Share

3. Awal Berjumpa

Penulis: Aprillia D
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 18:05:35

Malam itu Laura sudah bersiap sangat cantik. Dia memakai dress mini tanpa lengan yang bagian bawah bajunya mengembang. Warna hitam yang dia kenakan menyatu dengan warna kulitnya yang sangat putih. Rambutnya yang ikal dan pirang tampak lebih bervolume dari biasanya. Make-up di wajahnya juga pas dengan warna lipstik merah menyala. High heels warna hitam metalik yang dia kenakan membuat kakinya makin jenjang.

Gadis cantik itu melangkah dengan anggun ke arah ruang tamu. Seorang pria tampan yang cirinya persis seperti yang disebutkan oleh maminya telah menunggunya. Dia hanya bisa melihat pria itu dari samping, tapi dia yakin pria itu lah orang yang dimaksud. Dan ketika langkahnya semakin dekat, dia menyapa pria itu.

Seketika pria itu menoleh mendengar namanya disebut. Semringah di wajahnya langsung terbit melihat kecantikan wanita di hadapannya. "Hai, kamu Laura?" tanyanya memastikan dengan senyum lebar tak lepas dari wajahnya.

Sementara Laura malah terdiam melihat ketampanan pria itu dari jarak sedekat ini, dia tak dapat berkata-kata. Pria itu lebih tampan dari pria yang selama ini dia temui, lebih tampan dari pangeran dalam cerita dongeng. Penampilannya juga sangat menarik, setelan jas dan sepatu yang dia kenakan semuanya keren. Siapa pun yang melihat dirinya pasti tahu isi dompetnya tidak main-main. Dia memang sangat istimewa. Dan yang paling membuatnya istimewa adalah pria tampan ini masih lajang alias belum berkeluarga. Begitu informasi yang dia dapatkan dari Mami.

"Hai, Laura, kenapa diam?"

Teguran pria itu menarik Laura dari kesadarannya. Laura pun mengerjap-ngerjap dan tersadar apa yang baru saja dia pikirkan. Pria di hadapannya ini memang tampan dan kaya, tapi isi hatinya siapa ada yang tahu? Kelakuan pria ini sama saja dengan pria lain yang datang kemari.

Laura tersenyum malu-malu. "Maaf, aku terpesona dengan ketampananmu." Laura mengakui.

Pria itu tertawa. "Kamu bisa aja. Kamu juga sangat cantik malam ini. Aku bahkan nggak nyangka ternyata kamu lebih cantik daripada yang di foto. Senang berkenalan denganmu, Laura."

Laura mengernyitkan dahi. "Di foto? Kamu melihat fotoku dimana memangnya?"

Pria itu tampak tertegun seolah dia sudah salah bicara. "Hmmm ya, maksudku, kamu kan penghibur kelas atas. Siapa sih yang nggak kenal kamu? Foto kamu juga sudah bertebaran di mana-mana. Aku pernah melihat fotomu, tapi aku lupa di mana. Dari situ aku tertarik sama kamu, tapi ternyata kamu lebih cantik daripada yang difoto," jelasnya akhirnya.

Laura tertawa anggun sambil menunduk sebelum akhirnya kembali menatap pria itu. "Santai aja. Aku cuman pengen tahu kamu lihat fotoku darimana. Tapi ya sudah lah lupakan."

Baru beberapa detik mereka berbicara, tapi entah kenapa Laura sudah bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dari pria itu. Pria itu seperti menyembunyikan sesuatu. Atau apakah ini hanya perasaannya saja?

"Maaf, ya, aku tadi agak lama. Jadi kamu lama nunggunya," ucap Laura lagi mencairkan suasana yang sempat canggung. "Bagaimana? Apakah malam ini mau di sini atau ...."

"Soal itu aku sudah menyewa hotel buat kita berdua."

"Oh iya? Kalau begitu kita ke sana." Laura tersenyum manis.

