MasukTaksi berwarna biru itu perlahan memasuki sebuah gerbang perumahan yang terletak cukup jauh dari kebisingan pusat kota. Tidak ada lagi gedung pencakar langit yang mendominasi pemandangan, berganti dengan deretan pepohonan rindang di sisi jalan. Vivian memperhatikan dari balik jendela taksi dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia membayangkan sebuah kontrakan sempit di gang padat penduduk, namun ternyata taksi itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang tampak sangat terawat.Pagar hitamnya yang rendah memberikan kesan terbuka. Begitu turun dari taksi dengan bantuan Juno, Vivian disambut oleh aroma tanah basah dan wangi melati dari pekarangan kecil di depan rumah. Rumput jepang yang terpangkas rapi menghijau, mengelilingi sebuah kolam ikan koi kecil yang airnya bergemericik lembut."Rumahnya... cantik sekali, Juno," gumam Vivian takjub.Juno tersenyum, merasa lega melihat binar di mata istrinya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci sederhana yang tidak lagi memiliki
Siang itu, sinar matahari tidak lagi terasa menyengat bagi Juno. Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang Vivian yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Selama tiga hari terakhir, Juno praktis tidak meninggalkan rumah sakit. Di sela-sela waktu saat Vivian tertidur, Juno sibuk dengan ponselnya—bukan untuk mengecek pergerakan saham, melainkan mencari rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota.Ia sempat termenung menatap saldo di tabungan daruratnya yang tidak ikut tersita karena menggunakan nama kerabat jauh. Jumlahnya tidak seberapa, mungkin hanya cukup untuk menyewa sebuah rumah mungil dan biaya hidup beberapa bulan ke depan. Juno, yang biasanya terbiasa menandatangani cek miliaran rupiah, kini harus menimbang-nimbang antara memilih rumah dengan dua kamar atau satu kamar agar sisa uangnya bisa digunakan untuk biaya terapi Vivian."Satu per satu, Juno. Fokus pada apa yang ada di depan mata," bisiknya pada diri sendiri sambil menutup situs pencarian properti.Setiap
Seorang dokter dan dua orang perawat masuk dengan tergesa-gesa begitu lampu darurat di atas pintu kamar menyala. Juno terpaksa mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi tim medis untuk bekerja. Jantungnya berdegup kencang—kali ini bukan karena rasa takut akan kehilangan, melainkan karena harapan yang membumbung tinggi.Ia berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Dokter memeriksa refleks pupil Vivian, mengecek tekanan darah, dan melakukan serangkaian tes saraf sederhana. Suara gesekan stetoskop pada kulit dan bunyi alat medis yang biasanya terdengar mengerikan bagi Juno, kini terasa seperti simfoni yang menenangkan."Ibu Vivian, bisa dengar suara saya? Coba gerakkan jari telunjuk tangan kanan Anda," instruksi Dokter Aris dengan tenang.Juno menahan napas. Dari posisinya, ia melihat jemari Vivian bergerak pelan, lalu perlahan menekuk. Vivian memberikan respons yang jauh lebih kuat dari sebelumnya."Bagus sekali. Sekarang, coba tarik napas dalam-dalam," lanjut dokter.
Matahari pagi menembus celah gorden ruang tunggu rumah sakit, membawa cahaya yang tidak diinginkan bagi Juno. Ia baru saja selesai membasuh wajahnya dengan air dingin saat layar televisi di sudut koridor mulai menayangkan berita utama dengan headline yang sangat mencolok: "KEJATUHAN KERAJAAN BISNIS JUNO VENDERBILT, CEO JUNO RESMI DIDEPAK, SELURUH ASET TELAH DISITA?"Presenter berita itu berbicara dengan nada cepat, seolah sedang melaporkan berita kiamat. "Ketidakhadiran Juno Vendebilt dalam rapat luar biasa pemegang saham pagi ini menjadi paku terakhir bagi posisinya. Dewan direksi secara bulat memutuskan untuk memberhentikannya dan menyetujui pengalihan hak kelola kepada pihak Clarissa Group atas dasar mosi tidak percaya dan bukti-bukti skandal yang beredar..."Juno hanya menatap layar itu dengan datar. Tidak ada amarah, tidak ada air mata. Ia merasa seolah sedang menonton film tentang orang lain. Baginya, semua angka nol di rekening banknya yang kini mungkin sudah diblokir tidak
Beberapa jam berlalu terasa seperti ribuan tahun bagi Juno. Namun, penantian itu akhirnya berbuah manis saat dokter mengizinkannya untuk masuk ke dalam ruang isolasi. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian khusus rumah sakit, Juno melangkah pelan melewati pintu geser otomatis itu. Aroma antiseptik yang tajam menyambutnya, namun ia tak peduli. Fokusnya hanya satu: sosok yang terbaring di tengah ruangan.Langkah kaki Juno terasa berat, seolah setiap inci lantai yang dipijaknya adalah beban. Namun, saat ia sampai di sisi ranjang, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Di sana, Vivian terbaring sangat lemah. Kulitnya pucat hampir menyerupai warna seprai yang menutupinya. Berbagai kabel melilit tubuh mungil itu, dan masker oksigen menutupi sebagian wajah cantiknya."Vivian..." bisik Juno dengan suara yang nyaris tak terdengar.Ia menarik kursi kayu di samping ranjang dan duduk dengan gemetar. Perlahan, ia meraih tangan kanan Vivian yang teras
Lampu merah di atas pintu ICU menyala terang, menandakan perjuangan hidup dan mati sedang berlangsung di dalam sana. Melalui celah tirai yang tersingkap sedikit, Juno bisa melihat tim medis mengerumuni ranjang Vivian. Suara alat pacu jantung menyambar-nyambar, disusul aba-aba dokter yang terdengar dingin dan teknis."Satu... dua... shock!"Tubuh Vivian terhentak di atas ranjang. Juno memejamkan mata rapat-rapat, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri hingga kulit kepalanya terasa perih. Ia jatuh berlutut di lantai lorong yang dingin. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah menjadi raungan tertahan."Jangan sekarang, Viv... Kumohon, jangan sekarang," bisiknya parau. "Aku belum sempat meminta maaf. Aku belum membuktikan kalau kau lebih berharga dari segalanya."Di tengah kemelut batin itu, ponsel di saku jas miliknya bergetar tanpa henti. Layar ponselnya menyala terus-menerus, menampilkan nama-nama besar dari dewan direksi, pengacara perusahaan, hingga asisten pribad







