Masuk"Jangan, Om, jangan! Tolong! Tolong!" Laura menjerit sekuat tenaga, berharap ada orang lewat yang bisa menolongnya. Meskipun rasanya mustahil karena malam terlalu larut. Sejak tadi hanya keheningan yang mengisi tempat ini.
Mendengar teriakkan tolong itu, Dion pun berhenti. Dia menatap Laura tidak habis pikir. "Kenapa kamu harus teriak segala, sih, Laura. Seakan-akan saya ini penjahat. Kalau ada yang dengar terus saya digebuk bagaimana?" Laura menatap Dion takut-takut dan sedikit merasa bersalah. Melihat reaksi Dion barusan, perasaannya sedikit lega. "Aku nggak mau, Om. Aku udah mau pulang!" Laura setengah frustrasi. "Buka kunci pintunya, Om, atau aku akan teriak lagi." Pria tua itu menghela napas, tampak menyerah. Dengan tampang kesal dan terpaksa pria itu membuka kunci pintu mobil. Laura menatapnya agak merasa bersalah. "Makasih, Om. Maaf sebelumnya. Aku turun dulu, ya, sekali lagi terima kasih udah ngantarin." Dengan cepat Laura membuka pintu mobil itu dan turun dari sana, berlari-lari kecil menuju rumah bordilnya. Bangunan bertingkat dua itu terlihat seperti rumah biasa dengan desain zaman dulu. Di tutupi pagar seng keliling yang sekitar enam centi meter. Hingga bangunan itu tampak depan tak terlalu terlihat jelas. Orang asing tidak akan mengira jika bangunan itu sebenarnya adalah rumah bordil. Laura membuka pagar seng itu yang memang tidak pernah dikunci. Lantas dengan cepat dia berlari memasuki halaman yang lumayan luas jaraknya. Laura membawa kunci cadangan sehingga dia bisa masuk tanpa harus mengganggu penghuni di dalamnya. Setelah dia tiba di kamarnya yang berada di lantai atas, barulah gadis itu bisa bernapas lega. Laura melepaskan semua yang dia pakai. Tas, sepatu, hingga perhiasan yang dia kenakan dia letakkan di atas meja begitu saja. Laura lalu mengempaskan tubuhnya di atas kasur dengan kelegaan dan kelelahan yang luar biasa. Gadis yang masih mengenakan pakaian mini tanpa lengan itu melirik jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. "Akhirnya gue bisa lepas dari kukungan om-om tua yang menjijikan itu," gumamnya sembari menutup mata. "Hari ini gue udah ngelayanin tiga orang laki-laki menjijikkan. Gue capek banget. Gue mau tidur sampai besok siang. Dan gue bakal bilang ke mami kalau besok gue nggak mau ambil pekerjaan dulu. Gue mau istirahat." Sudah biasa memang Laura begitu, dia bisa menentukan jam kerjanya sesuka hatinya, dan mau bertemu dengan pria yang seperti apa pun sesuka hatinya. Dan itu dia lakukan ketika dia benar-benar lelah. Tiga jam terlewati. Masih dengan pakaian seksinya, Laura tidur asal di atas kasurnya. Sampai dia mendengar suara dari luar kamar yang memanggil namanya. "Laura! Kamu ada di dalam? Bangun kamu! Buka pintunya sekarang juga!" Pekik teriak yang membisingkan telinga disertai gedoran keras di pintu itu membuat Laura berhasil membuka matanya. Kebisingan itu membuatnya mengeluh. "Apaan, sih? Gue nggak pengen diganggu. Gue masih ngantuk banget." Laura meracau seorang diri sembari mengalihkan posisi badannya menjadi menyamping. "Laura! Laura!" Tapi suara itu terus terdengar seakan tak ingin menyerah. Laura pun memutuskan untuk bangun, beranjak dari kasurnya dan berjalan membuka pintu kamarnya dengan malas-malasan. "Mami dengar dari Pak Dion katanya kamu minta pulang tadi subuh, ya?" Pertanyaan horor sang mami langsung menyambutnya. Laura mengumpat kesal dalam hati. Kenapa pria tua itu malah mengadukannya pada maminya? Memangnya dia pikir maminya akan memarahi dirinya dan membela pria tua itu? Laura yakin apa pun alasannya maminya tidak bisa marah padanya. Gadis itu menghela napas. "Aku terpaksa, Mi. Soalnya aku udah nggak bisa fokus, aku kepikiran adikku yang lagi sakit di rumah. Lagian aku nggak