"Ayok." Sang pria menekuk lengannya ke arah Laura, seakan memberi kode untuk Laura menggandeng lengannya.

Laura langsung saja menggaitkan tangannya sambil tersenyum. "Ayok kita jalan sekarang, Lucky."

****

"Ah ... akhirnya kita sampai juga di hotel. Aku cukup lelah," adu Laura saat dia sudah mengempaskan tubuhnya di atas kasur. Jujur, dia memang kelelahan, rencananya untuk istirahat seharian ini gagal total karena dipaksa melayani pria tampan yang limited edition ini.

Lucky baru saja masuk kamar dan sedang menutup pintu ketika Laura melirik pria itu.

Melihat pria itu, Laura langsung menegakkan tubuhnya di pinggir kasur. Lantas tersenyum bersamaan dengan sang pria membalikkan badannya menatap Laura. "Tapi kamu tenang aja. Untuk melayani kamu, aku nggak ada kata lelah."

"Kamu kenapa?" Tapi Lucky malah memasang ekspresi bingung.

"Kamu mau mulai sekarang?" Laura dengan liar langsung saja melepas jaket kulit yang menutupi mini dress tanpa lengannya itu hingga menampakkan dadanya yang menonjol. "Kamu tenang aja aku bukan tipe orang yang suka buang-buang waktu." Laura sibuk menunduk membuka bajunya hingga kini yang terlihat hanyalah pakaian dalam berupa lingeri tipis dan celana pendek tipis. Dia jadi terlihat seksi dengan kulit yang putih mulus. Dia yakin Lucky pasti tidak sabar melihat penampilannya ini.

Namun, ketika dia mendongak dan berdiri, pria itu tidak ada di pandangannya. Laura mengernyit bingung. Kemana Lucky?

Laura tersenyum nakal. "Cowok itu pasti mau main sembunyi-sembunyian, ya, dari aku? Nakal banget, sih, jadi gemes. Aku cari, deh."

Laura mencoba mencari keberadaan pria itu dia setiap sudut kamar, sampai akhirnya dia menemukan Lucky tengah bersantai di balkon kamar mereka, pria itu menghadap belakang. Sepertinya menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari.

Laura langsung saja berlari kecil menghampiri pria itu lalu memeluknya dari belakang. "Kamu di sini ternyata."

Laura bisa merasakan Lucky sangat terkejut saat dipeluk oleh dirinya. Pria itu serta-merta melepaskan rangkulan tangannya dan berbalik badan menatapnya. Ketika Laura mendongak dia mendapati tatapan pria itu menatapnya tidak suka.

"Kamu kenapa?" tanya Laura memberanikan diri sambil membelai dada bidang pria itu yang masih berbalut kemeja hitam.

"Kamu kenapa peluk-peluk aku sembarangan?!" Lucky lalu melepas pelukan itu secara paksa.

Laura agak terkejut dengan sikap Lucky barusan. Pria itu terlihat tidak suka dengan apa yang baru saja dia lakukan, tapi sesaat Laura pun mengerti. "Hmm maaf, aku nggak bermaksud. Aku cari kamu ke mana-mana ternyata kamu di sini. Lagian kenapa, sih, kamu ke sini? Bukannya harusnya kita menghabiskan waktu berdua?" Laura kembali memberanikan diri membelai dada bidang pria itu.

Bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu langsung masuk ke dalam, melewati Laura begitu saja. "Kamu ngapain pakai baju kayak gitu?"

Laura mengiringinya dari belakang. Pertanyaan itu sungguh membingungkan gadis itu. "Kenapa memangnya? Aku seksi, kan? Aku tahu kamu nggak tahan liat aku lama-lama. Kamu nggak perlu menghindari aku, kita langsung aja--" Ucapan Laura langsung terhenti saat wajahnya bertabrakan dengan punggung Lucky yang berhenti tiba-tiba.

