingin.“Aku tidak menyerah,” sahut Ethan cepat. “Aku cuma… tidak tahu harus bagaimana.” Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tatapannya sekil

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 246 - EP - 4

    Malam itu hujan turun cukup lebat ketika ponsel Steave bergetar.Nama Ethan muncul di layar.Steave mengangkatnya dengan tenang. “Ya.”“Paman… rumah sakit. Istriku kontraksi, tolong aku!” Nada suara Ethan terdengar benar-benar panik.Serena sudah berdiri sebelum Steave menutup telepon. “Alessia?”Steave mengangguk singkat. “Ya, kita ke sana.”***Di rumah sakit, Serena dan Steave berdiri di balik kaca ruang bersalin. Dan pemandangan di dalam sana jauh dari kata dramatis romantis.Alessia yang biasanya lembut berubah menjadi badai kecil.“ETHAAAAN!” teriaknya saat kontraksi datang.“Aku di sini, Sayang!” jawab Ethan setengah gemetar.Namun tangan Alessia sudah lebih dulu mencengkeram rambutnya.Dan bukan sekadar mencengkeram.Menjambak sekuat mungkin. “INI SALAHMU!” pekiknya lagi.“AKU TAHU! AKU AKUI!” Ethan hampir tertekuk.Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berdiri ke segala arah. Kemejanya bahkan sudah tidak beraturan. Perawat mencoba menenangkan. “Bu, jangan tarik rambut

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 245 - EP 3

    Di taman mansion sore itu, di bangku putih dekat kolam kecil, Serena dan Steave duduk berdampingan.Serena menyandarkan kepalanya di bahu Steave, sementara tangan pria itu menggenggam jemarinya dengan erat. Di depan mereka, dua bocah laki-laki berlarian tanpa beban.“Rion! Jangan lari terlalu jauh!” teriak Serena refleks.Rion yang sudah berusia sepuluh tahun menoleh sekilas. Wajahnya mulai memperlihatkan garis tegas seperti ayahnya, tapi senyumnya, jelas milik Serena.“Iya, Bu!” jawabnya, lalu menarik tangan adiknya. “Leo, sini!”Leo yang baru empat tahun tertawa lepas, suaranya cempreng menggemaskan. Rambutnya sedikit berantakan, sepatu kecilnya penuh rumput, tapi ia terlihat paling bahagia.Steave tersenyum kecil melihat mereka. “Rion mulai mirip aku.”Serena mendengkus. “Sayangnya, iya.”“Sayangnya?” Steave pura-pura tersinggung.“Iya. Dia mulai menyebalkan sepertimu,apa lagi sikap dinginnya mulai terlihat.” Serena menoleh menatap suaminya penuh arti.Steave terkekeh. “Itu prinsi

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 244 - EP 2

    Mobil berhenti di depan gedung perusahaan saat langit mulai berubah jingga.Serena sempat singgah membeli beberapa makanan ringan dan kopi. Pekerjaannya masih banyak dan Ia ingin menyelesaikan beberapa berkas sebelum malam benar-benar tiba.Saat ia melewati lobi. Para karyawan memberi salam hormat seperti biasa. Dan Serena hanya membalas dengan anggukan seadanya. Semua tampak normal.Sampai ia tiba di depan pintu ruangannya.Ada yang aneh, pintu itu sedikit terbuka.Serena berhenti sesaat, ia ingat dengan jelas sebelum pergi sudah menutup pintu dengan rapat. Bahkan ia selalu memastikan tidak ada yang masuk tanpa izinnya.Mungkin Sekretarisnya?Atau staf?Ia menarik napas, lalu mendorong pintu itu perlahan.Dan tubuhnya kaku seketika.Apa benar yang ia lihat?Bukan halusinasi, kan?Di kursi besar di balik meja yang kini menjadi tempat kerjanya… duduk seorang pria dengan setelan rapi. Punggungnya tegap dan tangannya memegang sebuah dokumen yang sedang ia periksa dengan serius.Wajah it

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 243 - EP 1

    Satu tahun berlalu… Serena memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan mengambil alih milik Steave sepenuhnya. Ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan ada yang bisa menyentuh hasil jerih payah suaminya dan memanfaatkan kosongnya kursi pimpinan. Seperti yang ia inginkan dulu, Serena tidak lagi berkutat hanya sebagai ibu rumah tangga. Ia disibukkan dengan rapat, kunjungan bisnis serta memeriksa data perusahaan setiap harinya. Tidak ada lagi gaun rumah atau pun tangisan yang ia tunjukkan seperti dulu. Serena telah berubah, selain menjadi ibu, ia juga seorang wanita karir. Setidaknya begitulah yang dilaluinya sekarang. Paginya menyiapkan Rion pergi sekolah lalu bermain dengan Leo. Setelahnya Serena bergegas untuk bekerja. Sedikit banyak ia paham, seperti inilah yang dilalui suaminya dulu. Sudah lelah bekerja seharian, di rumah pun harus meladeni mood Serena yang terus berubah. Para karyawan berdiri saat ia lewat.“Selamat pagi, Nyonya.”Ia hanya mengangguk singkat.Dulu, ia akan t

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 242 - Ending???

    Serena duduk di kursi belakang mobil tanpa suara. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Kini, Jantungnya semakin berdetak lebih cepat. Sementara itu, Paul menyetir dengan wajah tegang, fokus menatap jalan. Mobil melaju cukup cepat. Beberapa menit pertama, Serena masih mencoba menenangkan diri. Namun ketika arah kendaraan berubah, ia mulai merasa tidak asing dengan jalur yang dilewati. Itu bukan jalan menuju rumah keluarga Whitmore. Tapi menuju pusat kota bagian timur. Menuju… Serena menegakkan tubuhnya. “Paul,” panggilnya. “Ya, Nyonya.” “Kenapa kita ke arah sini?” Paul tidak langsung menjawab. Serena melihat papan penunjuk jalan yang terlewati. Rumah sakit terbesar di London hanya beberapa kilometer lagi. “Paul,” suaranya mulai bergetar, “kenapa kita ke rumah sakit?” Paul menarik napas panjang. “Mohon bersabar, Nyonya.” Jawaban itu membuat perut Serena terasa mula. Keringat dingin mulai menjalar ke ujung jemarinya. Mobil akhirnya berbelok memasu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status