mau ngabisin waktu lama-lama sama dia. Mami nggak marah, kan?" Laura menatap Mami Berliana harap-harap cemas. Mami Berliana yang sudah paham sifat dan aturan main anak buah kesayangannya itu hanya tersenyum tenang. "Mami nggak marah, kok, cuman mau memastikan aja. Lagian adik kamu sakit apa?" "Itu ... cuman demam biasa, Mi, tapi aku jadi kepikiran. Aku nggak bisa fokus kerja lagi. Jadi Mami bangunin aku pagi-pagi cuman buat bahas masalah ini?" "Enggak, dong, Sayang." Mami berjalan masuk ke kamar Laura tanpa disuruh. Lalu dia duduk di kursi rias Laura, menatap Laura yang berdiri. "Mami cuman nggak sabar mau kasih berita bagus buat kamu. Soal pekerjaan ...." Sang Mami tersenyum menatap gadis kesayangannya. Mendengar perkataan itu pun, Laura teringat dengan rencananya yang untuk tidak mengambil pekerjaan dulu hari ini. "Aduh, Mi. Baru aja aku mau bilang aku nggak mau kerja dulu hari ini, Mi, aku capek banget." Mami Berliana langsung berdiri. "No no no, kamu nggak bisa nolak." "Biasanya kan juga Mami izinin aku istirahat kalau aku memang lagi capek." Laura memelas. "Kali ini pelanggan kita beda, Laura. Dia sekelas VVIP, bahkan lebih dari itu. Dan Mami nggak ingin dia kecewa karena penolakan kamu." Laura memutar bola matanya malas. "Semua pelanggan aku juga gitu, kan?" "Nggak, kali ini beda, Laura. Dia beda. Dia nggak seperti Pak Dion. Dia bukan pria yang beristri. Dia bujangan." Mami Berliana menatap Laura dengan tatapan berbinar seakan apa yang dikatakannya barusan adalah hal yang sangat istimewa. "Bujang tua maksudnya?" Mami Berliana menggeleng tegas. "Usianya sekitar dua puluh delapan tahun. Ganteng. Pengusaha muda. Dan ... seingat Mami dia nggak pernah ke sini sebelumnya." Laura bisa melihat, Mami tampak kagum dengan sosok yang disebutkannya barusan. Tapi Laura yakin pria itu paling-paling sama saja dengan pria lain yang datang kemari, tidak ada yang berbeda. "Dan yang paling penting." Ucapan Mami Berliana menyadarkan Laura kembali. "Dia bersedia membayar kamu sangat mahal." Laura menatap Mami penasaran. "Berapa?" "Dua kali lipat dari bayaran kamu biasanya. Satu milyar." Laura membelalak. Dia tak percaya ada pria yang rela membeli dirinya dengan harga sebesar itu hanya untuk pemuas nafsu. Menurutnya itu tidak masuk akal. "Mami nggak lagi bercanda, kan?" "Loh, kenapa jadi bercanda?" Mami Berliana tahu Laura masih tidak tertarik bahkan tidak percaya dengan pria yang menjadi pelanggannya kali ini. "Laura, Mami minta kamu dengerin Mami kali ini. Kamu mungkin sulit mempercayai itu, awalnya Mami juga nggak percaya, tapi kenyataannya dia sudah membayar kamu sebesar itu, Laura. Dia bukan pria sembarangan. Mami minta kamu temui dia dulu seenggaknya untuk meyakinkan diri kamu kalau apa yang Mami bilang ini benar. Kalau kamu menolak, Mami pastikan kamu menyesal, Laura. Kerja kamu selama ini bagus, kamu anak kesayangan Mami. Tolong jangan kecewakan Mami." Laura terdiam mendengarnya. Kalau sang mami sudah bicara demikian artinya dia tidak mau dibantah. Dan Laura selalu percaya apa yang maminya katakan. Mungkin tidak ada salahnya dia menemui pria itu, melayaninya seperti pria-pria lain. Toh, pria itu sudah membayar dirinya semahal itu. Laura tersenyum. "Baik, Mi, aku mau." "Nah, begitu, dong. Mami jamin kamu nggak akan menyesal, Laura." Mami Berliana mencolek dagu anak buah kesayangannya yang cantik itu. Walau dia tidak pernah tertarik dengan pria mana pun, diam-diam di lubuk hati Laura yang paling dalam menyimpan rasa penasaran yang begitu besar, yang membuatnya terdorong untuk bertemu meskipun sedang lelah. Siapa lelaki yang sudah rela membayar mahal dirinya itu?Penasaran nggak, Readers, siapa laki-laki misterius itu? Ikuti terus kelanjutannya, ya. Makasih!