Laura mengumpat dalam hati, tulang hidungnya serasa ingin patah. Kenapa pria ini sungguh menyebalkan?

"Tolong pakai lagi baju kamu yang tadi." Belum sempat Laura membantah, Lucky sudah bersuara, pria itu masih membelakanginya.

"Kenapa?" Laura menatap punggung Lucky, dia mundur beberapa langkah, membelalak heran.

"Ngapain kamu pakai baju kayak gitu malam-malam gini? Nanti masuk angin."

Laura sungguh terheran-heran dibuat pria ini. "Lucky kamu tuh lagi bercanda, ya? Kita ke hotel tujuannya kan ingin menghabiskan waktu bersama, saling memuaskan. Lalu kenapa kamu malah meminta aku memakai bajuku, bukannya lebih bagus aku memakai baju kayak gini?"

Lucky tak memedulikan Laura. Pria itu lantas duduk di kursi menatap gawainya. Membalas pesan dari sang sekretaris yang membicarakan soal jadwal meeting yang harus dia hadiri besok lusa.

Sementara Laura yang masih berdiri menunduk memandangi pria itu dengan kesal. Sungguh, selama dia bekerja menjadi wanita penghibur baru kali ini ada pelanggan yang bertingkah aneh seperti Lucky.

"Aku mau kamu segera pakai baju kamu, Laura," perintahnya lagi tanpa menatap ke arah Laura. "Lagi pula kamu lebih cantik pakai baju yang lebih sopan."

Laura masih tidak percaya bagaimana bisa pria di hadapannya ini tidak tergoda dengan dirinya? Tapi sayangnya Laura tidak percaya adanya laki-laki yang tidak tertarik dengan perempuan seperti dirinya. Semua laki-laki itu sama saja, mereka semua punya nafsu, termasuk Lucky. Pria itu pasti munafik saja.

Laura tersenyum simpul. Dia berjalan mendekati pria itu lalu duduk dipangkuannya dengan manja. "Kamu mau aku godain dulu?" tanya Laura sambil membelai pipi pria itu. Diperhatikan sedekat ini Lucky malah makin menawan. Laura memperhatikannya satu per satu. Mulai dari sepasang alis tebal yang membingkai matanya, bulu mata lentik, bola mata yang hitam dan tatapan tajam itu seakan menyihir. Hidung mancung sempurna. Rahang yang kokoh. Dagu yang berbentuk segiempat serta bulu-bulu halus di ujung dagunya membuatnya makin menggoda. Pikiran gila Laura sudah berkelana. Tak sanggup rasanya dia memperhatikan wajah pria di hadapannya ini. Sepertinya bisa berkencan dan bercinta dengannya menjadi hal yang harus Laura syukuri.

Tadinya Lucky menyibukkan diri dengan gawainya. Tapi tangan Laura yang terus memegangi pipinya membuatnya menyerah. Dia menatap gadis itu balik, membuat mereka bertatapan dalam jarak amat dekat. Dan Laura terdiam menatap tatapan itu. Laura tidak tahu bahwa Lucky mati-matian menahan diri dari tingkahnya barusan.

Laura tersenyum manis sambil masih mengelus pipi Lucky pelan. Wanita itu bahkan menempelkan dadanya yang membusung di dada Lucky.

Lucky lalu memejamkan mata. "Tolong, jangan begini," bisik Lucky memohon.

Laura tertawa pelan. "Kamu kenapa, sih? Kamu lucu, deh. Kamu benar-benar berbeda, aku jadi makin penasaran sama kamu dan nggak sabar pengen bercinta sama kamu," Laura berbisik di telinganya.

"Aku nggak akan mau bercinta sama kamu," jawab Lucky dengan mata masih tertutup.

"What?" Laura melotot tajam. "Why? Gimana mungkin kamu nggak tertarik sama aku? Kamu udah bayar mahal, loh, yakin nggak mau?" Laura dengan cepat mencium leher Lucky dan menjilatinya sedikit. Dia berusaha meruntuhkan pertahanan Lucky. Karena dia yakin semua laki-laki sama saja. Mana mungkin Lucky menolak dirinya jika dia sudah bersikap demikian.

