Masuk"Siapa kamu? Dari mana kamu tahu nama kecilku?" desak Laura semakin tak sabar. Dalam hatinya bertanya-tanya sebenarnya siapa pria ini? Apakah pria ini bagian dari keluarganya di masa lalu? Tapi bagaimana bisa? Siapa dia sebenarnya?
"Seperti yang aku bilang tadi, aku tahu semua tentang kamu, Laura Minora." Lagi dan lagi Lucky tersenyum penuh enigma. "Siapa kamu?" tanya Laura sekali lagi. "Aku Lucky Aditya, seorang pewaris tunggal dari keluarga terpandang dan berkuasa, seorang pria yang tampan dan baik hati." Lucky memuji dirinya, wajahnya terlihat bangga di depan Laura yang justru menatapnya sengit. "Maksudku bukan itu! Jawab aku dengan serius dan jujur?!" bentak Laura kesal. Namun, Lucky kini malah berdiri berjalan ke arah kamar mandi. Dia tidak menghiraukan Laura. Hal itu membuat Laura makin sengit. Laura tetap bertanya sambil memandangi kemana pun pria itu pergi. "Kenapa kamu bisa tahu nama kecilku dan segala hal tentangku yang seharusnya orang lain nggak tahu?! Kamu pasti bukan orang yang baru mengenalku, kan? Jadi siapa kamu sebenarnya?" Lucky yang sudah masuk ke dalam kamar mandi rupanya ingin mengambil handuk yang menggantung dibalik pintunya. Begitu keluar pria itu sudah dalam keadaan memakai handuk setengah badan yang menampakkan dada bidangnya yang berotot. Laura langsung terdiam begitu pria itu keluar. "Aku kan sudah menjelaskan siapa diriku dan apa tujuanku, kan? Kalau aku mengetahui nama kecilmu dan segala sesuatu tentang kamu anggap itu artinya kita sudah kenal dekat. Sudah lah jangan banyak bertanya lagi, sebelum tidur aku ingin mandi malam ini. Sikapmu barusan buatku panas." Pria itu lantas kembali masuk ke kamar mandi setelah mengambil alat cukurnya yang terletak di atas nakas. Laura terkejut mendengar kalimat terakhir itu. Dia hanya bisa mengamuk sendiri di kamar. *** "Sebenarnya aku ingin memesan dua kamar, tapi setelah aku pikir-pikir itu nggak perlu. Mami Berliana juga nggak mungkin bisa curiga. Jadi terpaksa malam ini kita tidur satu kamar," jelas Lucky setelah selesai mandi yang spontan membuat wajah Laura berubah tegang. Melihat reaksi Laura Lucky buru-buru melanjutkan. "Kamu tenang aja, walau satu kamar, aku nggak akan menyentuhmu. Kamu bisa tidur nyenyak sampai besok pagi." Laura yang sejak tadi hanya duduk-duduk di pinggir kasur menatap Lucky tidak percaya, wanita itu lantas tertawa. "Aku nggak nyangka ternyata kamu semunafik ini. Bagaimana mungkin kamu bisa nggak menyentuhku sedangkan kita satu kasur?" Lucky menggeleng. "Aku nggak akan satu kasur denganmu. Aku bisa tidur di sana." Lucky menunjuk sofa yang ada di pinggir tembok. Laura berdecak sebal mendengarnya sembari memutar bola matanya malas. "Jadi kamu tenang aja," lanjut Lucky yang kini sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang dia pegang sejak tadi. "Kamu nggak perlu khawatir soal Mami. Kita tetap menghabiskan waktu di sini sampai besok pagi. Ah, iya, aku sudah janji dengan Mami aku akan membookingmu selama sebulan. Jadi besok kamu harus bersiap-siap menemaniku belanja di Mall. Dan menemaniku ke mana pun aku mau." Seketika Laura melotot mendengarnya, karena sungguh tidak menyangka. "Booking satu bulan? Belanja?" Laura terlihat bingung. "Iya. Satu milyar itu untuk satu bulan. Besok kita akan belanja kebutuhan pernikahan kita." Laura diam. Kenapa Mami tidak memberitahu soal ini padanya? Pantas saja pria itu bersedia membayar mahal. "Apakah harus secepat itu?" sahut Laura kemudian kala teringat rencana pernikahan itu. Aku bahkan belum memberi jawaban." "Jawabannya harusnya