"Laura!" Laura sedang melamun di kursi tunggu ketika Lucky datang menghampirinya. Gadis itu langsung menegak melihat siapa yang datang. "Lucky!" sambutnya. Lucky duduk di samping Laura. "Bagaimana keadaan Bella sekarang?" Belum sempat bicara, Laura sudah menangis lebih dulu. Lucky berusaha menenangkannya. "Bicara pelan-pelan. Sebenarnya ada apa dan bagaimana ini bisa terjadi?" "Bella lagi nunggu persetujuan untuk dioperasi, tapi aku... " Laura menggeleng, tak sanggup melanjutkan bicaranya. "Aku belum berani menyetujui karena belum bayar administrasi, biayanya mahal ...." Tangis Laura menjadi. "Soal biaya kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya." Wajah Laura menegang. Dia tak menyangka, Lucky mau menolongnya, untuk kesekian kali. "Tapi kamu udah bayarin utang aku sebanyak sepuluh miliar, Lucky. Aku nggak pengen membebani kamu lagi." Lucky menggeleng. "Itu semua nggak seberapa buat aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa Bella. Kamu rela melakukan apa pun kan untu
Begitu tiba di depan rumah sakit, Laura langsung turun dan berteriak memanggil dokter. Dia mengabarkan kondisi adiknya. Tak lama kemudian beberapa perawat muncul dengan sebuah brankar. Bella yang rambutnya panjangnya kini sudah berlumuran darah diangkat oleh mereka dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu brankar itu didorong oleh perawat tadi. Laura mengiringi adiknya sepanjang lorong rumah sakit sambil menangis, tak sanggup rasanya melihat kondisi adiknya yang mengenaskan itu. Brankar itu dibawa masuk hingga ke ruang IGD. Dan saat itu, Laura dilarang masuk oleh perawat. "Silakan tunggu di luar, ya, Kak," pinta perawat dengan sopan. "Tolong selamatkan adik saya." Laura menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Kami akan lakukan yang terbaik." Ruang IGD di tutup. Laura mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya tampak berguncang. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis. Berharap dan berdoa pada Tuhan pun rasanya enggan. D
"Bella?" Laura menatap Bella tidak percaya. Dia memperhatikan adiknya itu masih mengenakan pakaian kerjanya, seragam khas kafe tempat Bella bekerja. "Gimana kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Laura, Bella malah berlari pergi. Tanpa memikirkan bersama siapa dia pergi ke mari, Laura berlari menyusul adiknya. Tak peduli Om Anton yang memanggilnya panik. Laura berlari mengejar adiknya sampai keluar supermarket. Langkah Bella baru berhenti di halaman supermarket ketika Laura berhasil memegang tangannya. "Bella kamu kenapa lari?" Bella berbalik dan menatap kakaknya dengan linangan air mata. "Aku kecewa sama kakak. Kakak udah janji akan keluar dari pekerjaan kakak. Kakak nggak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Om Lucky, tapi hari ini? Kakak udah bohong!" Dada Laura sesak mendengarnya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang membuat Bella lari. Hanya saja dia tidak menyangka itu benar adanya. Dan kalimat-kalimat itu sangat menyakitkan. "Kakak
