MasukAdrian menatap Vivian dengan pandangan penuh selidik, seolah mencoba membaca isi kepalanya. Sampai detik ini ia hanya tahu satu kalau Vivian adalah orang yang menghubunginya dan mengatakan Serena dalam bahaya, harus dibawa sejauh mungkin dari Steave. Itu saja. Namun melihat tatapan Serena yang mulai pucat, dan senyum sinis Vivian yang terasa penuh kemenangan, Adrian sadar, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Adrian dingin.Vivian melenggang masuk ke dalam kamar. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, matanya bergantian menatap Serena dan Adrian dengan tatapan seperti singa yang berhasil menjebak mangsanya ke sudut paling sempit.“Tenang saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Aku tidak datang untuk menyakitinya. Justru aku ingin, membuka sedikit kebenaran.”Serena meremas ujung selimut, jantungnya berdegup kencang. Ada firasat buruk bahwa wanita ini akan melakukan sesuatu yang lebih jahat. Vivian menoleh pada Serena, lalu t
Kapal kecil itu berhenti tepat di dermaga yang menjorok ke laut. Ombak memecah di sisi lambung kapal, sementara angin membawa aroma garam dan dedaunan kering dari pulau kecil yang tampak sepi itu.Pulau pribadi.Sunyi.Hanya suara burung dan laut yang terdengar.Serena tetap duduk di bangkunya, tidak bergerak sedikit pun. Ia memalingkan wajah, jelas menolak untuk turun. Adrian menatapnya sekilas, menghela napas panjang.“Serena… turunlah,” ucapnya tenang. “Kita sudah sampai.”“Aku tidak mau,” jawab Serena keras kepala tanpa memandangnya. “Bawa aku kembali.”“Kita tidak bisa kembali sekarang.”“Aku tidak peduli!” Suaranya meninggi, hatinya sudah campur aduk antara marah, takut, dan kelelahan.Adrian mengencangkan rahangnya. Sejenak ia mencoba bersabar. Tapi Serena tetap menolak. Tanpa banyak bicara lagi, ia menunduk dan tanpa memberi kesempatan untuk kabur mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya.Serena langsung memberontak.“Adrian! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!” Ia memu
Steave tampak kusut. Mata cekungnya memerah, dan urat di pelipisnya menegang. Sudah berjam-jam tanpa tidur, tanpa istirahat sedikit pun hanya berlari dari satu informasi ke informasi lain untuk menemukan Serena, namun nihil.Ia melangkah masuk ke ruang utama mansion keluarga Whitmore dengan aura yang begitu gelap. Semua kepala menoleh.Frederick duduk dengan posisi paling dominan, beberapa dewan keluarga berada di sisi kanan dan kiri. Ethan berdiri tak jauh dari sana, dengan ibunya yang terlihat puas memandang keadaan Steave yang berantakan.Suasana hening sesaat.Lalu, mulai terdengar suara-suara menekan.“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Steave?” suara salah satu dewan terdengar dingin. “Istrimu kini menghilang, kondisi mentalnya dipertanyakan, dan sekarang reputasi keluarga ikut terlibat.”“Ini sudah menjadi skandal publik,” sahut yang lain. “Jika kau tidak mampu mengendalikan keadaan, bagaimana kau bisa mengendalikan kekuasaan?”Ethan tersenyum tipis, suara penuh ejekan terdenga
Steave langsung berlari keluar hotel, napasnya memburu dan detak jantungnya menghentak dada. Seharusnya Serena menunggu di lobby seperti yang sudah direncanakan. Tapi kini, tidak ada sosok wanita itu di mana pun.Ia menoleh cepat, matanya menyapu setiap sudut. Tangannya mengepal kuat sampai buku jarinya memutih. “Serena,” gumamnya. Perkataan Clarine kembali terngiang di kepalanya.“Seharusnya yang kau khawatirkan sekarang adalah istrimu… Dia mungkin sudah dibawa pergi jauh.”Jantung Steave serasa dicengkeram. Ia segera menekan earphone komunikasinya. “Cari istriku!” perintahnya lantang. “Dia berada di sekitar hotel ini beberapa waktu yang lalu. Periksa setiap sudut, pintu keluar, kamera pengawas, semuanya!”“Ya, Tuan!”“Dan satu lagi!” Suara Steave semakin menegang. “Cari Catherine! Dia menghilang bersamaan dengan Serena!”Para pengawal Steave langsung bergerak menyebar. Mobil-mobil hitam yang sudah bersiaga di parkiran hidup bersamaan, lampu-lampu menyala dan beberapa orang segera
Adrian membawa Serena ke apartemennya tanpa persetujuan. Serena duduk di sofa panjang, tubuhnya membungkuk sembari meremas ujung coat yang Adrian kenakan padanya tadi. Di kepalanya, banyak hal berkecamuk.Bagaimana caranya ia keluar dari sini tanpa membuat semuanya terlihat mencurigakan?Bagaimana Adrian bisa tiba tepat di saat dirinya membutuhkan pertolongan?Apa mungkin… Adrian dan Catherine bekerja sama?Pria itu berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan Serena dengan tatapan penuh pertimbangan. Ia tidak langsung bicara. Seolah mencoba memberi waktu agar Serena sedikit tenang. Namun ia bisa melihat jelas, wanita itu sama sekali tidak tenang.“Minum dulu,” ucap Adrian akhirnya, meletakkan segelas air hangat di meja. “Kamu kelihatan pucat.”Serena mengangkat kepalanya sedikit, menatap gelas itu tanpa benar-benar berniat menyentuhnya. “Aku tidak haus,” gumamnya. Adrian berpindah duduk ke sisi lain sofa, meski menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk bisa menangkap jika tiba-tiba Ser
Malam itu, Serena dan Catherine duduk diam di dalam mobil yang diparkir tak jauh dari hotel mewah di pusat kota. Hujan rintik-rintik membasahi kaca, membuat suasana semakin mencekam. “Tuan berhenti di sini,” ucap Catherine saat melihat Steave turun dari mobil.Serena melihat dengan jelas sosok suaminya melangkah masuk ke lobi hotel tanpa ragu sedikit pun. Mereka tak menunggu lama. Begitu Steave masuk, Serena dan Catherine keluar dari mobil dan menyusulnya dari kejauhan. Hanya ada satu fokus mereka, punggung Steave di antara keramaian. 8Dan saat itu terjadi.Steave berhenti.Seorang wanita berdiri tidak jauh darinya… lalu tersenyum sembari melambaikan tangan. Clarine.Serena terbelalak.Clarine melangkah mendekat, dan Steave menerimanya, membiarkan wanita itu menempel. Catherine melirik Serena sekilas yang langsung menunduk, tangannya menggenggam tas dengan gemetar. “Itu… Clarine…” Suaranya pecah.Clarine berbicara pada Steave, entah apa, lalu mereka berjalan berdampingan menuju l