iya." Lucky tersenyum penuh arti, lantas pria itu mulai berbaring di sofa, meluruskan tubuhnya yang terasa pegal. Laura mengepalkan tangannya geram. Dia melempar tatapan tajam ke arah pria itu dari kejauhan. Tapi jika dia pikir-pikir, memang dia tidak punya pilihan lain. Karena tawaran yang Lucky janjikan sangat menggodanya. Keluar dari dunia malam adalah keinginannya yang sulit dia temukan jalan keluarnya, sejak dulu. Tapi apakah pria itu benar-benar bisa dipercaya? Bagaimana kalau dia berbohong? Asumsi-asumsi buruk itu terus saja melintas di kepalanya. Dan yang paling penting adalah bagaimana Laura bisa yakin ucapan pria itu bisa dipercaya atau tidak? Satu hal lagi yang Laura pikirkan tentang pria itu. Apakah dia bisa benar-benar tidak menyentuh dirinya? Apakah mungkin pria itu nanti tidak akan menghampiri kasurnya saat dia sedang tidur nyenyak? Bagaimana jika pria itu justru melakukannya ketika dirinya sedang tidur?Kalau kalian ingin mengenal aku lebih dekat, kalian bisa follow Instagram aku @apr_dyahm. Ikuti terus kelanjutannya, ya. Makasih!
"Laura!" Laura sedang melamun di kursi tunggu ketika Lucky datang menghampirinya. Gadis itu langsung menegak melihat siapa yang datang. "Lucky!" sambutnya. Lucky duduk di samping Laura. "Bagaimana keadaan Bella sekarang?" Belum sempat bicara, Laura sudah menangis lebih dulu. Lucky berusaha menenangkannya. "Bicara pelan-pelan. Sebenarnya ada apa dan bagaimana ini bisa terjadi?" "Bella lagi nunggu persetujuan untuk dioperasi, tapi aku... " Laura menggeleng, tak sanggup melanjutkan bicaranya. "Aku belum berani menyetujui karena belum bayar administrasi, biayanya mahal ...." Tangis Laura menjadi. "Soal biaya kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya." Wajah Laura menegang. Dia tak menyangka, Lucky mau menolongnya, untuk kesekian kali. "Tapi kamu udah bayarin utang aku sebanyak sepuluh miliar, Lucky. Aku nggak pengen membebani kamu lagi." Lucky menggeleng. "Itu semua nggak seberapa buat aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa Bella. Kamu rela melakukan apa pun kan untu
Begitu tiba di depan rumah sakit, Laura langsung turun dan berteriak memanggil dokter. Dia mengabarkan kondisi adiknya. Tak lama kemudian beberapa perawat muncul dengan sebuah brankar. Bella yang rambutnya panjangnya kini sudah berlumuran darah diangkat oleh mereka dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu brankar itu didorong oleh perawat tadi. Laura mengiringi adiknya sepanjang lorong rumah sakit sambil menangis, tak sanggup rasanya melihat kondisi adiknya yang mengenaskan itu. Brankar itu dibawa masuk hingga ke ruang IGD. Dan saat itu, Laura dilarang masuk oleh perawat. "Silakan tunggu di luar, ya, Kak," pinta perawat dengan sopan. "Tolong selamatkan adik saya." Laura menangkupkan kedua tangannya, memohon. "Kami akan lakukan yang terbaik." Ruang IGD di tutup. Laura mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya tampak berguncang. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain menangis. Berharap dan berdoa pada Tuhan pun rasanya enggan. D
