Compartir

Clarissa

last update Última actualización: 2025-12-25 21:24:56

Pagi di Uluwatu dimulai dengan simfoni alam yang luar biasa. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden sutra yang tipis, menyapa wajah Vivian dengan lembut. Saat ia membuka mata, posisi di sampingnya sudah kosong, namun ia bisa mencium aroma kopi yang baru diseduh berasal dari arah balkon.

​"Pagi, Tuan Pekerja Keras. Katanya tidak ada ponsel selama liburan?" tegur Vivian lembut sambil mengusap bahu Juno.

​Juno sedikit tersentak, lalu segera mengubah ekspresinya menjadi senyum hangat yang dipaksakan. "Pagi, Sayang. Hanya melihat jam. Tidurmu nyenyak?"

​"Sangat nyenyak. Tapi aku tahu wajah 'hanya melihat jam' dan wajah 'ada masalah di kantor'. Mana yang benar?" tanya Vivian sambil duduk di kursi seberang, menatap suaminya dengan penuh selidik.

​Juno menghela napas panjang, menyadari bahwa ia tidak bisa membohongi insting tajam istrinya. "Hanya masalah kecil dengan pengiriman material untuk proyek di Jakarta. Harusnya tidak mengganggu kita, tapi manajer operasional saya sepertin
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tim bayangan

    Tim bayangan bergerak layaknya hantu di tengah kegelapan pelabuhan. Mereka bukan polisi yang terikat protokol, melainkan ahli pelacak digital dan mantan intelijen yang bekerja di bawah radar. Dalam hitungan menit, mereka mulai menyusup ke sistem enkripsi menara pemancar di sekitar dermaga, menarik data sinyal seluler yang sempat aktif dalam radius satu kilometer.​Juno berdiri mematung di pinggir dermaga, kedua tangannya terkepal di saku jaket. Matanya yang memerah karena kurang tidur terus menatap layar tablet yang dipegang salah satu anggota tim bayangan. Garis-garis digital dan titik koordinat berkedip cepat, namun belum ada satu pun yang menunjukkan keberadaan Clarisa.​Waktu merambat dengan kejam. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Keheningan malam mulai pecah oleh suara sayup ayam jantan yang berkokok dari pemukiman nelayan di seberang pelabuhan. Langit yang tadinya hitam pekat perlahan berubah menjadi abu-abu kebiruan.​"Tuan Juno," Bayu mendekat dengan langkah ragu. Ia menyodorka

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Gudang kosong

    Langkah kaki Juno menghantam aspal pelabuhan dengan ritme yang memburu. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan debaran jantungnya yang dipenuhi ketakutan. Di belakangnya, Bayu dan beberapa petugas polisi berusaha mengejar, namun amarah telah memberikan Juno kecepatan yang luar biasa.​Gudang nomor 14 berdiri kokoh di ujung dermaga, tampak seperti raksasa tidur yang mengancam. Pintunya yang terbuat dari seng tebal terlihat tertutup rapat. Tanpa memedulikan prosedur keselamatan, Juno menerjang pintu kecil di samping gerbang utama.​BRAKK!​Pintu itu terbuka dengan sekali dobrak. Juno merangsek masuk ke dalam kegelapan. "Vivian! Vivian, aku di sini!" teriaknya, suaranya menggema hebat menabrak langit-langit gudang yang tinggi.​Ia meraba dinding, mencari saklar lampu dengan tangan gemetar. Saat cahaya lampu neon yang berkedip-kedip mulai menyala, jantung Juno seolah berhenti berdetak.​​Gudang itu kosong. Tidak ada van putih, tidak ada tumpukan barang,