Tiga hari kemudian. "Hai, Om." Laura berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu. Laura memasang senyum paling manisnya. Pria yang sibuk menunduk memainkan ponsel itu mendongak menatap Laura. Dia menatap Laura lama, memperhatikan wajahnya lalu pelan-pelan tatapannya turun ke bawah. Laura tahu mata pria hidung belang itu sedang menjamahi tubuh seksinya. Diam-diam Laura jijik dengan pandangan itu. "Hei, cantik." Gadis mengenakan dress ketat tanpa lengan yang pendeknya di atas lutut itu tersenyum. "Maaf, ya, Om, lama menunggu," tegurnya yang sengaja agar perhatian pria itu terfokus padanya lagi. "Nggak papa." "Mau main ke mana, Om?" Pria paruh baya yang dagunya sudah memutih itu tertawa pelan. "Buru-buru banget sih kamu. Duduk dulu, dong, ke sini." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Santai dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu." Laura memutar bola matanya malas. Dia memang ingin segera melakukannya biar cepat selesai, buat apa men
"Aku mau kamu treatment lagi," ucap Lucky begitu mereka sudah masuk di dalam Mall dan Laura bertanya kenapa Lucky mengajaknya ke salon kecantikan. Tidak seperti awal pertama berkenalan, yang mana Laura suka ketus dan ragu untuk mengikuti kemauan Lucky, kali ini gadis itu justru tersenyum. Sudah terlihat jelas perbedaan dulu dan sekarang. "Udah bisa senyum, ya, sekarang?" tegur Lucky sambil tersenyum simpul. Laura malah mendelik. "Maksudnya?" "Ya, beda aja sama yang dulu. Dulu kalau aku suruh apa-apa nggak mau, jutek lagi." "Oh itu ... ya jelaslah dulu kan kita baru kenal." "Berarti sekarang udah percaya sama aku, kan?" "Belum seratus persen." Lucky lagi-lagi tersenyum. "Tapi udah, kan?" Laura diam saja. "Ya udah silakan kamu masuk. Aku tunggu di coffee shop seperti biasa." Selama di coffee shop, Lucky menikmati secangkir kopi sambil pikirannya tak bisa lepas mengingat gadis itu. Sikap gadis itu yang dulu dengan sekarang sudah terlihat perbedaannya. Dulu ketus, jutek, r
"Mau ke mana kalian?" Mami Berliana menatap penuh selidik.Laura jadi tidak nyaman. "Hmm kita mau pilih baju, Mi.""Buat tunangan?" Suara Mami Berliana terdengar jelas. Ini lah yang Laura takutkan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah ini tahu dia akan bertunangan dengan Lucky. "Iya, Mi. Ya udah kita berangkat sekarang, ya, Mi. Dadah." Laura menjawab cepat dan lantas menggandeng lengan Lucky hendak membawanya pergi secepatnya. Namun ...."Hai, tunggu dulu, saya mau bicara sama kamu." Mami menatap Lucky intens. Laura membelalak dan mau tak mau langkahnya yang sudah menyeret Lucky pun terhenti. Lucky meminta Laura melepaskan tangannya. Gadis itu pun menurut. "Ada apa, Mi!" tanyanya setelah mendatangi Mami Berliana. "Kamu jangan lupa dengan perjanjian kita, ya. Laura masih kerja buat saya selama dua Minggu. Dua Minggu ingat itu.""Iya, Mi. Aku nggak lupa, kok. Dan sebaiknya ...." Lucky menoleh ke arah Laura sekilas, gadis itu sudah tampak gelisah, dan Lucky mengerti. "Kita bicarakan