"Bella?" Laura menatap Bella tidak percaya. Dia memperhatikan adiknya itu masih mengenakan pakaian kerjanya, seragam khas kafe tempat Bella bekerja. "Gimana kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Laura, Bella malah berlari pergi. Tanpa memikirkan bersama siapa dia pergi ke mari, Laura berlari menyusul adiknya. Tak peduli Om Anton yang memanggilnya panik. Laura berlari mengejar adiknya sampai keluar supermarket. Langkah Bella baru berhenti di halaman supermarket ketika Laura berhasil memegang tangannya. "Bella kamu kenapa lari?" Bella berbalik dan menatap kakaknya dengan linangan air mata. "Aku kecewa sama kakak. Kakak udah janji akan keluar dari pekerjaan kakak. Kakak nggak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Om Lucky, tapi hari ini? Kakak udah bohong!" Dada Laura sesak mendengarnya. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang membuat Bella lari. Hanya saja dia tidak menyangka itu benar adanya. Dan kalimat-kalimat itu sangat menyakitkan. "Kakak
Tiga hari kemudian. "Hai, Om." Laura berjalan mendekati pria paruh baya yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu. Laura memasang senyum paling manisnya. Pria yang sibuk menunduk memainkan ponsel itu mendongak menatap Laura. Dia menatap Laura lama, memperhatikan wajahnya lalu pelan-pelan tatapannya turun ke bawah. Laura tahu mata pria hidung belang itu sedang menjamahi tubuh seksinya. Diam-diam Laura jijik dengan pandangan itu. "Hei, cantik." Gadis mengenakan dress ketat tanpa lengan yang pendeknya di atas lutut itu tersenyum. "Maaf, ya, Om, lama menunggu," tegurnya yang sengaja agar perhatian pria itu terfokus padanya lagi. "Nggak papa." "Mau main ke mana, Om?" Pria paruh baya yang dagunya sudah memutih itu tertawa pelan. "Buru-buru banget sih kamu. Duduk dulu, dong, ke sini." Pria paruh baya itu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Santai dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu." Laura memutar bola matanya malas. Dia memang ingin segera melakukannya biar cepat selesai, buat apa men
"Aku mau kamu treatment lagi," ucap Lucky begitu mereka sudah masuk di dalam Mall dan Laura bertanya kenapa Lucky mengajaknya ke salon kecantikan. Tidak seperti awal pertama berkenalan, yang mana Laura suka ketus dan ragu untuk mengikuti kemauan Lucky, kali ini gadis itu justru tersenyum. Sudah terlihat jelas perbedaan dulu dan sekarang. "Udah bisa senyum, ya, sekarang?" tegur Lucky sambil tersenyum simpul. Laura malah mendelik. "Maksudnya?" "Ya, beda aja sama yang dulu. Dulu kalau aku suruh apa-apa nggak mau, jutek lagi." "Oh itu ... ya jelaslah dulu kan kita baru kenal." "Berarti sekarang udah percaya sama aku, kan?" "Belum seratus persen." Lucky lagi-lagi tersenyum. "Tapi udah, kan?" Laura diam saja. "Ya udah silakan kamu masuk. Aku tunggu di coffee shop seperti biasa." Selama di coffee shop, Lucky menikmati secangkir kopi sambil pikirannya tak bisa lepas mengingat gadis itu. Sikap gadis itu yang dulu dengan sekarang sudah terlihat perbedaannya. Dulu ketus, jutek, r
"Mau ke mana kalian?" Mami Berliana menatap penuh selidik.Laura jadi tidak nyaman. "Hmm kita mau pilih baju, Mi.""Buat tunangan?" Suara Mami Berliana terdengar jelas. Ini lah yang Laura takutkan. Dia tidak ingin orang-orang di rumah ini tahu dia akan bertunangan dengan Lucky. "Iya, Mi. Ya udah kita berangkat sekarang, ya, Mi. Dadah." Laura menjawab cepat dan lantas menggandeng lengan Lucky hendak membawanya pergi secepatnya. Namun ...."Hai, tunggu dulu, saya mau bicara sama kamu." Mami menatap Lucky intens. Laura membelalak dan mau tak mau langkahnya yang sudah menyeret Lucky pun terhenti. Lucky meminta Laura melepaskan tangannya. Gadis itu pun menurut. "Ada apa, Mi!" tanyanya setelah mendatangi Mami Berliana. "Kamu jangan lupa dengan perjanjian kita, ya. Laura masih kerja buat saya selama dua Minggu. Dua Minggu ingat itu.""Iya, Mi. Aku nggak lupa, kok. Dan sebaiknya ...." Lucky menoleh ke arah Laura sekilas, gadis itu sudah tampak gelisah, dan Lucky mengerti. "Kita bicarakan