Merasakan apa yang Laura lakukan terhadapnya, Lucky serta-merta mendorong Laura hingga gadis itu terjatuh ke lantai. "Cukup! Kamu udah keterlaluan!" bentaknya berang. Membuat gadis cantik di hadapannya menatapnya tidak percaya.

Aprillia D

Hmmm kira-kira kenapa ya Lucky nggak mau disentuh? Ikuti terus kelanjutannya ya, Readers. Makasih! Komentar kalian sangat berarti buat aku.

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    79. Pertolongan Lucky yang Kesekian Kali

    "Laura!" Laura sedang melamun di kursi tunggu ketika Lucky datang menghampirinya. Gadis itu langsung menegak melihat siapa yang datang. "Lucky!" sambutnya. Lucky duduk di samping Laura. "Bagaimana keadaan Bella sekarang?" Belum sempat bicara, Laura sudah menangis lebih dulu. Lucky berusaha menenangkannya. "Bicara pelan-pelan. Sebenarnya ada apa dan bagaimana ini bisa terjadi?" "Bella lagi nunggu persetujuan untuk dioperasi, tapi aku... " Laura menggeleng, tak sanggup melanjutkan bicaranya. "Aku belum berani menyetujui karena belum bayar administrasi, biayanya mahal ...." Tangis Laura menjadi. "Soal biaya kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya." Wajah Laura menegang. Dia tak menyangka, Lucky mau menolongnya, untuk kesekian kali. "Tapi kamu udah bayarin utang aku sebanyak sepuluh miliar, Lucky. Aku nggak pengen membebani kamu lagi." Lucky menggeleng. "Itu semua nggak seberapa buat aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa Bella. Kamu rela melakukan apa pun kan untu

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    78. Kondisi Bella yang Memprihatikan

    Begitu tiba di depan rumah sakit, Laura langsung turun dan berteriak memanggil dokter. Dia mengabarkan kondisi adiknya. Tak lama kemudian beberapa perawat muncul dengan sebuah brankar. Bella yang rambutnya panjangnya kini sudah berlumuran darah diangkat oleh mereka dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu brankar itu didorong oleh perawat tadi. Laura mengiringi adiknya sepanjang lorong rumah sakit sambil menangis, tak sanggup rasanya melihat kondisi adiknya yang mengenaskan itu. Brankar itu dibawa masuk hingga ke ruang IGD. Dan saat itu, Laura dilarang masuk oleh perawat. "Silakan tunggu di luar, ya, Kak," pinta perawat dengan sopan. "Tolong selamatkan adik saya." Laura menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Kami akan lakukan yang terbaik." Ruang IGD di tutup. Laura mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya tampak berguncang. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis. Berharap dan berdoa pada Tuhan pun rasanya enggan. D

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    77. Kekecewaan sang Adik Membawa Malapetaka

    "Bella?" Laura menatap Bella tidak percaya. Dia memperhatikan adiknya itu masih mengenakan pakaian kerjanya, seragam khas kafe tempat Bella bekerja. "Gimana kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Laura, Bella malah berlari pergi. Tanpa memikirkan bersama siapa dia pergi ke mari, Laura berlari menyusul adiknya. Tak peduli Om Anton yang memanggilnya panik. Laura berlari mengejar adiknya sampai keluar supermarket. Langkah Bella baru berhenti di halaman supermarket ketika Laura berhasil memegang tangannya. "Bella kamu kenapa lari?" Bella berbalik dan menatap kakaknya dengan linangan air mata. "Aku kecewa sama kakak. Kakak udah janji akan keluar dari pekerjaan kakak. Kakak nggak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Om Lucky, tapi hari ini? Kakak udah bohong!" Dada Laura sesak mendengarnya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang membuat Bella lari. Hanya saja dia tidak menyangka itu benar adanya. Dan kalimat-kalimat itu sangat menyakitkan. "Kakak

