Share

Gairah Membara si Kupu-kupu Malam
Gairah Membara si Kupu-kupu Malam
Author: Aprillia D

1. Aktivitas Laura

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2025-12-27 18:01:33

"Kamu kenapa, Honey?"

Suara berat khas pria menyadarkan Laura yang sejak tadi tampak gelisah. Gadis yang berbaring tanpa busana dan hanya berbalut selimut itu memang tidak bisa tidur, sejak tadi dia hanya bolak-balik badan. Dia menoleh menatap pria yang juga berbaring di sampingnya dengan agak terkejut. Pasalnya sejak tadi pria itu sudah tidur nyenyak.

Laura mengernyit heran. "Om kenapa bangun?"

Pria yang lebih tua dua puluh tahun darinya itu mengalihkan posisi baringnya, menatap Laura penuh cinta yang diam-diam membuat Laura mual. "Om tiba-tiba kebangun, liat kamu gelisah aja dan belum tidur. Ada apa, hmm?" Pria itu lantas mengulurkan tangan panjangnya yang masih tampak kekar, menarik bahu mulus Laura yang terekspos.

Laura pun berbaring manja di dada bidang pria itu, mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian. "Aku nggak bisa tidur lagi, Om. Aku mau pulang," bisiknya sambil mengusap bulu-bulu halus di dada bidang pria itu.

"Kan besok pagi pulangnya, Honey. Ini udah malam. Sekarang mending kita tidur lagi aja, yuk." Pria itu mengusap bahu mulusnya.

Lima jam lalu Laura dan pria berusia empat puluh lima tahun bernama Dion itu menghabiskan waktu bersama, mereka bercinta sepuasnya, hingga mereka kelelahan dan Dion jatuh tertidur. Namun, Laura dia tidak bisa tidur, dia banyak pikiran, dia juga ingin pulang. Dia tak kuasa menghabiskan waktu lebih lama dengan pria tua yang menjadi pelanggannya ini. Dan kini waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari.

Laura langsung bangun, menegakkan kepalanya dari dada pria tua itu. "Enggak. Aku nggak mau tidur lagi, aku nggak bisa tidur lagi. Aku maunya pulang sekarang. Kerjaan aku juga udah beres, kan?" Laura membulatkan tekad untuk pulang. Apa pun caranya dia harus keluar dari kamar hotel ini sekarang juga.

Pria tua itu menggeleng. "Belum. Saya masih belum puas, dan saya mau kamu puaskan saya sebentar lagi. Setelah itu baru kita pulang."

"Maaf, Om, tapi aku harus pulang sekarang juga." Laura tidak mungkin memberi tahu alasan yang sebenarnya. Maka dia mencari-cari alasan lain. "Tadi adik saya telepon katanya dia lagi demam, saya jadi kepikiran sama dia dan saya jadi nggak bisa fokus di sini. Aku boleh pulang, ya, Om, aku mohon," jelasnya sambil menatap pria itu harap-harap cemas. Berharap dia diizinkan pulang.

"Tapi Laura ...." Dion tampak keberatan.

Kali ini Laura memasang tampang memelas. "Aku mohon, Om, aku boleh pulang sekarang, ya? Mohon pengertiannya, ya, Om." Gadis itu lalu membuka selimutnya yang nyaris menampakkan bagian tubuhnya yang lain yang menggantung di dadanya.

"Baiklah." Dion menyerah. "Kalau gitu Om antar kamu, ya, Honey."

Masih duduk di atas tempat tidur, Laura menoleh lalu menggeleng. "Nggak perlu, Om. Aku bisa naik taksi aja. Terima kasih sebelumnya."

"Mana mungkin saya biarkan wanita secantik kamu yang sudah melayani saya pulang sendirian. Lagi pula kita ke hotel ini kan tadi berdua. Jadi sudah sepatutnya saya yang antar kamu juga."

"Nggak usah, Om. Saya mau pulang sendiri pakai taksi. Saya nggak masalah. Saya kan mandiri dan ... kuat," ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya, tampak genit. Dion terdiam melihatnya seakan terhipnotis dengan pesona gadis itu.

Laura lantas bergegas berdiri. Memunguti pakaian dalamnya yang tercecer di lantai dan mengenakannya cepat.

Dion di atas kasurnya mengamati Laura yang mengenakan baju terang-terangan di depannya. Pemandangan itu, tubuh indah itu, rasanya dia masih ingin melihatnya lebih lama. Tanpa sadar Dion menelan ludah.

