Home / Romansa / Gairah Membara si Kupu-kupu Malam / 27. Kedatangan yang Tiba-Tiba

Share

27. Kedatangan yang Tiba-Tiba

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2026-01-29 22:57:24
"Akh ... akh ... akh ...."

Desahan-desahan kenikmatan itu tertangkap di telinga Laura kala dia melewati kamar yang pintunya terbuka sedikit. Laura refleks menatap ke arah sana dan melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat. Gadis itu langsung mengalihkan pandangan dan berlari dari sana.

Tidak semua perempuan penghibur di rumah bordil Mami Berliana main ke hotel bersama pelanggan. Kebanyakan mereka senang bermain di rumah saja. Apalagi kalau pelanggannya bukan dari kalangan berada. Dan ser
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    79. Pertolongan Lucky yang Kesekian Kali

    "Laura!" Laura sedang melamun di kursi tunggu ketika Lucky datang menghampirinya. Gadis itu langsung menegak melihat siapa yang datang. "Lucky!" sambutnya. Lucky duduk di samping Laura. "Bagaimana keadaan Bella sekarang?" Belum sempat bicara, Laura sudah menangis lebih dulu. Lucky berusaha menenangkannya. "Bicara pelan-pelan. Sebenarnya ada apa dan bagaimana ini bisa terjadi?" "Bella lagi nunggu persetujuan untuk dioperasi, tapi aku... " Laura menggeleng, tak sanggup melanjutkan bicaranya. "Aku belum berani menyetujui karena belum bayar administrasi, biayanya mahal ...." Tangis Laura menjadi. "Soal biaya kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya." Wajah Laura menegang. Dia tak menyangka, Lucky mau menolongnya, untuk kesekian kali. "Tapi kamu udah bayarin utang aku sebanyak sepuluh miliar, Lucky. Aku nggak pengen membebani kamu lagi." Lucky menggeleng. "Itu semua nggak seberapa buat aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa Bella. Kamu rela melakukan apa pun kan untu

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    78. Kondisi Bella yang Memprihatikan

    Begitu tiba di depan rumah sakit, Laura langsung turun dan berteriak memanggil dokter. Dia mengabarkan kondisi adiknya. Tak lama kemudian beberapa perawat muncul dengan sebuah brankar. Bella yang rambutnya panjangnya kini sudah berlumuran darah diangkat oleh mereka dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu brankar itu didorong oleh perawat tadi. Laura mengiringi adiknya sepanjang lorong rumah sakit sambil menangis, tak sanggup rasanya melihat kondisi adiknya yang mengenaskan itu. Brankar itu dibawa masuk hingga ke ruang IGD. Dan saat itu, Laura dilarang masuk oleh perawat. "Silakan tunggu di luar, ya, Kak," pinta perawat dengan sopan. "Tolong selamatkan adik saya." Laura menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Kami akan lakukan yang terbaik." Ruang IGD di tutup. Laura mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya tampak berguncang. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis. Berharap dan berdoa pada Tuhan pun rasanya enggan. D

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    77. Kekecewaan sang Adik Membawa Malapetaka

    "Bella?" Laura menatap Bella tidak percaya. Dia memperhatikan adiknya itu masih mengenakan pakaian kerjanya, seragam khas kafe tempat Bella bekerja. "Gimana kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Laura, Bella malah berlari pergi. Tanpa memikirkan bersama siapa dia pergi ke mari, Laura berlari menyusul adiknya. Tak peduli Om Anton yang memanggilnya panik. Laura berlari mengejar adiknya sampai keluar supermarket. Langkah Bella baru berhenti di halaman supermarket ketika Laura berhasil memegang tangannya. "Bella kamu kenapa lari?" Bella berbalik dan menatap kakaknya dengan linangan air mata. "Aku kecewa sama kakak. Kakak udah janji akan keluar dari pekerjaan kakak. Kakak nggak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Om Lucky, tapi hari ini? Kakak udah bohong!" Dada Laura sesak mendengarnya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang membuat Bella lari. Hanya saja dia tidak menyangka itu benar adanya. Dan kalimat-kalimat itu sangat menyakitkan. "Kakak