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tentang nyawa

    Ban mobil Juno menjerit saat ia membanting setir keluar dari area gedung. Di sampingnya, Bayu mencengkeram pegangan pintu dengan wajah pucat, berusaha menyeimbangkan tubuhnya di tengah laju mobil yang ugal-ugalan. Jalanan Jakarta malam itu adalah musuh terbesar mereka; lautan lampu merah dan deretan kendaraan yang mengular seolah sengaja menghalangi jalan Juno.​"Sial! Minggir!" Juno memukul klakson berkali-kali, suaranya parau karena amarah. Ia tidak peduli lagi pada rambu-rambu. Trotoar dan celah sempit di antara bus ia libas tanpa ragu. Pikirannya hanya terisi oleh wajah ketakutan Vivian.​"Tuan, tenanglah sedikit. Kita tidak akan sampai kalau kita kecelakaan di sini," ujar Bayu mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar.​"Bagaimana aku bisa tenang, Bayu?! Istriku ada di tangan bajingan-bajingan itu!" Juno melirik tajam, matanya menyiratkan kilatan emosi yang belum pernah Bayu lihat sebelumnya. "Telepon pihak kepolisian sekarang! Hubungi siapa pun yang bisa membantu kita

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tak menyangka

    Vivian duduk di balik meja kerja barunya yang megah, namun matanya tidak sedikit pun melirik pada kemewahan di sekelilingnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop, membuka satu per satu folder tersembunyi yang berhasil dipulihkan oleh tim IT Juno.​Semakin dalam ia menggali, semakin sesak dadanya. Folder bertajuk "Operasional Vendor" ternyata berisi tumpukan kuitansi fiktif dan penggelembungan dana yang tidak masuk akal. Clarisa tidak hanya memimpin dengan tangan besi, ia menggerogoti perusahaan ini dari dalam seperti rayap.​"Juno, lihat ini," ujar Vivian saat suaminya melangkah mendekat dengan segelas teh hangat. "Dia mengalihkan hampir tiga puluh persen laba bersih tahun lalu ke perusahaan cangkang bernama 'Garda Utara'. Ini bukan sekadar kesalahan administrasi, ini pencurian berencana."​Juno membungkuk, memperhatikan grafik yang memerah di layar. "Aku sudah menduganya, tapi aku tidak menyangka jumlahnya sebesar ini. Kau hebat bisa menemukannya secepat ini, Vivian."​"I

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Hancurkan

    "Ini belum selesai, Juno. Kau pikir kau bisa menghapus namaku begitu saja? Kau salah besar," umpat Clarisa dengan suara yang lebih mirip desisan ular. Ia mencengkeram pinggiran kardus hingga kukunya yang dicat merah marun hampir patah.​Dina, yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya, merasa iba sekaligus takut. Meskipun Clarisa sering memperlakukannya seperti pelayan, loyalitas Dina sudah teruji bertahun-tahun. Dengan cekatan, Dina membantu memunguti beberapa botol parfum mahal dan berkas yang berserakan, lalu memasukkannya ke dalam kardus yang sudah agak penyok.​"Ayo, Bu. Kita tidak bisa terus di sini. Orang-orang mulai mengambil foto," bisik Dina sambil melirik beberapa pejalan kaki yang mulai mengeluarkan ponsel mereka.​Clarisa berdiri dengan sisa keangkuhannya, menahan sebuah taksi biru yang kebetulan lewat. Ia tidak menunggu supirnya membukakan pintu; ia masuk begitu saja, disusul Dina yang kerepotan membawa barang-barang mereka.​"Jalan, Pak!" perintah Clarisa tajam.​"Ke ma

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Kejatuhan Clarisa

    ​Dina melangkah ragu-ragu mendekati Clarisa yang masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Suara tangis Clarisa kini telah berubah menjadi tawa getir yang menyeramkan—tipe tawa seseorang yang baru saja kehilangan segala yang ia banggakan dalam satu kedipan mata.​"Bu... Bu Clarisa," panggil Dina lirih. "Keamanan sudah berdiri di depan pintu. Mereka meminta kita untuk segera... mengosongkan tempat ini."​"Diam!" bentak Clarisa, meski suaranya terdengar serak dan pecah. Ia mendongak, matanya yang sembab menyala dengan api kebencian yang masih membara. "Lihat semua ini, Dina! Dia mengganti semuanya! Hanya dalam hitungan menit, dia menghapus jejakku seolah-olah aku ini sampah yang mengotori ruangannya!"​Di luar jendela besar ruangan itu, sebuah crane besar mulai bergerak lambat. Para pekerja sedang menurunkan papan nama raksasa yang selama ini menjadi kebanggaan Clarisa. Logo emas Vanderbilt Group sudah siap untuk dipasang, berkilau tajam di bawah sinar matahari sore, seolah-ola

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status