Laura tahu Dion memperhatikan tubuh indahnya, membuatnya semakin ingin cepat menjauh dari pria tua itu. Dan penolakannya untuk diantar pun bukan main-main. Laura lebih baik naik taksi sendiri daripada diantar oleh pria tua itu.

"Laura biarkan saya antar kamu, ya?"

Namun, ternyata pria itu keras kepala.

"Saya masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Rasanya saya ingin bersama-sama kamu terus sampai kapan pun."

Laura mual mendengar kalimat itu. Tapi jika dia tolak, pria itu pasti terus saja memaksa. Maka dia pun terpaksa menurutinya. Toh, ini yang pertama dan terakhir kali dia menghabiskan waktu bersama pria tua itu. Dan yang paling penting dia bisa pulang sekarang.

***

Mobil milik Dion berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Tangan Laura sudah memegang ganggang pintu mobil, hendak membuka mobil, ketika Dion menegurnya. "Laura."

Laura menoleh. "Iya, Om?" Lantas melempar senyum manisnya. "Makasih, ya, udah antar aku. Selamat malam, Om."

"Laura." Tapi Dion memegangi tangan Laura seakan menahannya.

Laura diam, menunggu pria tua itu bicara dengan tak sabaran.

"Saya berharap ini bukan pertemuan terakhir kita. Sebelum turun boleh saya minta sesuatu?"

Dahi Laura mengernyit samar. "Apa itu, Om?"

Tanpa mengatakan apa pun orang tua tak tahu diri itu memegangi kedua bahu Laura dan mendekatkannya dengan tubuhnya. Dia berusaha menciumi Laura. Dan sebelum bibirnya menyentuh bibir Laura, gadis itu spontan menjauhi kepalanya.

"Maaf, Om. Saya harus turun sekarang." Tanpa menunggu jawaban orang tua itu, Laura segera membuka pintu mobil. Namun, sialnya, pintu itu ternyata dikunci, Laura jadi tidak bisa keluar dari mobil itu.

Sementara pria tua di sampingnya terus saja menahan dirinya dengan memegangi tangannya. "Ayolah, Honey, temani Om di sini sebentar lagi." Pria itu lantas menarik Laura dalam pelukannya dan berusaha mencumbui Laura yang terus memberontak.

"Om saya mohon, jangan!"

"Kenapa, Honey? Om cuman ingin bibir kamu, bukannya sebelumnya kita melakukan lebih dari itu, ya? Kenapa kamu nggak pernah mau Om sentuh bibir kamu ini. Bibir kamu seksi, Om penasaran dengan rasanya." Pria itu menyodorkan bibirnya ke bibir Laura, tapi Laura masih berusaha melepaskan diri dari regangan pria tua itu.

"Jangan, Om, jangan! Tolong! Tolong!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    5. Pria Limited Edition yang Aneh

    "Siapa kamu? Dari mana kamu tahu nama kecilku?" desak Laura semakin tak sabar. Dalam hatinya bertanya-tanya sebenarnya siapa pria ini? Apakah pria ini bagian dari keluarganya di masa lalu? Tapi bagaimana bisa? Siapa dia sebenarnya?"Seperti yang aku bilang tadi, aku tahu semua tentang kamu, Laura Minora." Lagi dan lagi Lucky tersenyum penuh enigma."Siapa kamu?" tanya Laura sekali lagi."Aku Lucky Aditya, seorang pewaris tunggal dari keluarga terpandang dan berkuasa, seorang pria yang tampan dan baik hati." Lucky memuji dirinya, wajahnya terlihat bangga di depan Laura yang justru menatapnya sengit."Maksudku bukan itu! Jawab aku dengan serius dan jujur?!" bentak Laura kesal. Namun, Lucky kini malah berdiri berjalan ke arah kamar mandi. Dia tidak menghiraukan Laura. Hal itu membuat Laura makin sengit. Laura tetap bertanya sambil memandangi kemana pun pria itu pergi. "Kenapa kamu bisa tahu nama kecilku dan segala hal tentangku yang seharusnya orang lain nggak tahu?! Kamu pasti bukan o

