Masuk
"Kamu kenapa, Honey?"
Suara berat khas pria menyadarkan Laura yang sejak tadi tampak gelisah. Gadis yang berbaring tanpa busana dan hanya berbalut selimut itu memang tidak bisa tidur, sejak tadi dia hanya bolak-balik badan. Dia menoleh menatap pria yang juga berbaring di sampingnya dengan agak terkejut. Pasalnya sejak tadi pria itu sudah tidur nyenyak. Laura mengernyit heran. "Om kenapa bangun?" Pria yang lebih tua dua puluh tahun darinya itu mengalihkan posisi baringnya, menatap Laura penuh cinta yang diam-diam membuat Laura mual. "Om tiba-tiba kebangun, liat kamu gelisah aja dan belum tidur. Ada apa, hmm?" Pria itu lantas mengulurkan tangan panjangnya yang masih tampak kekar, menarik bahu mulus Laura yang terekspos. Laura pun berbaring manja di dada bidang pria itu, mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian. "Aku nggak bisa tidur lagi, Om. Aku mau pulang," bisiknya sambil mengusap bulu-bulu halus di dada bidang pria itu. "Kan besok pagi pulangnya, Honey. Ini udah malam. Sekarang mending kita tidur lagi aja, yuk." Pria itu mengusap bahu mulusnya. Lima jam lalu Laura dan pria berusia empat puluh lima tahun bernama Dion itu menghabiskan waktu bersama, mereka bercinta sepuasnya, hingga mereka kelelahan dan Dion jatuh tertidur. Namun, Laura dia tidak bisa tidur, dia banyak pikiran, dia juga ingin pulang. Dia tak kuasa menghabiskan waktu lebih lama dengan pria tua yang menjadi pelanggannya ini. Dan kini waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Laura langsung bangun, menegakkan kepalanya dari dada pria tua itu. "Enggak. Aku nggak mau tidur lagi, aku nggak bisa tidur lagi. Aku maunya pulang sekarang. Kerjaan aku juga udah beres, kan?" Laura membulatkan tekad untuk pulang. Apa pun caranya dia harus keluar dari kamar hotel ini sekarang juga. Pria tua itu menggeleng. "Belum. Saya masih belum puas, dan saya mau kamu puaskan saya sebentar lagi. Setelah itu baru kita pulang." "Maaf, Om, tapi aku harus pulang sekarang juga." Laura tidak mungkin memberi tahu alasan yang sebenarnya. Maka dia mencari-cari alasan lain. "Tadi adik saya telepon katanya dia lagi demam, saya jadi kepikiran sama dia dan saya jadi nggak bisa fokus di sini. Aku boleh pulang, ya, Om, aku mohon," jelasnya sambil menatap pria itu harap-harap cemas. Berharap dia diizinkan pulang. "Tapi Laura ...." Dion tampak keberatan. Kali ini Laura memasang tampang memelas. "Aku mohon, Om, aku boleh pulang sekarang, ya? Mohon pengertiannya, ya, Om." Gadis itu lalu membuka selimutnya yang nyaris menampakkan bagian tubuhnya yang lain yang menggantung di dadanya. "Baiklah." Dion menyerah. "Kalau gitu Om antar kamu, ya, Honey." Masih duduk di atas tempat tidur, Laura menoleh lalu menggeleng. "Nggak perlu, Om. Aku bisa naik taksi aja. Terima kasih sebelumnya." "Mana mungkin saya biarkan wanita secantik kamu yang sudah melayani saya pulang sendirian. Lagi pula kita ke hotel ini kan tadi berdua. Jadi sudah sepatutnya saya yang antar kamu juga." "Nggak usah, Om. Saya mau pulang sendiri pakai taksi. Saya nggak masalah. Saya kan mandiri dan ... kuat," ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya, tampak genit. Dion terdiam melihatnya seakan terhipnotis dengan pesona gadis itu. Laura lantas bergegas berdiri. Memunguti pakaian dalamnya yang tercecer di lantai dan mengenakannya cepat. Dion di atas kasurnya mengamati Laura yang mengenakan baju terang-terangan di depannya. Pemandangan itu, tubuh indah itu, rasanya dia masih ingin melihatnya lebih lama. Tanpa sadar Dion menelan ludah. Laura tahu Dion memperhatikan tubuh indahnya, membuatnya semakin ingin cepat menjauh dari pria tua itu. Dan penolakannya untuk diantar pun bukan main-main. Laura lebih baik naik taksi sendiri daripada diantar oleh pria tua itu. "Laura biarkan saya antar kamu, ya?" Namun, ternyata pria itu keras kepala. "Saya masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Rasanya saya ingin bersama-sama kamu terus sampai kapan pun." Laura mual mendengar kalimat