Share

Berita pagi

Penulis: de Banyantree
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 21:19:59

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan desa yang berbatu. Suara kicau burung gereja bersahutan, seolah ingin ikut melepas kepergian penghuni rumah kayu yang selama tiga bulan terakhir telah menjadi bagian dari ketenangan desa tersebut. Namun, suasana damai itu pecah oleh deru mesin mobil yang halus namun bertenaga.

​Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—jenis yang belum pernah dilihat warga desa sebelumnya—berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Juno. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam lainnya mengikuti dengan sigap, menciptakan kontras yang mencolok antara kemewahan kota dan kesederhanaan desa.

​Edward Harjo turun dari mobil pertama, membukakan pintu dengan sikap hormat yang kaku. "Tuan Juno, Nyonya Vivian, semua sudah siap. Kita harus berangkat sebelum lalu lintas kota mulai padat."

​Di teras rumah, Bi Inah dan suaminya, berdiri berdampingan. Bi Inah tak henti-hentinya menyeka air mata dengan ujung daster batiknya. Isakannya terdengar berat, seolah baru saja kehilan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tak menyangka

    Vivian duduk di balik meja kerja barunya yang megah, namun matanya tidak sedikit pun melirik pada kemewahan di sekelilingnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop, membuka satu per satu folder tersembunyi yang berhasil dipulihkan oleh tim IT Juno.​Semakin dalam ia menggali, semakin sesak dadanya. Folder bertajuk "Operasional Vendor" ternyata berisi tumpukan kuitansi fiktif dan penggelembungan dana yang tidak masuk akal. Clarisa tidak hanya memimpin dengan tangan besi, ia menggerogoti perusahaan ini dari dalam seperti rayap.​"Juno, lihat ini," ujar Vivian saat suaminya melangkah mendekat dengan segelas teh hangat. "Dia mengalihkan hampir tiga puluh persen laba bersih tahun lalu ke perusahaan cangkang bernama 'Garda Utara'. Ini bukan sekadar kesalahan administrasi, ini pencurian berencana."​Juno membungkuk, memperhatikan grafik yang memerah di layar. "Aku sudah menduganya, tapi aku tidak menyangka jumlahnya sebesar ini. Kau hebat bisa menemukannya secepat ini, Vivian."​"I

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Hancurkan

    "Ini belum selesai, Juno. Kau pikir kau bisa menghapus namaku begitu saja? Kau salah besar," umpat Clarisa dengan suara yang lebih mirip desisan ular. Ia mencengkeram pinggiran kardus hingga kukunya yang dicat merah marun hampir patah.​Dina, yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya, merasa iba sekaligus takut. Meskipun Clarisa sering memperlakukannya seperti pelayan, loyalitas Dina sudah teruji bertahun-tahun. Dengan cekatan, Dina membantu memunguti beberapa botol parfum mahal dan berkas yang berserakan, lalu memasukkannya ke dalam kardus yang sudah agak penyok.​"Ayo, Bu. Kita tidak bisa terus di sini. Orang-orang mulai mengambil foto," bisik Dina sambil melirik beberapa pejalan kaki yang mulai mengeluarkan ponsel mereka.​Clarisa berdiri dengan sisa keangkuhannya, menahan sebuah taksi biru yang kebetulan lewat. Ia tidak menunggu supirnya membukakan pintu; ia masuk begitu saja, disusul Dina yang kerepotan membawa barang-barang mereka.​"Jalan, Pak!" perintah Clarisa tajam.​"Ke ma

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Kejatuhan Clarisa

    ​Dina melangkah ragu-ragu mendekati Clarisa yang masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Suara tangis Clarisa kini telah berubah menjadi tawa getir yang menyeramkan—tipe tawa seseorang yang baru saja kehilangan segala yang ia banggakan dalam satu kedipan mata.​"Bu... Bu Clarisa," panggil Dina lirih. "Keamanan sudah berdiri di depan pintu. Mereka meminta kita untuk segera... mengosongkan tempat ini."​"Diam!" bentak Clarisa, meski suaranya terdengar serak dan pecah. Ia mendongak, matanya yang sembab menyala dengan api kebencian yang masih membara. "Lihat semua ini, Dina! Dia mengganti semuanya! Hanya dalam hitungan menit, dia menghapus jejakku seolah-olah aku ini sampah yang mengotori ruangannya!"​Di luar jendela besar ruangan itu, sebuah crane besar mulai bergerak lambat. Para pekerja sedang menurunkan papan nama raksasa yang selama ini menjadi kebanggaan Clarisa. Logo emas Vanderbilt Group sudah siap untuk dipasang, berkilau tajam di bawah sinar matahari sore, seolah-ola

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Diganti

    Clarisa berdiri mematung, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap Juno yang berdiri tegak dengan aura yang sangat berbeda—lebih gelap, lebih berkuasa, dan benar-benar tak tersentuh.​Juno tidak menunggu Clarisa pulih dari keterkejutannya. Pria itu mengangkat satu tangannya, memberikan instruksi tanpa perlu mengeluarkan satu kata pun. Seketika, enam orang pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan luas itu. Mereka mulai mengosongkan meja kerja Clarisa dengan gerakan yang sangat efisien dan tanpa ampun.​"Apa yang kalian lakukan?! Hentikan! Ini kantorku!" teriak Clarisa histeris. Ia mencoba menahan salah satu petugas yang sedang memasukkan tumpukan dokumennya ke dalam kotak plastik.​"Buang semuanya," perintah Juno datar. Suaranya dingin, tidak ada sedikit pun keraguan di sana. "Semua benda yang pernah disentuh oleh wanita ini, singkirkan dari pandanganku."​Belum sempat Clarisa membalas, beberapa karyawan dari toko furnitur ternama masuk membawa so

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Berita pagi

    Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan desa yang berbatu. Suara kicau burung gereja bersahutan, seolah ingin ikut melepas kepergian penghuni rumah kayu yang selama tiga bulan terakhir telah menjadi bagian dari ketenangan desa tersebut. Namun, suasana damai itu pecah oleh deru mesin mobil yang halus namun bertenaga.​Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—jenis yang belum pernah dilihat warga desa sebelumnya—berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Juno. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam lainnya mengikuti dengan sigap, menciptakan kontras yang mencolok antara kemewahan kota dan kesederhanaan desa.​Edward Harjo turun dari mobil pertama, membukakan pintu dengan sikap hormat yang kaku. "Tuan Juno, Nyonya Vivian, semua sudah siap. Kita harus berangkat sebelum lalu lintas kota mulai padat."​Di teras rumah, Bi Inah dan suaminya, berdiri berdampingan. Bi Inah tak henti-hentinya menyeka air mata dengan ujung daster batiknya. Isakannya terdengar berat, seolah baru saja kehilan

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Kenapa

    Malam itu, di sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit Jakarta, suasananya sangat kontras dengan ketenangan desa tempat Juno dan Vivian berada. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja marmer yang mahal. Bau alkohol yang tajam menyengat hidung siapa pun yang masuk ke ruangan itu.​Clarisa duduk di sofa beludru merahnya, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi juga karena rasa marah yang sudah mengerak selama tiga bulan terakhir.​"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" gumam Clarisa dengan suara serak. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Juno dan Vivian saat acara pembukaan galeri tahun lalu. "Di mana kalian bersembunyi? Kenapa kau tak kunjung datang mengemis padaku, Juno?"​Clarisa meneguk sisa wiski di gelasnya hingga tandas. Ia membayangkan Juno akan datang padanya dengan lutut gemetar, memohon bantuan finansial setelah bisnis kecil yang dibangun pria itu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status