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    4. Mendadak Dilamar

    Laura berusaha bangkit dari jatuhnya. Tatapannya masih mengarah ke Lucky dengan pandangan tidak percaya. "Lucky, kamu dorong aku?"Belum dua puluh empat jam mereka berkenalan, tapi dia sudah menemukan satu kebusukan pria yang tampak sempurna itu. Kasar pada perempuan. Melihat ekspresi Laura yang menyedihkan, Lucky jadi tidak enak hati. "Maaf, aku nggak bermaksud. Cuman, ya, makanya jangan sekali-kali lagi kamu menggoda aku seperti barusan." Lucky menatap Laura tajam. "Aku nggak suka. Dan aku lebih nggak suka dipaksa atau diatur oleh siapa pun."Laura terdiam mendengarnya. Dia duduk dipinggir kasur. Dia akui apa yang dia lakukan salah di mata pria itu. Harusnya dia tak memaksa. Laura hanya tidak menyangka ternyata Lucky benar-benar tidak tertarik menyentuh dirinya. Dasar pria aneh!Laura mengangguk. "Baiklah, aku nggak akan melakukannya lagi kalau kamu nggak suka. Maafkan aku." Gadis itu memalingkan wajahnya ke lain arah. Ini pengalaman pertama baginya. Tidak ada laki-laki yang menola

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    3. Awal Berjumpa

    Malam itu Laura sudah bersiap sangat cantik. Dia memakai dress mini tanpa lengan yang bagian bawah bajunya mengembang. Warna hitam yang dia kenakan menyatu dengan warna kulitnya yang sangat putih. Rambutnya yang ikal dan pirang tampak lebih bervolume dari biasanya. Make-up di wajahnya juga pas dengan warna lipstik merah menyala. High heels warna hitam metalik yang dia kenakan membuat kakinya makin jenjang.Gadis cantik itu melangkah dengan anggun ke arah ruang tamu. Seorang pria tampan yang cirinya persis seperti yang disebutkan oleh maminya telah menunggunya. Dia hanya bisa melihat pria itu dari samping, tapi dia yakin pria itu lah orang yang dimaksud. Dan ketika langkahnya semakin dekat, dia menyapa pria itu. Seketika pria itu menoleh mendengar namanya disebut. Semringah di wajahnya langsung terbit melihat kecantikan wanita di hadapannya. "Hai, kamu Laura?" tanyanya memastikan dengan senyum lebar tak lepas dari wajahnya. Sementara Laura malah terdiam melihat ketampanan pria itu da

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    2. Bertemu Pria Asing

    "Jangan, Om, jangan! Tolong! Tolong!" Laura menjerit sekuat tenaga, berharap ada orang lewat yang bisa menolongnya. Meskipun rasanya mustahil karena malam terlalu larut. Sejak tadi hanya keheningan yang mengisi tempat ini.Mendengar teriakkan tolong itu, Dion pun berhenti. Dia menatap Laura tidak habis pikir. "Kenapa kamu harus teriak segala, sih, Laura. Seakan-akan saya ini penjahat. Kalau ada yang dengar terus saya digebuk bagaimana?" Laura menatap Dion takut-takut dan sedikit merasa bersalah. Melihat reaksi Dion barusan, perasaannya sedikit lega. "Aku nggak mau, Om. Aku udah mau pulang!" Laura setengah frustrasi. "Buka kunci pintunya, Om, atau aku akan teriak lagi."Pria tua itu menghela napas, tampak menyerah. Dengan tampang kesal dan terpaksa pria itu membuka kunci pintu mobil.Laura menatapnya agak merasa bersalah. "Makasih, Om. Maaf sebelumnya. Aku turun dulu, ya, sekali lagi terima kasih udah ngantarin." Dengan cepat Laura membuka pintu mobil itu dan turun dari sana, berlari-

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    1. Aktivitas Laura

    "Kamu kenapa, Honey?" Suara berat khas pria menyadarkan Laura yang sejak tadi tampak gelisah. Gadis yang berbaring tanpa busana dan hanya berbalut selimut itu memang tidak bisa tidur, sejak tadi dia hanya bolak-balik badan. Dia menoleh menatap pria yang juga berbaring di sampingnya dengan agak terkejut. Pasalnya sejak tadi pria itu sudah tidur nyenyak. Laura mengernyit heran. "Om kenapa bangun?" Pria yang lebih tua dua puluh tahun darinya itu mengalihkan posisi baringnya, menatap Laura penuh cinta yang diam-diam membuat Laura mual. "Om tiba-tiba kebangun, liat kamu gelisah aja dan belum tidur. Ada apa, hmm?" Pria itu lantas mengulurkan tangan panjangnya yang masih tampak kekar, menarik bahu mulus Laura yang terekspos. Laura pun berbaring manja di dada bidang pria itu, mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian. "Aku nggak bisa tidur lagi, Om. Aku mau pulang," bisiknya sambil mengusap bulu-bulu halus di dada bidang pria itu. "Kan besok pagi pulangnya, Honey. Ini udah malam. Sekara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status