itu. Tapi jika dia tolak, pria itu pasti terus saja memaksa. Maka dia pun terpaksa menurutinya. Toh, ini yang pertama dan terakhir kali dia menghabiskan waktu bersama pria tua itu. Dan yang paling penting dia bisa pulang sekarang. *** Mobil milik Dion berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Tangan Laura sudah memegang ganggang pintu mobil, hendak membuka mobil, ketika Dion menegurnya. "Laura." Laura menoleh. "Iya, Om?" Lantas melempar senyum manisnya. "Makasih, ya, udah antar aku. Selamat malam, Om." "Laura." Tapi Dion memegangi tangan Laura seakan menahannya. Laura diam, menunggu pria tua itu bicara dengan tak sabaran. "Saya berharap ini bukan pertemuan terakhir kita. Sebelum turun boleh saya minta sesuatu?" Dahi Laura mengernyit samar. "Apa itu, Om?" Tanpa mengatakan apa pun orang tua tak tahu diri itu memegangi kedua bahu Laura dan mendekatkannya dengan tubuhnya. Dia berusaha menciumi Laura. Dan sebelum bibirnya menyentuh bibir Laura, gadis itu spontan menjauhi kepalanya. "Maaf, Om. Saya harus turun sekarang." Tanpa menunggu jawaban orang tua itu, Laura segera membuka pintu mobil. Namun, sialnya, pintu itu ternyata dikunci, Laura jadi tidak bisa keluar dari mobil itu. Sementara pria tua di sampingnya terus saja menahan dirinya dengan memegangi tangannya. "Ayolah, Honey, temani Om di sini sebentar lagi." Pria itu lantas menarik Laura dalam pelukannya dan berusaha mencumbui Laura yang terus memberontak. "Om saya mohon, jangan!" "Kenapa, Honey? Om cuman ingin bibir kamu, bukannya sebelumnya kita melakukan lebih dari itu, ya? Kenapa kamu nggak pernah mau Om sentuh bibir kamu ini. Bibir kamu seksi, Om penasaran dengan rasanya." Pria itu menyodorkan bibirnya ke bibir Laura, tapi Laura masih berusaha melepaskan diri dari regangan pria tua itu. "Jangan, Om, jangan! Tolong! Tolong!"Halo, Readers, selamat datang di cerita baru aku. Gimana? Menarik nggak? Kalian suka nggak? Komentar, ya, biar aku makin semangat update! Terima kasih!
"Laura!" Laura sedang melamun di kursi tunggu ketika Lucky datang menghampirinya. Gadis itu langsung menegak melihat siapa yang datang. "Lucky!" sambutnya. Lucky duduk di samping Laura. "Bagaimana keadaan Bella sekarang?" Belum sempat bicara, Laura sudah menangis lebih dulu. Lucky berusaha menenangkannya. "Bicara pelan-pelan. Sebenarnya ada apa dan bagaimana ini bisa terjadi?" "Bella lagi nunggu persetujuan untuk dioperasi, tapi aku... " Laura menggeleng, tak sanggup melanjutkan bicaranya. "Aku belum berani menyetujui karena belum bayar administrasi, biayanya mahal ...." Tangis Laura menjadi. "Soal biaya kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya." Wajah Laura menegang. Dia tak menyangka, Lucky mau menolongnya, untuk kesekian kali. "Tapi kamu udah bayarin utang aku sebanyak sepuluh miliar, Lucky. Aku nggak pengen membebani kamu lagi." Lucky menggeleng. "Itu semua nggak seberapa buat aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa Bella. Kamu rela melakukan apa pun kan untu
Begitu tiba di depan rumah sakit, Laura langsung turun dan berteriak memanggil dokter. Dia mengabarkan kondisi adiknya. Tak lama kemudian beberapa perawat muncul dengan sebuah brankar. Bella yang rambutnya panjangnya kini sudah berlumuran darah diangkat oleh mereka dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu brankar itu didorong oleh perawat tadi. Laura mengiringi adiknya sepanjang lorong rumah sakit sambil menangis, tak sanggup rasanya melihat kondisi adiknya yang mengenaskan itu. Brankar itu dibawa masuk hingga ke ruang IGD. Dan saat itu, Laura dilarang masuk oleh perawat. "Silakan tunggu di luar, ya, Kak," pinta perawat dengan sopan. "Tolong selamatkan adik saya." Laura menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Kami akan lakukan yang terbaik." Ruang IGD di tutup. Laura mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya tampak berguncang. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis. Berharap dan berdoa pada Tuhan pun rasanya enggan. D