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    76. Kembali Bekerja

    Tiga hari kemudian. "Hai, Om." Laura berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu. Laura memasang senyum paling manisnya. Pria yang sibuk menunduk memainkan ponsel itu mendongak menatap Laura. Dia menatap Laura lama, memperhatikan wajahnya lalu pelan-pelan tatapannya turun ke bawah. Laura tahu mata pria hidung belang itu sedang menjamahi tubuh seksinya. Diam-diam Laura jijik dengan pandangan itu. "Hei, cantik." Gadis mengenakan dress ketat tanpa lengan yang pendeknya di atas lutut itu tersenyum. "Maaf, ya, Om, lama menunggu," tegurnya yang sengaja agar perhatian pria itu terfokus padanya lagi. "Nggak papa." "Mau main ke mana, Om?" Pria paruh baya yang dagunya sudah memutih itu tertawa pelan. "Buru-buru banget sih kamu. Duduk dulu, dong, ke sini." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Santai dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu." Laura memutar bola matanya malas. Dia memang ingin segera melakukannya biar cepat selesai, buat apa men

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    75. Yang Mana Sifat Asli Laura?

    "Aku mau kamu treatment lagi," ucap Lucky begitu mereka sudah masuk di dalam Mall dan Laura bertanya kenapa Lucky mengajaknya ke salon kecantikan. Tidak seperti awal pertama berkenalan, yang mana Laura suka ketus dan ragu untuk mengikuti kemauan Lucky, kali ini gadis itu justru tersenyum. Sudah terlihat jelas perbedaan dulu dan sekarang. "Udah bisa senyum, ya, sekarang?" tegur Lucky sambil tersenyum simpul. Laura malah mendelik. "Maksudnya?" "Ya, beda aja sama yang dulu. Dulu kalau aku suruh apa-apa nggak mau, jutek lagi." "Oh itu ... ya jelaslah dulu kan kita baru kenal." "Berarti sekarang udah percaya sama aku, kan?" "Belum seratus persen." Lucky lagi-lagi tersenyum. "Tapi udah, kan?" Laura diam saja. "Ya udah silakan kamu masuk. Aku tunggu di coffee shop seperti biasa." Selama di coffee shop, Lucky menikmati secangkir kopi sambil pikirannya tak bisa lepas mengingat gadis itu. Sikap gadis itu yang dulu dengan sekarang sudah terlihat perbedaannya. Dulu ketus, jutek, r

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    74

    "Mau ke mana kalian?" Mami Berliana menatap penuh selidik.Laura jadi tidak nyaman. "Hmm kita mau pilih baju, Mi.""Buat tunangan?" Suara Mami Berliana terdengar jelas. Ini lah yang Laura takutkan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah ini tahu dia akan bertunangan dengan Lucky. "Iya, Mi. Ya udah kita berangkat sekarang, ya, Mi. Dadah." Laura menjawab cepat dan lantas menggandeng lengan Lucky hendak membawanya pergi secepatnya. Namun ...."Hai, tunggu dulu, saya mau bicara sama kamu." Mami menatap Lucky intens. Laura membelalak dan mau tak mau langkahnya yang sudah menyeret Lucky pun terhenti. Lucky meminta Laura melepaskan tangannya. Gadis itu pun menurut. "Ada apa, Mi!" tanyanya setelah mendatangi Mami Berliana. "Kamu jangan lupa dengan perjanjian kita, ya. Laura masih kerja buat saya selama dua Minggu. Dua Minggu ingat itu.""Iya, Mi. Aku nggak lupa, kok. Dan sebaiknya ...." Lucky menoleh ke arah Laura sekilas, gadis itu sudah tampak gelisah, dan Lucky mengerti. "Kita bicarakan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status