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    76. Kembali Bekerja

    Tiga hari kemudian. "Hai, Om." Laura berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu. Laura memasang senyum paling manisnya. Pria yang sibuk menunduk memainkan ponsel itu mendongak menatap Laura. Dia menatap Laura lama, memperhatikan wajahnya lalu pelan-pelan tatapannya turun ke bawah. Laura tahu mata pria hidung belang itu sedang menjamahi tubuh seksinya. Diam-diam Laura jijik dengan pandangan itu. "Hei, cantik." Gadis mengenakan dress ketat tanpa lengan yang pendeknya di atas lutut itu tersenyum. "Maaf, ya, Om, lama menunggu," tegurnya yang sengaja agar perhatian pria itu terfokus padanya lagi. "Nggak papa." "Mau main ke mana, Om?" Pria paruh baya yang dagunya sudah memutih itu tertawa pelan. "Buru-buru banget sih kamu. Duduk dulu, dong, ke sini." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Santai dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu." Laura memutar bola matanya malas. Dia memang ingin segera melakukannya biar cepat selesai, buat apa men

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    75. Yang Mana Sifat Asli Laura?

    "Aku mau kamu treatment lagi," ucap Lucky begitu mereka sudah masuk di dalam Mall dan Laura bertanya kenapa Lucky mengajaknya ke salon kecantikan. Tidak seperti awal pertama berkenalan, yang mana Laura suka ketus dan ragu untuk mengikuti kemauan Lucky, kali ini gadis itu justru tersenyum. Sudah terlihat jelas perbedaan dulu dan sekarang. "Udah bisa senyum, ya, sekarang?" tegur Lucky sambil tersenyum simpul. Laura malah mendelik. "Maksudnya?" "Ya, beda aja sama yang dulu. Dulu kalau aku suruh apa-apa nggak mau, jutek lagi." "Oh itu ... ya jelaslah dulu kan kita baru kenal." "Berarti sekarang udah percaya sama aku, kan?" "Belum seratus persen." Lucky lagi-lagi tersenyum. "Tapi udah, kan?" Laura diam saja. "Ya udah silakan kamu masuk. Aku tunggu di coffee shop seperti biasa." Selama di coffee shop, Lucky menikmati secangkir kopi sambil pikirannya tak bisa lepas mengingat gadis itu. Sikap gadis itu yang dulu dengan sekarang sudah terlihat perbedaannya. Dulu ketus, jutek, r

  • Gairah Membara si Kupu-kupu Malam    74

    "Mau ke mana kalian?" Mami Berliana menatap penuh selidik.Laura jadi tidak nyaman. "Hmm kita mau pilih baju, Mi.""Buat tunangan?" Suara Mami Berliana terdengar jelas. Ini lah yang Laura takutkan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah ini tahu dia akan bertunangan dengan Lucky. "Iya, Mi. Ya udah kita berangkat sekarang, ya, Mi. Dadah." Laura menjawab cepat dan lantas menggandeng lengan Lucky hendak membawanya pergi secepatnya. Namun ...."Hai, tunggu dulu, saya mau bicara sama kamu." Mami menatap Lucky intens. Laura membelalak dan mau tak mau langkahnya yang sudah menyeret Lucky pun terhenti. Lucky meminta Laura melepaskan tangannya. Gadis itu pun menurut. "Ada apa, Mi!" tanyanya setelah mendatangi Mami Berliana. "Kamu jangan lupa dengan perjanjian kita, ya. Laura masih kerja buat saya selama dua Minggu. Dua Minggu ingat itu.""Iya, Mi. Aku nggak lupa, kok. Dan sebaiknya ...." Lucky menoleh ke arah Laura sekilas, gadis itu sudah tampak gelisah, dan Lucky mengerti. "Kita bicarakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status