"Bella?" Laura menatap Bella tidak percaya. Dia memperhatikan adiknya itu masih mengenakan pakaian kerjanya, seragam khas kafe tempat Bella bekerja. "Gimana kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Laura, Bella malah berlari pergi. Tanpa memikirkan bersama siapa dia pergi ke mari, Laura berlari menyusul adiknya. Tak peduli Om Anton yang memanggilnya panik. Laura berlari mengejar adiknya sampai keluar supermarket. Langkah Bella baru berhenti di halaman supermarket ketika Laura berhasil memegang tangannya. "Bella kamu kenapa lari?" Bella berbalik dan menatap kakaknya dengan linangan air mata. "Aku kecewa sama kakak. Kakak udah janji akan keluar dari pekerjaan kakak. Kakak nggak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Om Lucky, tapi hari ini? Kakak udah bohong!" Dada Laura sesak mendengarnya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang membuat Bella lari. Hanya saja dia tidak menyangka itu benar adanya. Dan kalimat-kalimat itu sangat menyakitkan. "Kakak
Tiga hari kemudian. "Hai, Om." Laura berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu. Laura memasang senyum paling manisnya. Pria yang sibuk menunduk memainkan ponsel itu mendongak menatap Laura. Dia menatap Laura lama, memperhatikan wajahnya lalu pelan-pelan tatapannya turun ke bawah. Laura tahu mata pria hidung belang itu sedang menjamahi tubuh seksinya. Diam-diam Laura jijik dengan pandangan itu. "Hei, cantik." Gadis mengenakan dress ketat tanpa lengan yang pendeknya di atas lutut itu tersenyum. "Maaf, ya, Om, lama menunggu," tegurnya yang sengaja agar perhatian pria itu terfokus padanya lagi. "Nggak papa." "Mau main ke mana, Om?" Pria paruh baya yang dagunya sudah memutih itu tertawa pelan. "Buru-buru banget sih kamu. Duduk dulu, dong, ke sini." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Santai dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu." Laura memutar bola matanya malas. Dia memang ingin segera melakukannya biar cepat selesai, buat apa men
"Aku mau kamu treatment lagi," ucap Lucky begitu mereka sudah masuk di dalam Mall dan Laura bertanya kenapa Lucky mengajaknya ke salon kecantikan. Tidak seperti awal pertama berkenalan, yang mana Laura suka ketus dan ragu untuk mengikuti kemauan Lucky, kali ini gadis itu justru tersenyum. Sudah terlihat jelas perbedaan dulu dan sekarang. "Udah bisa senyum, ya, sekarang?" tegur Lucky sambil tersenyum simpul. Laura malah mendelik. "Maksudnya?" "Ya, beda aja sama yang dulu. Dulu kalau aku suruh apa-apa nggak mau, jutek lagi." "Oh itu ... ya jelaslah dulu kan kita baru kenal." "Berarti sekarang udah percaya sama aku, kan?" "Belum seratus persen." Lucky lagi-lagi tersenyum. "Tapi udah, kan?" Laura diam saja. "Ya udah silakan kamu masuk. Aku tunggu di coffee shop seperti biasa." Selama di coffee shop, Lucky menikmati secangkir kopi sambil pikirannya tak bisa lepas mengingat gadis itu. Sikap gadis itu yang dulu dengan sekarang sudah terlihat perbedaannya. Dulu ketus, jutek, r
"Mau ke mana kalian?" Mami Berliana menatap penuh selidik.Laura jadi tidak nyaman. "Hmm kita mau pilih baju, Mi.""Buat tunangan?" Suara Mami Berliana terdengar jelas. Ini lah yang Laura takutkan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah ini tahu dia akan bertunangan dengan Lucky. "Iya, Mi. Ya udah kita berangkat sekarang, ya, Mi. Dadah." Laura menjawab cepat dan lantas menggandeng lengan Lucky hendak membawanya pergi secepatnya. Namun ...."Hai, tunggu dulu, saya mau bicara sama kamu." Mami menatap Lucky intens. Laura membelalak dan mau tak mau langkahnya yang sudah menyeret Lucky pun terhenti. Lucky meminta Laura melepaskan tangannya. Gadis itu pun menurut. "Ada apa, Mi!" tanyanya setelah mendatangi Mami Berliana. "Kamu jangan lupa dengan perjanjian kita, ya. Laura masih kerja buat saya selama dua Minggu. Dua Minggu ingat itu.""Iya, Mi. Aku nggak lupa, kok. Dan sebaiknya ...." Lucky menoleh ke arah Laura sekilas, gadis itu sudah tampak gelisah, dan Lucky mengerti. "Kita bicarakan







